Bukan Tempat Makan Favorit

Belakangan ini banyak muncul situs yang menjual voucer misalnya, Disdus, Living Social, dll. Voucer yang dijual mulai dari makanan sampai paket wisata. Suamiku beberapa kali membeli voucer dari situs-situs tersebut. Yang paling sering dibeli adalah voucer makan di restoran (yang belum pernah kami kunjungi).

Pengalaman menikmati hasil membeli voucer itu nano-nano. Ada yang memuaskan, ada yang “nggak lagi-lagi deh!” alias kapok makan di sana. 😀 Prinsipnya: coret yang tidak perlu. Tapi sebetulnya sedikit dari tempat makan yang ditawarkan itu yang akhirnya masuk ke daftar restoran yang memuaskan. Biasanya karena (1) makanannya kurang enak, (2) makanan enak, tapi kalau tanpa voucer mahal buanget! Kalau makanannya masih enak, sebetulnya kami masih ada keinginan untuk kembali. Tapi ya nggak bisa sering-sering. Dan kami sempat berencana makan di sana lagi pas ada momen. Seingatku hanya satu restoran yang kami ulangi kunjungannya.

Nah, aku mau cerita tentang pengalamanku hari Sening sore yang lalu. Hari itu kami mengulangi datang ke Aperitivo, di daerah Kuningan. Kami ke sana kira-kira dua bulan yang lalu dan saat itu kami menggunakan voucer yang kami beli lewat Disdus. Waktu itu, sebelum pulang, kami diberi voucer cash back sebesar 100 ribu (@ 50 ribu). Batas waktu pemakaiannya sampai dua bulan terhitung dari dikeluarkannya voucer tersebut, yaitu tanggal 5 Mei. Pas tanggal 2 Juli kemarin aku, suamiku, dan dua orang teman kami ke sana. Ceritanya sih mau memakai voucer cash back itu. Tapi kunjungan kemarin itu membuat kami kapok.

Awalnya, kami mau pesan piza. Menurutku piza di sana lumayan enak. Tapi ternyata alat pemanggang mereka lagi rusak dan sedang diperbaiki. Ya sudah. Akhirnya kami pesan makanan yang lain saja. Karena masih penasaran dengan piza, aku beberapa kali tanya ke petugas restoran apakah sudah bisa pesan. Beberapa kali kutanya, jawaban mereka belum bisa. Katanya sih, mesti nunggu sekitar 1 jam lagi. Oke deh …. Karena sudah agak malam dan temanku ada janji ketemu dengan seseorang, akhirnya kami menyudahi acara makan itu. Pas mau bayar, suamiku mengeluarkan voucer. Dan … ternyata voucer itu tidak bisa dipakai. Katanya, itu karena program kerja sama mereka dengan Disdus sudah berakhir tanggal 29 yang lalu. Lah, piye to? Padahal di voucer itu dibilang batas pemakaiannya 2 bulan setelah diterbitkannya voucer tersebut. Meskipun sudah protes, tetap saja cuma dijawab dengan kata maaf berulang kali dari petugas restoran. Kan kami tidak tahu kalau voucer itu sebetulnya kerja sama mereka dengan Disdus. (Di voucer itu tidak tertera logo Disdus sama sekali.) Dan jelas kami tidak tahu bahwa voucer itu berlaku sampai tgl 29 yang lalu. Mestinya kalau begitu aturannya, ditulis dengan jelas di voucer itu dong ya? Akhirnya, kami bayar sesuai tagihan tanpa dapat diskon. Yo wis, sing waras ngalah. 😀 Memang kalau di Indonesia, konsumen adalah pihak yang bisa dikalahkan dengan mudah. Dan sejak saat itu, aku mencoret Aperitivo dari daftar tempat makan yang pantas kukunjungi lagi. Kapok deh.

Sepulang dari sana, aku jadi merunut lagi, tempat-tempat makan mana saja yang setelah kami menikmati voucernya, kami datangi lagi. Dan, ternyata hampir tidak ada. Seingatku hanya satu atau dua restoran saja. Kenapa? Alasannya seperti yang kutulis di paragraf kedua tadi. Kupikir, tempat makan yang biasa kami kunjungi justru tidak pernah memberi voucer. Toh tanpa voucer, kami mau kok jadi pelanggan tetap. Kurasa, cara menjaring pelanggan tidak perlu selalu dengan iming-iming potongan harga. Justru perlakuan pihak restoran yang ramah dan tulus, rasa makanan yang enak, serta harga yang masuk akal dapat membuat seseorang mau menjadi pelanggan tetap.

Advertisements