Perubahan

Beberapa waktu ini aku di-add di grup WA SMP. Grup itu cukup ramai. Yang kurasakan dari grup itu adalah seperti berada di kelas pada jam kosong. Ruamee. Kalau kata guruku dulu, ramainya seperti di pasar. Selain itu aku merasa, teman-temanku kok nggak terlalu banyak berubah, ya? Gayanya sewaktu chatting, sama seperti gayanya mengobrol zaman SMP dulu. Sekarang hanya lebih saru aja. 😀 😀

Aku kadang berpikir, apakah aku juga sebenarnya tidak terlalu banyak berubah?

Secara fisik aku pasti berubah. Semua orang pun begitu. Dari muda menjadi tua. Keriput, beruban, mungkin ditambah sakit encok atau sakit-sakit lain. Namun, apakah batin kita berubah? Ketika masuk grup WA teman-teman SMP, aku merasa kebanyakan sepertinya tidak berubah. Yang mereka sampaikan di grup dan gaya chattingan mereka sepertinya tidak terlalu berubah. Walau misalnya ada yang pindah agama, tapi aku merasa perubahannya tidak terlalu drastis–setidaknya soal cara berpikir, ya. Kalaupun berubah, rasanya “seperti bisa ditebak”. Bukan seperti twist akhir cerita yang mengejutkan. Kalau baju, ada yang berubah sih. Tapi hidup kurasa tidak hanya soal perubahan baju atau tampilan fisik.

Aku tak yakin diriku banyak berubah. Ini baik atau buruk? Entah. Kurasa begitu pula dengan banyak orang di sekitarku. Hal ini agak menenteramkan karena ketika aku hendak bertemu teman lama, kadang aku khawatir jika orang itu berubah dan perubahannya menjauhkan kami. Kalaupun berubah, mungkin sebenarnya perubahan itu menunjukkan jati diri yang sebenarnya.

Advertisements

Pentingnya Kesadaran Dalam Perubahan

IMG_2883
kesadaran menolong kita tetap teguh di dalam suasana yang mengombang-ambingkan diri

Setujukah kamu bahwa membuang sampah sembarangan itu adalah tindakan yang buruk dan merugikan diri sendiri serta orang lain? Aku percaya banyak orang setuju. Tapi aku yakin masih banyak yang masih saja seenaknya membuang sampah sembarangan–termasuk anak sekolah, guru, orang tua, dan orang-orang yang pernah mengenyam pendidikan lainnya. Jangankan memilah sampah, masih banyak orang yang membuang sampah tidak sesuai tempatnya.

Belakangan ini di Indonesia ada kecenderungan banyak orang mengatakan bahwa kondisi masyarakat kita akan membaik jika pendidikan agama di sekolah ditingkatkan. (Mungkin dengan penambahan jam belajar agama? Entahlah.) Belum lagi mulai bermunculan peraturan-peraturan yang berlatar belakang agama tertentu. harapannya tentu saja supaya kondisi masyarakat menjadi lebih baik. Pengetahuan agama diharapkan bisa menimbulkan perubahan positif.

Menurutku, tidak cukup jika kita hanya mengetahui ini buruk dan itu baik. Di sinilah peran penting adalah kesadaran. Jarang ada yang menyadari bahwa ada jeda yang sangat besar antara mengetahui, memahami, menghayati, sampai melaksanakan suatu hal. Untuk menjembatani “mengetahui” sampai “melaksanakan” dibutuhkan kesadaran. Mengajarkan pengetahuan agama itu lebih mudah daripada mengajarkan kesadaran. Kesadaran berarti kita bangun dan bergerak, bukan sekadar menggenggam suatu pengetahuan (agama, ideologi, prinsip, dll).

Kesadaran adalah menggerakan seluruh tubuh, jiwa, dan pikiranmu untuk menghindari hal yang buruk dan berusaha sekuat tenaga melakukan hal yang baik. Kesadaran ini bisa dimulai dengan hal-hal kecil, seperti tidak membuang sampah sembarangan, makan makanan bergizi yang lebih menyehatkan badan, dll. Awalnya adalah mengubah diri menjadi lebih baik, barulah setelah itu kita bisa mengubah hal-hal di sekitar kita–mengubah masyarakat, mengubah dunia. Untuk bisa mengubah diri berarti kita perlu mengenal betul gerak batin dan isi pikiran kita dari saat ke saat. Tanpa kesadaran, sulit terjadi perubahan positif yang sifatnya permanen.