Minyak Jelantah Menjadi Berkah

Di rumah aku berusaha memilah sampah organik dan anorganik. Yang gampang busuk, kubuang di kebon belakang. Plastik dan teman-temannya yang sulit busuk kubuang lewat jasa tukang sampah yang datang dua hari sekali. Yang agak repot adalah ketika akan membuang minyak goreng bekas (jelantah). Walaupun tidak banyak, cukup merepotkan.

Aku tidak ingat bagaimana awalnya aku memanfaatkan minyak jelantah tersebut menjadi sabun. Yang kuingat, suatu siang, aku, bersama dua orang teman–Mbak Imel, dan Mbak Ira–mencoba mengolah minyak jelantah di rumah Mbak Ira untuk dijadikan sabun. Ng… mungkin waktu itu untuk persiapan percobaan di Pasar Sasen? Mungkin ya. Aku lupa.

Sempat bertanya-tanya juga dulu soal cara menjernihkan minyak jelantah supaya baunya yang tidak enak itu bisa berkurang. Setelah googling, ada beberapa cara menjernihkan minyak jelantah. (Silakan googling sendiri, ya.) Cara penjernihan yang paling mudah menurutku memakai arang.

Aku sudah beberapa kali mencoba membuat sabun minyak jelantah ini. Mulai dari jelantah bekas warung penyetan sampai jelantah rumah tangga. Ada yang baunya ikan banget, ada yang baunya gorengan tempe. Hasilnya pun macam-macam. Awalnya sabun jelantah yang kami buat baunya masih kurang enak. Namun belakangan sudah lumayan. Terakhir aku memakai air pandan sebagai cairan pembuat sabun, maka setelah jadi, sabun warnanya kehijauan dan ketika samar-samar ada aroma pandan juga.

Sabun jelantah bisa dipakai untuk mencuci piring, mencuci baju, atau sekadar cuci tangan. Menurutku sabun tersebut cukup kesat dan bersih.

Begini cara membuat sabun jelantah.

Bahan:
– Minyak jelantah setengah liter (kurang lebih 450 gram)
– Arang secukupnya. Ditumbuk atau jadikan potongan kecil-kecil.
– Soda api 61 gram
– Pandan 5 lembar, rajang supaya mudah diblender
– Air 123 gram (jangan menggunakan air PAM)

Alat yang dibutuhkan:
* Hand blender
* Timbangan (lebih baik memakai timbangan digital supaya mendapatkan angka yang presisi)
* Wadah stainless steel atau wadah plastik yang tahan panas (jangan memakai wadah dari aluminium). Wadah ini dipakai pada saat mencampur soda api + air, dan saat mencampur larutan soda api + minyak
* Cetakan silikon. Jika tidak punya cetakan silikon, bisa memakai cetakan puding, tetapi alasi dulu dengan plastik tahan panas supaya ketika sabun sudah jadi, mudah dilepas.

Alat pengaman:
+ Masker
+ Kacamata pelindung
+ Sarung tangan

Cara membuat:

Selama proses pembuatan sabun gunakan alat pengaman, ya. Jangan sampai air soda api terkena mata atau kulit.

(1) Masukkan arang ke dalam minyak jelantah. Untuk mudahnya dua-duanya dalam kondisi dingin. Alternatif lain: masukkan arang yang membara ke dalam minyak jelantah. Biarkan dingin. Setelah dingin lalu saring. Belakangan arang kudiamkan selama semalam di dalam minyak jelantah, baru disaring.

(2) Buat air pandan: blender pandan dengan air, lalu saring. Takar airnya menjadi sebanyak 123 gram.

(3) Masukkan soda api ke air pandan. Jangan terbalik: Jangan sampai air pandan yang dituang ke soda api karena bisa meledak. Aduk soda api sampai benar-benar larut lalu biarkan dingin atau sampai suhu ruang. Uap yang keluar selama proses ini jangan sampai terhirup dan jangan sampai airnya terpercik ke mata. Jadi, penting untuk memakai masker serta kacamata pelindung. Selain itu, lakukan proses ini di tempat yang berventilasi bagus.

(4) Masukkan larutan soda api ke dalam minyak jelantah yang telah disaring. Aduk dengan hand blender sampai mencapai kekentalan yang menyerupai susu kental manis atau mayones.

(5) Tuang ke dalam cetakan yang telah disiapkan. Diamkan semalam. Potong sabun menjadi ukuran yang diinginkan, lalu angin-anginkan di tempat yang berventilasi bagus. Setelah 3-4 minggu, sabun bisa digunakan.

 

Seperti ini hasil jadinya

Aku mendapat pertanyaan-pertanyaan umum berkaitan dengan pembuatan sabun minyak jelantah ini:
1. Bagaimana kalau minyak berbau ikan?
Dari pengalamanku, aku pernah memakai minyak jelantah yang berbau ikan. Untuk mengurangi bau, campur dengan minyak jelantah bekas gorengan non-ikan. Tapi rata-rata, aku mencampur berbagai minyak jelantah yang kudapat dari teman-teman. Kalau masih ragu, pakailah minyak jelantah yang tidak bekas untuk menggoreng ikan. Pemakaian arang di awal berguna untuk mengurangi aroma yang kurang enak dalam minyak.

2. Bagaimana kalau tidak memakai hand blender?
Sebenarnya bisa saja memakai mikser, tapi dari pengalamanku butuh proses lebih lama untuk mencapai kekentalan yang pas. Sebagai perbandingan, jika memakai hand blender, proses pengadukan butuh waktu 2-3 menit. Jika memakai mikser setidaknya butuh waktu 15-20 menit. Konon kalau diaduk manual (tanpa mesin alias pakai tangan) bisa 1 jam. Yang penting, pisahkan alat yang biasa dipakai untuk membuat sabun dengan alat masak lainnya.

3. Apakah sabun ini aman, mengingat salah satu bahannya adalah soda api?
Aman. Dalam proses pembuatan sabun, larutan soda api yang tercampur dengan minyak akan mengalami saponifikasi dan akhirnya jadilah sabun. Agar soda api benar-benar hilang, sabun yang baru jadi perlu diangin-anginkan selama 3-4 minggu. Setelah itu aman dipakai. Silakan googling mengenai penggunaan soda api dalam pembuatan sabun. Sudah banyak yang memberi penjelasan di luar sana.

Selamat mencoba!

Catatan:
Dalam mengutak-atik resep ini, aku perhitungkan minyak jelantahnya dari minyak sawit semua.

Pekerjaan

Apa yang kamu bayangkan ketika membaca kata “pekerjaan”? Bagiku, pekerjaan adalah tumpukan file di folder PC. Kadang entah kenapa ketika aku melihat file-file itu saja rasanya sudah capek. Seperti tumpukan baju kotor yang mau tak mau harus kubawa ke ember, kurendam, lalu kucuci. Kalau baju kotor aku bisa mengalihkan pekerjaanku pada mesin cuci. Tapi pekerjaan? Cuma aku dan harus aku. File-file itu bisa berubah menjadi angka-angka di rekeningku dan aku tersenyum. Kebanyakan pekerjaan itu bentuknya file naskah yang harus dialihbahasakan.

Eiy… tapi ada juga terselip satu dua naskah yang belum selesai-selesai. Sebetulnya di antara file-file itu, file cerita itu membuatku bergairah. Membuatku ingin melamun, googling mencari bahan, lalu membubuhkan satu-dua kalimat lagi atau menghapus bagian-bagian yang tidak perlu agar lebih padat. Tapi… tapi… kenapa ya, rasanya kok aku seperti merasa bersalah kalau kebanyakan melamun dan mencari ide?

Konon katanya pekerjaan mestinya aktivitas yang membahagiakan. Pekerjaan kita sehari-hari semestinya membuat kita menjadi manusia yang utuh. Tapi kenyataannya tidak selalu begitu kan? Ada yang malah merasa capek setengah mati. Ada yang gara-gara pekerjaan menjadi stres, kehilangan waktu untuk melakukan hal-hal yang diinginkan. Ada yang ketika melihat pekerjaan orang lain, timbul rasa iri. Aku sebenarnya percaya bahwa kita masing-masing punya pekerjaan yang cocok, yang membuat kita bisa merasa menjadi manusia yang utuh, merasa berprestasi, berguna, dan akhirnya bahagia.

Aku sendiri bagaimana dong? Aku hanya ingin mencoba mencatat aktivitasku belakangan ini yang membuatku merasa senang, bersemangat, dan merasa penuh. Pagi ini aku bangun dan menilik sabun-sabun hasil eksperimen yang ada di dalam cetakan. Eh, aku belum bilang ya? Aku belakangan sedang hobi coba-coba membuat sabun. Kali ini aku mencoba memakai cetakan baru. Bentuknya mawar dan hati. Sudah dua hari sabun itu dalam cetakan. Kemarin aku mencoba membukanya, tapi ternyata belum padat benar. Hari ini sudah lebih padat. Yay! Lumayan berhasil. Dan aku suka baunya: pandan bercampur mawar. Masih perlu waktu sebulan lagi agar sabun itu bisa dipakai.

sabun buatan sendiri. aroma pandan dan mawar.
sabun buatan sendiri. aroma pandan dan mawar.

Satu lagi yang membuatku senang adalah ketika aku mendapat kiriman foto dari teman-temanku yang sudah menerima bukuku. Mereka membeli bukuku untuk anak-anaknya. Aku senang ketika mereka mengatakan bahwa anak-anak mereka menikmati bukuku. Yay! Aku sadar, aku masih perlu belajar banyak untuk bisa membuat cerita anak yang menarik. Tapi menerima foto dan kabar bahwa anak-anak mereka menyukai ceritaku, membuatku jadi berbesar hati. Mongkok, Saudara-saudara! Hehe.

Yeay! Akhirnya punya buku baru yang bisa dijual. Hehehe.
Yeay! Akhirnya punya buku baru yang bisa dijual. Hehehe.

Ada hal yang membuatku senang, yaitu eksperimen di memasak. Rasanya deg-degan gimanaaa gitu. Seperti apa nanti hasil masakanku? Enak nggak? Apakah disukai? Aku tidak sering-sering amat melakukan eksperimen di dapur karena memasak perlu waktu lumayan bagiku. Mulai dari persiapan sampai beres-beres. Terakhir aku eksperimen membuat brownies pisang. Bagiku yang jarang bikin kue, mendapat pujian atas brownies yang kubuat itu rasanya sueneeeng.

Dalam rangka menyelamatkan pisang yang sudah terlalu matang, jadilah brownies ini.
Dalam rangka menyelamatkan pisang yang sudah terlalu matang, jadilah brownies ini.

Ah, ya… kadang (atau sering?), kita perlu undur diri sejenak dari pekerjaan yang rasanya bikin gimanaaa gitu. Ya, ya… mestinya sih pekerjaan itu arena untuk bermain-main. Tapi yah… mungkin aku aja yang lagi geje. Jadi, sudahlah, postingan seperti ini untuk mengingatkanku bahwa aku melakukan beberapa hal yang membuatku cukup berprestasi. Merasa berprestasi itu penting lo, supaya kita nggak gampang depresi.