Bahasa Indonesia Bukan Sebuah Kenangan

Semasa sekolah, salah satu mata pelajaran yang nilaiku lumayan bagus adalah bahasa Indonesia. Bisa dibilang aku sama sekali tidak kesulitan ketika berhadapan dengan mata pelajaran tersebut. Lagi pula, itu kan bahasa kita sendiri. Apa susahnya sih? Bagiku, mata pelajaran bahasa Indonesia adalah “penyelamat” untuk mengatrol nilai mata pelajaran lain yang buruk.

Meskipun mendapat nilai yang lumayan bagus untuk Bahasa Indonesia, tidak terlalu banyak yang kuingat ketika mempelajarinya. Rasanya biasa-biasa saja deh. Hanya satu guru bahasa Indonesia SMP yang kuingat, yaitu (alm) Bu Wardo. Beliau selalu meminta kami mengerjakan seluruh soal latihan di buku diktat. Kalau rajin, pasti nilainya bagus. Lalu waktu SMP, kami pernah mendapat tugas menonton sinetron (kalau tidak salah) Sengsara Membawa Nikmat. Kami diminta membuat ringkasan setiap episode. Seingatku, aku selalu mengerjakan tugas itu di kertas folio bergaris hingga berlembar-lembar.

Singkat cerita, bahasa Indonesia itu kesanku mudah.
Tapi itu dulu ….

Aku mulai menyadari bahwa bahasa Indonesia tidak semudah yang kukira ketika aku mulai bekerja sebagai editor di sebuah penerbit. Awalnya aku merasa bahwa dengan bekal nilai-nilai bahasa Indonesia yang tidak pernah buruk plus pemahaman pemakaian bahasa Inggris yang cukupan, aku bisa lah jadi editor. Apa susahnya? Tapi ternyata tidak semudah yang kukira. Ketika bekerja itulah aku mulai benar-benar mewaspadai pemakaian tanda baca dan diksi yang tepat. Aku mulai bertanya-tanya, apa bedanya kata harga, tarif, dan ongkos? Seingatku, saat itulah aku mulai mewaspadai kapan harus mencoret kata tidak dan menggantinya dengan bukan; mulai bertanya-tanya, bolehkah memakai kata dan untuk awal kalimat; mulai berteman pula dengan KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia); dan sebagainya … dan sebagainya. Saat itulah aku mulai sadar bahwa bahasa Indonesia itu tidak gampang. Saat itulah aku mulai betul-betul menghargai bahasa Indonesia. Telat ya?

Beberapa hari lalu aku bertemu temanku yang menjadi penguji tes bahasa Indonesia untuk orang asing. Dia menceritakan susahnya mengajari orang asing mengenai imbuhan. Misalnya, kapan harus memakai me-kan, me-i, memper-kan, dll. Mungkin sebagai orang Indonesia, hal itu tidak terlalu bermasalah. Sudah alami saja saja memakainya. Tapi ternyata menerangkannya kepada orang asing, susah juga. Aku sendiri sudah terbayang seperti apa rumitnya. Karena itu juga aku salut pada teman-teman pengajar bahasa Indonesia untuk orang asing. Selain tidak mudah, kurasa itu juga salah satu cara untuk memperkenalkan Indonesia kepada dunia luar.

Mestinya tulisan ini kupasang kemarin, saat peringatan hari Sumpah Pemuda. Tapi karena kebanyakan alasan, akhirnya tulisan ini baru jadi sekarang. 😀 Aku merasa kini peringatan Sumpah Pemuda tidak terlalu banyak gregetnya. (Atau aku saja ya yang merasa begitu?) Selain itu, semakin hari aku semakin merasa bahasa Indonesia begitu mudah dilecehkan oleh orang kita sendiri. Mulai dari pemakaiannya yang tidak benar sampai mencampurnya dengan bahasa asing yang sebetulnya sudah ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Ah, semoga kita tidak termasuk sebagai orang yang merusak bahasa kita sendiri. Jadi, bahasa Indonesia tetap akan dipakai dan dilestarikan, bukan menjadi pajangan dan kenangan.