Belanja di Warung: Seperti Belanja pada Saudara Sendiri

Salah satu tempat favoritku adalah pasar. Iya, pasar tradisional, tepatnya. Asal pasarnya tidak becek-becek amat, aku suka menyusuri gang-gang di dalam pasar. Bagiku pasar adalah tempat untuk mendapatkan energi positif dan semangat. Hampir tak pernah kurasakan suasana sedih ketika aku berada di pasar. Rata-rata pedagang di sini cukup ramah. Ketika pagi-pagi sedang butuh suntikan semangat, aku akan berangkat ke pasar.

Namun, karena jarak pasar dari rumahku agak lumayan, aku lebih sering belanja di warung sayur. Warung sayur ini biasanya buka pagi sampai siang. Tapi ada pula yang bukanya agak siang, lalu tutupnya malam. Warung sayur langgananku ada tiga. Jaraknya tidak terlalu jauh. Yang paling dekat hanya sekitar 5 menit jalan kaki dari rumah. Satu lagi, sekitar 10 menit dari rumah jalan kaki. Yang terakhir, agak jauh, sehingga aku perlu naik motor–mengingat jalan raya depan gang rumahku cukup ramai, tak ada trotoar pula, aku merasa tidak nyaman berjalan kaki sampai agak jauh.

Bahan-bahan yang disediakan di warung sayur ini sebenarnya cukup untuk memenuhi kebutuhan masak harian. Lagi pula, masakanku biasanya hanya membutuhkan sawi, kangkung, bayam, terong, timun, wortel … tahu, tempe. Begitu-begitu saja. Kecuali aku mau masak agak istimewa, barulah aku mancal sepeda motor ke pasar.

Setiap kali ke pasar, aku mesti membawa uang lebih banyak. Soalnya, aku sering tergoda melihat sayur-sayur segar. Atau kalau awalnya mau beli ikan patin, lalu di lapak penjual ikan ada ikan tuna segar atau ikan nila, aku kan jadi tergoda juga. Minimal ada dua lembar uang lima puluhan ribu di dompet, baru aku merasa aman ketika ke pasar.

Berbeda ketika aku ke warung sayur. Karena umumnya sayur di warung tidak semeriah di pasar, aku cukup PD hanya membawa uang dua puluh ribu. Bahkan belanjaku kadang kurang dari dua puluh ribu.

Suatu kali aku dengan pedenya berangkat ke warung sayur terdekat. Waktu itu aku belum terlalu sering belanja di situ. Aku hanya ingin beli seikat kangkung seharga dua ribu rupiah. Ketika hendak membayar, aku buka bawah jok motorku karena seingatku dompetku belum kupindahkan dari bawah jok. Tapi ternyata dompetku tak ada! Buru-buru aku bilang ke pemilik warung, “Bu, ngapunten. Dompet kula kentun teng griya. Kula wangsul rumiyin mendhet dompet. Kula tinggal kangkunge.” (Bu, maaf. Dompet saya ketinggalan. Saya pulang dulu, ambil dompet. Kangkungnya biar di sini dulu.)

Namun, ibu itu menjawab begini, “Mpun, kangkunge dibeta mawon. Mbayare suk-suk mawon, mboten napa-napa.” (Sudah, bawa saja kangkungnya. Bayarnya besok-besok pun tak apa.)

Aku agak terkejut mendengar jawaban ibu pemilik warung. Kalau di toko (modern), tentu aku tak akan dibolehkan membawa pulang belanjaan tanpa bayar–walau sudah jadi pelanggan tetap sekalipun.

Hal serupa terjadi ketika aku belanja di warung sayur lain, yang lokasinya agak jauh dari rumah. Di situ aku biasa membeli pisang raja. Pisang yang dijual biasanya bagus-bagus. Sebetulnya harganya agak lebih murah dibanding harga pisang raja dengan kualitas sebagus itu di pasar. Tapi namanya pisang raja, kalau bagus, harganya lebih mahal dibanding pisang kepok, misalnya. Kadang ibu pemilik warung bilang begini, “Bawa dulu pisangnya, Mbak. Bayarnya boleh besok.” Aku paling hanya tertawa. Kalau duitku cukup, ya aku beli. Kalau tidak, ya besok aku datang lagi sambil membawa cukup uang. Kalau masih jodoh, biasanya aku masih dapat pisang raja yang bagus.

Selama ini aku tak pernah membawa pulang belanjaan tanpa membayarnya terlebih dahulu, walau si penjual membolehkan atau menawari. Aku hanya takut lupa dan malah lupa bayar. Aku rasa para penjual di sini memiliki kepercayaan cukup tinggi pada pelanggannya. Kenapa, ya? Aku sendiri merasa belanja di warung itu rasanya lebih seperti belanja ke teman atau saudara sendiri. Mungkin begitu pula yang dirasakan penjual terhadap para pelanggannya. Alasan lain belanja di warung adalah bagi-bagi rejeki; biar uangnya berputar ke tetangga terdekat.