Semangat yang Menular dari Pemuda Bertongkat dan Pameran Foto

Menjelang akhir pekan kemarin, suamiku bilang, “Voucer kita untuk makan sushi paling telat dipakai hari Minggu besok lo!” Mau tak mau hari Minggu kemarin, aku dan suami pergi ke Plaza Senayan, ke salah satu restoran Jepang di sana. Padahal aku sebenarnya masih agak malas keluar rumah. Moodku lagi jelek. Hehehe, mood kok dijadikan alasan. Tapi demi mendengar sushi, jadi sembuh malasnya (walaupun lebih suka sashimi sih). 😀 Dulu aku juga mikir, ikan mentah seperti itu pasti amis. Tapi dulu pertama kali mencoba, aku langsung suka.

Kami memilih naik transJakarta (TJ). Sesampainya di halte, kulihat banyak anak SMP di sana. Wah, bakal penuh nih! Dan benar, waktu masuk bus, sudah banyak orang yang berdiri. Aku pun kebagian ikut berdiri. Aku berdiri di belakang, dekat tiang. Aku mengedarkan pandangan, dan kulihat seorang pemuda duduk di bangku tengah. Kiri kanannya perempuan. Biasanya kalau sudah penuh begitu ada kaum lelaki yang memberikan bangkunya kepada ibu-ibu yang berdiri di depannya. Tetapi pemuda itu tidak karena rupanya ia memakai tongkat. Tampaknya ada kelainan pada kakinya.

Sesampainya di halte Dukuh Atas, aku pindah halte supaya bisa naik bus yang jurusan blok M. Pemuda tadi ternyata juga punya tujuan yang sama. Kulihat ia awalnya antre di pintu tempat penurunan penumpang sehingga ia bisa naik terlebih dahulu. Tapi kemudian dia pindah, ikut antre dengan para penumpang lain yang tidak perlu didahulukan. Bus tiba, dan masuklah kami ke dalamnya. Di dalam semua tempat duduk terisi, beberapa orang berdiri, tetapi tidak sampai berjubel.

Melihat pemuda itu, petugas lalu berusaha mencarikan tempat. “Duduk di sana Mas,” katanya. Petugas itu lalu berusaha meminta seorang penumpang yang sudah duduk untuk berdiri. Tetapi pemuda tadi mengatakan, “Tidak usah. Saya bisa kok.” Dan, pemuda itu berdiri sambil memegang tongkatnya dan berpegangan pada tali gantungan supaya tidak jatuh. Waktu ada tempat duduk yang kosong pun, dia tidak berusaha duduk di situ. Aku diam-diam salut padanya. Menurutku, harus berdiri di dalam bus yang penuh untuk orang seperti dia mungkin tidak semudah orang biasa. Mungkin lo, ya.

Waktu aku dan suamiku turun dari TJ, aku bilang ke suami, “Eh, mas yang tadi itu hebat ya. Nggak mau dibedakan.”
“Berarti dia nggak manja,” jawab suamiku.
Ya, ya … memang tindakannya tadi menunjukkan dia orang yang tidak manja.

Oke, singkat kata aku dan suamiku menikmati sushi. Nyam … nyam. Puas deh!

Selesai makan, kami sebenarnya pengin langsung pulang. Wong soalnya memang lagi malas keluar rumah, kan? Tapi pas sampai di hall Plaza Senayan, kulihat ada pameran foto East Japan Earthquake Press Exhibition. Pameran yang memajang 54 foto itu diadakan oleh The Asahi Simbun dan Mitsubishi Corporation.

“Nonton dulu, yuk!” ajakku kepada suami. Aku memang menyukai pameran foto. Sayang kalau di Jakarta, aku jadi jarang menonton pameran semacam itu karena mesti keluar rumah dan rasanya kok jauh amat ya untuk nonton pameran saja? Nah, karena pameran itu sudah di depan mata, jadi apa salahnya menonton sebentar?

Kami menonton bergantian, salah satu duduk untuk menjaga tas. Aku biarkan suamiku nonton pameran itu terlebih dahulu. Aku lalu duduk di panggung yang kosong dekat pameran berlangsung sambil memerhatikan para pengunjung mal.

Tak lama kulihat ada serombongan perempuan. Yang tampak mencolok di antara mereka adalah seorang ibu dengan dandanan yang menunjukkan ia berasal dari kelas atas. Yang agak berbeda, tampak seorang laki-laki muda berpakaian safari. Sepertinya pengawalnya. Ibu tadi sedang mendorong kereta bayi yang di dalamnya duduk seorang anak perempuan. Beberapa kali lelaki berbaju safari itu memasangkan kembali sepatu yang dipakai oleh bocah yang duduk di dalam kereta itu.

Tak lama kemudian kulihat gadis kecil tersebut turun dari keretanya dan hendak berlari. E … sepatunya copot lagi. Lalu pengawal tadi segera mengejarnya dan memasangkan sepatu si anak. Aku agak heran kenapa bukan perempuan berbaju bagus itu yang memasang kembali sepatu bocah itu? Dan lagi sebenarnya bocah itu kurasa sudah bisa memakai sepatu sendiri, karena kulihat dia sudah besar. Mungkin sudah TK. Eh, atau aku saja ya yang tidak tahu anak usia berapa sudah bisa memakai sepatu sendiri?

Kulayangkan pandanganku lagi ke arah tempat foto-foto dipajang. Kulihat ada seorang bapak yang didampingi beberapa orang. Sepertinya aku kenal dengan wajahnya. Dia menterikah? Betul, rupanya dia seorang pejabat. Aku lalu mencoba mengingat-ingat siapa namanya. Huh, pendek amat sih ingatanku. Bapak itu mendapat penjelasan tentang foto-foto itu dari penyelenggara pameran tampaknya. Aku jadi paham kenapa ada lelaki berbaju safari di sekitar pameran itu.

Aku sebenarnya sudah penasaran dengan foto-foto yang dipajang. Aku menunggu suamiku kembali. Tak lama kemudian dia menghampiriku dan kami bergantian menjaga tas.

Aku lalu mengamati foto-foto yang menggambarkan Jepang ketika terjadi gempa dan tsunami. Menarik dan mengharukan. Dari foto-foto itu kulihat semangat orang-orang Jepang setelah ditimpa bencana. Mereka memang sedih, tetapi semangat untuk bangkit besar sekali. Salah satu foto yang kuingat adalah gambar lelaki yang meneriakkan doa kepada ibu dan neneknya yang meninggal akibat bencana itu di tengah puing-puing (rumahnya?). Di keterangan foto itu disebutkan lelaki itu mengatakan dia baik-baik saja dan minta supaya keluarga yang sudah mendahuluinya mendoakan dia. Tidak ada keluhan yang terlontar dari mulutnya. Hiks … mulai deh aku berkaca-kaca. Aku sebenarnya ingin melihat foto-foto itu masing-masing lebih lama. Tapi aduh, air mataku tak bisa kuajak kompromi. Mana aku tidak bawa tisu lagi. Yah … gimana dong? Akhirnya aku berjalan lebih cepat, berharap tidak ada melihatku menangis.

Kami lalu pulang. Aku teringat pemuda pada pemuda yang kujumpai di dalam bus TJ tadi dan pada foto-foto yang baru saja kulihat. Keduanya kupikir punya kesamaan: Tidak manja dan terus berusaha. Semoga semangat mereka menular padaku … dan teman-teman yang membaca tulisan ini.

Pengingat Manis di Dunia Maya

Sebenarnya aku ingin melanjutkan cerita waktu aku ke Jogja akhir tahun lalu. Tapi ya … belakangan ini banyak hal yang terjadi. Awalnya hardiskku rusak. Data-data hilang. Termasuk beberapa pekerjaan dan beberapa arsip foto. Untung sebagian ada yang sudah kusimpan di flashdisk. Kalau foto sebagian sudah aku unggah di FB. Aku teledor juga sih. Sebenarnya hati kecilku sudah mengingatkan agar menyimpan ulang semua pekerjaan di flashdisk. Tapi ya sudah. Untungnya pula pekerjaan yang mesti kuulang tidak sulit. Jadi cepat waktu mengerjakan ulang. Pokoknya dilihat positifnya saja deh. Hehehe. Kata temanku, pelajaran yang bagus mahal harganya. Masuk sekolah aja sekarang mahal banget kan? 😀 Yang penting semangat tidak hilang kan? Itu yang penting dan selalu kuingatkan pada diriku sendiri. Jangan menyerah walaupun beberapa calon tulisanku hilang. Jangan mundur walaupun ada bagian pekerjaan yang hilang. Katanya sih, orang yang sukses itu orang yang selalu bangkit walau sudah gagal beberapa kali. Yay! (Tepuk tangan buat diriku sendiri.)

Lalu, aku flu nggak sembuh-sembuh. Sakit sembuh. Sakit sembuh …. Sampai bosen harus tidur terus. Sekarang sih sudah mendingan. Semoga nggak tepar lagi.

Beberapa hari yang lalu aku dapat kabar ada seorang kakak asramaku dulu yang sakit, mengalami kondisi kritis, lalu akhirnya dipanggil Bapa. Sebenarnya aku tidak pernah kenal dan ketemu dia secara langsung. Angkatannya jauh di atasku. Kalau tidak salah sebaya dengan Kak Mimi. Tapi berkat grup Syantikara di FB aku jadi kenal dia. Namanya, Tabita Simawati Gunawan. Dia pernah juga menuliskan komentar di blogku, di halaman “yang di balik layar.” Siapakah dia? Dia seorang jurnalis, penerjemah, dan petarung yang tangguh dengan penyakitnya. Ada kanker yang bercokol di payudaranya. Tapi yang menarik adalah, dia tidak pantang menyerah. Lihat blognya di sini: ayomari.blogspot.com. Setiap kali aku membaca blognya, aku melihat keceriaan dan semangat pantang menyerah yang selalu ia tuangkan dalam tulisannya. Dia banyak bercerita tentang sakitnya, tentang kelemahannya sebagai manusia biasa, tetapi tidak ada kata menyerah. Kadang aku terharu membaca tulisan-tulisannya. Dan jujur saja Kak Tabita ini mengingatkanku pada sahabatku, Mbak Tutik

Aku kemudian berpikir, wah untung ya Kak Tabita menulis blog. Dan kurasa blog itu akan jadi warisan yang berharga di dunia maya yang selalu bisa dikunjungi setiap orang. Ngomong-ngomong soal warisan blog ini aku teringat pada alm. Pak Mula Harahap. Dia menulis blog juga semasa masih hidup. Coba tengok blognya di sini. Ceritanya lucu-lucu lo. Cerita tentang masa kecilnya. Dan dia jujur sekali dengan dirinya, termasuk cerita yang menurutku bisa memerahkan wajah. Tapi dia bercerita saja. Mungkin dia ingin dikenang sebagai seorang bapak, opa, paman, teman yang lucu dan ceria. Di bagian awal blognya, dia sudah merencanakan blog ini bisa jadi tempat peziarahan yang manis untuk mengenangnya. Dia menulis begini “Kalau para kekasih hati saya menziarahi makam saya … mereka cukup melakukan ziarah dengan sekali klik dan tiba di makam saya, yaitu blog saya ini.” Dia juga banyak membagikan pengalaman, pengetahuan/pemahaman yang ia miliki. Tulisan-tulisannya di blog sudah dibukukan oleh penerbit Gradien Mediatama, berjudul Ompung Odong-Odong. Buku dengan subjudul Membingkai Kenangan, Merangkai Makna itu menampung semua tulisannya, termasuk status-status beliau di FB. Aku selalu terhibur dan bisa terkekeh sendiri saat menelusuri buku ini. Memang sih, kalau mau gratis, bisa baca di blognya, tak perlu baca bukunya. Tapi entah kenapa ya, aku merasa perlu membeli buku ini. Untuk mengenang beliau. Agar bisa setiap saat menarik semangatnya. Agar bisa selalu belajar kejujuran dalam menulis–walaupun hanya tulisan di blog.

Hmmm … pada akhirnya aku mau ngomong apa sih? Apa pesan moral dari tulisan ini? (Halah, penting ya ada pesan moral? :D) Walaupun aku kurang suka dengan embel-embel pesan moral, aku cuma mau mengingatkan pada diriku sendiri lewat tulisan ini. Semoga saja hal ini juga ada gunanya untuk kalian, para pembaca blogku. Begini, pertama dari tulisan ini aku mau mengingatkan diriku sendiri supaya pantang menyerah. Walaupun ada penghalang, tetap maju terus. Entah penghalang itu berupa penyakit, kerusakan alat, cuaca, dan teman-temannya, terus maju ya. Jangan berhenti dan kecil hati. Kedua, menulislah! Bagikan semangatmu, bagikan pengalamanmu, bagikan pengetahuanmu. Untung lo sekarang ada blog. Bisa ngeblog gratis pula. Tidak perlu menunggu dimuat di koran. Walaupun kalau di koran kita bisa dapat honor, tapi orang menulis untuk berbagi tidak perlu diiming-imingi honor dulu kan? 🙂 Apa yang kita tuliskan dapat menjadi hal berharga yang bisa dinikmati orang lain. Jadi, mari kita ngeblog … Yuk, mareee!

Di Balik Pasar Pagi

Ini sebenarnya kejadian biasa. Hal rutin. Aku ke pasar, lalu menuju ke beberapa penjual yang sudah menjadi langgananku: bapak penjual tahu di dekat penjual ikan, bapak penjual tempe, mbak penjual kentang, bumbu dapur, buncis, tomat, dan jeruk nipis, mbak penjual sayur yang dengan lincahnya meladeni pembeli, dan ibu setengah baya yang kadang menjual daun ubi. Hanya itu-itu saja yang biasanya aku datangi. Lainnya jarang. Hampir tak pernah malahan.

Entah kenapa aku belakangan ini teringat pada orang-orang ini. Aku bertanya-tanya, apa ya sebenarnya impian dalam hidup mereka? Apakah pekerjaan yang selama ini mereka jalani ini adalah pekerjaan yang mereka rindukan, mereka impikan? Jika tidak, betapa kuat semangat yang mereka pompakan dalam diri mereka sendiri sehingga mampu melayani orang-orang di sekitar kompleks tempat tinggalku ini. Mereka pasti sudah bangun ketika kebanyakan orang masih menikmati tidur, lalu bersiap-siap untuk berjualan di pasar. Bukan hal yang mudah kurasa, dan entah apakah pekerjaan semacam ini diinginkan oleh banyak orang.

Aku baru kira-kira setahun menjadi pengunjung tetap pasar pagi tersebut. Itu pun tidak setiap hari aku ke sana. Mungkin seminggu dua kali, kadang tiga kali. Aku merasa terbantu dengan kehadiran mereka karena mereka selalu menyajikan sayuran segar dan bahan makanan dengan harga yang relatif lebih murah dibandingkan toko swalayan. Walaupun tidak betul-betul kenal, aku merasa mereka bukan lagi orang yang asing. Mereka memang bukan seperti teman kantor yang duduk di bangku sebelahmu, bukan pula teman diskusi, bukan teman yang kauajak janjian di mal untuk belanja. Komunikasiku dengan mereka hanya singkat. Biasanya hanya seputar pertanyaan sayur ini berapa seikat, permintaan untuk dibungkuskan beberapa macam bumbu, dan semacam itu saja. Namun, pernah pula tiba-tiba pundakku dicolek dari belakang. Rupanya mbak penjual kentang. Ah, tadinya aku memang ingin mampir ke lapaknya, tetapi dia tak ada. Maka aku pindah ke penjual lain. Usai bertransaksi dengan penjual lain itu, aku lalu mampir ke lapaknya. Sebenarnya aku tak ingin membeli apa-apa, tetapi karena dia menyapaku, ya kupikir tak apa jika aku sekadar membeli daun bawang dan seledri darinya. Buat persediaan saja. Waktu kami bertransaksi, dia berkata, “Tadi ke sini ya?”

“Iya, tapi Mbak nggak ada,” jawabku.

“Tadi saya pulang sebentar.”

“Oh, begitu. ”

Rasanya itu adalah percakapan terpanjang yang pernah aku lakukan dengan si mbak. Jujur saja, aku terkejut waktu dia menyapaku. Aku bukan pembeli borongan, paling-paling yang banyak kubeli darinya adalah kentang. Sudah. Itu saja. Itu pun jarang-jarang.

Kembali aku malam ini bertanya-tanya, sebenarnya apa ya mimpi terdalam para penjual di pasar pagi itu? Setiap kali ke pasar, aku selalu melihat semangat yang mereka pancarkan. Aku yakin, mereka pasti lelah bekerja seperti itu. Mungkin mereka pun harus memutar otak untuk mengimbangi naik turunnya harga-harga sayuran dan bahan makanan lainnya. Tapi toh aku belum pernah dilayani dengan lesu oleh mereka. Semangat mereka itu sedikit banyak tertular kepadaku. Kehadiran mereka mungkin seperti mur atau baut kecil dalam kendaraan bernama kehidupan ini. Jika mereka tak ada, sudah ada ratusan toko swalayan yang menjual sayuran segar dan bumbu dapur. Mereka tampil dengan sederhana, menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan keluarga-keluarga di sini. Bagiku mereka itu istimewa.