Inside Out: Belajar tentang Emosi secara Menyenangkan

Note: Postingan telat 😀

Film yang terakhir kutonton di bioskop adalah Inside Out. Sudah lama aku mengincar menonton film itu. Awalnya aku sempat mengira, film itu tidak akan diputar di Indonesia. Tapi ternyata perkiraanku keliru. Dan aku menontonnya pada saat yang tepat: saat suasana hatiku butuh hiburan. 😀 😀

Film itu dibuka dengan film pendek Lava yang kemudian terkenal dengan kalimat: “I lava you”. Film pendek itu cukup menarik sebenarnya, tapi aku mencium “deux et machina” di situ—suatu plot twist yang menurutku sebaiknya dihindari dalam cerita. (Silakan googling sendiri untuk mengetahui apa itu deux et machina.) Menurutku, film itu bisa dibuat lebih nendang lagi dengan eksekusi yang lebih bagus.

Film Inside Out ini menggambarkan personifikasi emosi yang ada dalam otak kita–dengan mengambil tokoh Riley. Riley adalah seorang gadis pra remaja. Dia anak tunggal, kesayangan orangtuanya. Sebagai anak, sebenarnya hidupnya baik-baik saja dan cenderung menyenangkan–menurutku. Hingga sampai pada suatu hari, orangtua Riley pindah ke San Francisco. Pindah rumah memang kadang kala menimbulkan jejak yang tidak menyenangkan, apalagi ketika tempat yang tinggal yang baru itu tidak sesuai dengan apa yang kita bayangkan.

Di awal cerita, digambarkan Riley ketika masih bayi. Emosi yang muncul pertama adalah Joy (sukacita), disusul Sadness (kesedihan). Ketika semakin besar, emosi yang berperan di otaknya bertambah, yaitu Disgust (jijik), Fear (ketakutan), dan Anger (amarah). Interaksi antar emosi di dalam diri Riley digambarkan semakin rumit saat Riley ikut pindah ke San Francisco. Interaksi emosi-emosi itu bergerak seiring dengan pergulatan psikologis Riley.

Dilihat dari penggambaran karakter tokoh, awalnya yang dominan adalah Joy. Sadness yang sering ditegur oleh Joy supaya tidak melakukan ini dan itu. Dalam keseluruhan cerita, semua tokoh mendapat porsi yang pas. Penokohannya kuat. Hmm… mungkin karena sudah jelas ya ciri-cirinya. Kalau Joy berarti si pembuat gembira. Kalau Sadness, pandangannya sediiiih melulu. Anger, yang mengobarkan amarah (emang apa lagi sih?). Fear, yang selalu takut. Disgust, yang jijikan.

Struktur cerita film ini kokoh. Mulai dari karakter hingga plot twist-nya mulus. Oya, ada satu tokoh pembantu yang menurutku lucu sekaligus menyentuh: Bing Bong. Dia merupakan penyelamat dari petualangan Sadness dan Joy, tapi akhirnya dia sendiri lenyap demi untuk membantu si tokoh utama: Riley. Untuk nama Bing Bong ini aku sampai berpikir, seandainya aku bisa punya anjing, aku akan menamainya Bing Bong. Lucu banget kedengarannya. 😀

Dari film Inside Out ini, aku belajar tentang bagaimana otak mengolah apa saja yang kita terima. Soal ingatan jangka panjang, ada ingatan yang kemudian dibuang, ada hal tidak penting yang terus muncul tanpa diundang (dalam film ini digambarkan dalam bentuk iklan Tripledent Gum), soal subconscious mind, soal train of thought, dan sebagainya. Begitu pula aku mulai paham soal emosi yang mengendalikan tindakan-tindakan kita.

Selanjutnya aku jadi teringat ketika latihan meditasi, yaitu berusaha mengamati dan tidak menuruti gejolak emosi (tarik napaaaasss…. lepaskan). Setelah menonton Inside Out ini, aku berpikir bahwa tampaknya memang meditasi itu penting. Kenapa? Karena dengan meditasi kita jadi menjadi punya daya untuk memilih tindakan yang kita ambil saat ada emosi yang begitu dominan menguasai. Misalnya, ketika Riley marah dan memilih meninggalkan keluarganya, saat itulah Anger menguasai dirinya. Seandainya Riley menarik napas, merenung, dan menyadari bahwa Anger-lah yang menggerakkan dia, mungkin dia akan melakukan tindakan yang berbeda. Mungkin looo… 😀 Dan dari tindakan-tindakan yang dilakukan Riley, aku jadi melihat betul bahwa emosi mengambil porsi besar dalam aktivitas kita sehari-hari. Jadi, memang perlu semacam disadari dan dikendalikan, bukan?

Film Inside Out ini dibuat secara serius. Ada ahli emosi kenamaan yang terlibat di dalamnya, yaitu Paul Ekman dan Dacher Keltner. Paul Ekman adalah Profesor Emeritus jurusan Psikologi di UCSF. Dia peneliti dan pengarang yang sudah banyak dikenal, yang membahas perilaku nonverbal, ekspresi muka dan isyarat (gesture). Pada tahun 2009, oleh majalah TIME, Ekman dimasukkan dalam 100 orang paling berpengaruh di dunia. Dacher Keltner sendiri murid Paul Ekman. Kebayang kan kalau dua orang ilmuwan ini masuk dalam tim yang menggarap film Inside Out? Referensi risetnya sudah tidak diragukan lagi. (Menulis cerita kan tidak asal nulis. Riset itu penting!) Inside Out disutradarai oleh Pete Docter, yang prestasinya sudah tak perlu diragukan lagi. Googling deh kalau nggak percaya. 😀

Singkat kata, film ini keren banget. Keluar dari gedung bioskop, rasanya terhibur banget. (Kan di depan aku sudah cerita, aku lagi butuh hiburan. Hehehe.) Selain itu, dengan menyaksikan fillm ini aku terbantu untuk belajar dan mengenal diriku. Rasanya sih pengen bisa mengoleksi film ini, biar kapan-kapan bisa nonton lagi. 😀
So, kamu sudah nonton Inside Out?

Have A Little Faith: Kisah Hebat Dua Orang Sederhana

Rasanya aku sudah agak terlambat mendapatkan buku ini. Sebenarnya aku sudah lama melihatnya dipajang di rak toko buku, tetapi aku selalu menunda membelinya. Kupikir aku akan mudah mendapatkannya. Tapi dugaanku keliru. Entah aku yang kurang teliti mencarinya di sela-sela buku, entah memang buku ini habis di toko, aku baru mendapatkan buku tulisan Mitch Albom ini dua tahun kemudian sejak dicetak untuk pertama kalinya dalam edisi bahasa Indonesia.

Aku kenal tulisan Mitch Albom yang pertama lewat bukunya Tuesday With Morrie (Selasa Bersama Morrie). Kakakku yang pertama kali membawa buku ini kepadaku. Dia bilang, buku ini bagus banget. Memang ada dua orang yang bisa benar-benar membujukku membaca buku tertentu: kakakku dan suamiku. Jadi, aku percaya saja waktu dia berkata begitu. Sejak mengenal Mitch dalam kisahnya tentang profesornya, Morrie, aku jadi membeli buku-buku Mitch yang terbit kemudian. Terakhir buku Have A Little Faith (Sadarlah) inilah yang kubeli kira-kira seminggu yang lalu.

Aku agak lama membaca buku ini. Pelan-pelan; karena aku takut buku ini cepat habis kubaca dalam sekejap. Buku setebal kira-kira 270 halaman ini sebenarnya kalau aku tidak ingat punya cucian kotor, terjemahan, dan mesti memasak serta nyapu-ngepel, bisa selesai yaaa 2 hari lah. Selain itu, entah kenapa ya, aku justru suka memelankan kecepatan bacaku kalau aku merasa buku tersebut menarik dan bisa membenamkanku.

Dan, sore ini aku selesai membacanya–dengan diiringi air mata. Huh, cengeng memang aku ini. Nonton film anak-anak yang lucu macam Totoro saja aku sempet mewek kok, apalagi baca Have A Little Faith. 😀 😀 Sebenarnya yang membuatku menangis adalah mengingat buku ini mengangkat kisah nyata.

Dalam Have A Little Faith ini Mitch bercerita tentang Reb–Rabi Albert Lewis–dan seorang pendeta Henry Covington. Awalnya, Mitch diminta sang Reb untuk menyampaikan eulogi saat beliau meninggal. Mitch adalah seorang Yahudi, dibesarkan dalam tradisi Yahudi, tetapi dia akhirnya menikah dengan perempuan Kristen. Well, aku kurang tahu seperti apakah persisnya agama Yahudi itu dan bagaimana masyarakat di barat (Amerika) memandangnya. Tapi kalau kubaca dari buku ini, rasanya di barat (Amerika) semacam ada sinisme terhadap orang Yahudi. Yah, barangkali semacam pertentangan antar agama lah kalau di sini. Mungkin lo, ya. Tapi barangkali aku keliru. Mitch sendiri dalam perjalanannya menjadi manusia dewasa memiliki sinisme terhadap orang-orang beragama. Dia sendiri mengaku bahwa ketika ia masih kecil dan harus mengikuti pelajaran agama di sinagoga, dia merasa ingin lari dari Reb.

Awalnya aku mengira Reb ini orang yang tegas banget, kaku, dan kurang menyenangkan. Aku berpikir begitu karena kok Mitch ini pengennya lari melulu dari Reb. Tapi semakin ke sini, aku melihat kebalikannya. Aku merasa, Reb ini baiiiik banget. Aku bertanya-tanya dalam hati, “Ah, tokoh di buku kan memang suka dilebih-lebihkan. Mana ada orang yang baik banget?” Tapi aku beberapa kali mengingatkan diriku sendiri bahwa tokoh Reb ini memang pernah hidup. Namanya juga kisah nyata kan?

Jadi, untuk bisa menyampaikan eulogi saat Reb meninggal, Mitch akhirnya berusaha mengenal diri Reb dengan baik–selama delapan tahun terakhir hidup Reb. Mereka bersahabat. Barangkali seperti guru dan murid relasi mereka. Guru dan murid yang dekat. Dari kedekatan mereka itulah Mitch mengisahkan nilai-nilai yang dipegang Reb: soal kesederhanaan, menghormati orang lain yang punya keyakinan berbeda, mengasihi. Semua itu tak hanya dikhotbahkan Reb, tetapi dijalaninya dengan setia. Tampaknya mudah dan sederhana ya? Tapi kalau membaca detailnya, aku seperti malu sendiri. Beneran. Salah satunya tentang relasi Reb dan Teela Singh. Teela ini adalah perawat kesehatan Reb sekaligus teman belanjanya Ketika berkendara untuk ke sebuah tempat perbelanjaan, Teela biasa menyetel musik rohani Hindu dan Reb menikmatinya serta meminta syair lagu itu diterjemahkan untuknya. Teela biasanya akan menjelaskan soal reinkarnasi berkaitan dengan pandangannya. Reb kemudian akan mengajukan beberapa pertanyaan, lalu minta maaf karena tidak memahami banyak soal agama Hindu (hal. 169). Di situ terlihat Reb sangat menghargai keyakinan agama lain, dan dia tidak memaksakan orang lain menganut keyakinan seperti dirinya.

Sedikit berbeda dengan kisah Reb, kisah Henry Covington–seorang pendeta dari gereja I Am My Brother’s Keeper–dimulai dari masa muda Henry yang terlibat dalam banyak kejahatan. Dia pernah mengedarkan narkoba, merampok, dan berbagai kejahatan lain semata-mata demi mendapatkan banyak uang. Ia sempat masuk penjara, lalu kembali lagi ke dunia hitam. Tapi suatu peristiwa, setelah merampok bandar narkoba, ia lalu sadar. Bahasa rohaninya: bertobat. Kalau aku bilang sih, ia bertobat 100%. Ia meninggalkan kehidupan lamanya, lalu melayani para tunawisma. Ia lalu menjadi pendeta di gereja I Am My Brother’s Keeper tersebut. Agak panjang sebenarnya cerita lengkapnya (jadi, baca bukunya saja deh untuk lebih jelasnya). Banyak tunawisma yang diselamatkan oleh Henry. Ia memberi mereka tumpangan, pakaian, makanan. Padahal saat itu Henry juga kondisinya miskin. Tapi entah bagaimana, dia bisa saja memberikan diri untuk melayani para gelandangan itu.

Buku ini penuturannya mengalir. Ceritanya berganti-ganti, pertama cerita Reb, lalu cerita tentang Henry. Ceritanya banyak memasukkan percakapan. Yang menarik sebenarnya, dua orang itu–Reb dan Henry–tidak hanya bicara dan berkhotbah di atas mimbar, tetapi mereka menjalani hidup sesuai dengan keyakinan mereka, dan hal itu memberikan dampak yang luar biasa terhadap orang-orang di sekeliling mereka. Barangkali, seperti itulah kasih yang tulus. Dan satu hal lagi yang menurutku “hebat” adalah, keduanya sama sekali tidak pernah membujuk orang untuk berganti keyakinan. Tapi dari kehidupan mereka sendiri, aku yakin banyak orang yang akhirnya terpesona dengan keyakinan mereka. Juga, keduanya tak memiliki kebencian. Aku membayangkan, hidup Henry yang melayani para tunawisma itu pasti tidak mudah. Begitu pula Reb sebagai orang Yahudi, kurasa banyak orang yang memiliki praduga tidak mengenakkan terhadap dirinya. Tapi, mereka tidak membenci siapa pun. Heran deh. Setidaknya begitu yang ditulis oleh Mitch dalam buku ini.

Dan, ketika di akhir buku ini dikisahkan Reb meninggal. Hiks hiks … nangis deh aku. Rasanya seperti ikut kehilangan. Lebay ya? Hihi. Mungkin kalau dua tokoh ini hanya rekaan seperti halnya dalam buku fiksi, aku tidak akan begitu terpukau. Masalahnya, dua orang ini ada betulan (Henry masih hidup, sedangkan Reb sudah meninggal).

Buku ini membagikan banyak hal berkenaan tentang hidup dan spiritualitas. Kalau kubilang, pantas untuk dapat empat bintang (dari total lima bintang). Benar-benar memperkaya wawasan soal hidup; soal relasi dengan orang-orang di sekeliling kita.

Hmm, ngomong-ngomong buku terakhir apa yang kamu baca? Menarikkah?

Data buku:

Judul bahasa Inggris: Have A Little Faith
Judul bahasa Indonesia: Sadarlah
Sub judul: Sebuah kisah nyata tentang perjalanan iman untuk menemukan tujuan hidup
Penulis: Mitch Albom
Terbit dalam bahasa Indonesia: November 2009 (cetakan pertama)
Alih bahasa: Rani R. Moediarta
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama