Cerita Lebaran 2018

Seperti biasanya, Idulfitri kulalui dengan di rumah saja. Maksudnya, aku tidak ke luar kota. Membayangkan penuhnya kendaraan umum membuatku enggan untuk mudik. Hanya berkunjung ke tetangga kiri-kanan. Kebiasaan ini rasanya tidak bisa ditinggalkan ya. Walau tidak merayakan Idulfitri, aku dan keluargaku tetap ikut “ujung-ujung” ke tetangga. Yang dekat-dekat saja, terutama yang sudah sepuh. Selain itu aku ke rumah Maya (iparku) di Ngasem untuk bertemu Budhe dan Tante yang berlebaran.

Saat lebaran, suguhan yang paling ditunggu-tunggu biasanya adalah tape ketan. Tapi kali ini tape ketan kurang terasa gregetnya karena tape buatanku ternyata lebih enak. Hahaha. Aku mencicipi tape di dua rumah tetanggaku, dan agak kecewa. Tape itu kurasa belum terlalu lama diperam. Teksturnya kurang lembut dan kurang berasa alkoholnya.

Lebaran kali ini keluargaku mendapat opor, krecek, kering tempe, lontong, dan ketupat. Semuanya itu dari tetangga dan Budhe. Jadi, aku tidak perlu memasak setidaknya selama 1 hari. Padahal aku sudah menyetok sayuran, takut nanti pas lebaran tidak ada yang jual makanan dan sayuran segar. Sebelum lebaran hari H aku sudah bertanya ke penjual makanan yang biasa kudatangi. Ada yang sebagian sudah buka pada H+2. Kulihat rata-rata penjual bakso sudah buka juga. Jadi, sebetulnya cukup aman jika aku tidak masak pun.

Opor dan teman-temannya itu menghiasi meja makan di rumah sampai 2 hari. Setelah itu, mulut dan perut rasanya kangen sayuran. Untungnya di kebun belakang bisa memetik kecombrang dan sayur pepaya papua (entah apa nama latinnya, yang jelas ini sayur andalan kalau lagi malas pergi beli sayur di pasar/warung). Tinggal beli toge, wortel, dan tempe. Sambel pecel masih ada di kulkas.

Nah, bagaimana lalu lintas Yogya selama lebaran? Saat H-1, jalanan agak lengang. Hari itu aku pergi ke rumah temanku di dekat Plengkung Wijilan. Aku tidak mengalami kemacetan yang berarti. Malah rasanya agak lengang. Ini di daerah kota ya. Tapi menurut laporan temanku yang lain, ring road lumayan macet. Mungkin jalanan mulai dipenuhi oleh para pemudik dari luar kota.

Waktu lebaran hari pertama, jalanan benar-benar sepiii. Seneng deh. Jadi, aku ke Ngasem cukup cepat. Nggak ada macet-macetnya sama sekali.

Lebaran hari kedua, aku nggak pergi-pergi. Lebaran hari ke-3, malamnya aku pergi nonton Ketoprak Conthong yang judulnya Sang Presiden di Societet. Jalanan maceeet. Beneran aku takjub melihat Yogya bisa semacet itu. Untungnya aku naik motor, jadi bisa mlipir lewat gang dan jalan kampung. Bahkan sampai pukul 11 malam pun jalanan di tengah kota masih ramai. Mobil-mobil luar kota memenuhi jalanan. Dalam hati aku bertanya-tanya, “Kalau semacet ini, apanya yang mau dinikmati?” Dan sayangnya kendaraan umum di Yogya ini buruk. Amat sedikit. Jadi, tidak heran kalau jalanan penuh mobil pribadi.

Ah, kalau aku sih… libur lebaran paling enak sebetulnya di rumah saja. Hasilnya? Ada terjemahan yang selesai dan beberapa potong sabun. Hehe. Bagaimana cerita lebaranmu?

Advertisements

Agama yang Membosankan

Di sebuah arisan yang kuikuti, ada seorang ibu yang tampaknya selalu berusaha menjadi bintang tamu. Sebut saja namanya Bu Alamakjan. Bu Alamakjan ini terkesan ramah di awal. Dia suka menyapa, tanya kabar. Ng… basa-basi sih. Tapi kesan ramah itu segera berubah. Di balik keramahannya itu dia sering curhat lebay. Dia sering merasa menjadi korban menurutku.

Suatu kali, tak lama setelah dia datang arisan, dia menggelar drama. Dia cerita bahwa di lingkungan tempat tinggalnya ada yang memelihara tuyul. Dan dia cerita heboh banget. Sampai mau nangis. Lalu dia bilang bahwa memelihara tuyul itu terlarang bagi agama, bahwa hanya Tuhan yang patut disembah, bahwa hidup di dunia ini hanya sebentar, jadi apalah gunanya menuhankan harta? Tak lupa dia mengutip ayat kitab sucinya bla… bla… bla. Di akhir cerita dia bilang semoga pemelihara tuyul itu segera bertobat. Ya, ya … Bu Alamakjan ini paling sering membahas agama. Hampir semua bidang kehidupan dia pandang dari sudut pandang agama. Semua dia kaitkan dengan ayat-ayat.

Biasanya kalau dia sudah mulai berceramah soal agama, aku tak ambil pusing. Dia mau bilang bahwa agamanya yang terbaik pun, aku iyain saja. Maksudku biar dia segera ganti topik sih. Kupingku sudah cukup tebal mendengar pembicaraan soal agama. Tapi tidak soal petasan. Petasan? Ceritanya, pada bulan puasa lalu, anak lelaki yang selalu dia banggakan itu menyalakan petasan di dekat rumahku. BOOOM! BOOOM! BOOOM! Suaranya menggelegar. Biyuuuh! Aku kaget pol. Aku sudah bisa menebak, tak akan ada orang di sekitar rumah kami yang protes dengan suara petasan itu. Apalagi kalau yang menyalakan petasan adalah anak Bu Alamakjan. Sudah jadi pengertian tidak tertulis bahwa jangan sampai membuat perkara dengan Bu Alamakjan sekeluarga. Salah-salah bakalan dimusuhi seumur hidup. Tapi entah apa yang merasukiku saat itu, aku langsung menyampaikan keberatanku padanya. Kubilang aku terganggu dengan suara petasan yang sangat keras itu. Apa coba jawabannya? “Tolong dimaklumi ya. (Membunyikan petasan) Itu termasuk dalam kebiasaan kami menjalankan agama.” Aku lupa bagaimana persisnya ucapan dia. Tapi pada intinya, membunyikan petasan itu tidak bertentangan dengan ajaran agamanya. Kira-kira begitu ucapan dia. Sumpah aku mau ngakak. Heloo… petasan disebut di ayat mana sih? Jadi menimbulkan polusi suara itu boleh ya?

Sungguh, aku semakin tak tertarik dengan orang yang sering sekali membahas agama. Kendati dia hapal ribuan ayat dan bisa mencocokkan setiap aspek kehidupan dengan ayat-ayat yang dia baca, aku tak tertarik.

Kurasa orang seperti Bu Alamakjan itu selalu ada di sekitarku. Barusan di perkumpulan bapak-bapak, ada seorang bapak yang begitu datang langsung menyampaikan khotbah. Melakukan ini dosa, melakukan itu larangan bagi agama, bla… bla. Padahal sebelum bapak itu datang, para tamu membahas cara menanam pisang yang baik, pengaruh hujan untuk penanaman padi, dan hal-hal praktis di sekitar tempat tinggalku.

Agama buatku lebih pas kalau langsung dipraktikkan. Buat apa membaca kitab suci berkali-kali, tapi perilakunya menjadi batu sandungan bagi orang lain? Khotbah, dakwah, atau apa pun namanya hanya akan tampak menggelikan jika tak dibarengi perilaku yang dilandasi akal sehat. Kurasa tak perlu terlalu sering mengutip ayat. Cobalah persering memakai akal sehat. Atau barangkali memakai akal sehat lebih sulit? Entahlah.

Menang Lotere

Mari kita berandai-andai. Misalnya, kamu menang lotere yang banyaaak sekali, kira-kira uangnya mau kamu apakan? Bayangkan saja, uangnya banyaknya tak ketulungan, jadi kamu bisa hidup enak sampai tujuh turunan hanya dengan ongkang-ongkang kaki, tanpa kerja keras.

Aku tidak sedang menang lotere sih. Tetapi, ketika berandai-andai punya uang yang sangat banyak, aku mendadak jadi ingat satu hal saat aku lewat dekat Jalan Siliwangi, Bandung beberapa tahun yang lalu. Waktu itu aku dan suamiku sedang naik kendaraan umum, dan kami melintas di seputar jalan tersebut, lalu tampaklah deretan rumah-rumah lama yang masih bagus. Tak jauh dari salah satu rumah yang bagus itu, tampaklah gerombolan pepohonan yang berderet panjang. Pepohonan itu tampak tampak mencolok di tengah deretan rumah-rumah sebelumnya. Sepanjang ingatanku, gerombolan pepohonan itu luasnya cukup signifikan. Dan yang unik, letaknya tidak terlalu pinggiran kota. Jadi, pohon-pohon itu ibarat sebuah hutan di tengah kota. Suamiku bilang, hutan kecil itu milik keluarga A. Kasoem. (Aku tidak tahu persis apakah itu benar-benar milik keluarga A. Kasoem atau tidak. Aku berusaha googling mencari kebenaran informasi itu, tidak kudapatkan. Adakah yang bisa memberi informasi lebih jauh soal ini?)

Namun, ide soal hutan kecil di dekat rumah dan tak jauh dari pusat kota itu, menurutku keren sekali. Wow! Membayangkan punya hutan kecil bagiku rasanya lebih keren daripada punya mall ya? Hi hi hi … Hutan kecil yang sejuk dan memberikan kerindangan di sekitarnya itu terekam di kepalaku. “Betul-betul orang kaya, nih,” pikirku. Kaya dan punya taste bagus, begitu kesanku.

Yah, seandainya aku mendadak menang lotere, rasanya aku juga ingin membeli tanah yang cukup luas untuk kujadikan hutan kecil di dekat rumah. Atau malah beli satu pulau, seperti George (seorang tokoh Lima Sekawan) yang dibelikan pulau oleh ayahnya? 😀

Oya, sebelumnya aku akan membuat sebuah perpustakaan yang sangat bagus, di mana kita bisa mengakses semua buku yang ada. Semua boleh masuk, gratis, dan boleh membaca di situ sepuasnya. Yang jelas, aku tidak takut ada buku yang hilang, karena selalu mampu dan tak kesulitan untuk membeli gantinya.

Nah, kalau kamu jadi orang yang kaya mendadak, mau ngapain?

 

*Postingan tak penting ini dipicu karena tetangga yang tiba-tiba seperti menang lotere.