Sepotong Cerita Titu dan I Belog dari Balik Layar

Tahun lalu, pada bulan September, aku ikut workshop penulisan cerita anak yang diadakan Room to Read dan Provisi. Awalnya aku tidak terlalu berminat ikut karena dua tahun yang lalu aku sudah pernah ikut, bukuku sendiri yang berjudul Kue Ulang Tahun Widi sudah terbit, dan memenangi Second Prize Winner di ajang Samsung Kidstime Author’s Award, Singapore. Aku tidak punya ide. Tapi entah bagaimana aku dapat wangsit ide cerita dan akhirnya terdorong ikut audisi. Ndilalah ceritaku lolos audisi, jadi akhirnya aku berangkat. (FYI, mengikuti workshop penulisan cerita anak tersebut gratis, hanya saja kami harus lolos audisi. Kalau ceritamu dianggap bagus oleh panitia, kamu bisa ikut workshop. Jadi, ada unsur kerja keras dan keberuntungan agar bisa ikut workshop tersebut.)

Uniknya, aku bisa ikut workshop itu bersama Oni, suamiku. Kalau kupikir-pikir, lucu juga kami bisa ikut berdua. Kok bisa? Aku sendiri ya heran. Waktu Mbak Rina (dari Provisi) memberitahu bahwa naskah kami lolos dan bisa ikut workshop, yang ditelepon malah suamiku. Usai ditelepon, Oni bilang bahwa aku diminta mengirim data diri ke Provisi. “Loh, kok yang ditelepon kamu?” tanyaku ke Oni. “Naskahku lolos juga,” jawabnya. Astaga, selama ini aku tidak tahu kalau Oni ikut mengirim naskah audisi. Lah, kirain yang minat nulis cerita anak aku doang. Ternyata my roommate tertarik juga. Surprising! Dan aku menyadari kelemotanku karena rupanya waktu mengirim naskah audisi, aku tidak menyertakan form yang berisi data diriku. Duh! Dasar telmi.

Keikutsertaan kami di workshop itu menjadi semacam piknik buat kami. Lumayan kan bisa jalan-jalan sampai Lembang dan dibayari. πŸ˜€ πŸ˜€ Sudah lama nggak piknik soalnya. πŸ˜€ Hal lain yang menguntungkan adalah aku bisa meminjam laptopnya saat laptopku bermasalah. Untung banget, deh!

Workshop bersama Room to Read dan Provisi selalu mengasyikkan: menambah ilmu dan meluaskan jejaring. Buatku sendiri, dengan mengikuti workshop sekali lagi, aku jadi lebih memahami seluk beluk penulisan naskah picture book, terutama untuk anak-anak yang baru belajar membaca (buku level 1 dan 2). Tidak semudah yang kubayangkan dulu. Bikin otak melintir :p. Seperti biasa, kalau Oni ikut belajar, dia biasanya lebih mudeng ketimbang aku. Jadi, aku bisa tanya-tanya lagi sama dia kalau belum mudeng. πŸ˜€ πŸ˜€

Sepulang dari workshop, kami dibagi menjadi beberapa kelompok. Aku dan suamiku masuk ke grup yang didampingi Penerbit Kanisius, Jogja. Selain kami berdua, ada Yuniar Khairani dan Nancy Sitohang yang sekelompok dengan kami.

Setelah melewati masa revisi selama beberapa bulan yang cukup melelahkan, ditambah ikut field testing yang mengasyikkan, akhirnya buku kami jadi juga. Judulnya Titu dan Titi yang diilustrasi oleh Lyly Young. Sedangkan karya suamiku berjudul I Belog yang diilustrasi oleh Dewi Tri Kusumah.

Titu lagi baca buku diintip Tuti
Foto oleh: Mbak Flora.

 

I Belog yang lucu.
Foto oleh: Mbak Flora

Siang tadi, aku mendapat kiriman foto dari beberapa teman berkaitan dengan peluncuran buku kami di AFCC, Singapura. Naskah I Belog dipentaskan pada saat acara pembukaan peluncuran buku tersebut. Senang juga rasanya hasil jerih payah kami bisa mejeng di AFCC–walau kami tidak bisa datang ke sana dan menyaksikannya sendiri. Semoga lain waktu kami punya rejeki dan berkesempatan menghadiri AFCC. Selain itu–ini yang terpenting–semoga buku-buku kami bisa dinikmati anak-anak di Indonesia.

Titu dan I Belog mejeng bareng karya teman-teman yang lain.
Foto oleh: Mbak Flora

 

Pementasan I Belog
Foto oleh: Mbak Eva Nukman

Terima kasih buat teman-teman yang selalu mendukung, terutama Mbak Flora, Mas Widi, dan Mas Saras dari Kanisius. Terima kasih pada Lyly Young sebagai ilustrator yang telah menghidupkan tokoh Titu. Juga terima kasih atas kerja keras Alfredo Santos dari Room to Read, Mbak Rina dari Provisi. Salam literasi!

Hari Baik

Aku orang Jawa. Jadi, masih sering mendengar istilah “hari baik”. Hari baik untuk bepergian, untuk memulai bisnis, dan semacamnya, yang disesuaikan dengan weton atau hari lahir. Tapi biarpun aku orang Jawa dan sering mendengar istilah hari baik, jangan tanya padaku mengenai hari baik ya. Aku sama sekali tidak tahu.

Tapi hari ini aku merasa hari ini adalah hari baik. Aku merasa mengalami banyak keberuntungan hari ini. Semua berjalan lancar, hampir tak ada hambatan. Dan ada “kado-kado” sederhana yang membuatku tersenyum. Tidak, aku tidak berulang tahun seperti Mbak Imelda yang merayakan hari kelahirannya pada hari ini. Tapi entah mengapa sepertinya ada banyak kado menarik yang disodorkan kepadaku–tanpa kusangka-sangka.

Salah satu kado sangat istimewa yang kuterima adalah sebuah buku dengan tanda tangan penulisnya. Buku apa sih? Judulnya Abad Bapak Saya, karya Geert Mak, yang edisi bahasa Indonesianya diterbitkan oleh PT Suara Harapan Bangsa. Aku awalnya juga tidak tahu siapa Geert Mak itu. Tetapi kenapa ujug-ujug alias mendadak aku tertarik padanya sampai aku mendapatkan buku itu? Ah, ceritanya cukup panjang sebenarnya. Begini … awalnya adalah karena belakangan ini entah mengapa aku mulai menyukai buku-buku sejarah. Mungkin karena suamiku suka sejarah, jadi ceritanya, ini adalah minat yang menular–walaupun dia tentu lebih jago soal sejarah dari aku. Dan suatu siang, seorang teman, Mbak Retty, tiba-tiba menghubungiku via YM bahwa di Erasmus Huis akan ada lokakarya penulisan dengan penulis dari Belanda. “Menarik nih,” pikirku. Lagi pula dengan embel-embel “gratis”, makin bersemangatlah aku. Hehe. Tapi bagaimana caranya untuk ikut? Mbak Retty yang baik itu kemudian memberiku alamat email untuk pendaftaran plus link untuk mengetahui informasinya lebih lanjut.

Jadilah pagi ini aku ikut suamiku menembus kemacetan Jakarta untuk menuju Erasmus Huis. Hmm … cukup jauh sih sebenarnya. Dan biarpun dari rumah pukul 6 pagi, jalan raya yang paling dekat dengan rumahku sudah maceeeet. Jakarta … oh Jakarta! Tapi yo wis, aku nikmati saja kemacetan ini. Toh tidak tiap hari aku menghadapi kemacetan to? Akhirnya setelah melewati beberapa ruas jalan yang macet, mengisi perut dengan semangkuk soto, melanjutkan perjalanan dengan TransJakarta dengan sangat lancar, aku sampai di Erasmus Huis sekitar pukul 9. Setelah tanda tangan di daftar hadir, aku sempat melirik di meja seberang. Di situ berjejer buku berjudul Abad Bapak Saya setebal hampir 5 cm dan berukuran 32 x 15 cm. Wah, berapa harganya ya? Naksir berat pada pandangan pertama, apalagi itu buku sejarah berbalutkan sejarah keluarga Geert Mak, aku cuma membatin, “Duitku cukup nggak ya untuk beli buku itu?” Tapi rupanya hari ini sungguh-sungguh hari baik bagiku, buku yang kutaksir itu dibagikan cuma-cuma kepada para peserta! Huaaa… hampir saja aku melompat saking senangnya. Tapi ya malu dong, jaim dikit lah… Hihihi! (Di akhir acara itu, kulihat buku itu dijual seharga 80 ribu rupiah. Jadi, kalau buku itu diberikan cuma-cuma, sangat-sangat lumayan kan? :D)

Acara dimulai pukul 9.30. Peserta yang menurutku tidak terlalu banyak itu rupanya cukup antusias. Pertanyaan demi pertanyaan mengalir tak henti-hentinya. Jadi, ceritanya Geert Mak ini seorang jurnalis sekaligus sejarawan. Dan dia menulis buku ini dengan bahasa Belanda, bahasa ibunya. Buku yang dalam edisi bahasa Indonesia ini setebal 756 halaman, ditulis 15 tahun setelah ayahnya meninggal. Buku sejarah ini ditulisnya dengan menggabungkan sejarah keluarganya sendiri dengan sejarah Belanda pada abad ke-20. Cakupan buku ini cukup luas, mulai dari sejarah Belanda, sejarah Eropa, sejarah Indonesia, dan keadaan sosial budaya pada masa itu. Dalam buku ini dia bercerita soal timbulnya pengelompokan Katolik, Protestan dan Golongan Merah, krisis dan antisemitisme di tahun 30-an, dunia lain dari “Hindia kita”, perang di Eropa dan Asia, mentalitas pembangunan kembali impian tahun 60-an dan sifat penuh perhitungan sesudahnya. Buku ini ditulis dari sudut pandang keluarga yang biasa-biasa saja.

Sebagai seorang jurnalis kawakan, Geert Mak tidak menulis buku ini secara serampangan. Namanya juga buku sejarah, je …. Dia sudah pasti melakukan wawancara. Dan dia mengumpulkan artikel, berita koran yang terbit pada masa itu untuk mengetahui betul apa sih yang ada di benak orang-orang pada masa itu dan terutama ayahnya serta keluarganya. Baginya, aspek sejarah itu adalah apa pemikiran orang pada suatu masa serta mentalitas mereka. Dan karena ia memasukkan sejarah keluarga sendiri, dia juga mengumpulkan foto serta setumpuk surat-surat keluarganya. Tentunya dia sangat ketat dalam hal data untuk penulisan bukunya itu.

Geert Mak sendiri mengaku tak pernah mengira bahwa buku yang ditulisnya itu akan membawanya ke Indonesia dan duduk di depan kami. Buku ini sebenarnya ia tulis karena ia ingin menulis buku sejarah yang enak dibaca, mengingat saat ini banyak orang Belanda yang tidak mengetahui sejarah bangsanya sendiri. Dia sendiri memang suka menulis dan melakukan riset.

Pukul 12 acara usai. Dan kami disuguhi makan siang. Eh, sebelumnya aku mengantri mendapatkan tanda tangan di buku tulisannya itu, ding. Aku sepertinya berada di urutan terakhir pada antrian itu. Dan Geert Mak, saking antusiasnya, saat membubuhkan tanda tangan membuat robekan kecil di halaman depan di bukuku. Yah, tak apalah. Wong penulisnya sendiri yang merobekkannya. Hehe. Dimaafkan kok. Nanti tinggal aku tempel selotip saja supaya robekannya tidak makin lebar. Gitu aja kok repot…

Hari ini, selain bertemu Geert Mak dan Mbak Retty, aku sempat berkenalan dengan Dian seorang perempuan manis yang bekerja di sebuah kantor humas dan Pak Wendie yang mendirikan sekolah di bawah naungan Yayasan Keluarga Bunda, di Bekasi Selatan. Kami bertukar obrolan yang cukup mengasyikkan. Lalu, aku sempat juga ikut reriungan mengobrol dengan seorang bapak yang menjadi tour guide yang selalu bersemangat dan tampaknya pengetahuannya cukup luas. Well, bertemu dengan orang-orang yang bersemangat memang menyenangkan ya? Jadi, tak salah rasanya jika kusebut hari ini adalah hari baikku. πŸ˜‰ Lagi pula, setiap hari adalah baik, kan?

ki-ka: Pak Wendi, Geert Mak, Mbak Retty Hakim, aku
foto bareng Pak Wendi, Geert Mak, dan Mbak Retty Hakim (foto diambil oleh Dian dengan memakai kamera Mbak Retty :D)