Kamu Ingin Menjadi Penerjemah?

Kemarin aku ikut seminar penerjemahan di kampusku dulu. Salah satu pembicara mengompori para peserta supaya menjadi penerjemah. Alasannya menjadi penerjemah itu asyik. Apalagi kalau bisa kerja di rumah. Bisa bekerja sambil pakai daster, mau kerja di mana saja bisa, dan konon penghasilannya besar. Bagi sebagian penerjemah, memang begitu adanya. Zaman dulu, untuk membeli mobil baru, cukup menerjemahkan tiga buku. Tiga buku saja! Iya, benar. Menggiurkan, bukan? Sekarang? No comment.

Masalahnya, bagaimana caranya? Benarkah begitu?

Menurutku tak ada kesuksesan dan kemakmuran yang tidak disertai kerja keras. Apa pun itu. Termasuk kalau kamu jadi penerjemah. Jangan terlalu mudah percaya bahwa menjadi penerjemah adalah jalan mudah untuk kaya. Jangan mudah percaya bahwa menjadi penerjemah lepas itu hidupmu bakal santai. Kalau mau sukses, ya jangan santai. Di mana-mana hukumnya begitu.

Menurutku jadi penerjemah itu untung-untungan. Kalau memang jalanmu di situ, ya jadilah. Kalau tidak, ya susah juga. Kenapa begitu? Pertama-tama karena tidak ada jalur yang jelas untuk menjadi penerjemah. Kalau kamu mau jadi dokter, jelas ada sekolahnya, ada jalurnya. Kalau kamu mau jadi pengacara, jelas ada jalurnya juga. Kalau penerjemah? Pernah dengar ada sekolah vokasi untuk penerjemah? Setahuku yang ada hanya kursus. Setelah kursus, belum tentu kamu bakal langsung bisa praktik dan memasang tarif tinggi. Malah kemungkinan calon klienmu akan menawar tarifmu serendah mungkin. Jangan tersinggung. Banyak kok yang mengalami. Penerjemah senior saja sering diminta menurunkan harga, kok kamu penerjemah kemarin sore mau pasang harga tinggi. Siapa elu? Untuk mengawali karier, kamu bisa iseng menerjemahkan buku atau artikel lalu kamu pajang di akun media sosial atau blog pribadimu. Hitung-hitung promosi dan pamer karya. Namun, kalau kamu berharap bisa langsung dapat klien yang bisa memberimu honor 200 ribu per lembar, rasanya berdoa dan ikut kursus saja belum cukup. Itulah yang kumaksud dengan kerja keras. Jalannya berliku. Rata-rata penerjemah yang kukenal itu tersesat. Awalnya tidak berniat menjadi penerjemah, e… ternyata ada yang menawari pekerjaan. Mulanya hanya satu-dua orang. Lama-lama banyak. Itu yang kumaksud dengan untung-untungan. Kamu mesti sigap menangkap peluang.

Jika ada yang bertanya padaku, bagaimana caranya menjadi penerjemah buku? Jawaban paling gampang adalah melamarlah ke penerbit. Sertakan contoh hasil terjemahanmu dan teks aslinya. Masalahnya, belum tentu lamaranmu bakal langsung ditanggapi. Yang melamar ke penerbit tidak hanya kamu. Buanyaaak! Kamu mesti bersaing dengan para pelamar lain. Belum lagi kalau surat lamaranmu terselip. Atau mungkin sang editor tidak sempat membuka email lamaranmu. Selain itu, penerbit pasti sudah punya penerjemah langganan. Iya kalau hasil terjemahanmu nanti sesuai dengan keinginan editor. Kalau tidak? Analoginya: Kamu punya penjual kue langganan. Biarpun ada toko kue baru yang promosinya gencar, kamu mungkin tetap lebih suka beli kue di penjual kue langgananmu. Kamu sudah tahu kualitas kuenya, harganya juga bersahabat.

Ada yang bilang untuk menjadi penerjemah ikutlah asosiasi ini, jadilah member di direktori anu, dan sebagainya… dan seterusnya. Masalahnya, setelah kamu jadi anggota, apakah kamu langsung dapat terjemahan dengan bayaran yang bikin para pegawai kantoran iri? Belum tentu. Kamu tentu harus bisa tampak menonjol sebagai anggota ini dan itu. Inilah yang kumaksud dengan kerja keras. Supaya tampak menonjol dan bisa mendapat kepercayaan, kamu mesti kerja keras. Kamu mesti kreatif. Terserah bagaimana caramu. Mau jadi penerjemah tanpa dibayar dulu kek, bikin website yang postingannya menarik kek, sering-sering menjawab pertanyaan yang dilontarkan di grup kek, sering posting contoh hasil terjemahan kek… terserah. Jangan salah, banyak kok penerjemah yang tidak menjadi anggota asosiasi. Mereka lancar-lancar saja ordernya, tuh. Ada pula yang bilang bahwa dengan menjadi anggota ini atau itu, order akan mengalir. Apa iya? Belum tentu. Bisa juga kamu dicueki. Lagi-lagi, jangan tersinggung ya. Memang begitulah dunia. Iklan selalu terdengar manis.

Ya, untuk jadi penerjemah bisa lewat jalur mana saja. Itu karena belum ada jalur khusus yang sudah terstruktur–begitu menurut pengamatanku sejauh ini. Menjadi penerjemah tersumpah saja sampai sekarang belum jelas jalur dan caranya, kok. Jadi penerjemah itu ibarat kamu ingin jualan kue. Caranya bisa macam-macam. Pokoknya asal para calon pembelimu itu tahu bahwa kamu pembuat kue yang wuenak. Kamu bisa menyebar brosur, bisa jualan kue di depan rumah, bisa kirim kue gratisan ke blogger yang jadi buzzer lalu minta agar kuemu dipromosikan lewat blognya. Terserah, deh. Intinya, kamu harus kerja keras dan itu tidak mudah.

Jadi, jangan tergiur setiap ucapan manis tentang nikmatnya menjadi penerjemah. Semua butuh kerja keras. Sembari kamu berusaha untuk menjadi penerjemah, tetap lakukan hal lain yang kamu sukai, misalnya membatik, memasak, menjahit, menyulam, merajut, jalan-jalan, menulis, dan lain-lain. Jadi, kalau kamu tidak berhasil menjadi penerjemah, kamu tidak galau. Siapa tahu kamu malah sukses menjadi penulis yang bayarannya berkali lipat daripada penerjemah. Siapa tahu hasil rajutanmu lebih laku daripada terjemahanmu. Ya, kan? Ya, kan? Ikutlah kegiatan di luar rumah. Dengan begitu, banyak orang lebih mengenal kamu plus kemampuanmu.

Menurutku menjadi penerjemah hanyalah salah satu pilihan jalan hidup. Masih banyak pilihan lain–yang juga membahagiakan dan memberikan rejeki. Kalau ada yang bilang jadilah penerjemah karena bisa begini dan begitu… tetaplah kembali ke nasihat lama: Semua itu butuh kerja keras. Ora usah gumunan, ojo penginan–jangan mudah terkesima, jangan gampang pengin ini dan itu.

Kamu tetap ingin menjadi penerjemah? Bekerja keraslah. Carilah jalanmu–entah bagaimana caranya. Jadilah kreatif. Kalau setelah jungkir balik kamu merasa tidak bisa menjadi penerjemah sukses, jangan galau. Rejeki itu ada di mana-mana.

Aku sih penginnya jalan-jalan, bikin sabun, masak, nulis picture book. Banyak maunya, ya? Emang.

Advertisements

Ketika Kembali ke Kampus Lagi…

Hari ini akan kucatat sebagai hari yang penting dalam hidupku. Hari ini pertama kalinya aku diundang untuk berbagi pengalaman sebagai penerjemah dan penulis di kelas mahasiswa S2 Kajian Bahasa Inggris Sanata Dharma.

Aku sebenarnya tidak jago-jago amat dalam menerjemah. Pengalamanku sedikit sekali dibandingkan para begawan penerjemah di luar sana yang telah menghasilkan segepok dolar. Aku sempat bertanya-tanya, bakalan grogi tidak ya berhadapan dengan teman-teman mahasiswa? Aku hampir tidak pernah mengajar. Pengalamanku sebagai guru les hanya satu kali dan aku merasa tidak cocok sebagai guru. Aku merasa tidak bisa mengajar dan kurang cerdas menghadapi pertanyaan yang tidak terduga.

Beberapa hari sebelumnya aku sudah diberi kisi-kisi apa saja yang perlu kubahas di kelas tersebut. Aku sempat browsing dan mencatat sedikit poin-poin yang perlu kusampaikan tadi pagi sebelum berangkat. Kelas dimulai pukul 11 dan aku mesti menemui bapak dosen. Jadi, aku mesti berangkat lebih awal. Sempat terbayang, bagaimana kalau tengah-tengah kelas aku lapar? Ooow… tak kubayangkan jauh dari kulkas dan dapur. >,<

Sebelum ke Sanata Dharma aku mampir ke Kanisius menemui editor untuk membahas nasib naskahku. Beberapa komentar yang kuterima tentang naskahku yang semata wayang itu memang sempat membuatku baper dengan suksesnya. Namun, pertemuan dengan editor hari ini membuatku sedikit lega.

Oke, balik ke urusan kampus. Aku pun menuju kampus. Saat mendekati kampus, aku merasa semacam “pulang” ketika menghirup aroma khas bunga mahoni (?). Ya, semacam itulah. Bagi yang pernah kuliah di Sadhar kurasa bisa paham aroma khas itu. Wangi lembut dan segar. Selain itu untuk mengantisipasi kelaparan, aku mampir beli bakso Dab Supri di kantin. Suasana kampus Realino yang sudah cukup kukenal mengurangi sedikit rasa grogiku.

Pada awal sesi berbagi pengalaman itu, aku menceritakan bagaimana aku bisa kesasar menjadi penerjemah. Ya, aku menjadi penerjemah karena aku menghindar menjadi guru. Begitu lulus kuliah, lowongan yang banyak muncul adalah lowongan untuk menjadi guru, lowongan kerja di Jakarta, dan lowongan di luar Jawa. Ketiganya adalah hal yang kurang menarik buatku. Aku tidak suka menjadi guru, aku malas pergi ke Jakarta, dan aku tidak membayangkan jika terdampar di luar Jawa. Cemen? Iya. Haha.

Karierku sebagai penerjemah dimulai ketika aku menjadi penerjemah inhouse di Gloria (Renungan Harian). Adapun aku mulai menikmati uang dari menulis adalah ketika aku sempat menulis di majalah keluarga Familia (Kanisius) dan ketika tulisanku di web Glorianet dibukukan.

Pertanyaan yang kuterima setelah berbagi pengalaman itu adalah: Bagaimana jika kita yang bukan “siapa-siapa” ini bisa mendapat orderan yang lancar?

Begini, penerjemah itu macam-macam bidang keahliannya. Mau jadi penerjemah di bidang apa? Mau ahli mengalihbahasakan teks bidang hukum, medis, teknik? Macam-macam. Aku pada awalnya banyak bergelut dengan teks rohani, lalu ke fiksi, lalu materi yang umum-umum saja. Pengalamanku sebagai editor inhouse di Gloria sangat membantuku mempertajam keterampilan alih bahasa plus menambah jejaring tentunya. Maka untuk menjawab pertanyaan di atas, aku menyarankan pada mereka yang tertarik sebagai penerjemah untuk pertama-tama melamar sebagai penerjemah di suatu instansi. Ini adalah cara cepat untuk mendapatkan pengalaman. Kurasa ada saja instansi yang membutuhkan orang-orang baru dan masih ingin belajar. Kedua, menjadi anggota di ProZ.com atau Translatorcafe.com. Selain itu, sekarang banyak website yang menjadi perantara freelancer dan end client atau agensi. Ketiga, jadikan akun media sosial kita sebagai etalase yang baik sehingga orang lain mengetahui keterampilan yang kita miliki. Keempat–sayangnya ini lupa kusebutkan–menjadi penerjemah volunter.

Pertanyaan lain yang juga kuingat betul adalah: Apa tips untuk menulis dan membuat buku sampai bisa terbit? Ini pertanyaan klise, tapi menarik. Untuk menjadi penulis yang baik, pertama-tama perbanyak bacaan. Bacaan itu ibarat makanan bagi otak. Soal teknik menulis itu bisa dipelajari dengan cepat jika kita memperbanyak bacaan. Kedua, miliki pembaca pertama (first reader) yang bisa diandalkan. Mereka sangat membantu dalam memberi masukan soal tulisan kita. Mana yang perlu dipangkas, mana yang perlu dieksplorasi lebih dalam, dll. Ketiga, kenal dengan editor secara langsung. Ini agak sulit. Tetapi bukan tidak mungkin. Sekarang zamannya medsos. Untuk kenal dengan editor bisa dengan aktif di grup-grup penulisan yang banyak bertebaran di medsos. Ada saja kok editor yang mencari penulis lewat grup di medsos. Jika kita kenal dengan editor, kita bisa berdiskusi tentang naskah kita langsung dan memolesnya sedemikian rupa sehingga kemungkinan naskah kita dilirik lebih besar.

Setelah sesi sharing pengalaman ini, aku sempat berbincang dengan bapak dosen. Pada kesempatan inilah aku menyampaikan beberapa hal yang berkaitan dengan dunia penerjemahan. Misalnya tentang pentingnya ada kursus penerjemahan di kampus. Ini adalah salah satu cara strategis untuk memperbaiki kualitas penerjemah dan nantinya akan meningkatkan kualitas hasil terjemahan secara menyeluruh (termasuk soal tarif dan kebijakan pemerintah–menurutku).

Ya, bagiku hari ini adalah hari yang penting. Hari ketika aku kembali ke kampus lagi. Yang kubagikan hari ini tidak banyak, tetapi kuharap bisa berguna bagi teman-teman yang mendengarkan pengalamanku tadi.