Kebodohan Hari Kartini

Ketika masih kecil dulu, ibuku pernah memberiku kebaya warna merah muda. Jika dilihat-lihat, kebaya itu cantik. Apalagi ada sulaman bunga-bunga dengan benang perak, membuat kebaya itu kelap-kelip. Tapi aku paling tidak suka jika diminta memakai kebaya itu. Gatal! Kebaya itu tidak diberi furing untuk lapisan dalamnya, jadi sulaman benang-benang perak itu menggesek kulit. Aku tidak suka.

Kebaya merah muda itu sebetulnya rencananya mau kupakai saat hari Kartini. Tapi seingatku kebaya itu hanya kupakai sekali, dan aku kapok. Yang membuatku “kapok” juga adalah karena saat memakai kebaya itu aku harus bangun pagi-pagi sekali, pergi ke salon dekat rumah, dan membiarkan rambutku disasak, disemprot dengan hair-spray supaya kaku. Selanjutnya, aku harus menutup hidung rapat-rapat supaya semprotan untuk rambut itu tidak banyak yang kuhirup. Setelah itu, aku juga harus merelakan wajahku dipoles, bibirku dicat merah, mataku diberi celak, dan yang terakhir … aku mesti memakai jarik. Duh, itu siksaan. Aku tidak bisa jalan cepat apalagi berlari. Yang paling repot, aku jadi sulit untuk pipis. Benar-benar merepotkan.

Sesampainya di sekolah, kulihat semua temanku juga didandani. Tapi ternyata ada temanku yang memakai baju bodo dan tidak memakai jarik yang ketat. Baju bodo itu bawahannya semacam sarung lebar. Jadi, si pemakai tidak kesulitan untuk berjalan. Dalam hati aku bertanya-tanya, kok aku baru tahu ada baju daerah semacam ini? Kenapa ibuku tidak memesan si pemilik salon supaya aku memakai baju bodo saja? Entahlah. Yang jelas, hari itu aku sepanjang hari memakai kebaya plus jarik yang rapat. Bukan pengalaman yang menyenangkan untukku.

Aku tidak tahu apakah ada dari teman-temanku yang menikmati atau katakanlah senang didandani saat Hari Kartini. Mungkin ada ya? Mungkin memang ada yang senang dirias dan tampil cantik. Tapi aku tidak termasuk di antara mereka.

Kini, sekian belas tahun berlalu dan acara hari Kartini masih identik dengan memakai baju daerah. Jujur saja, aku tidak paham apa hubungannya. Kalau membaca tulisan-tulisan Kartini, dia lebih banyak membahas semangat anti feodalisme. Dia mempertanyakan mengapa perempuan Jawa banyak dibatasi oleh sekat adat istiadat sehingga tidak bisa bebas seperti perempuan Belanda. Dan dia melihat cara membebaskan diri dari sekat-sekat itu adalah lewat pendidikan. Coba deh baca bukunya Habis Gelap Terbitlah Terang. Aku sendiri bacanya loncat-loncat; belum tuntas. Hehe. Bukan contoh pembaca yang baik ya. Tapi dari membaca yang loncat-loncat itu, aku jadi menyadari kebodohanku saat diwajibkan memakai kebaya ketika peringatan hari Kartini di sekolah dulu.

Kadang kupikir-pikir pihak sekolah memang malas untuk membuat para muridnya lebih memahami apa yang mereka peringati. Padahal sekolah itu adalah tempat pendidikan. Tempat kita lebih sadar dan maju. Nah, kalau untuk masalah perayaan Kartini saja kita dari dulu hanya begitu-begitu saja, kebayang kan untuk urusan yang lebih serius lagi?

Advertisements

Kenangan Upacara dan Doa untuk Indonesia

Ketika zaman sekolah dulu, tanggal merah pada angka 17 di bulan Agustus tidak kusambut dengan gegap gempita layaknya tanggal-tanggal merah lainnya. Eit, jangan salah paham dengan maksudku ya. Maksudku, meskipun tanggal 17 itu merah, tapi aku tidak bisa bangun siang dan santai-santai di rumah. Pada tanggal itu aku mesti tetap berangkat pagi dengan seragam lengkap untuk … upacara!

Senangkah? Ya, namanya anak-anak. Senang dan nggak senang sih. Mungkin banyak malasnya juga.

Dulu, tanggal 17 Agustus itu bisa berarti upacara di sekolah atau jadi utusan sekolah untuk upacara di alun-alun. Sebetulnya terselip rasa bangga juga jika aku bisa terpilih untuk upacara di alun-alun. Memang lebih capek sih ya. Karena biasanya upacaranya lebih lama. Jadi, stamina harus fit. Aku ingat betul untuk urusan stamina itu. Waktu itu, ada temanku yang jatuh pingsan karena tidak sarapan sebelum berangkat upacara. Dan dia itu berdirinya tidak jauh dariku. Wuah … kaget aku ketika aku tiba-tiba mendengar bunyi “bruk!” Peristiwa itu benar-benar menyadarkan aku soal pentingnya sarapan. Yang jelas, jika kita jatuh pingsan, hal itu akan merepotkan teman-teman yang lain, bukan?

Zaman aku sekolah, dari SD sampai SMP, yang namanya upacara itu adalah suatu hal yang harus kulalui setiap hari Senin, setiap tanggal 17, dan pada hari-hari peringatan yang penting. Jujur saja, ada keengganan waktu itu. Apalagi waktu SD aku ini langganan jadi petugas pembawa teks Pancasila. Jadi, aku tidak bisa berdiri bareng teman-temanku yang lain. Kurang enak rasanya. Lebih enak jika aku bisa bersama mereka. Waktu SMA kelas 1, aku masuk siang. Jadi, kami tidak harus ikut upacara pada pagi hari. Waktu kelas 2 dan 3 SMA seingatku aku upacara juga pada hari Senin. Tapi kok rasanya waktu itu upacaranya kurang khidmat ya? Apa karena halaman sekolahku tidak cukup luas sehingga kami mesti berdiri berdempet-dempet? Entahlah. Aku lupa. Yang jelas, aku suka iri dengan cerita kakakku soal upacara semasa dia SMA. Sepertinya DV bisa cerita lebih banyak soal upacara tersebut karena kakakku dan DV satu alumni (tapi beda angkatan sih …).

Kalau kupikir-pikir, zaman aku sekolah dulu upacara, apalagi saat tanggal 17 Agustus, kesanku kok cukup meriah ya? Meriah itu dalam artian upacaranya beda. Ya, barangkali aku saat itu lebih merasakan gregetnya ulang tahun Indonesia. Selain itu, di gereja biasanya biasanya ada misa khusus 17-an. Di gereja kami juga semacam ada “upacara” dan kalau tidak salah ada sesi penghormatan terhadap bendera merah putih. (Lagi-lagi ingatanku juga sudah samar-samar. Dasar pelupa!) Lagu Indonesia Raya juga sempat dinyanyikan.

Lalu bagaimana dengan peringatan kemerdekaan saat ini? Tadi pagi ceritanya aku ingin bangun pagi agar bisa ikut misa 17-an. Tapi, rupanya kebiasaan bangun siangku sulit dihilangkan. Aku tersadar ketika sudah hampir pukul 06.00 pagi. Lah, sudah sangat terlambat kalau mau misa. 😦 Oke, meskipun aku tidak sempat ikut misa 17-an, aku ingin berdoa secara khusus untuk Indonesia pada hari ini. Semoga masih banyak dan selalu saja ada warga Indonesia yang mencintai negara ini dengan sepenuh hati. Kiranya korupsi dan keserakahan perlahan-lahan mulai berkurang. Semoga keragaman dan kerukunan bangsa Indonesia tetap terjaga. Amin!

Pendidikan Karakter, Adakah Hasilnya?

Ya ampun, judulnya serius amat sih?

Hari itu siang menjelang sore. Aku dan suamiku hendak ke Jatinegara, ke resto vegetarian favorit kami. Tidak seperti biasanya, kami naik metromini ke sana. Biasanya sih naik mikrolet 02, tapi pengalaman naik 02 terakhir di depan LP Cipinang belakangan suka macet karena ada pembangunan jalur busway dan banyak mobil parkir di depan kantor imigrasi, kami pun naik metromini 46. Pikirnya sih untuk menghindari macet. Yah, tapi sebenarnya sama saja sih, menjelang pasar Jatinegara, macetnya pol-polan. Jakarta macet sudah biasa bukan? Bukan …

Selama naik metromini itu, kami sempat berbincang beberapa hal. Salah satunya sih soal pendidikan karakter di sekolah. Ya ampun, serius banget sih bahan obrolannya? Itu dipicu karena di sekitar Pasar Sunan Giri terjadi kemacetan juga dan kebetulan di situ ada sekolah. Kok sekolah bikin macet sih? Karena banyak mobil parkir di depannya. Jadi jalan yang mestinya bisa untuk dua jalur, jadi cuma bisa satu jalur saja. Dan lagi, kemacetan itu imbas dari lampu merah di simpang Sunan Giri. Yo uwis, rasanya kalau menghadapi kemacetan cuma bisa bersabar ya? Itu kata orang-orang sih. Bukan kataku hihi. Tapi memang ada pilihan lain selain bersabar dan “menikmatinya”? Entahlah. Coba tanya saja pada orang yang tiap hari merasakannya. Aku sih kebanyakan di rumah, jadi jarang kena macet. :p

Awalnya di tengah kemacetan itu aku tanya ke suamiku soal tawaran menulis buku anak-anak tentang multikultur. Tapi akhirnya nyambung ke pendidikan karakter. Dia bilang, pendidikan karakter sih kayaknya cuma banyak gembar-gembornya saja. Hasilnya belum tentu. Tak usah jauh-jauh, kalau sekolahnya benar, tidak akan ada parkir berderet-deret dan memakan ruas jalan di depan sekolah kan? Idealnya, sekolah yang katanya mencetak manusia jadi lebih beradab, tidak menyulitkan dan merepotkan masyarakat di sekitarnya. Tapi kenyataannya? Mana mungkin? Memang susah sih ya kalau anak sekolah kebanyakan tidak naik kendaraan umum atau yaaa … kalau mau sih jalan kaki atau naik sepeda. Kendaraan umumnya juga nggak jelas. Memang sih, kulihat ada kok anak sekolah yang mau naik kendaraan umum, bahkan yang masih TK. Tapi jumlahnya sedikit dan itu juga mungkin jaraknya dekat. Kebanyakan masih diantar orang tuanya, dan mobil-mobil orang tua itulah yang sepertinya banyak parkir di jalanan depan sekolah. Biarpun di pagar sekolah sudah ditulisi “dilarang parkir”, tetap saja mereka parkir di situ. (Aku sempat bertanya-tanya, apakah mereka menunggui anaknya sekolah ya? Soalnya parkirnya itu bisa sepanjang hari loh.) Kalau seperti ini, apa yang terlebih dahulu harus dibereskan? Semua saling terkait. Untuk urusan parkir dan kemacetan di depan sekolah saja, rantai yang terkait sepertinya panjang betul.

Oke deh … selesai obrolannya.

Ketika sampai di jalan Pramuka, di sekitar Kayu Manis, kulihat ada banyak anak sekolah. Dari seragamnya sih kayaknya anak SMP. Mereka ramai-ramai naik. Mulai rusuh deh. Aku agak khawatir kalau mereka tawuran. Sudah beberapa kali melihat langsung tawuran di jalan, dan awalnya ya sepertinya gerombolan anak sekolah seperti itu. Sebenarnya metromini yang kutumpangi sedikit penumpangnya dan kalau anak-anak itu mau duduk, masih ada tempat. Tapi kebanyakan dari mereka berdiri bergelantungan di depan pintu. Jadi, susah kalau ada orang yang mau naik. Pak sopir sudah menyuruh mereka masuk saja, atau kalau nggak mau mereka sebaiknya turun. Tapi omongan pak sopir tidak didengarkan, bahkan mereka bilang, “Nanti dibayar kok.” Rupanya omongan mereka cuma sesumbar. Tak jauh dari Pasar Pramuka, mereka turun semua dan … tidak ada satu pun yang membayar! Padahal tadi kira-kira yang naik ada deh kalau 10 orang. Kata pak sopir, itu sudah biasa. Kasihan …. Rasanya kalau orang sudah bergerombol dan ramai-ramai begitu, mereka tampaknya sah-sah saja mau berbuat apa saja–termasuk jika perbuatan itu merugikan orang lain.

Aku jadi berpikir, jadi memang sepertinya betul ya, pendidikan karakter di sekolah itu tak ada gunanya. Buktinya sudah kulihat di depan mataku. Kata suamiku, hal seperti itu adalah peristiwa lazim di sini. Kalau hal yang seharusnya tidak patut, tetapi oleh semua orang dianggap wajar, apa yang mau kamu harapkan?

Aku jadi bertanya-tanya, apa iya masyarakat kita sudah “sakit parah”? Dulu rasanya tidak separah ini deh. Kalau di sekolah ada yang mencontek, guru akan menegur dengan keras, memberi hukuman, dan bisa mempermalukan si pencontek di depan kelas. Tapi sekarang, mencontek massal agar dapat nilai bagus, sudah dianggap wajar. Di sekolah dulu selalu diajarkan untuk mematuhi rambu-rambu lalu lintas, tapi di sini sering sekali aku lihat orang menerobos lampu merah sambil memboncengkan anak-anak. Kadang kupikir, orang itu gila apa ya? Itu kan membahayakan nyawanya sendiri? Dan lagi ini jelas bukan teladan yang baik untuk anak-anak yang dibonceng, kan? Jadi rasa-rasanya kok sekarang pelajaran tentang budi pekerti dan pendidikan karakter di sekolah cuma jadi teori saja, ya? Praktik di masyarakat? Entahlah.

Bisa kebayang nggak Indonesia ke depan mau jadi seperti apa? Semoga masih banyak orang yang mau menjadikan Indonesia menjadi lebih baik. Semoga anak-anak sekolah seperti yang kuceritakan tadi hanya sebagian kecil saja jumlahnya. Semoga …

Karnaval Tujuhbelasan

Di bulan Agustus, frasa “tujuhbelasan” atau kalau bahasa Jawa “pitulasan” mulai sering kudengar. Dalam benakku, tiap kali mendengar frasa ini, yang terlintas adalah karnaval (pawai) yang meriah.

Ketika aku masih kecil, mendengar kata karnaval membuatku gembira. Rasanya tak sabar untuk menonton. Aku mulai bertanya-tanya, kapan karnaval diadakan? Aku pun menghitung hari tak sabar ingin ikut berdesak-desakan dengan warga kota lainnya, berusaha berdiri paling depan untuk menyaksikan pawai keliling kota. Meski matahari bersinar terik, kegembiraan itu tidak menguap. Yang kurasakan tetap kegembiraan yang membuncah; penasaran untuk menjadi saksi acara meriah yang diselenggarakan tiap tahun di kota kecilku.

Biasanya dari rumah kami akan berangkat beramai-ramai. Karena dulu rumahku dihuni oleh banyak kerabat, maka kami pun berangkat bersama–dan aku adalah yang termuda dari rombongan itu. Bekal yang kami bawa adalah air minum dalam botol dan payung. Waktu itu belum ada air mineral kemasan, yang sering dijajakan hanyalah semacam air minum kotakan seperti teh kotak, sari buah, dan es lilin. Jika tak bawa minum, mesti beli, dan itu berarti pengeluaran lebih. Payung juga penting untuk dibawa karena itu adalah peneduh otomatis yang bisa langsung dibuka ketika panas matahari membakar pucuk kepala. Tetapi aku biasanya tak pernah peduli dengan panas matahari yang menyengat. Yang kuinginkan adalah berdiri paling depan–walaupun sebenarnya itu sulit karena tubuhku yang kecil ini kerap tersikut dan terhimpit oleh orang yang badannya lebih besar.

Jalan terdekat dari rumah yang dilalui karnaval itu adalah Jalan Pahlawan. Waktu tempuhnya kira-kira 15 menit berjalan santai. Dulu aku sering berharap jalan depan rumahku juga dilewati karnaval, tetapi nyatanya harapan itu tak pernah terkabul. Di Jalan Pahlawan itu ada kantor Telkom, tempat budeku berkantor. Gedung Telkom itu rasa-rasanya gedung tertinggi di kotaku. Tingkat empat kalau tak salah waktu itu. Pernah suatu kali Bude menawarkan aku ikut masuk ke kantornya, dan mengajakku ke tingkat paling atas. Wah senangnya! Aku pikir aku bisa melihat karnaval tanpa susah payah. Namun karena aku masih sangat pendek, aku hanya bisa berjinjit dan melihat dari balik jendela. Itu pun masih kurang jelas karena yang tampak justru kepala orang-orang. Tidak seasyik yang kukira rupanya. Selanjutnya aku pun ikut berdesak-desakan lagi di antara para penonton.

Salah satu hal yang aku ingat adalah, biasanya karena kerumunan semakin lama semakin banyak, maka orang cenderung untuk maju. Akibatnya, jalanan jadi menyempit. Lalu tak lama kemudian ada sepeda motor besar dengan sirine nguiiing… nguiiiing lewat di dekat penonton agar mereka mundur ke belakang. Tetapi tentu saja itu tak terlalu ada gunanya, karena setelah sepeda motor itu lewat, para penonton mulai maju lagi agar bisa menyaksikan karnaval lebih jelas.

Ketika aku SD aku punya teman dekat yang berumah di Jalan Pahlawan. Ayahnya seorang dokter tentara, jadi mendapat rumah dinas di jalan protokol tersebut. Nah, rumah kawanku ini jadi markas teman-teman untuk menonton karnaval. Menyenangkan sekali, karena kami tak perlu kerepotan jika di tengah-tengah menonton karnaval kami kebelet pipis atau haus. Tinggal pakai kamar mandi rumah temanku saja kan, dan biasanya temanku akan mengeluarkan minuman dingin dari lemari es. Pokoknya serasa nonton dari depan rumah sendiri deh. Rumah temanku itu berpagar pendek dari beton (sebenarnya agak tinggi untuk ukuranku). Biasanya kami akan memanjat pagar tersebut, lalu berdiri di atasnya. Wah, benar-benar mengasyikkan karena kami bisa berdiri berderet. Kami berdiri bagaikan para jagoan yang berhak atas wilayah istimewa itu. 😉

Aku tak ingat, apa sebenarnya yang kala itu membuatku selalu tertarik menonton karnaval. Rasa-rasanya hanya kemeriahan dan asyiknya menonton beramai-ramai itulah yang membuat kangen. Oya, yang mengasyikan juga adalah kadang-kadang kita mengenali para peserta karnaval, misalnya tetangga, teman, atau bahkan kerabat sendiri. Ayahku kadang ikut karnaval tetapi karena beliau guru, dan mesti mendampingi para murid yang sedang ikut pawai.

Ketika aku SMP, sekolahku ikut karnaval. Dan kala itu pula aku ikut karnaval. Waktu itu yang aku ikuti adalah karnaval jalan, temanya kalau tak salah kerajaan Jawa. Yang melatih adalah guru kesenianku, yang bernama Pak Lambertus, yang memang jago melatih drama dan suka menciptakan lagu. Seingatku, kami dulu berpakaian ala Jawa lalu beramai-ramai menyanyikan lagu dan ada sedikit tariannya. Waktu di depan Bapak Walikota, kami unjuk kebolehan. Capek juga sih sebenarnya, karena mesti berjalan kaki keliling (jalan-jalan besar di) Madiun di bawah terik matahari, mesti pakai kostum pula. Tetapi karena ramai-ramai yaaaa, seneng-seneng aja. Dan akhirnya kelelahan itu dibayar oleh kemenangan kami sebagai juara I. (Aku waktu itu baru tahu kalau rombongan yang ikut pawai itu ternyata ada penilaiannya.)

Karnaval kedua yang aku ikuti adalah ketika SMA kelas 1. Waktu itu anak kelas 1 diwajibkan ikut karnaval jalan kaki. Ada juga yang dipilih untuk karnaval sepeda, tetapi hanya anak tertentu (karena memang pesertanya tidak sebanyak karnanal jalan kaki.) Entah kenapa, karnaval masa SMA ini kurang menarik bagiku. Yang aku ingat adalah capeknya hehehe.

Pernah pula, kaum Mudika (muda-mudi katolik) di gerejaku ikut karnaval. Seingatku aku ikut pula, tapi aku sudah tak terlalu ingat apakah yang aku ikuti karnaval sepeda atau karnaval jalan kaki. Yang aku ingat, aku masih menyimpan foto-foto sebelum dan sesudah karnaval. Sayang foto-foto itu tidak kubawa ke Jakarta, jadi aku tak bisa memasangnya di sini.

Satu hal yang menyenangkan dari menonton dan ikut karnaval adalah karena ada faktor kebersamaan. Semakin kompak rombongan kita, semakin asyik. Mungkin salah satu hal yang membuat rombongan karnavalku di zaman SMP itu menang adalah faktor kekompakan pula. Dan juga ketika aku menonton karnaval bersama teman-teman yang kompak dan seru, itu pula yang menyenangkan.

Selepas dari Madiun aku tidak pernah menyaksikan karnaval tujuhbelasan lagi. Rasanya kok tidak terlalu pengen ya? Hehe, mungkin malas membayangkan mesti berdesak-desakan. Tetapi kalau ada teman yang asyik, dapat lokasi nonton yang oke, dan bisa sekalian hunting foto, boleh juga sih. Jadi, kapan nonton karnaval lagi ya? 😉

Lupa dan Obatnya

Di samping komputerku, alat kerjaku yang kutongkrongi setiap hari, selalu kusiapkan kertas-kertas bekas yang sudah kupotong kecil-kecil. Kertas itu sengaja kuletakkan di situ untuk membuat catatan pendek yang kira-kira penting dan kadang-kadang bersifat spontan. Kadang aku harus menulis pesan atau catatan saat menerima telepon, membuka email. Kertas-kertas itu juga berjasa kala aku akan bepergian. Biasanya aku akan membuat catatan mengenai benda-benda apa saja yang harus kubawa: charger, buku, bedak, sikat gigi, sampo, dan sebagainya. Dan sampai saat ini, cara itu efektif untuk mengingatkanku mengenai hal-hal kecil yang sering terlewatkan.

Kalau sedang kumat pelupanya, atau sedang diburu waktu, aku sering lupa. Coba aku ingat-ingat kekonyolanku yang berkaitan dengan alpa ….

Kejadian itu terjadi ketika aku masih SD. Kecil-kecil sudah pelupa ya? Hehe. Waktu itu aku masih diantar oleh ayahku saat berangkat sekolah. Jadi, kira-kira kejadiannya sebelum aku kelas 4 SD. Soalnya kelas 4 aku sudah naik sepeda sendiri ke sekolah. Pukul setengah tujuh lewat sedikit aku sudah siap berdiri di bagian depan Vespa ayahku. Rasanya semua sudah siap. Dan berangkatlah kami. Perjalanan dengan naik sepeda motor itu kira-kira memakan waktu 10 menit. Kami pun sampai di depan gerbang sekolahku. Dengan gembira aku berjalan memasuki sekolah. Aku mulai berbaur dengan teman-temanku. Tapi loh … kok rasanya enteng banget sih? Aku menengok kebelakang, melihat tas cangklongku. Ya ampuuuun, aku lupa bawa tas sekolah! Huaaaa… Aku terbirit-birit berlari keluar gerbang. Ayahku sudah siap-siap memutar Vespanya dan bersiap melaju. “Paaaak! Bapaaak!” Aku yakin suaraku cukup keras karena Bapak langsung menoleh.

“Ada apa?” tanyanya.
“Tas sekolahku ketinggalan,” jawabku.
Aku tak tahu lagi bagaimana mimikku saat itu. Pasti menggelikan. Hahaha.
Aku tak ingat Bapak mengucapkan apa. Tapi yang jelas, aku diantar pulang, dan Bapak harus ngebut untuk kembali mengantarku. Mau tak mau Bapak harus buru-buru karena Bapak seorang guru dan harus masuk ke sekolah sebelum pukul tujuh. Kalau ingat kejadian itu, rasanya aku merasa bodoh sekali. Bayangkan, ke sekolah kok ya sampai lupa tidak bawa tas sekolah. *Geleng-geleng kepala tidak mengerti.*

Lupa. Alpa. Apa pun istilahnya memang menyebalkan. Ya, kalau lupa hal-hal sepele dan bisa dimaklumi, itu tak apa. Tapi kadang kealpaan bisa membuat kita harus membayar mahal. Misalnya kalau lupa bawa payung di musim hujan. Nah, waktu di tengah perjalanan hujan turun dan kita pas tidak bawa payung, mau tak mau kita bakal basah kuyup. Masih beruntung jika ketemu penjual payung dan kita bawa cukup uang untuk membelinya. (Di Jakarta, aku biasa menjumpai penjual payung di atas jembatan penyeberangan di sekitar Jl. Sudirman. Kala hujan turun, sepertinya dagangan mereka banyak dicari orang.) Berapa harga payung? Minimal, 20 ribu. Padahal kalau kita tidak lupa, kita bisa memakai uang 20 ribu itu untuk keperluan lain.

Ya, aku menyadari bahwa aku tak jarang kumat penyakit lupanya. Dan kupikir rasanya aku tak perlu memenuhi otakku untuk mengingat suatu hal yang bisa kucatat. Ada hal-hal yang kupakai untuk mengantisipasi penyakit lupaku:
1. Mencatat di kertas dan meletakkan catatanku di tempat yang mudah terlihat.
2. Cepat-cepat memasang alarm di hpku untuk mengingatkanku pada hal-hal tertentu pada saat tertentu pula.
3. Meminta tolong orang terdekatku–biasanya sih minta tolong suamiku–untuk mengingatkanku.
4. Berusaha untuk tidak panik dan tetap tenang, supaya cepat mengingat suatu hal.

Begitulah, kira-kira empat hal itu yang kulakukan untuk mengatasi penyakit lupaku. Punya ide lain?

Sederhananya Masa Sekolahku Dulu …

Beberapa waktu yang lalu aku bertandang ke rumah seorang kawan. Dia bercerita bahwa dia baru saja membelikan alat tulis anaknya. Ya, tahun ajaran baru memang membawa kesibukan tersendiri. Anak yang masuk sekolah, orang tua pun jadi ikut-ikutan sibuk. Mulai dari membeli alat tulis sampai menyampul buku.

Tak urung, cerita temanku itu mengingatkanku pada pengalamanku saat aku masih sekolah dulu. Untuk urusan buku tulis, biasanya Bapak membelikan kami (aku dan kakakku) buku tulis yang sama. Aku manut saja. Kadang covernya pun bukan seleraku. Seingatku ada yang gambar Rambo segala. He he… Untuk seragam sekolah, biasanya Ibu yang menjahit bajuku. Lumayan, bisa mengirit ongkos jahit. Dan untuk urusan alat tulis, biasanya aku masih memakai alat tulis yang lama. Kalaupun harus membeli yang baru, itu tidak semua. Hanya membeli yang memang benar-benar dibutuhkan atau karena yang lama sudah rusak.

Bagaimana dengan buku pelajaran? Aku masih mengalami masa ketika buku pelajaran bisa dipinjam di sekolah. Biasanya di tahun ajaran baru, guru wali kelas akan membagikan kepada kami masing-masing buku pelajaran yang dibutuhkan. Seingatku hanya sedikit buku diktat yang harus kami beli sendiri karena tidak disediakan di perpustakaan. Kalaupun ada di perpustakaan, hanya sedikit jumlahnya.

Ketika masih belum bisa naik sepeda sendiri, aku diantar ke toko buku untuk membeli buku pelajaran. Tapi ketika sudah kelas empat dan aku ke mana-mana biasa naik sepeda sendiri, aku berkeliling ke toko-toko buku sendiri. Paling-paling aku diingatkan oleh orangtuaku supaya tidak pergi terlalu malam. Ibu atau Bapak akan memberikan uang secukupnya untuk membeli buku. Selanjutnya, aku urus sendiri kebutuhan untuk sekolahku. Seingatku dulu ada beberapa toko buku yang sering menjadi tujuanku: Toko Amin di dekat Alun-alun, toko Gunung Mas di jalan HA. Salim, toko Media di jalan Mastrip (bener nggak ya nama jalannya? Lupa-lupa ingat nih!) , dan toko Bahagia di dekat SMA 1 Madiun. Kadang tidak semua buku yang kubutuhkan bisa kubeli di satu toko. Tak jarang aku harus berpindah ke toko yang lain. Tapi seingatku, toko Bahagia-lah yang cukup bisa memenuhi kebutuhanku akan buku pelajaran. Dan di toko buku itulah aku mengenal diskon waktu membeli buku. Lumayan kan?

Aku kadang masih saja heran ketika ada beberapa temanku yang bercerita bahwa mereka harus pontang-panting mencari buku pelajaran untuk anak-anak mereka. Dalam hati aku berpikir, apakah anak-anak itu tidak bisa membeli sendiri? Sebenarnya sekolah menjual buku pelajaran, tetapi harganya lebih mahal dibandingkan dengan harga di toko. Dan lagi pula, ini di Jakarta. Rasanya sangat sedikit orang tua yang mengizinkan anaknya pergi sendiri berkeliling kota untuk mencari buku yang dibutuhkan. Lalu lintas yang ruwet pasti membuat orang tua tak tega membiarkan anaknya pergi sendiri. Akhirnya, ya orang tualah yang berkeliling sibuk membeli kebutuhan sekolah anak-anak. Kupikir-pikir, betapa sederhananya sekolah pada zamanku dulu. Dan biarpun masa sekolahku dulu sederhana, toh hasilnya aku sekarang nggak bodoh-bodoh amat… :p

Susahnya Berbahasa Indonesia

Semalam aku mendengarkan radio. Saat itu ada perbincangan yang membahas UN (Ujian Nasional) anak SMA. Rupanya dari hasil UN kemarin, banyak anak yang nilai bahasa Indonesianya jeblok. Dan dari semua mata pelajaran yang diujikan, nilai bahasa Indonesia inilah yang rata-rata nilainya paling jelek. Bahkan di Yogyakarta, 5.000 lebih siswa harus mengulang UN untuk ujian bahasa Indonesia.

Kenapa bisa begitu? Dari pembicaraan dengan nara sumber, dikatakan bahwa salah satu alasannya adalah karena banyak murid dan mungkin juga guru menyepelekan bahasa Indonesia. Misalnya, kalau di suatu sekolah dibutuhkan guru matematika, maka akan dicari guru matematika yang paling bagus. Tetapi kalau yang dibutuhkan guru bahasa Indonesia, dicarinya asal yang bisa berbahasa Indonesia. Pemikirannya: Toh semua bisa berbahasa Indonesia kan? Benarkah? Yaaa, kalau dilihat dari hasil UN tadi, kelihatan kalau tidak semua siswa (dan mungkin juga gurunya) mahir berbahasa Indonesia.

Perbincangan di radio itu mengingatkanku pada beberapa peristiwa. Salah satunya berkaitan dengan pekerjaanku. Begini, suatu kali aku mendapat pekerjaan untuk mengedit naskah berbahasa Indonesia yang akan diterbitkan.

“Siapa penulisnya?” tanyaku kepada teman yang memberi pekerjaan.
“Penulisnya banyak bergerak di bidang pendidikan,” jawabnya.
Oke deh. Mestinya tulisannya sudah cukup enak dibaca dong. Tetapi rupanya perkiraanku keliru. Tulisannya masih kacau. Ada bagian yang tidak jelas mana subjek dan predikatnya. Beberapa ide melompat-lompat. Wah, kalau orang yang bergerak di bidang pendidikan saja tulisannya masih kacau, bagaimana dengan yang lain ya?

Peristiwa yang lain adalah ketika suamiku ditawari menerjemahkan naskah dari sebuah departemen pemerintahan. Kalau tidak salah, naskah itu mau dibuat buklet dua bahasa. Waktu mengerjakan terjemahan naskahnya, suamiku lama-lama jadi jengkel sendiri. Kenapa? “Bahasa Indonesianya kacau!” begitu katanya. Ada banyak kalimat yang tidak jelas apa maksudnya. Kalau seperti itu, penerjemahan ke bahasa Inggris jadi sulit. Wong naskah bahasa aslinya sudah kacau kok …. Padahal kalau bahasa Indonesianya sudah bagus, penerjemahan ke bahasa lain akan jauh lebih mudah.

Dulu, ketika aku baru awal-awal bekerja sebagai editor, aku juga baru sadar bahwa aku tidak mahir berbahasa Indonesia seperti yang aku bayangkan sebelumnya. Ketika menghadapi naskah mentah, ada saja hal-hal yang membuatku sadar bahwa ternyata aku tidak pintar-pintar amat berbahasa Indonesia. Biasanya sih soal penggunaan tanda baca. Kadang aku juga tidak tahu mana kata yang baku dan mana yang tidak.

Dari perbincangan di radio semalam, aku mendapat informasi bahwa soal UN yang diujikan kepada anak SMA beberapa waktu lalu isinya banyak yang berupa teks bacaan. Mereka banyak diminta untuk menentukan mana ide utama dalam sebuah paragraf. Jadi, jika dibandingkan dengan soal ujian bahasa Indonesia beberapa tahun lalu (mungkin pas zaman aku sekolah dulu) memang jenis soalnya berbeda. Barangkali soal yang sekarang lebih menekankan keterampilan berbahasa ya? Bukan asal hapal tanda baca dan macam-macam arti imbuhan. Eh, ini perkiraanku saja lo. Soalnya aku juga tidak melihat dan membaca langsung soal UN tersebut.

Barangkali kalau kita mau jujur, kita cenderung lebih menganggap penting bahasa asing. Eh kita? Aku aja kaleee … hi hi hi. Padahal kalau kita tidak menguasai bahasa utama kita dengan baik (dalam hal ini bahasa Indonesia), belajar bahasa asing akan lebih sulit. Kalau dari pengalamanku aku melihat orang yang bisa berbahasa Indonesia dengan sangat baik, memiliki kemampuan bahasa asing yang baik pula.

Ngomong-ngomong, pernahkah punya pengalaman sulitnya berbahasa Indonesia?