Inspirasi dari Kesederhanaan

Kurasa, salah satu pengalaman yang betul-betul membekas dalam hidupku adalah saat ikut workshop bulan Januari lalu. Oke, rasanya aku sudah beberapa kali bicara soal workshop. Pasti kalian sudah bosan membacanya. 😀 Hal lain yang membuat pengalaman Januari lalu itu membekas adalah karena aku tanpa sengaja bertemu dengan para karyawan asrama Syantikara yang sedang piknik di Pasar Apung, Lembang. Aku terharu banget ketika (beberapa dari) mereka masih mengenali aku.

Bagiku mereka sangat berjasa selama masa-masa aku tinggal di asrama dulu. Bantuan mereka macam-macam. Mulai dari soal urusan air panas untuk termos kami sampai mengganti lampu yang rusak. Mulai dari mengisi kapas kasur sampai urusan membagi jatah makanan kami setiap hari. Kalau di unit ada hal yang perlu diperbaiki, tinggal lapor, lalu bantuan pun tiba.

Sampai sekarang aku masih sering kangen asrama. Susah move on deh rasanya kalau soal asrama. Banyak kenangannya. Asrama itu semacam rumah kedua. Kalau pas ke Jogja dan lewat jalan Colombo, aku menengok asrama dan rasanya kadang pengin sekali berjalan lagi memasuki halaman asrama lalu menyusuri koridor dan masuk ke unitku dulu. Ketemu teman-teman lama. Duduk, mengobrol, atau nge-teh sore-sore. Tapi tidak mungkin rasanya bisa seperti itu lagi. Asrama itu sudah jadi rumah yang tak bisa kusinggahi lagi sejak aku lulus kuliah dan berjalan melewati gerbang asrama untuk terakhir kalinya dulu, belasan tahun silam.

Jadi, akhirnya mungkin terasa berlebihan terharunya saat aku bertemu dengan mbak-mbak dan mas-mas karyawan asrama pada Januari lalu. Mungkin ibarat bertemu teman lama. Mungkin karena itu pula aku merasa amat semedot (kehilangan) ketika kemarin siang aku membaca informasi di grup asrama (Facebook) bahwa salah seorang karyawan asrama Syantikara ada yang meninggal: Mas Bandriyo. Loh, Januari lalu aku masih ketemu dalam kondisi segar bugar, kok delapan bulan kemudian dikabarkan meninggal? Cepat sekali… Kabarnya Mas Bandriyo meninggal dalam tidur selepas kerja bakti di kampungnya. Mudah sekali jalan kepergiannya.

Kalau sedih, tentu aku sedih. Tapi aku pikir kesedihanku dan teman-teman asrama lain tidak akan melapangkan kepergian Mas Bandriyo. Iya, kami sedih, tapi ada satu hal yang membuatku merenung: Orang yang tampak sederhana itu telah menyentuh kehidupan banyak orang—dengan kesederhanaannya, dengan pelayanannya. Mungkin begitulah seharusnya hidup: Sebisa mungkin memberikan sentuhan yang positif terhadap orang-orang sekitar kita.

Perenunganku tersebut diperkuat ketika aku mengingat kejadian tadi siang. Tiba-tiba Mas Handi, tukang pijit langganan Oni, datang. Rasanya Oni tidak meminta dia datang untuk memijat, kok dia datang? Ternyata dia mengantarkan sroto untuk kami. Rupanya dia memenuhi janjinya akan membelikan kami sroto jika suatu saat ketemu penjual sroto. Waktu dia mengatakan itu, awalnya aku dia bercanda. 😀 Eh, ternyata sungguhan. Ya, ampuuuun…

Oni bilang, Mas Handi ini bisa dibilang orang “kaya”. Selain soal sroto tadi siang, beberapa waktu lalu dia menggelar program: “Dibalas dengan pijat.” Jadi, ceritanya dia itu mau membantu membangun musala di kampungnya. Lalu untuk mencari dana, honor jasa pijat yang dia terima dia salurkan untuk pembangunan musala tersebut. Coba kalau aku, maukah aku menyumbangkan honor satu proyek terjemahanku untuk kolekte di gereja? Dudududu… mungkin aku akan berhitung puluhan kali dulu sebelum ikhlas… lega lila menyerahkan sebagian honorku untuk gereja, untuk disumbangkan bagi pihak-pihak yang lebih membutuhkan. Tuh kan, betapa pelitnya diriku. Tapi semoga aku bisa lebih ikhlas dalam hal memberi, ya.

Kebaikan itu bisa dilakukan oleh siapa saja–tidak perlu menunggu jadi orang kaya dulu. Inspirasi itu bisa dilakukan oleh siapa pun–tidak perlu menjadi penggede dulu. Kita bisa… aku juga bisa sebenarnya. Dan “gong” dari perenunganku adalah ketika aku ikut misa 17-an tadi sore. Lagu antar bacaannya sampai sekarang masih terngiang-ngiang: Kamu dipanggil untuk kemerdekaan, maka abdilah satu sama lain dalam cinta kasih. Kemerdekaan itu justru semakin kuat artinya saat kita saling melayani, saling mengasihi. Begitu kan? Semoga kita walaupun punya kekurangan di sana-sini, berani untuk melayani dengan penuh kasih.

Advertisements

Reni

“Mau bareng?” begitu kudengar pertanyaan dari seberang telepon.
“Iye,” jawabku singkat.
“Ya udah, ntar gue jemput.” Aku sudah menduga begitu jawabannya.
“Masih ingat jalan ke tempat gue?”
“Kira-kira masihlah. Tapi lupa gangnya.”
“Gampanglah. Ntar kutunggu depan gang ya.”

Ternyata aku terlambat keluar gang. Ampun, aku selalu payah untuk begini.

“Elu di mana, Ren?”
“Di dekat jembatan.”
“Jembatan? Kok aku nggak liat elu?” Aku jadi mengira aku ditunggu di jembatan yang jaraknya 100 meter setelah dari gangku. “Ya udah, gue jalan deh. Tunggu ya.”

“Gue sudah di dekat jembatan nih. Kok elu nggak ada?”
“Jembatan yang ada tempat benerin gigi kan?”
“Ya elaaah…. salah aku. Elu maju lagi deh. Gue di pinggir jalan nih. Pake kaos putih.”

Lalu tak lama kulihat sosok bertubuh padat sambil menyengir. Aku merasa konyol karena miskomunikasi ini. Segera aku membonceng ke jok di belakangnya dan kami pun melaju ke tempat kami akan bereuni.

Itu adalah satu dari beberapa peristiwa yang terekam dalam kepalaku soal dia–Reni. Menurutku, pertemanan kami ini unik. Saat di asrama, sepertinya aku jarang sekali ngobrol-ngobrol dengannya. Makan bareng di kafe asrama pun (semeja, maksudku), rasanya hampir tidak pernah. Tapi ketika aku di Jakarta, Reni termasuk salah satu teman yang menyapaku, mengajak makan, mengobrol, mengajak reunian dengan beberapa teman, mengajak menyambangi teman yang sedang kesusahan (dia pernah mengajakku mengunjungi Tita yang suaminya meninggal dan melayat Audi yang neneknya meninggal). Di kota yang kadang terasa keras ini, aku menjadi merasa memiliki teman. Barangkali itulah uniknya persahabatan mantan anak-anak asrama.

Aku lupa kapan tepatnya kami bertemu pertama kali ketika di Jakarta. Yang kuingat, kami pernah janjian ketemu di Bakmi Siantar. Makan mi dan mengobrol cukup lama. Obrolan ngalor-ngidul tak jelas. Tapi seingatku dia cerita soal ibunya yang akan operasi dan rencana pernikahannya. Lalu pernah pula dia menggagas pertemuan dengan beberapa teman eks Syantikara.

Tapi barangkali aku memang bukan teman yang baik. Waktu Reni menikah, aku tidak datang. Kalau tidak salah, aku sedang di Jogja. Memberinya kado pun tidak. 😦 Tapi kemudian kami ketemu lagi. Seingatku kami bertemu di Bakmi Siantar lagi dekat terminal Rawamangun.

Sekitar semingguan yang lalu aku baca di TL FB-ku kalau dia sakit. Opname. Aku tidak tahu persis apa sakitnya. Memang sih dia sempat cerita beberapa bulan lalu bahwa dia sakit. Lemas katanya. Aku agak kurang jelas apakah opnamenya kemarin itu ada hubungan dengan sakitnya beberapa bulan lalu. Waktu itu aku sempat mikir, apa aku tengokin ya? Tapi… yah, ternyata aku memang bukan teman yang baik. Aku tidak jadi menengok. Waktu itu aku radang tenggorokan dan batuk-batuk. Kupikir, nanti saja deh kalau dia sembuhan, ketemu sambil janjian makan atau kumpul-kumpul dengan teman asrama lagi.

Kemarin siang (Sabtu, 25 Oktober), aku dan beberapa teman penerjemah ke Bandung. Niatnya kami ingin menambah wawasan dan meningkatkan kualitas sebagai penerjemah buku. Acaranya di kantor Penerbit Mizan, Bandung.

Selama acara aku berusaha tidak memegang ponsel. Niatnya sih sejak awal, aku pengin lebih konsentrasi mendengarkan pembicara. Hanya sesekali memotret. Ponsel aku taruh dalam tas. Sempat juga kutitipkan ke suamiku yang menunggu di luar. Entah kenapa pada sesi kedua acara aku ingin memotret. Tapi saat itu kamera kutitipkan ke Oni–suamiku yang menunggu sambil membaca di luar ruangan. Aku keluar dan menemuinya. Dia bilang, kamera ada di dalam tas yang ada di dalam ruangan, di sebuah meja yang berseberangan denganku. Waktu aku mencari kamera, aku melihat kantong ponselku dan tergoda membukanya. Ada panggilan masuk tak terjawab. Siapa ya? Ternyata salah seorang teman asrama, Ayung. Tumben dia telepon. Penasaran, aku sms dia: Kenapa telepon? Dia bilang, tadinya dia mau tanya tentang Reni.

Reni? Aku langsung berpikir, apakah Ayung mau mengajak menengok Reni yang sakit. Tapi aku kemudian balik bertanya untuk memastikan maksudnya, “Kenapa Reni?”

Reni meninggal.

Serius?

Aku jadi serbasalah setelah itu. Beberapa teman asrama mengabari akan melayat sore itu juga. Duh Ren, kenapa kamu perginya pas aku tidak di Jakarta sih?

Mendadak kenangan dengan Reni berlompatan di kepalaku. Suara Reni ketika kami bercakap di telepon seolah masih terngiang di telingaku.

Aku tak percaya. Baru sebulan lalu kami ketemu. Sehari sebelumnya aku sempat melihat dia pasang status di FB. Kok sekarang dia sudah tidak ada sih?

Pada akhirnya aku mesti merelakan Reni. Mungkin ini yang terbaik buatnya. Selamat jalan, Ren! Semoga bahagia dalam pelukan Sang Mahacinta. Terima kasih atas sapaan dan sudah memperkaya hidupku.

Apakah Kamu Masih Mendengarkan Radio?

Tulisanku ini tercipta setelah baca tulisan DV yang ini. Lalu aku teringat akan foto yang pernah kuunggah di akun FB-ku. Foto radio lawas punya Mbah Kung. Radio itu kudapati tergeletak di salah satu kamar rumah Mbah, lalu kufoto. Situasi saat itu, siang hari. Di ruang tamu dan ruang tengah para tamu masih banyak yang datang melayat Mbah Kung.

radio punya Mbah Kakung
radio punya Mbah Kakung

Oke, jadi ceritanya suatu kali aku pulang ke Jogja. Karena selama tinggal di Jakarta aku (dulu) cukup sering menyetel radio, aku pun iseng-iseng pengin dengar seperti apa sih siaran radio di Jogja? Sebelum menyalakan radio, ingatanku mau tak mau terbang ke masa-masa kuliah dulu. Dulu, saat tinggal di asrama Syantikara, salah satu “kekayaan” yang kumiliki adalah radio. Sementara beberapa teman lain punya walkman (duh, itu barang mewah waktu itu), aku sudah cukup puas punya radio. Jangan bayangkan radio kecil imut dan cantik ya. Radioku ukurannya hampir sama dengan radio punya Mbah itu, hanya saja lebih modern sedikit sentuhannya. Lalu kekayaan keduaku adalah earphone. Kenapa? Karena kalau mendengarkan radio di asrama tidak boleh disetel dengan suara keras, bisa mengganggu teman seunit yang sedang belajar. (Satu unit itu terdiri dari dua ruang belajar, masing-masing dipakai oleh empat anak. Jadi, kami belajar bersama.) Padahal sih tanpa radio pun kadang kehadiranku cukup mengganggu teman yang lain karena suka mengobrol dengan Mbak Tutik. Hahaha. *Dijewer Sr. Ben deh.*  Stasiun radio yang sering kudengarkan saat itu: Rakosa, GCD (yang khasnya: “radio Bukit Patuk Gunung Kidul… ting tung ting tung… radio yang sebaiknya Anda tahu.), Yasika, Swaragama (waktu itu radio ini masih baru, jadi sering muter lagu-lagu saja), trus yang terakhir Geronimo (tapi Geronimo itu paling jarang kudengarkan).

Eh, aku melamunnya terlalu lama sepertinya.

Iya, jadi akhirnya aku menyetel radio dan sampai di sebuah stasiun radio. Lagi-lagi aku tidak ingat stasiun radio apa itu… 😀 😀 Tapi yang kuingat betul aku seperti tak bisa membedakan aku sedang mendengarkan radio di mana. Aku yang sehari-hari tinggal di Jakarta dan cukup akrab mendengar gaya bicara penyiar dengan logat dan gaya bahasa orang Jakarta (bukan Betawi, sih menurutku, tapi Jakarta yang lu gue, gitu deh), jadi berkata dalam hati, “Aku ki ning Jogja, je… kok penyiare le ngomong nggo boso Jakarta ki piye jaaal?” (Aku sedang di Jogja, tapi kok penyiarnya bicara dengan logat Jakarta?) Aku tidak terlalu lama menyetel radio itu. Kecewa? Ah, itu istilah yang terlalu berlebihan barangkali. Tapi begini maksudku, yang kuinginkan adalah radio dengan nuansa lokal, tapi ternyata kok…? Mungkin bahasa Jakarta itu sangat menarik bagi sebagian (besar?) orang, sehingga mereka merasa perlu mengadopsinya dan memakainya dalam segala hal. Salah seorang temanku pernah mengatakan bahwa dia lebih nyaman bicara dengan bahasa ala anak Jakarta, padahal dia besar di Jogja. Ealah…! Padahal dari tadi aku ngecipris pakai bahasa Jawa dengannya. Tapi mungkin aku perlu move on. Maksudnya, ya barangkali selera pasar kebanyakan adalah bukan orang seperti aku. Seperti orang-orang Jakarta itulah. Bukan aku yang selera ndeso dan memang ndeso ini. 😀 😀 Harap maklum ya, Teman-teman. Dari dulu sampai sekarang aku sering disindir kalau aku medok saat berbicara dalam bahasa Indonesia. Memang lidah ndeso ini susah untuk diajak lebih berselera kota.

Ngomong-ngomong apakah sampai sekarang aku masih sering mendengarkan radio? Kadang-kadang dan bisa dikatakan jarang. Pun ketika kembali ke Jakarta dan hiburanku kebanyakan adalah lewat radio serta internet, aku sekarang jarang mendengarkan radio. Pertama, karena radioku sempat soak. Jadi males kan kalau dengar radio yang bunyinya kaya tas kresek? Kedua, lama-lama bosan juga dengar radio. Kenapa bosan? Ini sebetulnya mirip dengan alasan kekecewaan ketika menyetel radio di Jogja tadi. Ketika itu aku berpikir, kalau ada orang asing yang datang ke Indonesia lalu mendengarkan radio, kira-kira apa ya pendapat mereka? Banyak kan radio di sini yang memutar lagu-lagu barat? Jangan-jangan mereka akan berkata, “Lha aku ki ning endi to? Ning Indonesia opo ning Amerikah?” (Aku berada di mana ya? Di Indonesia atau di Amerika?) Eh, tentunya dia tidak “mbatin” dalam bahasa Jawa ya–kecuali dia orang Suriname, mungkin? 😀 Ya, terserah saja sih kalau radio-radio itu memutar lagu barat. Nanti kita kuper deh kalau tidak tahu lagu atau kabar dari dunia luar. Tapi sejujurnya, aku kangen mendengarkan lagu-lagu daerah, cerita-cerita lokal dari berbagai penjuru Indonesia, atau apa pun lah yang berbau Indonesia disiarkan lewat radio. Tiap radio memang punya kekhasan masing-masing, sih. Itu terserah mereka. Barangkali aku saja yang ngoyoworo atau terlalu muluk-muluk ingin ada rasa Indonesia yang bisa memenuhi selera ndesoku ini di radio yang kudengar. (Sebetulnya rasa Indonesia itu yang seperti apa ya? Kok aku mendadak bingung?) Tapi aku yakin kok, masih ada radio yang menyiarkan “rasa Indonesia”. Setidaknya kapan hari aku kesasar ke RRI dan mendengar ulasan pernikahan adat suku Sasak. Di situ diputar juga lagu-lagu daerah. Rasanya mak nyes, gitu deh. Halah lebay! 😀

Nah, kamu apakah masih mendengarkan radio? Radio seperti apa yang kamu sukai?

Secuil Surga

Ceritanya, malam-malam aku lapar. Jam kecil di depan monitor komputerku menunjukkan pukul 21.30. Sudah lewat jam makan. Salahku juga tadi sore hanya makan roti secuil dan berharap roti itu bisa mengganjal perut sampai malam. Sayangnya, naga di perutku berontak. Hahaha. Mana kenyang dia hanya disumpal dengan sepotong roti? Daripada nanti malam aku tidak bisa tidur karena lapar, mending makan to? Lagian kenapa mesti menahan lapar? Kayak orang susah saja. 😀 😀 Di dapur masih ada nasi dan sedikit sayur masakanku sendiri. Sebetulnya tak terlalu selera sih. Maunya masak mi instan. Tapi aku pikir, sayang juga kalau sayur itu tidak kuhabiskan.

Rasa lapar ini mengantarkanku pada kenangan saat masih di asrama dulu. (Memang ya, tinggal di asrama itu bagiku banyak kenangannya…) Sekitar pukul 9 atau 10 malam, kadang aku atau salah seorang teman unit ada yang kelaparan. Karena masih harus begadang–entah karena mengerjakan tugas atau besoknya ujian–maka kami akan ke dapur unit yang merangkap ruang tamu untuk memasak mi instan. Sebagai gambaran, asrama kami dibagi atas beberapa unit yang masing-masing unit terdiri dari ruang belajar, kamar tidur, ruang ganti, dan yang terakhir ruang tamu. Jangan bayangkan ruang tamu itu tempat untuk menerima tamu dari luar. Itu adalah ruang tamu untuk sesama warga asrama saja. Ruang tamu untuk tamu dari luar ada sendiri. Nah, di ruang tamu itu ada beberapa kursi, wastafel, dan rak untuk menyimpan gula, teh, dll. Di situ ada pula kompor. Kompor itu bukan bagian dari fasilitas asrama, tapi biasanya ada salah satu dari kami yang membawa (lengkap dengan wajan dan sodet untuk memasak). Waktu itu masih zaman kompor minyak (terdengar jadul banget ya?). Jadi, salah satu tugas unit adalah membersihkan dan mengganti sumbu kompor. Oke, cerita tentang dapur asrama cukup sekian dulu.

Saat salah satu dari kami memasak mi instan, kadang ada satu atau dua orang teman yang ikut nimbrung. Entah ikut memasak mi instan, entah ikut icip-icip saja. Pokoknya akhirnya kami meriung saja di ruang tamu itu. Kadang ada yang berbaik hati membuat teh. Semangkuk mi instan itu kadang dihabiskan berdua atau tergantung siapa yang mau ikut meramaikan suasana. Dan siapa yang memasak mi instan biasanya gantian. Misalnya malam ini aku, besok temanku yang lain. Begitu saja. Sambil makan kami biasanya mengobrol santai. Ada yang berbagi gosip (biasaaaa, perempuan gitu lo! Kalau nggak bergosip, mana bisa? Hihi), ada yang cerita pengalaman di kampus, ada yang cerita tentang keluarganya, pacarnya, adiknya, kakaknya, simbahnya… apa saja. Obrolan itu bisa berlangsung seru diiringi tawa terbahak-bahak.

Mengingat pengalaman itu, aku merasa itu adalah salah satu indahnya tinggal di asrama. Dulu aku menganggap acara makan mi instan ramai-ramai itu adalah sesuatu yang wajar. Biasa. Saat berlangsung, aku tidak mengira bahwa kebersamaan makan mi itu menimbulkan kehangatan tersendiri di dalam hati ketika mengenangnya. Aku tak mengira bahwa sesuatu yang dulu kuanggap wajar, kini kuanggap kenangan indah. Kebersamaan dengan teman seunit–tertawa bersama, obrolan ngalor-ngidul, minum teh dan makan mi bersama–menjadi harta dalam hati. Memang kalau ditimbang-timbang, sesuatu yang kini tampak biasa dan sederhana, bisa jadi itu adalah secuil surga. Mungkin aku perlu lebih membuka mata menyadari keindahan di sekitarku.

Kamu sendiri, punya kenangan indah makan mi instan?

Keinginan yang Sempat Terlupakan

Aku kurang bisa menyanyi. Bisa-bisaan saja. Dulu pernah ikut kor, sempat terpaksa jadi solis di gereja. Tapi rasanya suaraku pas-pasan. Selepas SMA, aku tidak bersinggungan lagi dengan urusan nyanyian di gereja. Maksudnya, tidak ikut kor dan semacamnya lo, bukan jadi males ke gereja ding. Malesnya cuma kadang-kadang. 😀

Meski begitu, ada beberapa lagu gereja yang kusukai. Bisa dibilang lagu favorit. Salah satunya berjudul Aku Abdi Tuhan. Ini syairnya:

Ke depan altar aku melangkah
Seraya bermadah gembira ria
Saat bahagia hari yang mulia
Hari yang penuh kenangan

Reff.
Tuhan berkenan pada yang hina
Seumur hidup aku abdi-Nya
Tuhan berkenan pada yang hina
Seumur hidup aku tetap jadi abdi-Nya

Aku terkenang masa yang lalu
Tuhan berbisik merdu dalam kalbu
Kuingat sabda lembut dan merayu
Marilah ikuti Aku

Katanya lagu ini biasa dipakai saat ada tahbisan pastor. Aku bilang “katanya” karena aku baru sekali ikut misa tahbisan, dan aku lupa apakah lagu ini dinyanyikan atau tidak. 😀 Tapi beberapa teman memakai lagu ini untuk misa pernikahan. Biasanya dinyanyikan waktu kedua mempelai masuk, menyusuri lorong gereja. Dulu aku juga memakai lagu ini untuk misa pernikahan.

Hari Minggu kemarin (27/1) aku misa pagi dan kebetulan ada pelantikan misdinar baru. (Misdinar = pemuda atau pemudi yang melayani pastor di upacara gereja Katolik; pelayan misa–KBBI.) Lagu yang dipilih untuk mengiringi adalah lagu “Aku Abdi Tuhan” tersebut. Seketika ingatanku melayang pada keinginanku di masa kecil. Dulu, aku ingin sekali menjadi misdinar. Sayangnya, di paroki tempat aku dibesarkan (di Madiun), tidak ada misdinar perempuan (putri altar). Mungkin kebijakan keuskupan ya. (Aku kurang tahu persis sih soal ini.) Yang ada adalah misdinar laki-laki. Dulu kakakku sempat aktif sebagai misdinar. Kalau mendengar cerita-ceritanya, jadi pengin deh. Dia cerita, jadi misdinar itu enak, kadang kalau pastor dapat hantaran kue, mereka suka dapat bagian. Trus, kalau anggur untuk misa berlebih, bisa ikut nyicip. Hahaha. Lha kok yang dipengini kaya begitu ya? (Nggak bener ini namanya… hehehe.) Ya, namanya juga anak-anak. Payah deh. Tapi selain itu, aku memang pengin deh bisa jadi misdinar. Kesannya gimanaaaa gitu. Tapi apa boleh buat, aturan di parokiku tidak bisa. Ya sudah. Aku mengubur keinginan menjadi misdinar.

Sekian belas tahun berlalu, rasanya aku sudah hampir lupa pada keinginanku itu. Aku masuk Asrama Syantikara. Setiap tahun, asrama selalu punya hajatan besar, yaitu dies natalis. Nah, tiba saatnya untuk misa dies. Tanpa kusangka-sangka, aku didatangi seorang teman dan … diminta untuk ikut menjadi misdinar! Astaga … Bagiku, pengalaman itu tidak terlupakan. Barangkali hanya sekali seumur hidup aku menjadi misdinar.

Pelantikan misdinar pada hari Minggu kemarin seketika mengingatkan aku bahwa sesuatu yang sudah lama kuinginkan (bahkan terlupakan) masih bisa terwujud. Padahal aku berpikir … keinginanku itu mustahil untuk terwujud. Namun, saat lagu “Aku Abdi Tuhan” dinyanyikan, seolah ada yang berbisik di dalam hatiku: Tuhan selalu mendengar doa kita.

Dari yang pernah kubaca, jawaban doa ada tiga macam: Tidak, Tunggu, atau Iya. Dari pengalamanku tersebut, jawaban doaku adalah “Tunggu”, dan Tuhan memberikannya pada waktu yang tepat. Dan pengalaman itu justru memperkuat imanku. Lagi pula, alangkah mengerikan hidup kita jika semua doa kita dijawab “Iya” dan langsung dikabulkan. Iya, kan? Mungkin aku perlu senantiasa ingat bahwa “seumur hidup aku abdi-Nya…” entah keinginanku terkabul atau tidak.

Tentang Sebuah Keluarga

Rumah. Keluarga. Dua kata itu erat kaitannya. Rumah adalah tempat satu keluarga berkumpul. Keluarga membutuhkan rumah. Di rumah itu para anggota keluarga berinteraksi satu sama lain, ada emosi yang muncul, ada kebersamaan. Di dalamnya pasti pernah timbul rasa sebal, senang, kangen, marah, sedih, saling mendukung, saling melindungi, saling mengkritik. Campur-campur.

Ya, aku mau bercerita tentang sebuah rumah yang pernah kutinggali, yang sekarang–sayangnya–jarang aku kunjungi. Tapi biar begitu, aku masih merasakan suatu ikatan keluarga yang pernah terjalin selama aku tinggal di situ.

Rumah itu besar. Besar sekali. Dan berhalaman luas. Ada halaman di sisi luar, ada pula sepetak halaman di dalamnya. Ada sebuah sungai yang membelah halaman rumah itu. Jadi kamu bisa mendengar gemericik air setiap hari. Kedengarannya menyenangkan ya? Rumah ini terletak di pinggir jalan besar, tetapi halaman yang luas itu cukup bisa meredam riuhnya lalu lintas di depan. Oya, tidak seperti rumah-rumah pada umumnya, halaman depan rumah itu diaspal! Khas sekali. Ini bukan jalan raya lo. Tapi memang benar-benar halamannya.

Foto: Sungai Babilon. Begitulah kami menyebut sungai ini. Kira-kira tiga tahun kamarku terletak di samping sungai ini.

Dulu, aku sempat takut waktu hendak tinggal di sana. Rumah ini besar sekali. Ada ratusan ruang di dalamnya. Bagaimana kalau aku salah masuk? Lagi pula ruangan-ruangan itu mirip. Dan ada pula lorong-lorong yang panjang. Kalau malam, bisakah kamu membayangkannya? Saat semua penghuninya tidur, lorong itu begitu sepi. Memang cahaya lampu neon tetap bersinar terang sampai pagi, tetapi sepi itu kadang terasa menggigit.

Hmm, bisa menebak rumah apa yang sedang kubicarakan ini? Ini adalah asrama yang kutinggali sejak awal kuliah (bahkan beberapa bulan sebelumnya aku sudah tinggal di situ) sampai aku lulus. Lima tahun. Itulah Asrama Syantikara, Jogjakarta.

Sampai sekarang aku masih merasa Syantikara adalah salah satu bagian penting dalam hidupku. Tinggal dan berinteraksi dengan teman-teman di sana merupakan suatu tonggak penting dalam hidupku. Di sana aku belajar banyak hal. Tak hanya soal kemandirian, tetapi juga soal bagaimana hidup bersama teman-teman yang sangat berbeda latar belakang sukunya. Aku masih ingat ketika aku penasaran dengan rambut keriting temanku dari Irian, lalu dia mengizinkan aku memegang rambutnya. Bagiku rambut temanku itu unik. Ternyata rambutnya tidak sependek yang kusangka. Jika ditarik, rambut keritingnya itu molor dan kesanku waktu itu cukup panjang.

Beberapa minggu yang lalu aku pergi ke Tanjung Pandan, Belitung. (Suamiku aslinya dari sana, jadi aku ke sana dalam rangka “pulang” juga.) Di sana aku bisa dibilang tidak kenal siapa-siapa, kecuali kerabat suamiku. Tapi yang membuatku agak “tenang” adalah di sana tinggal seorang kakak asramaku. Dia memang bukan asli Tanjung Pandan, tapi kehidupan membawanya sampai ke sana. Aku memanggilnya Kak Mika. Aku senang bertemu dengannya. Meskipun waktu di asrama aku tidak dekat dengannya, toh waktu berjumpa lagi dengannya, aku merasa seperti bertemu teman lama. Ada cerita lama yang bisa kami urai bersama–soal asrama, soal Sr. Ben, soal teman-teman kami dahulu. Meskipun beda angkatan, tetap saja ada cerita kebersamaan yang bisa kami bagikan.

Bersama Kak Mika (kiri) di depan Gereja St. Regina Pacis, Tanjung Pandan.Foto: Bersama Kak Mika (kiri) di depan Gereja St. Regina Pacis, Tanjung Pandan.

Menurutku, itu adalah salah satu keunikan tinggal di asrama Syantikara. Di Syantikara aku seperti mengintip Indonesia versi kecil. Berbeda-beda, tetapi kami satu keluarga. Indonesia sekali kan?

Solitaire dan Sendiri

Pernah bermain solitaire? Kurasa bagi kebanyakan orang yang biasa berhadapan dengan komputer, permainan solitaire adalah permainan yang sudah diakrabi. Itu lo, game di mana kita mesti mengurutkan kartu dari As sampai King. Tapi kalau bicara solitaire, entah kenapa aku jadi ingat ketika bermain solitaire memakai kartu remi biasa. Dulu, ini adalah permainan yang rasa-rasanya cukup sering aku mainkan waktu di asrama–zaman kuliah dulu.

Begini, waktu di asrama dulu, komputer masih dirasa sebagai barang mewah. Waktu aku kuliah, komputer yang umum waktu itu sebutannya masih begini nih: 386 atau 486. Bingung kan? Hehehe… Itu sebutan untuk prosesornya. Kalau sekarang sih komputer sudah jauh lebih maju. Nah, karena komputer masih dianggap barang mewah, di asrama komputer masih dibatasi. Memang sih, di asrama ada komputer. Tapi itu pun dipakai oleh anak yang sudah skripsi. Dan kalau pakai, kita pun mesti bayar. Sistemnya seperti rental komputer, tapi Suster memberi harga lebih murah untuk sewanya dibanding kalau kita rental komputer di luar. Jadi, tak ada ceritanya main game di komputer. Kita memakai komputer memang untuk tugas kuliah saja. Lalu? Ya, akhirnya kita tidak terbiasa main game di komputer dong. Dan kartu remi menjadi salah satu “pelarian” untuk bersenang-senang bersama.

Memang sih, yang namanya asrama, pasti banyak teman kan? Masak mau main sendiri? Satu unit rata-rata isinya 4-8 orang. Jadi, mestinya tak perlu khawatir kesepian dan bisa main kartu remi ramai-ramai. Eit, tapi, jangan salah. Di asrama pun kita bisa sendirian di unit. Kok bisa? Aku ingat, saat malam minggu kadang bisa jadi saat yang tidak menyenangkan. Apalagi kalau tidak punya pacar, tidak ikut komunitas apa-apa, tidak ada teman yang mengajak ikut suatu kegiatan, malas ikut nonton tivi di ruang tamu, teman-teman seunit pergi (diapeli, pulang kampung, atau ikut acara di kampus), naaah … bisa kesepian tuh. Hihihi, kasiaaaan deh! Jadi, kadang di saat seperti itulah aku kadang bermain solitaire dengan kartu remi.

Tapi ngomong-ngomong soal solitaire, aku jadi ingat ketika pertama aku bepergian ke luar kota sendiri. Kapan itu? Waktu SD seingatku. Waktu itu, Mbah dari ibuku masih hidup dan tinggal di Jogja. Jadi saat liburan tiba, aku biasa berlibur ke rumah Mbah. (Waktu itu aku masih di Madiun). Karena kedua orang tuaku bekerja dan tidak bisa meninggalkan pekerjaan, maka aku mesti pergi sendiri. Kadang sih ya aku pergi dengan kakakku, kadang ditemani pengasuhku, tapi ada kalanya aku pergi sendiri. Memang sih, waktu itu aku perginya naik travel. Jadi, tak perlu khawatir kesasar. Tapi ya, namanya pertama kali pergi ke luar kota sendiri, masih usia SD, rasanya deg-degan juga. Awalnya, Bapak yang menelepon travel, lalu menanyakan apakah masih ada jatah kursi untuk keberangkatan ke Jogja. Ternyata ada. Jadi, aku mulai mengepak baju-bajuku sendiri. Kupilih beberapa baju yang kusukai dan yang kubutuhkan, lalu kumasukkan ke dalam tas yang sudah disiapkan Ibu. Malamnya aku jadi susah tidur membayangkan perjalanan esok harinya. Aduh, jadi deg-degan betul! Aku membayangkan, besok sebelahku orangnya seperti apa ya? Bagaimana kalau travelnya ngebut? Bagaimana kalau sampai di rumah Mbah sudah malam (karena travel waktu itu mesti mengantar penumpangnya satu per satu, dan bisa jadi aku dapat jatah diantar paling terakhir)? Terus terang aku lupa bagaimana perjalanan pertamaku sendiri ke Jogja. Tapi rasanya aman-aman saja. Terbukti aku beberapa kali naik travel Madiun-Jogja pp. Kalau aku kapok atau mengalami kejadian tidak enak, pasti pengalaman itu tidak kuulangi kan? 🙂

Perjalanan sendiri ke Jogja dengan travel itu tidak menjadi perjalanan yang terakhir. Akhirnya aku jadi terbiasa pergi ke Jogja sendiri. Tapi kemudian, ketika aku sudah mulai kuliah, travel ke Jogja tidak menjadi pilihanku lagi, karena biayanya lebih mahal dibandingkan naik bus atau kereta api.

Jika perjalanan ke Jogja itu menjadi latihanku untuk mandiri, lalu hal apa yang tidak bisa kulakukan sendiri? Jawabannya adalah, pulang malam sendiri di Jakarta. Ketika awal aku akan pindah ke Jakarta, aku selalu berpikir bahwa aku bisa pergi sendiri, termasuk pulang malam sendiri. Yang kudengar waktu itu adalah, Jakarta kota yang selalu ramai, termasuk di malam hari. Dan saudaraku pernah mengatakan bahwa di malam hari pun selalu ada kendaraan umum. Jadi, tak perlu takut tak bisa pulang di malam hari. Tapi, waktu aku sudah di Jakarta, aku jadi berubah pikiran. Entah kenapa, aku merasa tidak nyaman jika pergi sendiri sampai malam. Padahal ya tidak sampai malam banget lo. Paling sampai pukul 8. Jika aku pergi sendiri, dan jam sudah menunjukkan pukul 8, aku jadi gelisah. Jadi, sebisa mungkin aku pergi siang hari. Dan kalaupun sampai malam, biasanya pulangnya aku janjian dengan suamiku atau minta dijemput. Itu pun sangat jarang, dan sebisa mungkin kuhindari.

Aku tak tahu kenapa kalau di Jakarta aku tidak bisa pulang malam sendiri. Padahal dulu, semasa di Jogja (dan sampai sekarang kalau aku di Madiun atau di Jogja), pulang malam bukan jadi hal besar bagiku. Di Jogja, rumahku ada di daerah utara dan kalau pulang aku mesti lewat daerah yang persawahan yang sepi. Tapi, kalau masih pukul 9 malam, aku bisa pulang sendiri tanpa minta dijemput kakakku. Bahkan, aku ingat, aku pernah pulang malam pukul 22.00 lewat, naik motor sendiri. Memang sih, aku tidak setiap hari pulang malam. Tapi setidaknya, aku merasa baik-baik saja jika memang harus pulang malam sendiri. Yah, ternyata sebuah kota membawa perubahan dalam diriku. Aku menyadarinya sekarang ….

Ngomong-ngomong, apa yang tidak bisa kamu lakukan sendiri? Dan apa pula yang bisa kamu lakukan sendiri? Yuk, berbagi cerita.

Tulisan ini diikutsertakan dalam perhelatan Giveaway: Pribadi Mandiri yang diadakan dua nyonya: Imelda Coutrier dan Nicamperenique. 😀