Naik Kereta Api Tut … Tut… Tut…

Terus terang aku lupa sejak kapan aku mulai cukup mengandalkan kereta api (KA). Kalau tidak salah sih, ketika aku kuliah. Itu pun di akhir-akhir masa kuliah. Belum terlalu lama, ya? Ketika masih kecil, ke mana-mana seringnya naik bus atau naik travel. Dulu sih, yang paling sering adalah ke Jogja, ke rumah nenekku. Dan kami sekeluarga berlangganan sebuah travel, yang saking seringnya memakai jasa travel itu, kami punya beberapa lusin gelas yang merupakan hadiah dari travel tersebut.

Awal-awal kuliah, aku masih naik bus kalau bolak-balik Madiun-Jogja. Tetapi kemudian aku beralih naik KA ekonomi Sritanjung, jurusan Jogja-Banyuwangi. Kalau tidak salah sih awalnya karena terminal bus Madiun pindah ke pinggiran kota, dan menjadi lebih jauh dari rumah dibandingkan stasiun KA. Akhirnya, aku jadi lebih sering naik KA. Lagi pula, kalau dihitung-hitung lebih murah beberapa ribu kok. Jadi, lumayan lah selisihnya bisa untuk beli tempe mendoan :p

Sekarang ketika tinggal di Jakarta, kalau pulang ke Jogja, aku selalu naik KA. Dan aku memilih kelas bisnis. Rasanya itu kelas “tengah-tengah” yang terhitung lumayan buatku. Lumayan di ongkos, maksudnya. He he. Soalnya aku cukup sering pulang. Dan lagi, kalau berangkat tidak di akhir minggu atau hari libur, kereta tidak terlalu penuh. Jadi bisa duduk selonjor; dan yaaa … dengan bekal kipas bambu dan sebuah buku, cukup lah buatku. Kalau naik KA kelas eksekutif, wah … boros banget. Dan lagi, aku kerap kali tidak tahan dengan AC KA kelas eksekutif. Terlalu dingin. Membuatku masuk angin dan sakit kepala.

Menurutku, KA kelas bisnis cukup lumayan. Asal penumpangnya tidak berjubel, alias tidak ada yang berdiri, kelas bisnis cukup lumayan buatku. Apalagi kalau sebelah kita kosong, bisa tidur dengan leluasa dan kalau berangkat pagi, bisa sambil melihat pemandangan di luar yang di beberapa daerah cukup hijau. Yang sangat tidak lumayan adalah KA kelas bisnis jurusan Jogja-Jakarta (dan sebaliknya). Entah kenapa rasa-rasanya KA Fajar Utama dan Senja Utama hampir tak ada bedanya dengan kelas ekonomi. Bagiku, dua kereta itu “ajaib”. Kenapa? Banyak pedagang asongan masuk! Eh, bukan pedagang asongan saja ding, tetapi ada juga pengemis, tukang pijit, orang yang semprot-semprot pengharum ruangan dan minta uang, penyapu dan pengepel lantai gerbong, dan pengemis. Lalu kalau sudah dekat Wates, akan naik beberapa orang waria yang menyanyikan lagunya yang terkenal: “Ewer-ewer”. Lengkap kan? Dari beberapa KA kelas bisnis yang kutumpangi, KA yang paling ajaib hanyalah KA Fajar Utama dan Fajar Utama. Itu saja.

Sebenarnya, aku penasaran, kenapa ya hanya kereta api bisnis Fajar Utama dan Senja Utama saja yang banyak pedagang dan berbagai “pelaku ekonomi lainnya”? Adakah yang bisa menjelaskan? Isunya sih, para pedagang asongan itu bisa masuk karena sudah memberikan uang rokok kepada pihak-pihak tertentu. Isunya sih begitu. Nggak tahu benar atau enggak ya?

Kalau kupikir-pikir dengan masuknya pedagang asongan ke dalam KA, itu merugikan PJKA. Misalnya saja dalam hal penjualan makanan. Selama ini banyak orang beranggapan bahwa makanan di resto KA itu tidak enak, porsinya sedikit, dan mahal. Yang kubilang mahal itu begini misalnya, menu yang disajikan hanyalah mi instan, tetapi harganya bisa dua atau tiga kali lipat dibandingkan harga normal. Males banget kan? Sementara kita semua tahu, berapa sih harga sebungkus mi instan? Jadi, sebagian orang memilih membeli makanan di pedagang asongan atau malah membawa bekal sendiri dari rumah. Yah, walaupun sebenarnya sama saja sih kalau kita beli makanan di pedagang asongan. Sama mahalnya dan sama tidak enaknya. Sebenarnya kalau pihak resto KA bisa membuat masakan yang enak, kurasa para penumpang akan memilih masakan di KA. Bukan sekadar jualan mi instan rebus. Yang lebih kreatif dong! Dan harganya itu lo, jangan mahal-mahal… 😀

Aku berharap pelayanan jasa KA semakin baik dari hari ke hari. Minimal, untuk KA kelas bisnis, tak ada pedagang asongan yang masuk. Dan kalau bisa sih, tepat waktu–jam kedatangan dan keberangkatan yang tertera di tiket benar-benar ditepati. Tapi sepertinya sih masyarakat kita sudah terbiasa dengan pelayanan PJKA yang setengah hati, ya? Jadi … biarpun sudah banyak keluhan, tak ada peningkatan pelayanan yang signifikan.

Advertisements