Obat Pengusir Bosan dan Suntuk

Beberapa waktu yang lalu, seorang teman mengajakku chatting. Yah, sebagai teman lama, aku berusaha meladeninya dengan baik. Rupanya dia sedang bosan di tempat kerja. Bosan. Suntuk. Harap diketahui, temanku yang satu itu memiliki sebuah toko dan ia harus menjaga tokonya sepanjang hari. Eh, mungkin tidak sepanjang hari ding. Kalau tidak salah cuma dari pagi sampai sore. Dan begitu terus rutinitasnya setiap hari.

Aku bisa membayangkan bosannya menunggu toko. Sendirian di toko. Apalagi kalau tokonya sedang tidak ramai alias sepi pembeli. Wah, bisa mengantuk. Dan yang jelas, tidak bisa tidur seenaknya dong. Barang jualan atau uang yang ada di toko bisa disamber orang nanti. Kan reffoott….

Dia lalu bertanya kepadaku apa sih obat pengusir suntuk dan bosan?

Pertanyaannya itu membuatku teringat pada dua hal. Oke, kita bahas yang pertama dulu ya. Yang pertama adalah pada kebosanan yang kadang-kadang juga kualami. Aku tak tahu apakah aku termasuk makhluk pembosan atau tidak. Tetapi aku terkadang menganggap diriku pembosan. Kalau berada dalam situasi yang begitu-begitu saja, aku jadi bosan. Apalagi kalau terlibat dalam suasana di mana aku jadi “penonton” saja dan tidak bisa ikut berinteraksi di dalamnya. Misalnya nih, berada dalam obrolan bersama teman dan aku tidak tahu apa yang mereka obrolkan. Yah, kan males banget to? Atau berada di suatu tempat dan mengerjakan hal yang itu-itu terus … lama-lama bosan juga. Misalnya, berada di rumah terus selama lebih dari tiga hari dan aku cuma di depan komputer terus, lama-lama bosan juga.

Lalu, apa yang biasanya kulakukan? Dulu kalau di Jogja, aku biasanya akan menggelandang motorku ke halaman, dan weeerrr … aku lalu pergi ke mana hati ingin pergi. Kadang ke toko buku, kadang iseng ke kos teman, kadang saat di jalan ingat ada barang yang perlu kubeli, ya mampirlah aku ke toko. Dan biasanya baru beberapa ratus meter saja, rasa bosanku sudah hilang. Sudah segar lagi. Jadi, begini jawabanku kepada temanku tempo hari, “Jalan-jalan aja. Ganti suasana.” Nah, sekarang kalau di Jakarta, berhubung tidak punya motor, aku biasanya mengusir rasa bosanku adalah dengan belanja ke pasar. Hi hi. Emak-emak banget ya! Di pasar, walaupun terkadang becek dan kumuh, aku bisa merasakan semangat para penjual yang sepertinya tidak pernah lelah menawarkan barang dagangannya. Asyik juga lo! Karena itu biasanya aku tidak belanja banyak. Jadi, dalam dua atau tiga hari, aku harus ke pasar lagi untuk membeli bahan makanan untuk dimasak.

Kedua, selain mengingatkanku pada kebosanan dan rasa suntuk yang kadang juga aku alami, pertanyaan temanku tadi mengingatkanku pada kata-kata Mas Yanuar Nugroho saat dia memberi seminar di Driyarkara hari Selasa lalu (10/11/09). Dia mengatakan kira-kira begini, “Jangan terlalu GR kalau menerima SMS sapaan dari seorang teman. Bisa jadi, dia tidak benar-benar ingin menyapa kita. Mungkin dia sedang bosan nunggu bus yang tidak lewat, dan daripada tidak ada kerjaan, mending kirim SMS ke kita. Jadi SMS yang dia kirimkan itu sebenarnya ‘untuk dirinya sendiri’.” Pernyataannya itu membuatku geli. Kadang aku juga begitu soalnya :))

Dengan menjamurnya telepon genggam itu, salah satu hal yang biasa kuamati di tempat umum adalah orang yang sibuk dengan HP-nya. Tidak selalu bertelepon, cuma utak-utik HP. Biasanya sih kalau tidak ber-SMS ya main game. Orang-orang itu jarang sekali ada yang mengajak ngobrol orang yang di dekatnya. Mungkin dengan adanya alat elektronik yang bisa menghubungkan kita dengan dunia maya dan teman atau saudara kita yang berada nun jauh di sana, kita tidak terbiasa untuk saling menyapa dengan orang yang secara fisik berada di dekat kita. Itu perkiraanku loh. Salah satu alasannya barangkali adalah karena kita sering diwanti-wanti untuk tidak berakrab-akrab dengan orang asing, karena bisa jadi orang asing itu akan menyakiti kita. Jadi, cari amannya saja 😉

Kalau boleh tahu, apa sih yang biasanya kamu lakukan untuk mengusir kebosanan? Mengutak-utik HP? Jalan-jalan? Atau apa?