Ujian Tujuh Tahun

Bulan lalu, ketika aku ulang tahun, salah satu yang mengucapkan selamat adalah seorang teman lama. Teman SD-SMP. Aku agak surprised waktu menerima ucapan darinya. Sebenarnya ucapannya biasa saja, tapi tahu bahwa dia masih ingat diriku dan ingat tanggal ulang tahunku, itu surprising. Aku sendiri, masih selalu ingat tanggal ulang tahunnya–semata-mata karena kami ulang tahun di bulan yang sama. Hanya selisih kira-kira satu minggu. Tapi memang sih di antara banyak teman sekolah dulu, hanya satu-dua orang yang masih berkontak denganku, salah satunya ya dia itu. Walaupun tidak sering kontaknya, paling tidak pas aku pulang, aku sesekali masih main ke rumahnya.

Pernah, suatu kali aku ditanya suamiku, “Kalau bisa balik ke masa lalu, kamu mau balik ke masa kapan?” Aku segera menjawab: “Masa SMP.” Bagiku, masa SMP itu asyik banget. Aku mendapat teman-teman yang menyenangkan. Guru-gurunya juga asyik. Mungkin kalau anak sekarang bilang: Guru-gurunya gaul. Salah satu ulang tahun terbaik yang pernah kualami adalah masa SMP—dirayakan pas malam satu suro, kalau nggak salah, trus waktu itu entah gimana ada beberapa teman melekan di sekolah. Hadiah yang kuterima waktu itu adalah sisir yang guedeee banget!. Haha. Aku masih ingat sampai sekarang.

Soal pertemanan, belakangan aku merasa sepertinya aku lebih banyak berteman lewat dunia maya–lewat FB dan belakangan WhatsApp (WA). Kalau di FB, teman-teman di ada di daftarku rata-rata teman sekolah dulu, teman blog, sesama penerjemah, beberapa teman penulis, teman asrama, teman eks kantor. Kalau di WA, aku ikut—lebih tepatnya diikutkan—beberapa grup. Tapi hanya dua yang biasanya aku cukup aktif nimbrung: grup teman kuliah di Sastra Inggris dulu dan grup Litara Sista—teman dari grup Litara yang pernah ikut workshop awal tahun lalu.

Di dua grup WA itu, aku merasa “punya teman.” Ng… maksudnya gini, karena aku lebih sering bekerja sendiri di rumah, tanpa rekan kerja, teman-teman di grup itu jadi semacam teman yang ada di seberang meja yang meramaikan ruang kerjaku. Di grup teman kuliah, bahasannya ngalor ngidul dan teman-teman cukup ramai sahut-sahutan. Akibatnya bagi yang tidak suka keriuhan biasanya meninggalkan grup tersebut. Kalau di grup Litara Sista, yang dibahas macam-macam. Mulai soal tips dan trik nulis sampai soal kontrakan rumah. Beneran kaya punya saudara-saudara perempuan kalau di grup ini. 😀

Dan pagi ini aku menemukan (lagi) kutipan ini: If a friendship lasts longer than 7 years, psychologists say it will last a lifetime. Jika persahabatan berjalan lebih dari 7 tahun, para psikolog mengatakan persahabatan itu akan langgeng seumur hidup. Seketika aku teringat teman-teman lamaku, juga teman-teman di grup WA tersebut. Aku tidak tahu sampai berapa lama teman-teman yang ada di grup WA itu akan bertahan. Lagi pula, WA sendiri bakal bertahan sampai berapa lama? 😀 😀 Tapi mengingat beberapa teman lamaku yang masih berkontak sampai sekarang, rasanya jelas sudah tujuh tahun berlalu kami berteman. Kalau bisa sih, saat usiaku semakin bertambah nanti, aku pengin punya teman-teman lama yang tetap saling mendukung, saling mengingat, saling menyayangi.

Hidup Itu… Begini-begini Saja

Sampai saat ini aku tidak mengira bahwa efek tinggal di asrama terasa sampai sekarang. Entah kenapa, kalau ketemu dengan teman asrama, rasanya seperti ketemu teman dekat yang sudah lama tidak ketemu. Mungkin itulah hebatnya asramaku dulu, Syantikara: Diam-diam menimbulkan ikatan.

Ceritanya beberapa waktu lalu, aku bertemu dengan teman satu unitku dulu, Kak Iyen. Ternyata selama ini, sejak tahun 2010, dia kuliah lagi, mengambil jurusan spesialis Sp.OG di UGM. Dan… kami baru bertemu beberapa bulan lagi. Telat sih tahunya. Aku kuper barangkali ya? Hehehe.

Kami bertemu sepulang misa di Banteng. Ngobrol ngalor ngidul cukup lama. Dari bubaran misa yang jam 7 sampai misa yang 8.30 selesai. Satu setengah jam lebih rasanya. Dan acara obrol-obrol itu kami lakukan di parkiran, ditemani susu yang kami beli di depan gereja. Kulihat Kak Iyen masih seperti dulu. Ceria dan banyak tertawa. (Oya, sekarang dia sudah bisa naik sepeda motor. Dulu waktu di asrama, belum bisa.)

Kak Iyen bercerita tentang aktivitasnya ketika bertugas ke luar Jawa. Kalau mendengar ceritanya, rasanya usaha negara ini untuk bisa memberikan fasilitas kesehatan kepada rakyatnya yang berada nun jauh di sana masih butuh perjuangan yang tidak mudah. Apalagi kalau korupsi masih merajalela, yaaa… alamat kembang kempis deh.

Dari obrolan itu, ada satu kalimat yang masih terngiang-ngiang di benakku: “Hidup ini sebenarnya begini-begini saja, ya.” Kalimat ini terlontar setelah kami mengobrol soal teman-teman asrama yang lain, yang sudah sukses, yang sekarang tinggal di mana, dan… yang sudah meninggal. Aku sempat memintanya bercerita tentang mendiang kakaknya. Dulu kakaknya meninggal karena sakit yang tidak jelas sekitar 2,5 bulan saja. Usia kakaknya baru 29 tahun waktu itu. Muda sekali.

Ketika kami membicarakan beberapa teman asrama yang sudah meninggal, aku merasa ucapan bahwa hidup ini sebenarnya begini-begini saja, entah bagaimana terasa cocok. Hidup ini adalah soal lahir, tumbuh besar, dewasa, berkarya, menua, lalu mati. Hanya begitu. Hidup itu seperti asap yang sebentar terlihat, lalu menghilang. Seperti bunga rumput yang bergoyang ceria di siang hari, lalu kuyu sore harinya. Cepat sekali berlalu. Dan aku pun merasa waktu dalam hidup ini terasa licin. Meluncur tak terkendali!

Sebagai orang yang “penakut”, aku merasa komentar bahwa hidup ini begini-begini saja, sebenarnya cukup melegakan. Kenapa? Apa yang perlu ditakuti dalam hidup yang “begini-begini saja”? Semua pada akhirnya akan baik-baik saja. Hal-hal buruk dalam hidup ini semua akan berlalu. Ujung-ujungnya kita semua mati–bertemu dengan Tuhan, Sang Maha Cinta. Apa yang ditakuti? Menurutku ini senada dengan perkataan Abbas yang kutemui di Rawaseneng, “Hidup dan mati kita ada di tangan Tuhan.” Aku mengartikannya: Pasrah dan bergembiralah. Mungkin begitu singkatnya.

Aku pun merasa pertemuanku dengan Kak Iyen terasa singkat. Tahu-tahu misa ketiga sudah bubar. Akhirnya kami menyudahi obrolan dan berharap kapan-kapan bisa bertemu lagi. Aku pulang dengan perasaan kaya di dalam hati.

Seminggu Ini…

Sebetulnya aku tidak punya topik khusus untuk kutulis di blog. Tidak ada resep yang ingin kubagikan. Sebetulnya sih kalau soal resep, itu adalah catatan untuk diriku sendiri yang pelupa. Kalau ingin mengulangi masakan tersebut, tinggal buka blog. Lagi pula, toh resep masakan yang kubagikan itu biasa saja. Orang lain pasti lebih jago memasak ketimbang aku. Eh, ya balik ke soal menulis blog tanpa topik ini. Aku sebetulnya mau nulis apa, juga bingung. Tapi kok rasanya pengin nulis saja. Semacam ngudarasa. Semacam melemaskan otot jari lalu memajang apa yang ada di kepalaku saat ini.

Hmm… sepertinya aku mau cerita yang biasa-biasa saja. Jumat lalu (24 Oktober) aku ke Bandung untuk ikut acara bersama teman-teman penerjemah buku hari Sabtunya. Acara ini sebetulnya digagas ketika beberapa teman penerjemah mengobrol dan ingin adanya suatu kegiatan yang cukup rutin untuk menambah wawasan para penerjemah buku. Selama ini dirasa kurang adanya pelatihan khusus untuk penerjemah buku. Memang sudah ada HPI yang beberapa kali mengadakan pelatihan penerjemahan, tapi kurang spesifik untuk penerjemah buku. Barangkali itu terjadi karena penerjemahan buku dikenal kurang menghasilkan uang dalam jumlah banyak (dibandingkan dengan penerjemahan dokumen yang sehalaman saja bisa menghasilkan uang lelah seratusan ribu). Di mana-mana ada gula ada semut, bukan? Sudah hukum alam barangkali ya. Singkat kata, acara kami berlangsung lancar. Jika ingin tahu lebih banyak tentang acara ini, Teh Rini sudah menuliskan lapantanya di sini.

Di Bandung kami beramai-ramai menginap di rumah Rere. Rumah Rere yang besar cukup menampung kami berdelapan (Uci, Mbak Dina, Meggy, Lulu, Mbak Mei, Mbak Dini, aku dan suami). Seru juga sih, karena kami bisa mengobrol dan haha hihi sampai tengah malam. Yang seru juga adalah suamiku bertemu dengan suami Mbak Femmy. Mereka berdua dulu satu kelas waktu kuliah di Bandung. Kami baru tahu mereka dulu sekelas hanya terpaut beberapa hari sebelum kami ke Bandung. Jadi, saat itu yang temu kangen (dan gosip-gosip) bukan hanya para penerjemah buku, tapi juga suami dua penerjemah. 😀

Deretan sebelah kiri ke belakang: Lulu, Meggy, aku, Uci, Rere. Deretan kanan ke belakang: Mbak Mei, Mbak Dina, Mbak Dini, Oni, Anais.
Deretan sebelah kiri ke belakang: Lulu, Meggy, aku, Uci, Rere. Deretan kanan ke belakang: Mbak Mei, Mbak Dina, Mbak Dini, Oni, Anais.

Sepulang dari Bandung, hari Minggunya, aku tidak bisa bangun siang dan berleha-leha di rumah karena mesti melayat Reni. Perjalanan ke rumah Reni cukup lancar. Hampir tidak kena macet. Berkat google maps, aku berhasil menemukan rumah Reni. Dulu aku pernah ke sana sekali waktu doa arwah untuk ibunya. (Yah, kenapa ke sana lagi justru untuk melayat kamu, Ren?) Entah kenapa waktu di depan peti, aku tidak bisa menangis. Sedih sih, tapi seperti ada yang menyumbat air mata. Di rumah Reni aku bertemu Sinta (Syantikara ’98). Dia sengaja datang dari Jogja untuk melayat Reni. Mungkin rasa kehilangan Sinta lebih besar daripada aku karena dia dulu sempat satu unit dengan Reni (di unit atas Syantina) selama tiga tahun. Aku tidak ikut misa requiem karena masih capek sekali setelah dari Bandung dan tiba di rumah sekitar pukul 1 tengah malam. Plus agak-agak lapar. Jadi, daripada malah sakit, aku dan suamiku memutuskan untuk pulang.

Hari-hari yang kulalui dalam seminggu ini bisa dikatakan tidak ada yang istimewa. Semua berjalan biasa. Misa Minggu sore, ke pasar, memasak, menerjemah, dan… oya, aku potong rambut. Setelah satu tahun lebih aku memanjangkan rambut hingga sebahu, akhirnya aku memutuskan untuk memendekkan rambut. Alasannya: Pengin ganti suasana. Reni meninggal dan beberapa waktu lalu aku sakit (hanya flu, sih) membuat suasana hatiku agak gimanaaa gitu. Lagi pula, beberapa hari ini cuaca panas sekali. Rasanya kalau berambut pendek, lebih praktis dan tidak perlu diikat supaya tengkuk tidak gerah. Sebetulnya agak sayang juga memotong rambut. Tapi toh rambut bisa panjang kan, jadi kalau mau memanjangkan tinggal memupuk kemalasan pergi ke salon. 😀

Aku senang seminggu ini baik-baik saja. Tidak ada yang istimewa adalah keistimewaan tersendiri. Bagiku yang biasa-biasa saja itu membahagiakan karena itu berarti aku cukup sehat, bisa beraktivitas, dan bisa berinteraksi dengan beberapa teman. 🙂

*Foto meminjam dari Lulu.

Reni

“Mau bareng?” begitu kudengar pertanyaan dari seberang telepon.
“Iye,” jawabku singkat.
“Ya udah, ntar gue jemput.” Aku sudah menduga begitu jawabannya.
“Masih ingat jalan ke tempat gue?”
“Kira-kira masihlah. Tapi lupa gangnya.”
“Gampanglah. Ntar kutunggu depan gang ya.”

Ternyata aku terlambat keluar gang. Ampun, aku selalu payah untuk begini.

“Elu di mana, Ren?”
“Di dekat jembatan.”
“Jembatan? Kok aku nggak liat elu?” Aku jadi mengira aku ditunggu di jembatan yang jaraknya 100 meter setelah dari gangku. “Ya udah, gue jalan deh. Tunggu ya.”

“Gue sudah di dekat jembatan nih. Kok elu nggak ada?”
“Jembatan yang ada tempat benerin gigi kan?”
“Ya elaaah…. salah aku. Elu maju lagi deh. Gue di pinggir jalan nih. Pake kaos putih.”

Lalu tak lama kulihat sosok bertubuh padat sambil menyengir. Aku merasa konyol karena miskomunikasi ini. Segera aku membonceng ke jok di belakangnya dan kami pun melaju ke tempat kami akan bereuni.

Itu adalah satu dari beberapa peristiwa yang terekam dalam kepalaku soal dia–Reni. Menurutku, pertemanan kami ini unik. Saat di asrama, sepertinya aku jarang sekali ngobrol-ngobrol dengannya. Makan bareng di kafe asrama pun (semeja, maksudku), rasanya hampir tidak pernah. Tapi ketika aku di Jakarta, Reni termasuk salah satu teman yang menyapaku, mengajak makan, mengobrol, mengajak reunian dengan beberapa teman, mengajak menyambangi teman yang sedang kesusahan (dia pernah mengajakku mengunjungi Tita yang suaminya meninggal dan melayat Audi yang neneknya meninggal). Di kota yang kadang terasa keras ini, aku menjadi merasa memiliki teman. Barangkali itulah uniknya persahabatan mantan anak-anak asrama.

Aku lupa kapan tepatnya kami bertemu pertama kali ketika di Jakarta. Yang kuingat, kami pernah janjian ketemu di Bakmi Siantar. Makan mi dan mengobrol cukup lama. Obrolan ngalor-ngidul tak jelas. Tapi seingatku dia cerita soal ibunya yang akan operasi dan rencana pernikahannya. Lalu pernah pula dia menggagas pertemuan dengan beberapa teman eks Syantikara.

Tapi barangkali aku memang bukan teman yang baik. Waktu Reni menikah, aku tidak datang. Kalau tidak salah, aku sedang di Jogja. Memberinya kado pun tidak. 😦 Tapi kemudian kami ketemu lagi. Seingatku kami bertemu di Bakmi Siantar lagi dekat terminal Rawamangun.

Sekitar semingguan yang lalu aku baca di TL FB-ku kalau dia sakit. Opname. Aku tidak tahu persis apa sakitnya. Memang sih dia sempat cerita beberapa bulan lalu bahwa dia sakit. Lemas katanya. Aku agak kurang jelas apakah opnamenya kemarin itu ada hubungan dengan sakitnya beberapa bulan lalu. Waktu itu aku sempat mikir, apa aku tengokin ya? Tapi… yah, ternyata aku memang bukan teman yang baik. Aku tidak jadi menengok. Waktu itu aku radang tenggorokan dan batuk-batuk. Kupikir, nanti saja deh kalau dia sembuhan, ketemu sambil janjian makan atau kumpul-kumpul dengan teman asrama lagi.

Kemarin siang (Sabtu, 25 Oktober), aku dan beberapa teman penerjemah ke Bandung. Niatnya kami ingin menambah wawasan dan meningkatkan kualitas sebagai penerjemah buku. Acaranya di kantor Penerbit Mizan, Bandung.

Selama acara aku berusaha tidak memegang ponsel. Niatnya sih sejak awal, aku pengin lebih konsentrasi mendengarkan pembicara. Hanya sesekali memotret. Ponsel aku taruh dalam tas. Sempat juga kutitipkan ke suamiku yang menunggu di luar. Entah kenapa pada sesi kedua acara aku ingin memotret. Tapi saat itu kamera kutitipkan ke Oni–suamiku yang menunggu sambil membaca di luar ruangan. Aku keluar dan menemuinya. Dia bilang, kamera ada di dalam tas yang ada di dalam ruangan, di sebuah meja yang berseberangan denganku. Waktu aku mencari kamera, aku melihat kantong ponselku dan tergoda membukanya. Ada panggilan masuk tak terjawab. Siapa ya? Ternyata salah seorang teman asrama, Ayung. Tumben dia telepon. Penasaran, aku sms dia: Kenapa telepon? Dia bilang, tadinya dia mau tanya tentang Reni.

Reni? Aku langsung berpikir, apakah Ayung mau mengajak menengok Reni yang sakit. Tapi aku kemudian balik bertanya untuk memastikan maksudnya, “Kenapa Reni?”

Reni meninggal.

Serius?

Aku jadi serbasalah setelah itu. Beberapa teman asrama mengabari akan melayat sore itu juga. Duh Ren, kenapa kamu perginya pas aku tidak di Jakarta sih?

Mendadak kenangan dengan Reni berlompatan di kepalaku. Suara Reni ketika kami bercakap di telepon seolah masih terngiang di telingaku.

Aku tak percaya. Baru sebulan lalu kami ketemu. Sehari sebelumnya aku sempat melihat dia pasang status di FB. Kok sekarang dia sudah tidak ada sih?

Pada akhirnya aku mesti merelakan Reni. Mungkin ini yang terbaik buatnya. Selamat jalan, Ren! Semoga bahagia dalam pelukan Sang Mahacinta. Terima kasih atas sapaan dan sudah memperkaya hidupku.

Soal “Harta Karun”

Beberapa waktu lalu aku ketemu teman lama. Ini pertemuan setelah sekian belas tahun kami berpisah. Bisa ditebak, dalam pertemuan kemarin isinya nostalgia. Lalu aku iseng tanya kabar salah seorang temannya. Dulu menganggap mereka itu kawan dekat. Aku sering melihat mereka bareng.

“Trus, gimana kabar si X?” tanyaku.

“X? Ngilang dia. Aku juga nggak tahu.”

“Loh, kan kalian deket banget dulu? Sama sekali nggak kontak-kontakan lagi?”

“Enggak,” jawabnya. Lalu dia cerita kalau si X sempat ada masalah dengan banyak orang, lalu menghilang. Putus kontak dengan semua teman.

Hm, ya… agak mengagetkan bagiku. Eh, tapi cerita seperti itu sudah sering kita dengar dalam bermacam-macam versi kan?

Ngomong-ngomong soal kontak, soal teman lama, soal relasi, aku jadi merenung memang ada teman yang datang dan pergi. Dulu dekaaaat banget, tapi sekarang SMS pun tidak. (Eh, sekarang sih zamannya pakai WhatsApps, email, Line, ya? Ada yang baru lagi?) Ada teman yang berubah, lalu aku jadi tidak nyaman lagi untuk sekadar mengobrol dengannya. Ada teman yang sudah sibuk sekali, sehingga aku sungkan untuk mengontaknya. Memang banyak hal bisa mengubah seseorang: pekerjaan, agama, keluarga, pandangan politik, dll.

Suatu kali seorang temanku mengeluh dia kesepian. “Kesepian kenapa?” tanyaku. Selama ini aku mengira dia banyak teman. Tapi ternyata dia mengalami kesepian juga. Dia cerita teman-temannya sudah berkeluarga, sedangkan dia belum. Kalau teman-temannya berkumpul, yang dibahas soal anak mereka masing-masing. Sementara dia putus melulu. (Aku antara kasihan dan geli waktu mendengar ceritanya.) Tapi memang begitu kan ya? Kalau orang sudah berkeluarga dan punya anak, biasanya anak akan jadi topik pembicaraan yang tidak ada habisnya. Dan orang yang masih lajang atau belum punya anak akhirnya cuma banyak mendengarkan. Plus mereka diceramahi supaya cepat menikah dan punya anak sehingga tidak jarang menjadi merasa bahwa ada yang kurang dalam hidup mereka; bahwa mereka kurang bahagia, bahwa mereka harus melakukan ini dan itu supaya semakin bahagia. (Dan pertanyaannya: apakah orang tidak bisa bahagia dengan keadaannya yang sekarang? Walaupun masih melajang dan hidup pas-pasan, barangkali?)

Kadang aku merasa hidup ini semacam urutan kenaikan kelas. Dari kelas 1 SD lalu naik kelas 2. Dari SD lalu naik ke jenjang SMP, lalu SMA, lalu kuliah. Waktu satu per satu teman-teman mulai lulus, aku mulai galau karena belum lulus juga. Setelah itu, satu per satu temanku menikah. Mulai deh dihantui pertanyaan: Kapan nyusul? Kurasa jenjang kenaikan kelas itu terus berjalan sampai tua (mungkin), dilengkapi dengan pertanyaan: Berapa cucunya? Berapa cicitnya? Sudah berapa depositonya? Sudah punya rumah di mana saja?

Suatu pagi, aku mendengar ada keramaian di depan. Ternyata ada tetangga meninggal. Orang itu usianya sudah lanjut dan sudah lama sakit, begitu kabar yang kudengar dari bapak penjaga kontrakan. Aku hanya bertanya-tanya, ketika orang sudah tua dan mendengar ada tetangganya yang meninggal, apa yang terlintas di benaknya? Apakah rasanya kurang lebih sama ketika aku tahu teman-temanku sudah lulus sementara aku masih berjuang merampungkan bab 2 dari skripsiku? Takut? Sedih? Pengin segera “dipanggil” juga karena satu per satu temannya yang biasa diajak mengobrol pergi? Pengin segera “naik kelas” menuju “kehidupan yang baru”? Kehidupan seperti apa yang ingin diwariskannya?

Ah, ya… ada teman-teman yang datang dan pergi. Ada saudara yang dulu dekat dan kemudian jauh. Ada orang yang dulu kita sebut sahabat, tapi sekarang kabarnya sayup-sayup terdengar. Orang berubah. Kadang aku merasa kehilangan. Dan memang ada yang hilang. Tapi bukankah hidup memang begitu ya? Aku pun mungkin dianggap berubah oleh teman-temanku yang lain. Karena itu, jika ada orang yang masih bisa enak kita ajak bicara, jika ada teman yang “tidak berubah” (yang berubah hanya umurnya, hanya semakin tambah tua, hanya semakin keriput), jika ada orang masih dengan mudah kita jangkau dan kontak, barangkali itu adalah harta karun dalam hidup ini.

Macam-macam Orang

Apakah kamu pernah bertemu dengan salah satu atau beberapa orang seperti ini? Atau kamu jadi salah satu dari mereka?

1. Orang yang setelah kita kirimi sms panjang-panjang, dia cuma jawab OK atau Ya.
2. Orang yang malas banget balas sms, atau lamaaaa banget nggak jawab sms, padahal kita nunggu jawabannya.
3. Orang yang sering kita lihat sibuk dengan hpnya, tapi kalau kita telepon, jarang banget diangkat.
4. Punya hp bagus, tapi dia malas sms atau telepon, alasannya: nggak punya pulsa.
5. Kalau di dunia maya kelihatannya banyak omong, tapi pas ketemu langsung ternyata orangnya pendiam banget.
6. Kalau di dunia maya kata-kata yang dia tulis cenderung kasar, tapi pas ketemu langsung orangnya sopan (atau jaim?)
7. Orang yang selalu bisa membuat kita tertawa karena lawakannya. Padahal kadang dia ceritakan masalahnya sendiri, tapi entah bagaimana, caranya bercerita lucu banget.
8. Orang yang selalu punya waktu untuk menolong orang lain. Jam berapa pun kamu butuh pertolongan, orang itu selalu berusaha membantu.
9. Orang yang cenderung manis kepada orang yang lebih senior, tapi kepada teman sendiri atau yuniornya, dia cenderung galak/ketus.
10. Orang yang ngambekan. Kita salah sedikit, dia ngambeknya lamaaa banget.
11. Orang yang kalau marah suka bilang gini, “Suruh dia pergi, aku nggak mau lihat muka orang itu lagi.” Trus bener-bener tidak mau ngomong lagi sama orang yang dia sebel.
12. Orang yang sedikit-sedikit pinjam duit.
13. Orang yang sering banget senyum.
14. Orang yang sepertinya tidak pernah marah.
15. Orang yang kalau menghubungi kita hanya saat dia sedang butuh pertolongan.
16. Orang yang selalu tepat waktu, entah bagaimana pun keadaan jalanan/cuaca.
17. Orang yang tanpa diminta, selalu siap menolong.
18. Orang yang selalu tampak ceria (padahal kita tahu dia sebetulnya sedang sedih).
19. Orang yang jarang banget tersenyum.
20. Orang yang sok tahu.
21. Orang yang kalau kita beli tas baru, dia ikut beli tas baru juga. Atau ketika kita beli baju baru, dia ikutan beli. Pokoknya selalu ikut-ikutan, tidak mau kalah.
22. Orang yang penampilannya biasaaaa banget, padahal kaya banget.
23. Orang yang selalu punya ide kreatif. Idenya adaaa saja. Kadang lucu. Kadang aneh.
24. Orang yang sering mengeluh. Apa saja salah deh bagi dia.
25. Orang yang sepertinya selalu punya solusi untuk semua masalah.
26. Orang yang selalu bisa diajak curhat.
27. Orang yang sepertinya tidak punya inisiatif.
28. Orang yang pemaaf banget. Walaupun orang lain sudah menyakiti dia banget, dia selalu bisa memaafkan.
29. Orang yang sering terlambat.
30. Orang yang kalau dandan selalu rapi. Semua mesti serasi, mulai dari pita rambut sampai tali sepatu. Mulai dari kemeja, sampai sepatu.
31. Orang yang malas mandi.
32. Orang yang suka makan, tidak pilih-pilih makanan.
33. Orang yang malas banget makan.
34. Orang yang jago di semua bidang. Kalau pas sekolah dulu, mulai dari matematika sampai olahraga, nilainya 9 semua.
35. Orang yang suka baca. Apa saja dia baca, mulai dari iklan sampai buku berat.
36. Orang yang tidak suka berbagi, maunya dia dapat paling banyak, mau untung terus.
37. Orang yang suka masak, tapi malas makan.
38. Orang yang suka tidur, alias pelor, nempel molor. Kena bantal, langsung tidur.
39. Orang yang setelah gajian, duitnya untuk bayar utang, terus kalau dia tidak punya duit, ngutang lagi.
40. Orang yang suka banget nonton film. Semua jenis film dia suka, mulai dari kartun sampai action.

Hmmm… apa lagi ya? Sepertinya daftar ini bisa terus bertambah.

Meminjam Bumi

Kurasa ada dua jenis orang ketika mencuci tangan di wastafel.

Jenis I:
Buka keran, membasahi tangan. Setelah itu mengambil sabun dan membiarkan keran air tetap terbuka. Setelah kedua belah tangan disabuni, dibasuh dengan air dari keran yang masih mengalir tadi. Setelah selesai, keran dimatikan.

Jenis II:
Hampir sama seperti orang jenis pertama, tapi bedanya, sebelum mengambil sabun, keran air dimatikan terlebih dahulu. Tujuannya sederhana, agar air bersih tidak terbuang percuma. Setelah tangan disabun, baru keran dibuka lagi untuk membilas. Setelah selesai, keran dimatikan.

Kamu termasuk jenis yang mana?

Beberapa waktu lalu, aku janjian dengan temanku, Adel, untuk makan di sebuah rumah makan tak jauh dari rumah kami berdua. Temanku ini mengajak anaknya yang masih TK, Hiero. Sebelumnya aku mau cerita hubungan dengan Hiero ini. Entah bagaimana hubunganku dengan Hiero itu rasanya antara benci dan rindu. Haha, lebay istilahnya ya. Jadi begini ceritanya, hubungan kami ini dimulai sejak Hiero masih ada di dalam perut ibunya. Waktu Adel hamil Hiero, kami beberapa kali jalan berdua, entah makan bareng, belanja, atau sekadar ngerumpi sambil jalan-jalan. Waktu Hiero sudah lahir, aku kadang main ke rumahnya. Nah, biasanya kalau aku pamit pulang, dia pasti nangis menahanku tidak boleh pulang. Repotnya kalau sudah malam dan mau tidak mau aku harus pulang. Dia nangisnya sampai lama banget. Kasihan emak dan bapaknya yang sibuk menenangkan dia saja sih. Jadi kalau bisa, aku pulang pas dia sudah tidur. Orang Jawa bilang, istilah dilimpe. Hahaha. Sekarang Hiero sudah agak besar. Tapi anak itu sepertinya perasa dan suka ngambek. Aku termasuk tante iseng yang kadang-kadang membuat dia ngambek lalu ujung-ujungnya nangis. Nah, kalau sudah ngambek, aku dan Hiero jadi sebel. Ish… pokoknya gitu deh. Kalau dia sudah sebel sama aku, dia biasanya bilang begini, “Tante Nik pulang sana!” Haha. Aku antara geli dan sebel kalau dia mulai ngomong begitu. Tapi kalau kami lama tidak ketemu, suka kangen. Jadi, begitulah cerita hubungan benci dan rinduku dengan Hiero.

Oke, balik ke urusan cuci tangan dan makan di restoran tadi. Sambil menunggu makanan kami datang, Hiero diminta cuci tangan oleh ibunya. Awalnya ibunya yang mau mengantar dia cuci tangan, tapi Hiero menolak. “Mau sama Tante Nik aja.” Iya, begitu tuh dia kalau belum ngambek sama aku. Suka manja-manja gimana gitu deh. 😀 😀 Akhirnya aku temani dia cuci tangan. Setelah dia membuka keran dan mengambil sabun, kulihat dia tidak mematikan keran. Aku pun menegur dia, “Hiero, kalau setelah ambil sabun, kerannya dimatikan dulu ya? Biar air bersihnya tidak kebuang sia-sia. Hiero mesti jaga air bersih soalnya nanti makin lama, air bersih susah didapat. Hiero bakal hidup lebih lama dari Tante Nik. Jadi, Hiero akan butuh air bersih lebih banyak lagi. Oke?” Aku tidak tahu dia mengerti ucapanku apa tidak. Tapi dia mengangguk-angguk mendengarnya.

Dilihat dari segi umur, aku dan Hiero usia kami terpaut jauh. Tadi aku mengatakan bahwa Hiero akan hidup lebih lama dari aku. Memang aku tidak bisa menebak umur manusia, tapi dari hitungan nalar manusia, benar seperti itu kan? Kurasa Hiero dan generasi dia selanjutnya akan punya tantangan lebih besar lagi dalam mengelola lingkungan. Zaman sekarang lingkungan kita saja sudah banyak tercemar. Apalagi nanti kalau Hiero sudah seumur aku ya? Seberapa tinggi lagi pencemaran lingkungan yang terjadi? Apakah air bersih akan sama mudah didapatnya seperti sekarang? Atau bakal lebih sulit? Atau pemerintah ke depan akan menerapkan pengelolaan air bersih dengan lebih canggih? Aku rasa tidak bijak juga kalau kita take for granted air bersih yang selama ini kita pakai.

Untuk urusan seperti ini barangkali aku terkesan riwil dan lebay bagi sebagian (besar?) orang. Tapi aku merasa yang kulakukan ini baik. Menjaga dan tidak menyia-nyiakan air bersih itu penting dan perlu ditanamkan sejak anak masih kecil. Siapa yang bisa mengajari? Orang yang lebih dewasa tentunya–guru, orang tua, kerabat, saudara, dll. Kita meminjam bumi yang kita tempati ini dari anak cucu kita. Ya, kalau tidak punya anak atau cucu, anggap saja kita pinjam dari anak atau cucu tetangga atau saudara. 😀 Kalau memang punya anak dan cucu, mestinya lebih sadar dong. Namanya meminjam, mestinya dikembalikan dengan baik dong. Iya kan?

Nah, dalam hal mencuci tangan, kamu termasuk orang jenis pertama atau kedua?

Menguping Obrolan Dua Wanita

Siang itu aku naik sebuah mikrolet. Angkot itu tak banyak penumpangnya. Hanya lima orang termasuk aku. Empat yang lain adalah anak sekolah. Di dekat sebuah mal, naik dua wanita. Salah satu dari mereka menggendong bayi dan menuntun seorang bocah perempuan sekitar dua tahun. Aku bergeser ketika mereka di mulut pintu angkot itu. Kulihat ibu yang menggendong bayi itu agak kerepotan karena selain harus menggendong bayi, dia pun perlu mengangkat anak perempuannya naik tangga angkot yang cukup tinggi. Sesampai di dalam angkot, mereka langsung menempati bangku yang kosong. Si ibu bayi persis duduk di sebelahku, sedangkan wanita satu lagi di seberangnya. Sepertinya mereka bersaudara–mungkin kakak-adik.

Tak lama mereka pun langsung memenuhi angkot dengan suara percakapan mereka. Ibu itu angkat bicara, “Duh repot deh bawa dua anak. Sekarang (aku) nggak pernah bisa pergi-pergi.” Wanita di seberangnya hanya mendengarkan. Termasuk aku ikut menguping. Eh, tidak menguping ya kalau suara mereka cukup keras, dan mau tak mau telingaku menangkap pembicaraan mereka.

Bocah perempuan kemudian merengek minta duduk, yang dijawab si ibu: “Mau duduk di mana? Sudah penuh.” Anak itu lalu berlendotan di dekat kaki ibunya. Kemudian ibunya mengamati hidung si bocah. “Waduh, kamu ingusan pula.” Dibersihkannya ingus anaknya dengan jari, tanpa tisu atau sapu tangan. Bocah itu tertawa-tawa. Kemudian dia menunjuk-nunjuk tas tantenya.
“Mau apa?” tanya si tante.
Bocah itu hanya menunjuk-nunjuk bulatan kecil warna perak penghias tas si tante.
“Itu nggak bisa diambil,” jawab ibunya. Dan… menangislah si bocah.
“Aduh, kamu minta apa sih? Bilang dong,” ujar tantenya lagi. Anak itu hanya menunjuk-nunjuk tidak jelas. “Oh, tisu? Bilang yang bener dong.”
(Dalam hati aku bertanya-tanya, anak itu sudah bisa bicara atau belum ya?) Setelah diberi tisu, anak itu asyik mengutik-utik hidung dan ingusnya dengan tisu. Wajahnya gembira.

Tak lama kemudian si tante bertanya, “Dari turun angkot nanti, naik ojek berapa ongkosnya?”
“Mana gue tahu,” jawab si ibu.
“Masak elu kagak tahu?”
“Gue kagak pernah pergi-pergi lagi.” Dia menunduk memandang si bayi. “Duh, untung ya dulu gue udah puas mainnya sebelum kawin. Setelah kawin gue kagak bisa pergi-pergi. Ngurusin dua ini,” tambahnya.
“Ha… ha… ha… Untung di gue ya?” jawab si tante. “Gue belum kawin. Biar aja orang tanya, ‘Kapan?’ ‘Kapan?’ Ah, peduli amat.”
“Iya, puas-puasin deh main sebelum kawin. Ntar biar nggak nyesel setelah kawin.”

Terdengar bunyi dering telepon genggam. Rupanya itu bunyi ponsel si tante. Sementara itu ponselku berbunyi. Ada SMS masuk. Kubaca sekilas lalu kusimpan ponselku. Aku tak terlalu menyimak kata-kata si tante yang sedang bertelepon. Tapi si tante tak lama berbicara.

“Siapa?” tanya si ibu.
“Biasa, abang lu.”
“Ngapain?”
“Ah…” si tante mendecakkan lidah. “Makin parah dia sekarang,” tambahnya. Binar matanya mendadak pudar. Mungkin ada yang tidak menyenangkan, pikirku.

Kulihat pemandangan di luar angkot. Aku hampir sampai. “Pojok depan, ya Bang!” seruku kepada sopir angkot. Aku turun.

Pembicaraan dua wanita itu masih terekam di benakku. Aku lalu teringat obrolan dengan seorang teman beberapa waktu lalu. “Aku pengin kawin,” katanya ringan. Aku tertawa mendengar kata-katanya. Bukan apa-apa, kawanku ini beberapa kali pacaran dan putus terus. “Memangnya sekarang pacarmu siapa? Mbok aku dikenalin.” Kalau dia bilang pengin kawin, asumsiku dia sudah punya pacar.
“Nggak punya pacar aku.” Dan ngakaklah aku.
“Asem, malah diketawain,” ujarnya.
“Emang kenapa kamu kok tiba-tiba bilang pengin kawin?”
“Semua temanku sudah menikah. Tinggal aku yang belum. Mereka kalau ketemu ngomongin soal anak dan istri atau suaminya. Lha trus aku ngomongin apa? Pacar nggak punya. Kerjaan ya begini-begini saja.” Mestinya temanku itu mendengar pembicaraan dua wanita di angkot tadi.

Seseorang memasuki pernikahan dengan impian di kepalanya. Yang namanya impian, tentunya indah-indah kan? Tapi barangkali ketika semua debar yang mengiringi rasa jatuh cinta itu usai, tinggallah kenyataan. Kenyataan itu bisa lebih baik dari impian yang dibayangkan sebelum memasuki pernikahan, bisa juga lebih buruk. Lalu aku teringat kalimat yang kulontarkan kepada kawanku sebelum kami mengakhiri obrolan tak jelas kami, “Serius, kamu pengin kawin?” Menurutku, pernikahan itu tidak wajib. Pernikahan itu mungkin perlu dipasangi embel-embel: “Menikahlah bila perlu–dan bila mau memperjuangkan keyakinan bahwa hidupmu akan jadi lebih baik dengan menikah.”

Sapaan

Kemarin setelah aku posting tulisan, malamnya seorang teman yang mendadak kirim pesan lewat WA. Namanya Mbak Ella. Dia dulu seorang editor in-house di sebuah penerbit yang beberapa kali memberiku pekerjaan terjemahan.

“Hai Kris, apa kabar… habis baca blogmu, trus ingat kita sudah lama nggak saling sapa ya :D.”

Dan… aku suka dengan sapaan sederhana itu. Iya, cuma sapaan biasa. Tapi menurutku, itu menyejukkan. Aku bisa merasakan sapaan itu tulus. Maksudnya, tidak ada udang di balik bakwan batu. Juga bukan sapaan yang sifatnya menyelidik alias kepo alias pengin tahu urusan orang. Sapaan seorang teman. Seperti tepukan di bahu ketika kita berada di keramaian atau sedang sendirian. Menghangatkan hati, kan?

Jujur saja, aku kadang suka mikir-mikir kalau mau menyapa orang lebih dulu. Aku pernah dapat pengalaman yang agak kurang enak. Ceritanya suatu kali aku datang ke sebuah pameran buku, ke sebuah stand penerbit X. Di situ aku dikenalkan oleh temanku yang memang bekerja di penerbit X itu dengan temannya, seorang marketing kalau tidak salah. Aku diberi kartu nama. Oke. Selesai. Beberapa waktu berselang, aku bertemu dengan mbak marketing itu. Kusapa dong. Kan ceritanya dulu sudah kenalan. Tahu apa reaksinya, “Siapa ya?” Walaupun sudah kujelaskan, dia tetap pasang tampang sok tidak kenal. Dan dia pun berlalu. Gubrak! Ya, kalau dibilang, bisa jadi salahku juga sih. Dia kan orang marketing, tentunya kenal dengan sekian banyak orang. Lalu, siapa aku? Hmmm… Ya sudah.

Memang kadang aku suka berpikir “Siapa sih aku?” Jadi, kalau aku mau menyapa dulu, kerap kali pikiran seperti itulah yang pertama kali muncul. Sempat ada orang yang bilang ke aku bahwa aku sombong. Ng… sebetulnya masalahnya ya itu, aku suka tidak pede menyapa duluan. Kecuali aku sudah yakin betul orang yang kusapa itu benar-benar kenal aku, aku biasanya menyapa. Tapi kalau aku pikir, ujung-ujungnya aku bakal dicuekin, yaaa… sudahlah. Lupakan. Nanti dikira sok kenal, sok dekat. Mungkin bisa dibilang ini kebiasaan buruk. Tapi rasanya kan kesel juga kalau kita sudah menyapa, lalu dicuekin? Jadi, itulah alasanku kenapa aku kadang malas menyapa duluan.

Lagi pula, kadang kala sapaan bisa dianggap menyimpan kepentingan. Alias tidak tulus. Pernah suatu kali, waktu aku masih suka buka YM, seorang teman lama menyapaku.
“Hai, Kris… Apa kabar?”
“Hai… hai… aku baik-baik saja. Kamu gimana kabarnya?”
Lalu mengalir pembicaraan basa-basi soal kesibukan sekarang. Biasa kan?
Kemudian dia cerita kalau bisnisnya agak bermasalah… dan ujung-ujungnya pinjam uang. Oh, please deh ah!

Dengan segala cara aku berusaha berkelit dari temanku itu. Bukannya tidak mau menolong, tapi kan… males banget. Setelah sekian lama tidak berkabar, lalu tiba-tiba pinjam uang? Memangnya aku punya tampang rentenir? Lagi pula, untuk urusan pinjam meminjam uang seperti ini sebetulnya aku paling alergi. Apalagi kalau orang yang mau pinjam itu tidak kukenal betul atau teman lama yang tiba-tiba menyapa.

Oya, balik ke Mbak Ella yang kemarin menyapaku. Dia bercerita bahwa dulu dia pernah punya teman yang sering menyapa via FB. Sewaktu Mbak Ella masih bekerja kantoran, dia sering membalas sapaan temannya itu. Tapi setelah dia mengundurkan diri dari kantor, dia jarang buka YM (karena mesti buka pakai HP dan YM di HP-nya sering error). Jadi, dia pun jarang membalas sapaan dan jarang berkontak dengan temannya itu. Ternyata si teman ini sakit dan berpulang November lalu. Si teman ini orang yang biasa menyapa via FB, SMS, atau YM. Peristiwa ini seperti mengingatkan Mbak Ella untuk lebih rajin menyapa.

Ternyata, menyapa itu penting ya. Sapaan kemarin jadi sentilan buatku. Terima kasih sudah menyapaku, Mbak Ella. 🙂

Kehangatan di Suatu Sore

Hari menjelang senja. Aku tak ingat jam berapa waktu itu, tapi kalau tak salah pukul 17.00-an. Sebuah pesan pendek masuk ke ponselku.

Halo, Kris. Apa kabar? Lama kita tidak berkontak ya. Bolehkah aku meminta alamat emailmu lagi? Kemarin komputerku rusak, dan alamat emailmu tidak bisa kutemukan lagi. Ada tautan yang menarik soal XYZ… Aku ingin mengirimkannya untukmu.

Pesan pendek itu dari seorang ibu, rekan penerjemah. Kami belum pernah bertemu. Relasi kami bermula ketika ibu itu menjadi penerjemah lepas untuk kantorku dulu. Selanjutnya, kami hanya berkontak lewat email. Memang sudah agak lama aku tidak mendengar kabarnya. Dan kini, meskipun aku sudah lama keluar dari tempat kerja, ibu itu masih mengontakku meskipun hanya untuk “say hello”. Selama ini relasi kami mungkin hanya relasi ringan. Maksudku, aku tidak pernah bercerita tentang hal-hal yang terlalu pribadi kepadanya. Begitu juga dia.

Tapi aku senang ketika ibu itu mengirimiku SMS beberapa hari yang lalu. Mungkin pesan itu sederhana dan biasa saja. Tapi satu hal yang membuatku tersenyum yaitu aku merasa diingat olehnya. Dan aku yakin ibu itu melakukannya dengan tulus. Diingat oleh seorang teman yang jauh ternyata membuat hatiku terasa hangat. Bagiku, ini pelajaran penting. Mengingat teman lama yang jarang sekali kita temui dan menyapa dengan tulus itu bisa membuat orang lain (teman kita) merasa senang. Ini hal sederhana yang bisa dilakukan siapa saja.

Aku pun segera membalas pesan pendek itu tak lupa aku mengucapkan terima kasih kepadanya. Semoga dia juga merasakan kehangatan dari SMS yang kukirimkan sore itu.