Karena Tak Ada Kenek

Belakangan ini, ketika naik metromini dari Rawamangun, kuperhatikan jarang ada  sopir yang diasisteni oleh kenek. Entah kenapa sekarang seperti itu. Mungkin para kenek itu minta honor mereka dinaikkan, dan para sopir (eh, atau malah pemilik metromini?) enggan memenuhi permintaan mereka. Barangkali daripada kuping mereka lama-lama jadi tebal karena para kenek mengomel minta agar honornya dinaikkan, ya mending mereka dirumahkan. Eh, ini cuma perkiraanku saja lo. Perkiraan yang asal. Yang tidak pakai mikir. Hehehe. Lagi pula aku kan bukan kenek, mana aku tahu soal beginian?

Nah, tidak adanya kenek ini sebenarnya agak merepotkan buatku. Kalau ada kenek, aku kadang tidak membayar dengan uang pas (2 ribu). Ya, bisa 5 ribu, 10 ribu, kadang ya 20 ribu. Sekalian menukarkan uang. Kan kadang aku betul-betul tak punya uang kecil. Dulu sih aku pernah membayar angkot/metromini dengan receh 100-200 rupiah sampai sejumlah 2 ribu. Si kenek itu sih tak pernah marah, tapi aku sekarang lebih suka memakai uang receh cepekan itu untuk membayar belanjaan di supermarket atau pasar. Sepertinya uang receh itu lebih berguna kalau di tempat perbelanjaan deh. Daripada aku dapat kembalian permen, kan mending aku bayar dengan uang receh.

Nah, karena sekarang tak ada kenek di metromini, agak repot juga. Biasanya penumpang membayar langsung kepada sopir pas akan turun. Kebayang repotnya dong? Sopir kan harus konsentrasi ke jalan. Dan di sela-sela konsentrasinya itu dia harus menerima uang dari penumpang. Kalau harus memberi kembalian, agak repot juga sepertinya. Aku sih takut kalau si sopir terlalu lama menghitung uang, bisa-bisa dia agak abai dengan kondisi jalan. Kalau kecelakaan bagaimana? Ih, serem deh! Karena itu aku kini mau tak mau harus sedia uang pas kalau akan naik metromini.

Kemarin aku naik metromini 03 jurusan Rawamangun-Senen. Karena sudah tahu bahwa sekarang banyak metromini yang tanpa kenek, aku sudah siapkan uang pas. Kira-kira di daerah Cempaka Putih, naik seorang perempuan. Dari baju yang dikenakan, tampaknya dia seorang baby sitter. Dia naik sendirian. Begitu naik, dia langsung asyik membaca koran. Dia duduk di belakang sopir. Tak lama kemudian, naik pula dari pintu belakang seorang lelaki. Lelaki ini mendadak ngoceh tak karuan. Oh, rupanya dia peminta-minta dengan nada agak menodong. Biasanya yang seperti ini aku cuek saja. Tak perlu diperhatikan. Biar saja. Asal dandananku tak mencolok, aku sih pede tak akan diapa-apain. Waktu dia minta uang, dia pakai acara mencolek-colek. Mirip kenek yang minta ongkos kepada penumpang, gitu lo. Karena sejak awal aku tahu bahwa orang ini cuma minta duit, ya aku cuek saja. Nah, waktu mencolek-colek si mbak baby sitter itu, si mbak langsung memberikan uang 10 ribu yang sejak tadi dipegangnya untuk membayar ongkos kepada sopir. Si baby sitter ini lalu minta kembalian. Ya, jelas dong lelaki peminta-minta itu tidak terima. Lagi pula, itu kan ibarat rejeki nomplok. Langsung deh, mbak baby sitter itu disemprot oleh lelaki itu. Mbak baby sitter itu pun mundur. Mengkeret. Barangkali aku pun mengkeret juga kalau dikata-katai oleh orang berwajah sangar.

Melihat hal itu, mbak baby sitter lalu “lapor” kepada sang sopir. Kurasa karena sang sopir menganggap jatah 2 ribu untuknya kini berada di tangan lelaki sangar itu, dia pun menyuruh mbak baby sitter untuk meminta kembali uangnya. Setelah eyel-eyelan disertai makian, akhirnya uang 10 ribu itu pun bisa kembali.

Hhh … aku yang mengetahui kejadian itu ikut lega. Awalnya aku agak ragu sih uang itu akan dikembalikan. Soalnya kasar betul lelaki peminta-minta itu. Kalau dia tiba-tiba mengeluarkan senjata tajam–cutter, pisau, atau sejenisnya–bagaimana? Ini kan ibu kota yang lebih kejam dari ibu tiri hihihi. Namanya juga naik metromini. Keselamatan penumpang harap tanggung sendiri-sendiri 😉

Jadi, moral ceritanya apa nih? Hehe, penting ya?

(1) Sediakan selalu uang receh atau uang pas saat naik kendaraan umum.

(2) Kalau ada orang yang colek-colek di bus, jangan langsung dikasih uang. Lalu, jangan baca koran melulu. Cek juga siapa yang colek-colek. Kalau yang mencolek kenek, baru dikasih duit. 😀

(3) Uang untuk bayar angkot sebaiknya tidak digenggam terus. Selain tangan kita jadi kotor karena kelamaan pegang uang, kita kadang jadi reflek memberikan uang saat dicolek, karena mengira yang mencolek adalah kenek. Padahal kan belum tentu. Kalau yang mencolek mas-mas sangar tukang todong? Mesti pakai acara eyel-eyelan minta balik duit kita segala kan males.

(4) Usahakan tidak berpenampilan mencolok saat naik kendaraan umum di Jakarta. Sekali lagi, ini ibu kota yang lebih kejam dari ibu tiri. 😀 Eh, menurut pengamatanku, orang yang suka minta-minta duit, biasanya lebih berani kepada perempuan yang tampak rapi dan alim. Hmm, mungkin aku salah juga. Tapi beberapa kali kulihat perempuan yang berkerudung dan perempuan yang berpenampilan rapi kadang lebih lama dicolek-coleknya. Justru ibu-ibu yang sudah berumur dan tampangnya agak judes, tidak terlalu lama dicolek-coleknya. Eh, tapi siapa tahu pengamatanku salah ya soal ini. Harap dikoreksi, ya. 🙂

Akhir kata, waspadalah kalau naik kendaraan umum di Jakarta. Dan jangan terlalu berharap ketemu kenek yang cakep seperti Delon. *Halah!*