Hal-Hal yang Berlalu dan Menyambut Perubahan

Waktu berlalu. Aku sering tidak menyadari hal itu. Tiba-tiba saja aku sampai pada suatu masa ketika yang ada di masa lalu sudah tidak ada. Misalnya saja ketika aku mendengar bahwa kerabatku meninggal. Beberapa hari yang lalu aku dikabari bahwa Mbah Jan–saudara kakekku–meninggal. Memang usia Mbah Jan sudah cukup tua, tapi menurutku belum tua-tua amat. Waktu aku ke Ambarawa beberapa bulan lalu, aku masih bertemu dengannya. Sepertinya tidak pernah sakit serius. Tapi kematian kadang tidak butuh sakit serius. Kalau waktunya sudah habis, ya habis. Ibarat ponsel yang baterainya habis sama sekali, biar tombol power-nya dipencet-pencet, tetap tidak bisa menyala.

Selain itu beberapa hari lalu, aku dikabari bahwa Bu Siska, guruku SD, meninggal. Kabarnya karena sakit. Soal Bu Siska ini, aku merasa dia guru yang tegas–kalau tidak mau dikatakan guru yang galak. Mungkin di masa kecil, aku menganggap orang yang bersuara keras itu galak. Tapi kurasa kalau aku tidak merasakan didikannya yang tegas, aku tidak bisa cepat membaca.

Ketika menyadari orang-orang yang pernah punya hubungan denganku itu meninggal, aku selalu terkaget-kaget. Eh, kok mereka bisa meninggal sih? Jujur aku lupa bahwa manusia bisa (sewaktu-waktu) sakit lalu meninggal.

Dalam hidup memang semua bisa berlalu. Bisa habis masanya. Begitulah hidup. Tidak bisa tidak, semua akan berubah. Semua bisa berhenti lalu tiada. Ketika aku tahu bahwa beberapa majalah sudah tidak beredar lagi, aku masih protes. Kenapa dihentikan? Lalu bagaimana kalau generasi adik-adik atau anak-anak kita nanti tidak mengenal dengan majalah dan hanya tahunya gadget melulu? Apa itu tidak mengerikan?

Belakangan kupikir kalau sebuah majalah dihentikan peredarannya lalu (katanya) berubah menjadi bentuk digital, mungkin memang sudah seharusnya begitu. Kapan terakhir aku membeli majalah baru? Rasanya setahun belakangan ini aku tidak membeli majalah baru. Majalah bekas kadang masih beli. Saat mau beli yang baru, aku mikir-mikir. Mahal. Kalau aku saja tidak beli karena alasan mahal, berapa orang yang berpikir begitu? Perubahan majalah menjadi bentuk digital mungkin suatu cara terbaik untuk bertahan hidup zaman sekarang. Arus perubahan dunia sudah menuju ke sana. Mau tidak mau. Siapa yang membuat perubahan itu? Kurasa kita pun ikut andil–sekecil apa pun andilnya. Yang tinggal di dunia ini kan kita-kita juga. Kalau kita berubah, dunia pun berubah.

Hidup selalu berubah. Ada yang selalu berlalu dan hilang. Ada yang habis dan pergi. Aku sering gamang melihat perubahan itu. Aku takut. Aku gelisah melihat hal-hal yang hilang itu. Namun, aku sering lupa, ada hal-hal baru yang akan muncul dari perubahan tersebut. Mungkin saking takutnya, aku lupa cara menyambut kebaruan itu. Mungkin aku perlu belajar menyadari bahwa perubahan tak selamanya menakutkan.

 

catatan: tulisan itu salah satunya terinpirasi oleh tulisan di sini.

 

Advertisements