Penyemangat

“Kerja di rumah? Enak dong!”
Begitu kadang tanggapan orang setiap kali aku mengatakan bahwa aku memilih bekerja sendiri di rumah sebagai pekerja lepas. Semua selalu ada enak dan tidaknya.

Aku mau cerita satu sisi yang kualami sebagai pekerja rumahan. Ketika baru awal-awal bekerja di rumah, satu hal yang kualami sangat berbeda adalah tidak adanya teman bicara. Apalagi aku seorang diri di rumah. Biasanya di kantor, selalu ada teman. Kalau di kantor dulu, saat bosan ada saja teman yang bisa digodain atau diajak mengobrol sebentar. Eh, kadang lama ding! Haha! Kadang ada teman yang melucu dan suasana yang sejak tadi senyap, jadi menghangat. Kadang kami tertawa sampai sakit perut karena memang ada yang suka melucu. Kalau sedang bosan, alasan ke kantor adalah bertemu teman-teman. Hihihi. Parah kan?

Nah, begitu bekerja sendiri, kenikmatan untuk berkumpul bersama teman-teman setiap hari, jadi hilang dengan sendirinya. Untuk orang yang terlalu suka ramai-ramai, hal itu sebenarnya tak terlalu jadi masalah. Tapi kadang memang terasa sepi sih. Kadang dari pagi sampai sore atau malam, “teman bicaraku” hanyalah buku dan buku. Tahan? Kadang ditahan-tahanin. Karena itu, aku suka mendengarkan radio dengan penyiar yang suka melucu. Kadang ada teman yang berbaik hati secuil waktunya disela untuk sekadar mengobrol hal yang remeh temeh. Tetapi yang lebih sering sih, ya sendiri saja. Di awal, ketika mengalami peralihan suasana berkantor dengan beberapa orang dalam satu ruangan menjadi sendirian saja di rumah, rasanya memang rada-rada aneh. Tetapi sekarang sih sudah biasa. Kesenyapan dan tidak ada kawan justru jadi suatu kenikmatan bagiku. Entah ya kalau orang lain, apakah bisa menikmati suasana sepi dan tidak ada kawan begini. Aku sih sekarang menikmatinya, loh.

Namun, yang jadi masalah adalah ketika aku kumat malesnya. Repot sangat ini. Apalagi kalau masih ada pekerjaan yang harus dikerjakan. Kalau dulu masih bekerja kantoran, kemalasan ini bisa diatasi dengan melihat teman-teman yang begitu rajin bekerja. Lah, kalau sendirian? Mau lihat siapa? Dulu, teman yang tak bisa diganggu karena sedang konsentrasi tingkat tinggi itu bisa menjadi penyemangat kerja loh. Kalau lihat teman kita rajin, kita bisa jadi ketularan rajin. Kan kita tidak hepi kalau teman kita naik pangkat duluan atau gajinya lebih berlipat padahal pekerjaannya tidak jauh beda dengan kita? :p

Jadi siapa yang bisa jadi penyemangat ketika kemalasan melanda? Para pedagang keliling yang lewat di depan rumah. Loh? Hehehe, memang begitulah. Sampai segitunya ya kalau tidak punya teman kantor? Eh, jangan memandang rendah mereka lo. Aku sering kagum dengan mereka. Di satu sisi, mereka itu juga bekerja sendiri. Lihat, abang penjual bakso itu kan mau tak mau harus mendorong gerobaknya sendirian keliling kampung. Bisa dibayangkan seperti apa rasanya kaki setelah berjalan keliling kampung seharian–setiap hari? Apalagi kalau matahari sedang ganas-ganasnya. Atau perhatikanlah tukang sol sepatu, dia berjalan keluar masuk kampung sambil meneriakkan jasanya sendirian pula. Rasanya aku belum pernah menyaksikan tukang sol sepatu yang jalan ramai-ramai. Repot nanti. Bisa menimbulkan persaingan tidak sehat. Nah, dibandingkan dengan aku, tantangan mereka tampaknya lebih besar. Semangat mereka yang besar untuk mengumpulkan rupiah demi rupiah itu membuatku malu. Mestinya aku pun meniru semangat mereka …. Jadi, ayo (aku) jangan malas yaaaa!