Yang Dibutuhkan Penulis

Judul ini sudah terlintas di kepalaku lama sekali. Aku mau menuliskan hal ini dari dulu, tapi urung terus.

Aku sering sekali membaca tulisan pendek tentang tips-tips untuk penulis. Misalnya, bagus kalau bisa menulis dengan gaya “show don’t tell“. Pakailah kata-kata sifat yang bisa membangkitkan emosi. Hmm… apa lagi ya? Aku lupa.

Aku rasa yang dibutuhkan penulis itu bukan (hanya) tips seperti itu. Iya, tips seperti itu memang bagus kok kalau diketahui, diingat, dan diaplikasikan dalam tulisan. Tapi aku ada hal lain yang menurutku krusial–setidaknya untukku sendiri–yaitu teman-teman yang mau membaca tulisan kita pertama kali dan memberikan masukan yang jujur. Teman-teman yang mau bilang jelek kalau tulisan kita tidak ada ide dasar yang kuat. Teman-teman yang punya kemampuan mengupas tulisan kita. Jadi, bukan hanya teman yang bilang: Ini bagus. Tapi juga teman yang bisa menjelaskan, bagusnya di sebelah mana. Atau yang mengatakan: Ini jelek, tapi sekaligus menyebutkan jeleknya itu apanya. Misalnya karakternya tidak kuat, plot twist-nya kurang nendang.

Penulis itu ibarat penjahit. Minimal bisa menjahit baju untuk dirinya sendiri. Begitu pula penulis, setidaknya dia bisa menulis untuk dirinya sendiri. Tulisan yang memang ingin dia baca dan menimbulkan rasa senang saat dia sendiri membacanya. Aku membayangkan, penjahit itu untuk mengepaskan baju mesti bercermin. Dengan demikian, dia akan tahu bagian mana yang mesti diperbaiki. Apakah lehernya terlalu rendah? Apakah bagian pinggang masih kedodoran? Apakah baju itu terlalu panjang? Begitu pun dengan tulisan. Penulis yang baik akan bisa merasakan bahwa tulisannya masih bisa dipangkas, kurang fokus, karakternya kurang kuat, dll. Tapi sering kali untuk bisa melihat kekurangan, yang bisa menunjukkan adalah orang lain. Ya, itulah gunanya teman yang bisa memberi masukan.

Aku pikir, berbahagialah penulis yang punya teman-teman yang mau memberi masukan jujur. Yang tidak hanya menyemangati dengan bilang, “Ayo terus menulis,” tetapi juga yang bisa bilang, “Ini kurang pas. Endingnya terlalu cepat, ini bisa dibuat plot twist yang keren setelah diulik bagian ini… itu…”

Dan aku berterima kasih untuk teman-temanku yang menemani dan memberi masukan ini itu untuk tulisanku. Terima kasih. Nama kalian akan selalu kusimpan di dalam hati.

Advertisements

Pengingat Manis di Dunia Maya

Sebenarnya aku ingin melanjutkan cerita waktu aku ke Jogja akhir tahun lalu. Tapi ya … belakangan ini banyak hal yang terjadi. Awalnya hardiskku rusak. Data-data hilang. Termasuk beberapa pekerjaan dan beberapa arsip foto. Untung sebagian ada yang sudah kusimpan di flashdisk. Kalau foto sebagian sudah aku unggah di FB. Aku teledor juga sih. Sebenarnya hati kecilku sudah mengingatkan agar menyimpan ulang semua pekerjaan di flashdisk. Tapi ya sudah. Untungnya pula pekerjaan yang mesti kuulang tidak sulit. Jadi cepat waktu mengerjakan ulang. Pokoknya dilihat positifnya saja deh. Hehehe. Kata temanku, pelajaran yang bagus mahal harganya. Masuk sekolah aja sekarang mahal banget kan? 😀 Yang penting semangat tidak hilang kan? Itu yang penting dan selalu kuingatkan pada diriku sendiri. Jangan menyerah walaupun beberapa calon tulisanku hilang. Jangan mundur walaupun ada bagian pekerjaan yang hilang. Katanya sih, orang yang sukses itu orang yang selalu bangkit walau sudah gagal beberapa kali. Yay! (Tepuk tangan buat diriku sendiri.)

Lalu, aku flu nggak sembuh-sembuh. Sakit sembuh. Sakit sembuh …. Sampai bosen harus tidur terus. Sekarang sih sudah mendingan. Semoga nggak tepar lagi.

Beberapa hari yang lalu aku dapat kabar ada seorang kakak asramaku dulu yang sakit, mengalami kondisi kritis, lalu akhirnya dipanggil Bapa. Sebenarnya aku tidak pernah kenal dan ketemu dia secara langsung. Angkatannya jauh di atasku. Kalau tidak salah sebaya dengan Kak Mimi. Tapi berkat grup Syantikara di FB aku jadi kenal dia. Namanya, Tabita Simawati Gunawan. Dia pernah juga menuliskan komentar di blogku, di halaman “yang di balik layar.” Siapakah dia? Dia seorang jurnalis, penerjemah, dan petarung yang tangguh dengan penyakitnya. Ada kanker yang bercokol di payudaranya. Tapi yang menarik adalah, dia tidak pantang menyerah. Lihat blognya di sini: ayomari.blogspot.com. Setiap kali aku membaca blognya, aku melihat keceriaan dan semangat pantang menyerah yang selalu ia tuangkan dalam tulisannya. Dia banyak bercerita tentang sakitnya, tentang kelemahannya sebagai manusia biasa, tetapi tidak ada kata menyerah. Kadang aku terharu membaca tulisan-tulisannya. Dan jujur saja Kak Tabita ini mengingatkanku pada sahabatku, Mbak Tutik

Aku kemudian berpikir, wah untung ya Kak Tabita menulis blog. Dan kurasa blog itu akan jadi warisan yang berharga di dunia maya yang selalu bisa dikunjungi setiap orang. Ngomong-ngomong soal warisan blog ini aku teringat pada alm. Pak Mula Harahap. Dia menulis blog juga semasa masih hidup. Coba tengok blognya di sini. Ceritanya lucu-lucu lo. Cerita tentang masa kecilnya. Dan dia jujur sekali dengan dirinya, termasuk cerita yang menurutku bisa memerahkan wajah. Tapi dia bercerita saja. Mungkin dia ingin dikenang sebagai seorang bapak, opa, paman, teman yang lucu dan ceria. Di bagian awal blognya, dia sudah merencanakan blog ini bisa jadi tempat peziarahan yang manis untuk mengenangnya. Dia menulis begini “Kalau para kekasih hati saya menziarahi makam saya … mereka cukup melakukan ziarah dengan sekali klik dan tiba di makam saya, yaitu blog saya ini.” Dia juga banyak membagikan pengalaman, pengetahuan/pemahaman yang ia miliki. Tulisan-tulisannya di blog sudah dibukukan oleh penerbit Gradien Mediatama, berjudul Ompung Odong-Odong. Buku dengan subjudul Membingkai Kenangan, Merangkai Makna itu menampung semua tulisannya, termasuk status-status beliau di FB. Aku selalu terhibur dan bisa terkekeh sendiri saat menelusuri buku ini. Memang sih, kalau mau gratis, bisa baca di blognya, tak perlu baca bukunya. Tapi entah kenapa ya, aku merasa perlu membeli buku ini. Untuk mengenang beliau. Agar bisa setiap saat menarik semangatnya. Agar bisa selalu belajar kejujuran dalam menulis–walaupun hanya tulisan di blog.

Hmmm … pada akhirnya aku mau ngomong apa sih? Apa pesan moral dari tulisan ini? (Halah, penting ya ada pesan moral? :D) Walaupun aku kurang suka dengan embel-embel pesan moral, aku cuma mau mengingatkan pada diriku sendiri lewat tulisan ini. Semoga saja hal ini juga ada gunanya untuk kalian, para pembaca blogku. Begini, pertama dari tulisan ini aku mau mengingatkan diriku sendiri supaya pantang menyerah. Walaupun ada penghalang, tetap maju terus. Entah penghalang itu berupa penyakit, kerusakan alat, cuaca, dan teman-temannya, terus maju ya. Jangan berhenti dan kecil hati. Kedua, menulislah! Bagikan semangatmu, bagikan pengalamanmu, bagikan pengetahuanmu. Untung lo sekarang ada blog. Bisa ngeblog gratis pula. Tidak perlu menunggu dimuat di koran. Walaupun kalau di koran kita bisa dapat honor, tapi orang menulis untuk berbagi tidak perlu diiming-imingi honor dulu kan? 🙂 Apa yang kita tuliskan dapat menjadi hal berharga yang bisa dinikmati orang lain. Jadi, mari kita ngeblog … Yuk, mareee!

Sebuah Cerita (untuk Tommy dan Edna)

Ini cerita lama sebenarnya. Berawal kira-kira dua tahun yang lalu. Seorang teman, Mas Wiji, menawariku membuat cerita untuk komik.
“Komik?” tanyaku.
“Iya. Bisa kan? Tema besarnya tentang multikulturalisme,” katanya.
“Terus terang aku belum pernah membuatnya, Mas,” jawabku. “Tetapi aku akan mencobanya.”
“Baiklah,” jawabnya.
“Nanti siapa yang menggambar, Mas?” tanyaku.
“Teman kita sendiri. Tommy namanya. Nanti aku kenalkan. Dia di Jakarta.”
Aku tidak tanya lebih lanjut. Aku belum kenal siapa dia. Katanya, dia pernah menang lomba apa gitu. Aku sih iya iya saja. Yang penting, aku coba menulis ceritanya dulu.

Kami berkenalan lewat e-mail. Dan aku mengirimkan cerita ke Tommy. Aku paling tanya-tanya lewat YM apakah ceritanya sudah cukup panjangnya, atau perlu ditambah beberapa detail lagi. Maklum, aku masih awam banget untuk menulis cerita komik. Sampai cerita itu selesai, aku juga belum pernah ketemu Tommy.

“Contoh hasil gambarnya dia seperti apa, Mas?” tanyaku pada Mas Wiji suatu kali.
“Lihat di Kompas. Biasanya ada kok. Nanti cari saja yang ada namanya: Thomdean.”
Tak berapa lama Mas Wiji datang sambil membawa Kompas dan menunjukkan gambar Thomdean di harian Kompas. Rupanya namanya Tommy Thomdean. Dia dulu kuliah di UGM, Jogja dan sepertinya cukup aktif di PMK (Persekutuan Mahasiswa Kristen) sewaktu mahasiswa dulu.

Wah, aku jadi nggak PD. Lha wong aku baru belajar nulis cerita, sedangkan dia karyanya sudah skala nasional bahkan sudah mendunia–itu kalau kutilik dari biodatanya di web pribadinya. Tapi tak apalah. Yang penting mencoba.

Aku baru bertemu Tommy ketika ia sudah menyelesaikan gambar untuk komik itu. Anaknya menyenangkan. Kesanku sih, kartun banget. Halah, piye kuwi jal? Hehehe. Dan aku “pangling” dengan cerita yang kubuat. Cerita yang menurutku biasa-biasa saja, jadi tampak beda. Memang tidak sia-sia deh meminta Tommy menggambar komik itu. Aku puas sekali dengan hasil karyanya.

komik dengan tema multikulturalisme yg kubuat dengan TommySesuai “pesanan” Mas Wiji untuk membuat cerita multikultur, aku mengangkat cerita tentang perbedaan suku dan agama. Tentunya untuk anak-anak dong. Komik ini menjadi salah satu sarana pendidikan multikulturalisme yang digagas Mas Wiji dan teman-temannya yang tergabung di Persekutuan Sahabat Gloria. Kali ini mereka bekerja sama dengan Public Affair Section Kedutaan Besar Amerika Serikat. Mas Wiji dan teman-temannya memiliki sanggar yang memang menaruh perhatian pada pendidikan anak-anak. Mereka biasa melakukan pendampingan anak-anak di Gunung Kidul. Dan multikulturalisme ini menjadi salah satu bagian dari kurikulum mereka. Diharapkan setelah menerima pendidikan multikulturalisme, anak-anak nantinya (setelah mereka besar) bisa menerima perbedaan suku, agama, budaya dan berbagai perbedaan lainnya, dan bukannya menjadikan perbedaan itu sebagai pemisah, tetapi justru bisa bekerja sama dengan baik.

Komik itu selesai. Dan aku pindah ke Jakarta. Tetapi aku jarang ketemu Tommy. Seingatku aku baru tiga kali ketemu dia. Kalau ketemu obrolan kami tak jauh-jauh dari keinginan untuk membuat karya bersama lagi, entah itu komik, buku bergambar, atau apalah. Terakhir Tommy menawarkan komik multikultur itu ke sebuah penerbit, dan mendapatkan tanggapan yang bagus; tetapi harus ditambah beberapa detail lagi.

Ketika pertama kali bertemu Tommy–sebenarnya pertemuan itu tak sengaja–aku diperkenalkan juga pada Edna. Dia wartawan Kompas. Sepertinya mereka dekat. Tetapi laki-laki dan perempuan yang tampak dekat, belum tentu pacaran kan? Dan aku juga tidak tanya seperti apa relasi mereka.

Beberapa minggu lalu, ketika aku sedang online di siang hari, aku melihat Tommy juga sedang online. Tumben. Aku ber-“say Hi” padanya dan chatting sebentar. Kalau dengan dia obrolannya tak jauh-jauh dari gambar dan tulisan. Tapi tak lama kemudian dia tampak off, dan beberapa saat ada e-mail masuk darinya. Di situ ada attachment suatu gambar. Gambar apa ya?

Rupanya undangan. Undangan pernikahan Tommy dan Edna–Tommy Thomdean dan Edna Caroline Pattisina. Undangannya khas Tommy. Namanya juga tukang gambar, undangannya pun dihiasi hasil coretan Tommy. Gambar rel yang melambangkan mereka. Kalau boleh aku menginterpretasikan gambar itu, kira-kira artinya dua pribadi yang berbeda tetapi memiliki arah yang sama dan masing-masing tetap bisa mengembangkan diri. Aku senang mendapat kabar itu. Rasanya mereka memang pasangan yang cocok. Memang aku jarang bertemu mereka, tetapi menurutku sih, mereka dua orang yang menyenangkan dan tampak bersemangat. Jadi, cocok kalau mereka memutuskan untuk menikah.

Mereka menikah tanggal 1 Mei 2010 hari Sabtu kemarin. Kupikir aku tak bisa menghadiri pemberkatan mereka, karena aku ada rencana pulang ke Jogja. Tapi rencanaku kuundur. Dan Sabtu kemarin, pagi-pagi aku dan suamiku, Oni, berangkat ke Gereja Imanuel yang terletak di depan Stasiun Gambir. Gerejanya keren loh! Aku yang baru sekali itu masuk gereja selain gereja Katolik, terkagum-kagum melihat bangunannya. Tampak megah dan syahdu. Ketika kami memasuki gerbang, kulihat Tommy dan Edna sedang naik mobil pengantin dan mereka melambaikan tangan saat melihat kami.

Pemberkatan berlangsung lancar. Edna cantik dengan gaun pengantin putihnya, dan Tommy dengan yakin menggandeng Edna ke depan altar. Koornya bagus sekali. Aku terharu ketika mereka mengucapkan janji pernikahan. Aku jadi ingat waktu aku dan Oni menikah dulu. He he… Tidak kusangka, dua tahun kemudian, tepatnya dua tahun lewat enam hari kemudian, temanku Tommy dan Edna menikah.

Selamat ya Tommy dan Edna! Semoga menjadi keluarga yang bisa menjadi berkat buat orang-orang di sekeliling kalian dan karya-karya kalian terus berkualitas! 🙂

Mau Nulis Seperti Apa di Blog?

Sebenarnya aku cuma ingin bercerita tentang kejadian sekitar 1 tahun lalu. Waktu itu aku sedang jalan-jalan di Bandung. Singkat, kata … aku dan suamiku pengen mampir ke sebuah toko buku. Seingatku waktu itu toko buku yang hendak kami datangi itu sedang ada promosi atau apaaa gitu. Lupa deh. Aku cuma baca sekilas informasi itu di milis.

Kupikir orang seantero Bandung tahu tentang toko buku itu. Jadi, sebelum berangkat ke Bandung aku tidak mencatat apa pun tentang alamat atau ancer-ancer lokasi toko buku itu. Nanti gampang lah tanya temen yang kujumpai di Bandung.

Sesimpel itukah? Ternyata tidak, Sodara-sodara!

Waktu itu, sebelum berangkat aku cuma tanya ke seorang teman, “Eh, kamu tahu toko X?” Temanku menggeleng. Yak, jawaban yang singkat dan tepat! Seratus. Oke, nggak apa-apa. Nanti sambil jalan saja tanya orang lagi. Waktu itu aku cuma ingat nama daerahnya. Jadi, aku cuma naik angkot ke daerah itu dan berpikir akan menemukannya dengan mudah. Tapi ternyata tidak ada yang tahu!

Huuu… Gimana nih? So, mesti tanya ke siapa lagi?

Tak lama kemudian, aku melihat ada sebuah warnet. Daripada pusing-pusing, aku masuk ke warnet itu dan bertanya ke mbah Google. Yuhuuu… dalam hitungan detik, aku mendapatkan informasi yang aku butuhkan. Untuk informasi itu, aku cukup membayar 1.000 rupiah. (Tarif minimal warnet segitu kan?) Seingatku, waktu itu aku mendapat informasi itu dari sebuah blog.

Pengalamanku itu masih sangat membekas. Dan ini berkaitan dengan pemikiranku mengenai banyaknya informasi di dunia maya. Tapi kadang saking banyaknya, informasi yang ada justru membuat kita tersesat. Tersesat? Iya, karena kadang informasi yang ada justru hanya sebuah pancingan supaya kita masuk ke situs tertentu yang isinya cuma–sorry–jualan yang nggak jelas. (Jualan di internet sah-sah saja kok. Tapi kalau yang dijual tidak jelas, itu yang bikin males.)

Nah, aku pikir … menulis hal yang berguna di blog, yang berisi informasi penting dengan bahasa yang enak, bisa jadi salah satu pilihan jenis tulisan yang akan diposting di blog. Boleh-boleh saja menulis yg isinya curhat. Tapi kalau bisa sih, curhat yang membangun, yang bisa ditarik manfaatnya oleh orang lain. Apalagi kalau tulisannya enak dimengerti, dengan font yang ramah di mata. Soalnya kadang aku mendapati blog yang amburadul–ya bahasanya, tampilannya, atau isinya. Hiks, dengan sangat terpaksa, aku akan skip blog itu. Baca aja males apalagi mau komentar.

Well, aku mau blogwalking lagi ah…

Menulis Juga Butuh Keberanian

Sebenarnya ada berapa banyak tulisan yang sudah kubuat? Aku tak menghitungnya. Ada yang sudah jadi. Ada pula yang kubiarkan saja mereka tidur-tiduran dalam komputer alias ngendon di dalam sini… ya di dalam komputer sini. Ada yang isinya curcol, ada yang bentuknya opini, ada yang fiksi, ada yang baru kumpulan ide, dan ada yang yah … tidak jelas apa bentuknya. Tetapi aku betul-betul tidak menghitungnya.

Saat aku membongkar onggokan file di komputer, aku sering terkaget-kaget melihat aneka ragamnya tulisanku. Kadang aku heran, kok bisa sih aku menulis seperti itu? Ada yang kelihatannya sok bijak (padahal, aduuuuh … siapa sih aku ini? Ngomong eh, nulis aja bisanya. Kalau suruh menjalaninya, belum tentu bisa); ada yang sok puitis (yaelah … serasa bukan aku deh yang nulis); ada yang mencoba melucu tapi sama sekali nggak lucu; ada yang lebay selebay-lebaynya!

Beberapa file tulisanku menunjukkan tulisan yang belum jadi. Ibarat lukisan, aku baru membubuhkan warna dasar dan sket tipis. Niatnya sih pengen menulis yang bisa membuat hati orang tersentuh. (Duh … duh …) Yang bisa mengalirkan kata-kata dengan begitu ajeg dan tidak membosankan. Pengen rasanya bisa memasang kata-kata yang indah tetapi tetapi tidak berlebihan, yang begitu dijejerkan akan membuat hati adem, lalu terkiwir-kiwir mengikuti aliran ceritanya. Sayangnya kok belum mampu ya? Awalnya sih bisa, tapi begitu sampai di tengah, mendadak macet. Ibarat sepeda motor butut yang businya terkena cipratan air hujan. Det…det…det … Haiyah kono ora iso mlaku! (Nah lo, nggak bisa jalan!)

Dari deretan tulisan yang tidak jelas itu sebenarnya ada beberapa tulisan yang sudah jadi. Sayangnya, entah bagaimana aku tidak punya cukup keberanian untuk memasangnya di tempat umum–walaupun hanya di blog atau kutempelkan di notes di FB. Keberanianku untuk memajangnya sama sekali tidak ada. Tak ada bara keberanian sedikit pun! Jenis tulisan yang tidak berani kupasang salah satunya adalah tulisan berisi uneg-uneg. Selain itu juga tulisan fiksi. Untuk yang fiksi, aku masih khawatir kalau tulisanku itu nanti dijiplak orang. Weleh, siapa juga yang mau menjiplak ya? Kualitas belum pasti bagus aja sudah gaya amat! Hihihi. Lalu ada juga tulisan-tulisan yang isinya sok bijak. Halaaah … malu aku kalau membacanya. Aku takut nanti ada orang yang mencibir, “Ah elu, bisanya nulis doang, nggak bisa menjalaninya.” (Hhh … ya, memang kadang aku bisanya menulis doang, menjalaninya ya belum tentu bisa.)

Kemarin, aku iseng-iseng memasang status di FB begini: Writing needs a lot of practices. Ya, untuk menulis memang dibutuhkan latihan. Jadi, anggap saja onggokan file berisi tulisan tak berguna itu sebagai ajang latihan. Nah, ada salah satu temanku, Meira, memberi komentar bahwa untuk menulis juga dibutuhkan kepercayaan diri, berani malu. Wah, benar juga ya! Kesannya menulis itu hanya aktivitas biasa di belakang layar. Tapi untuk menampilkan karya kita, memang dibutuhkan suatu kepercayaan diri dan keberanian. Kalau tidak berani, ya akhirnya tulisan-tulisan kita akan ngendon di dalam komputer saja. Menaruh tulisan di blog atau di media umum lainnya itu berisiko loh–bisa dikritik orang, bisa dibilang jelek, tetapi bisa juga disanjung, dipuji ke sana-kemari. Rata-rata orang akan senang jika tulisannya disukai. Tetapi berani nggak sih, demi bisa menghasilkan tulisan yang bagus dan bermutu, kita berani memasang tulisan untuk dinilai, dikritik orang? Beranikah kita memajang tulisan yang berisi opini kita yang “tidak umum” alias bisa menuai kritik karena pendapat kita tidak sama dengan pendapat kebanyakan orang? Beranikah kita memajang tulisan kita yang memang masih berupa hasil latihan, dan tidak bagus-bagus amat jika dibandingkan tulisan orang-orang yang memang sudah mahir dalam menulis, yang jika menulis pasti mendapat pujian? Memang tidak enak sih dikritik. Memang tidak enak jika harus menerima masukan yang mengatakan bahwa tulisan kita tidak menarik. Memang tidak enak mendapati kenyataan bahwa tulisan kita tidak laku.  Tetapi untuk bisa menulis dengan bagus kupikir butuh latihan dan keberanian. Dan ini merupakan tantangan juga buatku 😉

Ngomong-ngomong, butuh apa lagi ya supaya bisa menulis dengan baik?

*Terima kasih buat Meira untuk komentarnya kemarin 🙂