Seni Berjualan di Masa Pandemi

Pada masa pandemi ini beberapa mendadak menjadi penjual. Mulai dari jualan batik sampai keripik, mulai dari ayam goreng sampai dandang. Aku ikut grup WA paroki yang isinya para penjual. Sampai hari ini, aku lebih sering menjadi pengamat. Beli sesekali, dan lihat-lihat siapa yang jual.

Aku pernah juga membeli daster dari teman lingkungan. Niatanku untuk beli adalah mayoni atau ikut melarisi barang dagangannya. Secara kualitas barang, luamayan lah. Diantar sampai rumah pula, tanpa ongkir. Kurasa dia sudah memperhitungkan ongkirnya (dan semestinya begitu ya supaya tidak tekor).

Selain itu, aku pernah juga pesan kolang kaling dari teman yang lain. Awalnya hanya karena lihat status WA-nya, e … kok pengin. Aku lalu beli. Selain pengin, aku juga senang bisa ikut mayoni jualan teman.

Pada dasarnya aku cukup senang bertransaksi dengan teman sendiri. Ada sentuhan personalnya, walau mungkin berbalut basa-basi. Tapi senang juga bisa say hello dengan alasan jual beli. Kalau barangnya bagus, bukan tidak mungkin aku belanja lagi. Kadang aku tahu kalau beli dengan teman harganya sedikit di atas harga pasaran. Tapi aku tidak masalah harga barang agak tinggi, asalkan tidak kebangetan dan kualitasnya bagus.

Beberapa hari yang lalu aku tertarik membeli roti dari salah seorang penjual di grup WA paroki. Aku sama sekali belum kenal si penjual. Aku hanya tertarik beli produk yang ia tawarkan, yaitu roti tawar seharga 10.000 serta roti manis lain. Makanan biasa sih, tapi entah karena apa, aku kok tertarik. Spontan saja aku mengontak beliau dan kusebutkan roti yang kumau. Aku sekalian bertanya apakah ada minimal pembelian. Pikirku, kalau aku beli beberapa potong roti, bisa diantar. Tapi setelah dia tahu alamat rumahku, jawabannya: “Jauh, ya.”

Duh!

Aku mendadak kecewa. Ditambah pula roti yang hendak kubeli itu baru ada siang beberapa hari kemudian (padahal persediaan roti tawar di rumah sudah menipis). Kekecewaan itu muncul karena walau aku membeli beberapa potong roti, rupanya tidak ada pengantaran. Toh ketika aku tahu alamat si penjual, sebenarnya tidak jauh-jauh amat lho (buatku jarak sekitar 5 km tidak jauh).

Yang menambah kekecewaanku adalah pagi hari, ketika roti itu hendak kuambil, ada penjual roti keliling lewat rumahku! Iiih! Ngeselin! Tahu gitu kan aku tidak pesan roti. Mending beli dari tukang roti keliling yang lewatnya tidak bisa ditebak. (Kompleks rumahku memang jarang sekali ada orang jualan.)

Dari beberapa pengalaman belanja lewat teman, kupikir-pikir ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh para penjual (dadakan) ini:
1. Rajin-rajinlah promosi barang dagangan. Walau awalnya sepi pembeli, tapi kalau rajin promosi, kurasa pasti ada yang beli juga. Apalagi kalau barang jualannya khas, misalnya makanan khas daerah Jawa Timur, orang biasanya akan lebih mudah ingat.

2. Sopan dan ramah terhadap pembeli. Terutama kalau ada pembeli baru, jawab pertanyaan mereka dengan kata-kata yang sopan. Oya, aku juga biasanya mengingat siapa penjual yang bahasanya rapi, tidak suka menyingkat pesan. Capek baca pesan yang banyak singkatannya. Buat mata editor, tulisan seperti itu bikin sakit mata.

3. Buatlah paketan. Misalnya kalau kamu jualan roti yang harga per potongnya 5 ribu, buatlah paket dengan harga menarik. Misalnya buat paket isi aneka roti seharga 50 ribu, atau roti dan susu aneka rasa seharga sekian ribu. Paketan seperti itu lebih menarik daripada orang mesti berpikir sendiri barang apa saja yang hendak dibeli.

4. Buat aturan yang jelas mengenai pembelian, pembayaran, dan pengantaran. Misalnya kalau barang belum ada (harus pesan lebih dulu), jelaskan kapan barang siap. Soal pengantaran juga perlu dijelaskan di muka: apakah bisa COD, ada ongkos kirim tambahan, atau kalau belanja sekian ribu bebas ongkir, dan sebagainya.

Minimal empat hal itu dulu deh. Nanti kalau ingat hal lain aku tambahkan.