Karnaval Tujuhbelasan

Di bulan Agustus, frasa “tujuhbelasan” atau kalau bahasa Jawa “pitulasan” mulai sering kudengar. Dalam benakku, tiap kali mendengar frasa ini, yang terlintas adalah karnaval (pawai) yang meriah.

Ketika aku masih kecil, mendengar kata karnaval membuatku gembira. Rasanya tak sabar untuk menonton. Aku mulai bertanya-tanya, kapan karnaval diadakan? Aku pun menghitung hari tak sabar ingin ikut berdesak-desakan dengan warga kota lainnya, berusaha berdiri paling depan untuk menyaksikan pawai keliling kota. Meski matahari bersinar terik, kegembiraan itu tidak menguap. Yang kurasakan tetap kegembiraan yang membuncah; penasaran untuk menjadi saksi acara meriah yang diselenggarakan tiap tahun di kota kecilku.

Biasanya dari rumah kami akan berangkat beramai-ramai. Karena dulu rumahku dihuni oleh banyak kerabat, maka kami pun berangkat bersama–dan aku adalah yang termuda dari rombongan itu. Bekal yang kami bawa adalah air minum dalam botol dan payung. Waktu itu belum ada air mineral kemasan, yang sering dijajakan hanyalah semacam air minum kotakan seperti teh kotak, sari buah, dan es lilin. Jika tak bawa minum, mesti beli, dan itu berarti pengeluaran lebih. Payung juga penting untuk dibawa karena itu adalah peneduh otomatis yang bisa langsung dibuka ketika panas matahari membakar pucuk kepala. Tetapi aku biasanya tak pernah peduli dengan panas matahari yang menyengat. Yang kuinginkan adalah berdiri paling depan–walaupun sebenarnya itu sulit karena tubuhku yang kecil ini kerap tersikut dan terhimpit oleh orang yang badannya lebih besar.

Jalan terdekat dari rumah yang dilalui karnaval itu adalah Jalan Pahlawan. Waktu tempuhnya kira-kira 15 menit berjalan santai. Dulu aku sering berharap jalan depan rumahku juga dilewati karnaval, tetapi nyatanya harapan itu tak pernah terkabul. Di Jalan Pahlawan itu ada kantor Telkom, tempat budeku berkantor. Gedung Telkom itu rasa-rasanya gedung tertinggi di kotaku. Tingkat empat kalau tak salah waktu itu. Pernah suatu kali Bude menawarkan aku ikut masuk ke kantornya, dan mengajakku ke tingkat paling atas. Wah senangnya! Aku pikir aku bisa melihat karnaval tanpa susah payah. Namun karena aku masih sangat pendek, aku hanya bisa berjinjit dan melihat dari balik jendela. Itu pun masih kurang jelas karena yang tampak justru kepala orang-orang. Tidak seasyik yang kukira rupanya. Selanjutnya aku pun ikut berdesak-desakan lagi di antara para penonton.

Salah satu hal yang aku ingat adalah, biasanya karena kerumunan semakin lama semakin banyak, maka orang cenderung untuk maju. Akibatnya, jalanan jadi menyempit. Lalu tak lama kemudian ada sepeda motor besar dengan sirine nguiiing… nguiiiing lewat di dekat penonton agar mereka mundur ke belakang. Tetapi tentu saja itu tak terlalu ada gunanya, karena setelah sepeda motor itu lewat, para penonton mulai maju lagi agar bisa menyaksikan karnaval lebih jelas.

Ketika aku SD aku punya teman dekat yang berumah di Jalan Pahlawan. Ayahnya seorang dokter tentara, jadi mendapat rumah dinas di jalan protokol tersebut. Nah, rumah kawanku ini jadi markas teman-teman untuk menonton karnaval. Menyenangkan sekali, karena kami tak perlu kerepotan jika di tengah-tengah menonton karnaval kami kebelet pipis atau haus. Tinggal pakai kamar mandi rumah temanku saja kan, dan biasanya temanku akan mengeluarkan minuman dingin dari lemari es. Pokoknya serasa nonton dari depan rumah sendiri deh. Rumah temanku itu berpagar pendek dari beton (sebenarnya agak tinggi untuk ukuranku). Biasanya kami akan memanjat pagar tersebut, lalu berdiri di atasnya. Wah, benar-benar mengasyikkan karena kami bisa berdiri berderet. Kami berdiri bagaikan para jagoan yang berhak atas wilayah istimewa itu. 😉

Aku tak ingat, apa sebenarnya yang kala itu membuatku selalu tertarik menonton karnaval. Rasa-rasanya hanya kemeriahan dan asyiknya menonton beramai-ramai itulah yang membuat kangen. Oya, yang mengasyikan juga adalah kadang-kadang kita mengenali para peserta karnaval, misalnya tetangga, teman, atau bahkan kerabat sendiri. Ayahku kadang ikut karnaval tetapi karena beliau guru, dan mesti mendampingi para murid yang sedang ikut pawai.

Ketika aku SMP, sekolahku ikut karnaval. Dan kala itu pula aku ikut karnaval. Waktu itu yang aku ikuti adalah karnaval jalan, temanya kalau tak salah kerajaan Jawa. Yang melatih adalah guru kesenianku, yang bernama Pak Lambertus, yang memang jago melatih drama dan suka menciptakan lagu. Seingatku, kami dulu berpakaian ala Jawa lalu beramai-ramai menyanyikan lagu dan ada sedikit tariannya. Waktu di depan Bapak Walikota, kami unjuk kebolehan. Capek juga sih sebenarnya, karena mesti berjalan kaki keliling (jalan-jalan besar di) Madiun di bawah terik matahari, mesti pakai kostum pula. Tetapi karena ramai-ramai yaaaa, seneng-seneng aja. Dan akhirnya kelelahan itu dibayar oleh kemenangan kami sebagai juara I. (Aku waktu itu baru tahu kalau rombongan yang ikut pawai itu ternyata ada penilaiannya.)

Karnaval kedua yang aku ikuti adalah ketika SMA kelas 1. Waktu itu anak kelas 1 diwajibkan ikut karnaval jalan kaki. Ada juga yang dipilih untuk karnaval sepeda, tetapi hanya anak tertentu (karena memang pesertanya tidak sebanyak karnanal jalan kaki.) Entah kenapa, karnaval masa SMA ini kurang menarik bagiku. Yang aku ingat adalah capeknya hehehe.

Pernah pula, kaum Mudika (muda-mudi katolik) di gerejaku ikut karnaval. Seingatku aku ikut pula, tapi aku sudah tak terlalu ingat apakah yang aku ikuti karnaval sepeda atau karnaval jalan kaki. Yang aku ingat, aku masih menyimpan foto-foto sebelum dan sesudah karnaval. Sayang foto-foto itu tidak kubawa ke Jakarta, jadi aku tak bisa memasangnya di sini.

Satu hal yang menyenangkan dari menonton dan ikut karnaval adalah karena ada faktor kebersamaan. Semakin kompak rombongan kita, semakin asyik. Mungkin salah satu hal yang membuat rombongan karnavalku di zaman SMP itu menang adalah faktor kekompakan pula. Dan juga ketika aku menonton karnaval bersama teman-teman yang kompak dan seru, itu pula yang menyenangkan.

Selepas dari Madiun aku tidak pernah menyaksikan karnaval tujuhbelasan lagi. Rasanya kok tidak terlalu pengen ya? Hehe, mungkin malas membayangkan mesti berdesak-desakan. Tetapi kalau ada teman yang asyik, dapat lokasi nonton yang oke, dan bisa sekalian hunting foto, boleh juga sih. Jadi, kapan nonton karnaval lagi ya? 😉

Advertisements