Membuat Tradisi 3 Januari

Tahun lalu, aku menulis postingan pertama tanggal 3 Januari. Sekarang, aku ingin menulis juga pada tanggal yang sama. Anggaplah ini membuat semacam tradisi. Kalau tanggal 1 dan 2 Januari masih “ayub-ayuben” setelah acara tahun baru, maka tanggal 3 mungkin saat yang tepat. Ini berlaku untukku saja barangkali… 😀

Ini ceritanya, aku dan keluarga sedang berkumpul di rumah alm. Simbah. Acara selamatan 1 tahun meninggalnya Simbah.

Kemarin sore, kami duduk-duduk di serambi depan. Tiba-tiba lewat seorang laki-laki dan ngomong sesuatu. Karena telingaku suka error, kupikir orang itu hanya menyapa. Kadang di sini memang suka ada kejadian seperti itu karena di dusun ini hampir semua saling kenal. Kupikir orang itu masih kerabat atau tetangga desa. Tapi ternyata dia mau menawarkan dagangan.

Awalnya kami menolak. Tapi mungkin karena terbujuk oleh kalimat: “Ningali kemawon saged” (lihat-lihat saja boleh), akhirnya orang itu kami persilakan menggelar barang dagangan. Yang dia jual adalah celana pendek. Bahannya dia beli dari sisa kain pabrik, lalu dia minta kerabat-kerabatnya menjahit. Kerabatnya itu dulu waktu masih muda bekerja di pabrik tekstil, lalu setelah menikah mereka berhenti kerja (mungkin karena harus mengurus anak dan sebagainya), dan menjadi pengangguran. Dia menangkap peluang ini dan jadilah dia membeli kain sisa pabrik untuk diubah jadi celana pendek.

Bapak pedagang itu cukup sabar meladeni kami yang ogah-ogahan membuka barang dagangannya. Tapi toh akhirnya kami membeli tiga potong celana pendek. Yang beli Ibu sih… itu juga setelah ditawar agak lama. Dan mungkin ada unsur kasihan juga (karena hari sudah senja dan gerimis).

Dari kejadian sepele ini aku menarik pelajaran: kalau jadi pedagang, sebaiknya punya sifat sabar, ulet, dan ramah. Setidaknya tiga sifat itu kulihat pada bapak penjual celana pendek tadi… dan itu membuat kami akhirnya membeli barang dagangannya.

Pertanyaan yang berkembang di kepalaku: dari tiga sifat tersebut, mana yang kumiliki?

Advertisements