Kantor Pos: Riwayatmu Dulu

Ketika masih SD, aku dan kakakku berlangganan majalah anak-anak. Kadang selama beberapa periode, kami berlangganan Bobo; jika bosan, kami berganti berlangganan Ananda. Suka-suka saja sih. Salah satu kolom yang sering aku tengok di kedua majalah itu adalah kolom Sahabat Pena. Kadang aku mencari-cari, adakah anak yang sekota denganku? Lalu, siapa ya yang seumuran denganku? Adakah yang ulang tahunnya sama denganku? Hehe, ada-ada saja ya pikiranku saat itu. Dan waktu itu, aku sempat punya sahabat pena. Aku tidak ingat, kriteria apa yang kupakai waktu memilih sahabat pena waktu itu. Sepertinya sih asal saja.

Aku pun rajin menulis surat. Jika surat balasan sudah kuterima, aku akan segera membalasnya. Dan waktu itu, aku tidak saja berkirim surat dengan sahabat penaku, aku juga bersurat-suratan dengan kakak sepupuku yang ada di Jepara. Nah, sejak itu, urusan ke kantor pos untuk membeli perangko dan mengirim surat pun menjadi suatu kegiatan tersendiri. Karena kantor pos cukup jauh dari rumahku (dulu sih rasanya cukup jauh, tapi kalau sekarang kok rasanya dekat ya?), aku kadang membeli beberapa perangko sekaligus, jadi kalau mau mengirim surat, aku cukup ke kotak pos yang tak jauh dari rumahku. Masa-masa itu adalah pengalaman pertamaku berhubungan dengan kantor pos.

Pak pos pun menjadi sosok yang aku tunggu-tunggu. Jika dari balik jendela ruang tamu kulihat Pak Pos datang dengan sepedanya, aku akan segera ke depan. Tak jarang, surat diselipkan di sela pintu ruang tamu.

Relasiku dengan kantor pos memang hanya sebatas pengiriman surat. Relasi itu terus berlangsung sampai aku kuliah di Jogja. Dulu aku masih berpikir, kalau kirim surat, ya pakai jasa pos. Aku tidak pernah terpikir untuk memakai jasa kurir yang lain. Tapi ketika aku sudah bekerja, kantorku punya langganan sebuah jasa kurir. Waktu itu aku baru tahu, bahwa mengirim surat dengan jasa kurir bisa juga (hahaha! telmi ya aku :p), dan harganya pun tak jarang lebih murah dibandingkan jasa pos biasa. Karena sudah langganan, pengiriman ke Jakarta dari Jogja, biayanya sekitar 3000 rupiah (atau malah kurang ya?). Eh, tapi itu dulu lo (sekitar 5 atau 6 tahun yang lalu), sekarang sih sudah naik. Dan kiriman bisa sampai dalam waktu sehari. Dibandingkan dengan kantor pos, tentu jauh beda pelayanannya.
Meskipun aku tahu untuk mengirimkan surat atau barang bisa menggunakan jasa kurir, aku sampai dua bulan yang lalu, masih memakai jasa kantor pos. Yaaa, walaupun aku sering mendengar bahwa kantor pos kurang bagus pelayanannya, aku tetap memakai jasanya. Soalnya bisa dikatakan, aku hampir tak pernah dikecewakan dengan jasa pos. Hanya untuk pengiriman yang butuh waktu cepat aku memakai jasa kurir.

Tapi pengalamanku beberapa waktu kemarin membuatku berpikir seribu kali untuk memakai jasa pos lagi. Ceritanya, waktu itu aku hendak mengirim paket ke temanku di Madiun. Seperti biasa, aku hendak memakai jasa pos karena kantor pos cukup dekat dengan tempat tinggalku dan kupikir, menurutku tarifnya pun agak lebih murah dibandingkan jasa kurir. Setelah ditimbang, paketku beratnya, persis 1kg.
“Berapa, Bu?” tanyaku menanyakan ongkos yang harus kubayar.

“Empat puluh tiga ribu!” Jawaban ibu pegawai kantor pos itu hampir membuat jantungku copot. Lha kok mahal sekali? Padahal persis sebulan sebelumnya, aku mengirim paket ke Jogja, dengan berat dan jenis pelayanan yang sama, aku hanya membayar 12 ribu. Jadi, perkiraanku, kalau ke Madiun paling hanya 15 ribu. Kenapa sekarang jadi mahal sekali?

Dari pegawai kantor pos, aku mendapat informasi bahwa pengiriman paket yang kurang dari 2kg, dihitung sebagai surat. Selanjutnya, pihak kantor pos akan menggunakan perhitungan secara gram (bukan kilogram). Nah, sekarang ongkos per gramnya sudah naik.
Mendengar hal itu, aku tidak jadi menggunakan jasa pos. Aku kemudian memakai jasa kurir. Dan ternyata, ongkosnya jauh lebih murah. Jika kantor pos mematok harga 43 ribu, di kurir yang kupilih itu, ongkosnya sekitar 13 ribu. Bayangkan, selisihnya sampai 30 ribu! Dan lagi, entah mengapa bagiku mengirim barang lewat kurir rasanya lebih terpercaya.

Sekarang, untuk pengiriman barang atau surat aku lebih memilih jasa kurir. Selain tarifnya lebih murah, lebih terjamin, dan aku bisa mengirimkan barang tidak terbatas pada jam kerja saja.

Aku tak tahu apa yang bisa dilakukan kantor pos agar bisa bersaing dengan lebih baik. Coba pikir, dengan adanya internet, pengiriman surat via pos bisa jauh berkurang. Berkirim surat elektronik terasa lebih hemat dan nyaman. Padahal dulu orang mengandalkan pos untuk berkirim surat. Nah, lalu apa ya yang bisa dilakukan PT POS supaya orang tetap menggunakan jasanya? Mau tak mau kantor pos harus melakukan perubahan. Tapi, terus terang aku tak punya solusi.

Sebenarnya aku pikir kantor pos bisa bersaing dengan jasa kurir yang lain. Dengan jaringannya di seluruh Indonesia, (bahkan sampai ke pelosok-pelosok) PT Pos mestinya bisa memberikan pelayanan yang lebih unggul. Tetapi, kenapa ya kok sepertinya jadi kalah saingan? Sangat disayangkan, sebenarnya ….