Rombongan Unggas yang Jadi Tukang Bersih-bersih

Lama banget aku nggak ngeblog. Alasannya? Sering ke luar kota, tidak selalu terhubung dengan internet. Jadi yaaa, gitu deh. Oke, sekarang aku mau menulis tentang suatu hal yang mengingatkanku pada masa lalu, tetapi juga ada kaitannya dengan masa sekarang. Aih, ribet amat sih istilahnya. Oke deh, simak saja ya. 🙂

Sewaktu tinggal di asrama, salah satu fasilitas yang kami dapatkan adalah jatah makan tiga kali sehari. Jadi, tidak perlu kerepotan membeli makan di luar. Makanan yang disajikan kepada kami kadang menunya enak, sehingga jarang ada sisanya. Jika menunya enak, warga akan berbondong-bondong untuk antri makanan. Berbeda kalau menunya kurang disukai. Jika menunya kurang enak, banyak warga asrama yang ogah-ogahan untuk makan. Bahkan ada juga yang tidak makan di asrama lalu membeli makan di luar. Nah, biasanya saat menu yang dihidangkan kurang disukai, di tempat cuci piring akan banyak sekali makanan sisa. Jangan ditiru ya! Makanan sisa ini punya tempat sendiri, yaitu ember lebar yang besar. Jadi saat mencuci piring, makanan sisa itu tidak terbuang di wastafel.

Di halaman dalam asrama juga ada tempat pembuangan makanan sisa. Aku agak lupa bagaimana bentuknya. Yang jelas, makanan sisa di asrama itu tidak dibuang begitu saja. Kalau tidak salah, ada pegawai asrama yang membawanya. Dengar-dengar untuk pakan ternak. (Entah benar untuk pakan ternak atau tidak, aku kurang tahu. Barangkali teman-teman eks Syantikara bisa mengoreksinya jika aku keliru.)

Membuang makanan memang tidak baik. Tetapi makanan sisa kadang tak terhindarkan. Misalnya, saat kita sakit. Kadang kita sudah telanjur mengambil agak banyak, e … tahu-tahu perut masih belum bisa makan banyak. Jadi sisa deh makanannya. Aku sendiri berusaha untuk tidak menyisakan makanan. Masak secukupnya, ambil makanan secukupnya. Namun, meski demikian kadang-kadang masih ada saja makanan sisa. Biasanya sih karena salah perhitungan saat masak atau ambil makanan. Tahu-tahu makanan kok masih banyak ya? Padahal sudah kenyang, dan perut sudah tak muat lagi. Kalau dulu di asrama ada tempat untuk menampung makanan sisa, sekarang mau dikemanakan?

Di kontrakanku yang lama, urusan makanan sisa ini agak merepotkanku. Di sana semua lahan dibeton, tak ada tanah secuil pun. Ini mungkin khas perkotaan ya? Atau khas Jakarta? Entahlah. Yang jelas, di situ sering kudapati orang membeton halaman rumahnya. Nah, biasanya makanan sisa ini dibuang di tong sampah setelah aku taruh di dalam kresek. Kan tidak mungkin aku buang begitu saja ke dalam tong sampah, to? Sebenarnya aku merasa tidak enak membuang makanan seperti ini, tapi mau bagaimana lagi? Kulihat ada beberapa warga yang membuang sisa makanan di got, sehingga makanan sisa itu kemudian jadi rebutan tikus got dan kucing yang banyak berkeliaran.

Sebenarnya aku suka sebal melihat banyak kucing dan tikus berkeliaran. Kesannya kotor. Apalagi tikus-tikus itu besar-besar, hampir sebesar anak kucing. Hiii. Tetapi tampaknya keberadaan tikus dan kucing ini tidak bisa dihindari selama orang-orang masih membuang makanan sisa begitu saja di got atau di tempat sampah. Yang jelas, petugas kebersihan sering kali lebih lambat datangnya dibandingkan para kucing dan tikus. Ini memang merepotkan. Selain itu, biasanya makanan sisa yang dibungkus kresek itu menimbulkan bau yang tidak enak. Mungkin karena tidak bisa membusuk dengan sempurna (karena tertahan di dalam kresek), sehingga menimbulkan bau yang aduhai.

Nah, beberapa waktu lalu, ketika aku pulang kampung, kulihat setiap pagi ada rombongan unggas di sekitar rumahku. Jika aku atau kakakku membuka pintu dapur, mereka biasanya mulai berlari-lari ke arah kami. Kami selama ini memisahkan sampah organik dan nonorganik. Sampah organik kami buang ke lahan di samping rumah. Rupanya rombongan unggas ini menantikan sampah organik yang kami buang. Salah satu jenis sampah yang kami buang adalah makanan sisa atau potongan sayur yang hendak dimasak. Saat kami membuangnya, mereka selalu langsung berebut memakannya. Jadi, biasanya sampah organik itu tak sampai membusuk di tanah. Wong begitu kami buang, mereka berebut sampai banyak di antara mereka yang tidak mendapatkannya.

sebagian anggota rombongan unggas.

Di rumah kontrakanku sekarang, di halaman depan masih ada cukup lahan yang tidak tertutup beton. Di tanah ini, oleh penjaga kontrakan kami ditanami beberapa pohon pisang dan beberapa tanaman lain. Rupanya bapak penjaga kontrakan ini membuang sampah organik di lahan ini. Ia biasanya menumpuk beberapa sampah organik di bawah pohon pisang. Maksudnya buat pupuk, kali ya? 🙂 Dan di awal kepindahanku ke sini, aku meminta izin kepada bapak penjaga kontrakan untuk ikut membuang sampah organik di situ. Sampah yang aku buang di bawah pohon pisang itu memang membusuk dengan sendirinya dan tidak menimbulkan bau. Aku cukup senang dengan hal ini. Tetapi kadang-kadang aku jadi merindukan rombongan unggas yang menyambutku ketika membuang sampah organik di lahan samping rumah. 🙂

tempat pembuangan sampah organik di bawah pohon pisang

Urusan makanan sisa, sampah organik, lahan yang tidak tertutup beton, dan unggas ini membuatku berpikir, seandainya setiap rumah masih punya sedikit lahan dan pelihara ternak seperti bebek, ayam, atau angsa, barangkali masalah sampah organik bisa diatasi dengan mudah ya? Atau perlu usul ke Pak RT untuk pelihara ayam/bebek bersama? Jadi, sampah organik teratasi dan kita bisa makan ayam dengan murah?

Advertisements

Upin Ipin, Fizi, dan Pengangkut Sampah

Upin dan Ipin barangkali merupakan film cerita anak-anak yang cukup fenomenal saat ini. Aku sendiri tidak tahu sampai seberapa jauh film ini sudah merasuk pada anak-anak zaman sekarang. Namun yang jelas, saat ini kerap kali aku melihat beraneka mainan atau buku dengan gambar tokoh Upin dan Ipin. Sebenarnya, aku tidak terlalu suka dengan menjamurnya tokoh Upin dan Ipin di berbagai mainan anak-anak itu. Tetapi harus kuakui, aku menikmati menonton film anak-anak tersebut. Lucu, cerdik, dan khas anak-anak adalah kesan yang menempel setiap kali usai menyaksikan film tersebut. Walaupun satu film sudah diputar berulang kali, aku tak terlalu bosan menontonnya. Hmm, barangkali karena aku tidak punya televisi ya? Jadi aku menontonnya pun jarang-jarang, hanya pada saat mudik, berkunjung ke rumah teman atau saudara yang punya televisi

Salah satu adegan film yang aku ingat betul adalah ketika Cik Gu (Bu Guru) memberi tugas kepada Upin Ipin serta serta teman-temannya di seluruh kelas untuk menggambarkan cita-cita mereka. Yang aku ingat, Jarjit menempelkan gambar polisi yang menangkap pencuri. Apakah Jarjit bercita-cita jadi polisi? Oh, tidak. Lalu, dia jadi pencurinya dong? Tidak juga. Rupanya dia ingin jadi pembawa berita di televisi. Ceritanya, ia akan mengabarkan kejadian semacam itu di televisi. Cara penyampaian yang unik. Lalu keunikan yang kedua adalah cita-cita Fizi. Dia menggambarkan dirinya sedang naik di belakang mobil pengangkut sampah. Awalnya, tentu dia ditertawakan oleh seluruh kelas. Tetapi Cik Gu dengan bijaknya memberi penjelasan bahwa cita-cita Fizi itu mulia. Coba kalau tidak ada petugas pengangkut sampah? Apa jadinya lingkungan kita? Bakalan bau dan jelas tidak sehat.

Siang ini baru saja gerbang halaman depan rumahku dibuka. Rupanya tukang sampah datang. Lelaki berkaus cokelat itu mengambil kantong-kantong plastik berisi sampah dari tong sampah di dekat pohon kelapa dekat pagar. Kantong-kantong itu ia kumpulkan dalam satu keranjang bambu. Setelah itu, ia menyapu bagian dalam tong sampah dan membuang air hujan yang menggenang di dalamnya. Tak sampai 10 menit ia melakukan itu semua. Kemudian ia membawa sampah-sampah kami dalam gerobak sampahnya.

Aku tak tahu, apakah Fizi pernah menyaksikan petugas pengangkut sampah yang biasa bertugas di lingkungan tempat tinggalku. Hmm, barangkali bukan Fizi secara literal ya? Maksudku, sang penggagas cerita tersebut tentunya. Cerita Upin dan Ipin memang buatan Malaysia, dan barangkali di sana petugas pengangkut sampah tampak lebih rapi. Barangkali, lo ya? Wong aku belum pernah ke Malaysia. 🙂

Aku rasa, dari sekian banyak anak yang bersekolah di Indonesia tidak ada yang bercita-cita menjadi petugas pengangkut sampah seperti lelaki yang kusaksikan siang ini. Mungkin, pengangkut sampah itu pun tidak menghendaki anaknya meneruskan pekerjaan ayahnya. Siapa sih yang ingin berkotor-kotor mengangkut sampah? Kupikir, semulia-mulianya pekerjaan mengangkut sampah, pekerjaan itu dianggap pekerjaan kelas bawah.

Bagaimanapun, sampah itu perlu dikelola. Banyak hal yang aku pikir bisa dilakukan untuk itu. Yang paling gampang adalah dengan memilah sampah. Dengan memilah sampah itu saja, petugas pengangkut sampah kupikir sudah cukup terbantu pekerjaannya. (Dari pengalamanku, dipisahnya sampah organik dan nonorganik membuat bak sampah menjadi relatif tidak berbau.) Yang kedua barangkali para petugas pengangkut sampah ini bisa lebih diberdayakan lagi. Mereka tak hanya mengangkut sampah, tetapi bisa membuat bank sampah. Bank sampah adalah suatu wadah di mana warga bisa mengumpulkan sampah nonorganik dan mereka bisa mendapatkan uang (karena sampah anorganik itu bisa didaur ulang dan menghasilkan uang). Soal bank sampah ini bisa dilihat di sini.

Aku berharap kelak ada film (anak-anak) yang menggambarkan tentang pengolahan sampah. Jadi Fizi tak hanya bercita-cita menjadi pengangkut sampah, tetapi menjadi pengolah sampah. Semoga pula orang-orang yang kini telah mengelola sampah terus menjadi inspirasi bagi kita. Dan kita semua akhirnya menjadi lebih bijak dalam memandang dan mengurus sampah.