Kamu Ingin Menjadi Penerjemah?

Kemarin aku ikut seminar penerjemahan di kampusku dulu. Salah satu pembicara mengompori para peserta supaya menjadi penerjemah. Alasannya menjadi penerjemah itu asyik. Apalagi kalau bisa kerja di rumah. Bisa bekerja sambil pakai daster, mau kerja di mana saja bisa, dan konon penghasilannya besar. Bagi sebagian penerjemah, memang begitu adanya. Zaman dulu, untuk membeli mobil baru, cukup menerjemahkan tiga buku. Tiga buku saja! Iya, benar. Menggiurkan, bukan? Sekarang? No comment.

Masalahnya, bagaimana caranya? Benarkah begitu?

Menurutku tak ada kesuksesan dan kemakmuran yang tidak disertai kerja keras. Apa pun itu. Termasuk kalau kamu jadi penerjemah. Jangan terlalu mudah percaya bahwa menjadi penerjemah adalah jalan mudah untuk kaya. Jangan mudah percaya bahwa menjadi penerjemah lepas itu hidupmu bakal santai. Kalau mau sukses, ya jangan santai. Di mana-mana hukumnya begitu.

Menurutku jadi penerjemah itu untung-untungan. Kalau memang jalanmu di situ, ya jadilah. Kalau tidak, ya susah juga. Kenapa begitu? Pertama-tama karena tidak ada jalur yang jelas untuk menjadi penerjemah. Kalau kamu mau jadi dokter, jelas ada sekolahnya, ada jalurnya. Kalau kamu mau jadi pengacara, jelas ada jalurnya juga. Kalau penerjemah? Pernah dengar ada sekolah vokasi untuk penerjemah? Setahuku yang ada hanya kursus. Setelah kursus, belum tentu kamu bakal langsung bisa praktik dan memasang tarif tinggi. Malah kemungkinan calon klienmu akan menawar tarifmu serendah mungkin. Jangan tersinggung. Banyak kok yang mengalami. Penerjemah senior saja sering diminta menurunkan harga, kok kamu penerjemah kemarin sore mau pasang harga tinggi. Siapa elu? Untuk mengawali karier, kamu bisa iseng menerjemahkan buku atau artikel lalu kamu pajang di akun media sosial atau blog pribadimu. Hitung-hitung promosi dan pamer karya. Namun, kalau kamu berharap bisa langsung dapat klien yang bisa memberimu honor 200 ribu per lembar, rasanya berdoa dan ikut kursus saja belum cukup. Itulah yang kumaksud dengan kerja keras. Jalannya berliku. Rata-rata penerjemah yang kukenal itu tersesat. Awalnya tidak berniat menjadi penerjemah, e… ternyata ada yang menawari pekerjaan. Mulanya hanya satu-dua orang. Lama-lama banyak. Itu yang kumaksud dengan untung-untungan. Kamu mesti sigap menangkap peluang.

Jika ada yang bertanya padaku, bagaimana caranya menjadi penerjemah buku? Jawaban paling gampang adalah melamarlah ke penerbit. Sertakan contoh hasil terjemahanmu dan teks aslinya. Masalahnya, belum tentu lamaranmu bakal langsung ditanggapi. Yang melamar ke penerbit tidak hanya kamu. Buanyaaak! Kamu mesti bersaing dengan para pelamar lain. Belum lagi kalau surat lamaranmu terselip. Atau mungkin sang editor tidak sempat membuka email lamaranmu. Selain itu, penerbit pasti sudah punya penerjemah langganan. Iya kalau hasil terjemahanmu nanti sesuai dengan keinginan editor. Kalau tidak? Analoginya: Kamu punya penjual kue langganan. Biarpun ada toko kue baru yang promosinya gencar, kamu mungkin tetap lebih suka beli kue di penjual kue langgananmu. Kamu sudah tahu kualitas kuenya, harganya juga bersahabat.

Ada yang bilang untuk menjadi penerjemah ikutlah asosiasi ini, jadilah member di direktori anu, dan sebagainya… dan seterusnya. Masalahnya, setelah kamu jadi anggota, apakah kamu langsung dapat terjemahan dengan bayaran yang bikin para pegawai kantoran iri? Belum tentu. Kamu tentu harus bisa tampak menonjol sebagai anggota ini dan itu. Inilah yang kumaksud dengan kerja keras. Supaya tampak menonjol dan bisa mendapat kepercayaan, kamu mesti kerja keras. Kamu mesti kreatif. Terserah bagaimana caramu. Mau jadi penerjemah tanpa dibayar dulu kek, bikin website yang postingannya menarik kek, sering-sering menjawab pertanyaan yang dilontarkan di grup kek, sering posting contoh hasil terjemahan kek… terserah. Jangan salah, banyak kok penerjemah yang tidak menjadi anggota asosiasi. Mereka lancar-lancar saja ordernya, tuh. Ada pula yang bilang bahwa dengan menjadi anggota ini atau itu, order akan mengalir. Apa iya? Belum tentu. Bisa juga kamu dicueki. Lagi-lagi, jangan tersinggung ya. Memang begitulah dunia. Iklan selalu terdengar manis.

Ya, untuk jadi penerjemah bisa lewat jalur mana saja. Itu karena belum ada jalur khusus yang sudah terstruktur–begitu menurut pengamatanku sejauh ini. Menjadi penerjemah tersumpah saja sampai sekarang belum jelas jalur dan caranya, kok. Jadi penerjemah itu ibarat kamu ingin jualan kue. Caranya bisa macam-macam. Pokoknya asal para calon pembelimu itu tahu bahwa kamu pembuat kue yang wuenak. Kamu bisa menyebar brosur, bisa jualan kue di depan rumah, bisa kirim kue gratisan ke blogger yang jadi buzzer lalu minta agar kuemu dipromosikan lewat blognya. Terserah, deh. Intinya, kamu harus kerja keras dan itu tidak mudah.

Jadi, jangan tergiur setiap ucapan manis tentang nikmatnya menjadi penerjemah. Semua butuh kerja keras. Sembari kamu berusaha untuk menjadi penerjemah, tetap lakukan hal lain yang kamu sukai, misalnya membatik, memasak, menjahit, menyulam, merajut, jalan-jalan, menulis, dan lain-lain. Jadi, kalau kamu tidak berhasil menjadi penerjemah, kamu tidak galau. Siapa tahu kamu malah sukses menjadi penulis yang bayarannya berkali lipat daripada penerjemah. Siapa tahu hasil rajutanmu lebih laku daripada terjemahanmu. Ya, kan? Ya, kan? Ikutlah kegiatan di luar rumah. Dengan begitu, banyak orang lebih mengenal kamu plus kemampuanmu.

Menurutku menjadi penerjemah hanyalah salah satu pilihan jalan hidup. Masih banyak pilihan lain–yang juga membahagiakan dan memberikan rejeki. Kalau ada yang bilang jadilah penerjemah karena bisa begini dan begitu… tetaplah kembali ke nasihat lama: Semua itu butuh kerja keras. Ora usah gumunan, ojo penginan–jangan mudah terkesima, jangan gampang pengin ini dan itu.

Kamu tetap ingin menjadi penerjemah? Bekerja keraslah. Carilah jalanmu–entah bagaimana caranya. Jadilah kreatif. Kalau setelah jungkir balik kamu merasa tidak bisa menjadi penerjemah sukses, jangan galau. Rejeki itu ada di mana-mana.

Aku sih penginnya jalan-jalan, bikin sabun, masak, nulis picture book. Banyak maunya, ya? Emang.

Ketika Kembali ke Kampus Lagi…

Hari ini akan kucatat sebagai hari yang penting dalam hidupku. Hari ini pertama kalinya aku diundang untuk berbagi pengalaman sebagai penerjemah dan penulis di kelas mahasiswa S2 Kajian Bahasa Inggris Sanata Dharma.

Aku sebenarnya tidak jago-jago amat dalam menerjemah. Pengalamanku sedikit sekali dibandingkan para begawan penerjemah di luar sana yang telah menghasilkan segepok dolar. Aku sempat bertanya-tanya, bakalan grogi tidak ya berhadapan dengan teman-teman mahasiswa? Aku hampir tidak pernah mengajar. Pengalamanku sebagai guru les hanya satu kali dan aku merasa tidak cocok sebagai guru. Aku merasa tidak bisa mengajar dan kurang cerdas menghadapi pertanyaan yang tidak terduga.

Beberapa hari sebelumnya aku sudah diberi kisi-kisi apa saja yang perlu kubahas di kelas tersebut. Aku sempat browsing dan mencatat sedikit poin-poin yang perlu kusampaikan tadi pagi sebelum berangkat. Kelas dimulai pukul 11 dan aku mesti menemui bapak dosen. Jadi, aku mesti berangkat lebih awal. Sempat terbayang, bagaimana kalau tengah-tengah kelas aku lapar? Ooow… tak kubayangkan jauh dari kulkas dan dapur. >,<

Sebelum ke Sanata Dharma aku mampir ke Kanisius menemui editor untuk membahas nasib naskahku. Beberapa komentar yang kuterima tentang naskahku yang semata wayang itu memang sempat membuatku baper dengan suksesnya. Namun, pertemuan dengan editor hari ini membuatku sedikit lega.

Oke, balik ke urusan kampus. Aku pun menuju kampus. Saat mendekati kampus, aku merasa semacam “pulang” ketika menghirup aroma khas bunga mahoni (?). Ya, semacam itulah. Bagi yang pernah kuliah di Sadhar kurasa bisa paham aroma khas itu. Wangi lembut dan segar. Selain itu untuk mengantisipasi kelaparan, aku mampir beli bakso Dab Supri di kantin. Suasana kampus Realino yang sudah cukup kukenal mengurangi sedikit rasa grogiku.

Pada awal sesi berbagi pengalaman itu, aku menceritakan bagaimana aku bisa kesasar menjadi penerjemah. Ya, aku menjadi penerjemah karena aku menghindar menjadi guru. Begitu lulus kuliah, lowongan yang banyak muncul adalah lowongan untuk menjadi guru, lowongan kerja di Jakarta, dan lowongan di luar Jawa. Ketiganya adalah hal yang kurang menarik buatku. Aku tidak suka menjadi guru, aku malas pergi ke Jakarta, dan aku tidak membayangkan jika terdampar di luar Jawa. Cemen? Iya. Haha.

Karierku sebagai penerjemah dimulai ketika aku menjadi penerjemah inhouse di Gloria (Renungan Harian). Adapun aku mulai menikmati uang dari menulis adalah ketika aku sempat menulis di majalah keluarga Familia (Kanisius) dan ketika tulisanku di web Glorianet dibukukan.

Pertanyaan yang kuterima setelah berbagi pengalaman itu adalah: Bagaimana jika kita yang bukan “siapa-siapa” ini bisa mendapat orderan yang lancar?

Begini, penerjemah itu macam-macam bidang keahliannya. Mau jadi penerjemah di bidang apa? Mau ahli mengalihbahasakan teks bidang hukum, medis, teknik? Macam-macam. Aku pada awalnya banyak bergelut dengan teks rohani, lalu ke fiksi, lalu materi yang umum-umum saja. Pengalamanku sebagai editor inhouse di Gloria sangat membantuku mempertajam keterampilan alih bahasa plus menambah jejaring tentunya. Maka untuk menjawab pertanyaan di atas, aku menyarankan pada mereka yang tertarik sebagai penerjemah untuk pertama-tama melamar sebagai penerjemah di suatu instansi. Ini adalah cara cepat untuk mendapatkan pengalaman. Kurasa ada saja instansi yang membutuhkan orang-orang baru dan masih ingin belajar. Kedua, menjadi anggota di ProZ.com atau Translatorcafe.com. Selain itu, sekarang banyak website yang menjadi perantara freelancer dan end client atau agensi. Ketiga, jadikan akun media sosial kita sebagai etalase yang baik sehingga orang lain mengetahui keterampilan yang kita miliki. Keempat–sayangnya ini lupa kusebutkan–menjadi penerjemah volunter.

Pertanyaan lain yang juga kuingat betul adalah: Apa tips untuk menulis dan membuat buku sampai bisa terbit? Ini pertanyaan klise, tapi menarik. Untuk menjadi penulis yang baik, pertama-tama perbanyak bacaan. Bacaan itu ibarat makanan bagi otak. Soal teknik menulis itu bisa dipelajari dengan cepat jika kita memperbanyak bacaan. Kedua, miliki pembaca pertama (first reader) yang bisa diandalkan. Mereka sangat membantu dalam memberi masukan soal tulisan kita. Mana yang perlu dipangkas, mana yang perlu dieksplorasi lebih dalam, dll. Ketiga, kenal dengan editor secara langsung. Ini agak sulit. Tetapi bukan tidak mungkin. Sekarang zamannya medsos. Untuk kenal dengan editor bisa dengan aktif di grup-grup penulisan yang banyak bertebaran di medsos. Ada saja kok editor yang mencari penulis lewat grup di medsos. Jika kita kenal dengan editor, kita bisa berdiskusi tentang naskah kita langsung dan memolesnya sedemikian rupa sehingga kemungkinan naskah kita dilirik lebih besar.

Setelah sesi sharing pengalaman ini, aku sempat berbincang dengan bapak dosen. Pada kesempatan inilah aku menyampaikan beberapa hal yang berkaitan dengan dunia penerjemahan. Misalnya tentang pentingnya ada kursus penerjemahan di kampus. Ini adalah salah satu cara strategis untuk memperbaiki kualitas penerjemah dan nantinya akan meningkatkan kualitas hasil terjemahan secara menyeluruh (termasuk soal tarif dan kebijakan pemerintah–menurutku).

Ya, bagiku hari ini adalah hari yang penting. Hari ketika aku kembali ke kampus lagi. Yang kubagikan hari ini tidak banyak, tetapi kuharap bisa berguna bagi teman-teman yang mendengarkan pengalamanku tadi.

Seminggu Ini…

Sebetulnya aku tidak punya topik khusus untuk kutulis di blog. Tidak ada resep yang ingin kubagikan. Sebetulnya sih kalau soal resep, itu adalah catatan untuk diriku sendiri yang pelupa. Kalau ingin mengulangi masakan tersebut, tinggal buka blog. Lagi pula, toh resep masakan yang kubagikan itu biasa saja. Orang lain pasti lebih jago memasak ketimbang aku. Eh, ya balik ke soal menulis blog tanpa topik ini. Aku sebetulnya mau nulis apa, juga bingung. Tapi kok rasanya pengin nulis saja. Semacam ngudarasa. Semacam melemaskan otot jari lalu memajang apa yang ada di kepalaku saat ini.

Hmm… sepertinya aku mau cerita yang biasa-biasa saja. Jumat lalu (24 Oktober) aku ke Bandung untuk ikut acara bersama teman-teman penerjemah buku hari Sabtunya. Acara ini sebetulnya digagas ketika beberapa teman penerjemah mengobrol dan ingin adanya suatu kegiatan yang cukup rutin untuk menambah wawasan para penerjemah buku. Selama ini dirasa kurang adanya pelatihan khusus untuk penerjemah buku. Memang sudah ada HPI yang beberapa kali mengadakan pelatihan penerjemahan, tapi kurang spesifik untuk penerjemah buku. Barangkali itu terjadi karena penerjemahan buku dikenal kurang menghasilkan uang dalam jumlah banyak (dibandingkan dengan penerjemahan dokumen yang sehalaman saja bisa menghasilkan uang lelah seratusan ribu). Di mana-mana ada gula ada semut, bukan? Sudah hukum alam barangkali ya. Singkat kata, acara kami berlangsung lancar. Jika ingin tahu lebih banyak tentang acara ini, Teh Rini sudah menuliskan lapantanya di sini.

Di Bandung kami beramai-ramai menginap di rumah Rere. Rumah Rere yang besar cukup menampung kami berdelapan (Uci, Mbak Dina, Meggy, Lulu, Mbak Mei, Mbak Dini, aku dan suami). Seru juga sih, karena kami bisa mengobrol dan haha hihi sampai tengah malam. Yang seru juga adalah suamiku bertemu dengan suami Mbak Femmy. Mereka berdua dulu satu kelas waktu kuliah di Bandung. Kami baru tahu mereka dulu sekelas hanya terpaut beberapa hari sebelum kami ke Bandung. Jadi, saat itu yang temu kangen (dan gosip-gosip) bukan hanya para penerjemah buku, tapi juga suami dua penerjemah. 😀

Deretan sebelah kiri ke belakang: Lulu, Meggy, aku, Uci, Rere. Deretan kanan ke belakang: Mbak Mei, Mbak Dina, Mbak Dini, Oni, Anais.
Deretan sebelah kiri ke belakang: Lulu, Meggy, aku, Uci, Rere. Deretan kanan ke belakang: Mbak Mei, Mbak Dina, Mbak Dini, Oni, Anais.

Sepulang dari Bandung, hari Minggunya, aku tidak bisa bangun siang dan berleha-leha di rumah karena mesti melayat Reni. Perjalanan ke rumah Reni cukup lancar. Hampir tidak kena macet. Berkat google maps, aku berhasil menemukan rumah Reni. Dulu aku pernah ke sana sekali waktu doa arwah untuk ibunya. (Yah, kenapa ke sana lagi justru untuk melayat kamu, Ren?) Entah kenapa waktu di depan peti, aku tidak bisa menangis. Sedih sih, tapi seperti ada yang menyumbat air mata. Di rumah Reni aku bertemu Sinta (Syantikara ’98). Dia sengaja datang dari Jogja untuk melayat Reni. Mungkin rasa kehilangan Sinta lebih besar daripada aku karena dia dulu sempat satu unit dengan Reni (di unit atas Syantina) selama tiga tahun. Aku tidak ikut misa requiem karena masih capek sekali setelah dari Bandung dan tiba di rumah sekitar pukul 1 tengah malam. Plus agak-agak lapar. Jadi, daripada malah sakit, aku dan suamiku memutuskan untuk pulang.

Hari-hari yang kulalui dalam seminggu ini bisa dikatakan tidak ada yang istimewa. Semua berjalan biasa. Misa Minggu sore, ke pasar, memasak, menerjemah, dan… oya, aku potong rambut. Setelah satu tahun lebih aku memanjangkan rambut hingga sebahu, akhirnya aku memutuskan untuk memendekkan rambut. Alasannya: Pengin ganti suasana. Reni meninggal dan beberapa waktu lalu aku sakit (hanya flu, sih) membuat suasana hatiku agak gimanaaa gitu. Lagi pula, beberapa hari ini cuaca panas sekali. Rasanya kalau berambut pendek, lebih praktis dan tidak perlu diikat supaya tengkuk tidak gerah. Sebetulnya agak sayang juga memotong rambut. Tapi toh rambut bisa panjang kan, jadi kalau mau memanjangkan tinggal memupuk kemalasan pergi ke salon. 😀

Aku senang seminggu ini baik-baik saja. Tidak ada yang istimewa adalah keistimewaan tersendiri. Bagiku yang biasa-biasa saja itu membahagiakan karena itu berarti aku cukup sehat, bisa beraktivitas, dan bisa berinteraksi dengan beberapa teman. 🙂

*Foto meminjam dari Lulu.

Bekerja di Rumah Itu … Menyenangkan :)

Kira-kira sudah empat tahun ini aku resmi bekerja di rumah. Seingatku, kira-kira di bulan seperti ini, pada tahun 2008, aku mengundurkan diri dari tempat kerjaku. Barangkali itu akan menjadi satu-satunya kantor tempat aku pernah bekerja. Sejak aku mengundurkan diri, aku memantapkan diri menjadi pekerja serabutan lepas, terutama dengan menekuni menjadi penerjemah buku dan editor lepas. Semua pekerjaanku itu kukerjakan di rumah.

Pada awal-awal aku mulai bekerja di rumah, aku rada-rada gimanaaa gitu. Campuran antara senang dan agak-agak sedih. Senang karena akhirnya aku tidak harus bangun pagi, tidak harus buru-buru bersiap untuk masuk kantor, tak perlu lagi menembus jalan yang padat di pagi hari. Enak kan? Tetapi ada acara sedihnya juga ketika aku sadar bahwa ternyata aku sendirian di rumah dan mesti bekerja (sendiri) pula. Huh. Dulu biasanya setiap hari bertemu teman seruangan, ada teman teng-teng crit (tenguk-tenguk crita = duduk-duduk sambil bercerita), bisa bergurau dengan teman. (Dulu ada suatu masa ruanganku itu dipenuhi orang-orang yang suka guyon, terutama sejak ada mc sekaligus “pelawak gadungan” di ruanganku. Entah bagaimana sebenarnya perasaan atasanku dulu terhadap anak-anak buahnya yang kadang tak tahu aturan kalau tertawa. :D) Kalau dulu aku bisa dengan mudah tanya ini dan itu ke teman-teman seruangan, sekarang mau tanya siapa coba? Tanya sama tembok kok rasanya kaya pemain sinetron. 😀

Saat masih di Jogja, semua rasa yang campur aduk itu bisa kuatasi dengan mudah. Toh aku masih bisa main-main ke kantor lamaku (walaupun sebenarnya lama-lama nggak enak juga kalau keseringan main dan akhirnya aku jadi agak-agak tidak mudeng mendengar mereka mengobrol, karena kehilangan konteks). Begitu aku pindah ke Jakarta, ternyata tidak semudah itu untuk mulai bekerja di rumah sendiri. Rasanya aneh. Berada di lingkungan baru, rasanya membuatku betul-betul hampir tak punya teman. Kasihan ya aku hihihi. Untung saja waktu itu ada teman yang rumahnya hanya berjarak tiga gang dari tempatku. Tentu saja, waktu itu ada suamiku sih. Tapi dia kan mesti bekerja. Dia berangkat pagi dan waktu itu pulang malam karena kuliah malam. (Kalau sekarang sih, sore atau petang sudah di rumah.) Dan waktu itu aku merasa sangat “ditemani” oleh radio. Mendengarkan radio benar-benar menghibur. Sampai sekarang aku merasa para penyiar itu adalah teman yang baik. Mereka ngomoooong aja dan aku senang-senang saja mendengar mereka bicara.

Lama-lama aku jadi terbiasa bekerja sendirian. Hanya berteman dengan kamus dan buku yang sedang kukerjakan, plus internet tentu saja. Bisa dibilang aku tidak bicara sama sekali sejak suamiku berangkat kerja sampai dia pulang–kecuali ada telepon masuk. Sisanya, ngomong dengan diri sendiri. 😀 Aneh ya? Hehehe. Tapi aku enjoy saja sih. Sekarang justru tidak terbayang kalau aku mesti bekerja kantoran lagi, bekerja bersama beberapa orang dalam satu ruangan.

Yang jadi “teman” kerjaku selama ini–selain kamus dan buku yang sedang kukerjakan, adalah para penyiar yang dengan rajinnya cuap-cuap di radio. 🙂 Dan sekarang berkat internet, teman bisa datang dari mana saja. Teman-teman blogger, teman-teman di FB, teman-teman chatting, semuanya memberi warna hari-hariku. Yang membuatku senang adalah beberapa waktu lalu aku diundang temanku untuk masuk grup penerjemah-editor buku. Rasa-rasanya aku seperti mendapat teman-teman baru dalam waktu singkat. Di situ kami bisa bertanya apa saja. Bagaimanapun, kita memang perlu teman untuk dimintai pendapat soal kata atau kalimat yang membuat bingung kalau dipikir sendiri. Kadang aku menyimak saja apa yang sedang didiskusikan. Mengasyikkan.

Kalau aku pikir-pikir, ada beberapa hal menguntungkan yang kudapat dengan bekerja di rumah:
– Bisa tidur siang. Walaupun tidak setiap hari tidur siang, tapi kalau pas lagi capeeek banget, aku bisa tidur siang sebentar.
– Bisa bikin jus atau makan buah semauku. Kalau di kantor, mana bisa bolak-balik ke kulkas ambil buah?
– Bisa ngemil sepuasnya. 🙂
– Tak perlu bermacet-macet ria untuk menuju tempat kerja.
– Bisa mandi siang (hahahaha!)
– Tak perlu beli baju kerja. Pakai kaus butut nan adem pun tak ada yang protes. :p
– Kalau mau cuti, tinggal ngomong di depan cermin 😀
– Bisa ngeblog di sela-sela jam kerja :D. (Tapi kalau sedang banyak pekerjaan, aku kadang tidak bisa mikir untuk membuat postingan baru.)

Sisi tidak enaknya:
– Sering dianggap tidak punya pekerjaan, jadi bisa disuruh-suruh kapan saja. Laaah … kalau deadline di depan mata, kan tidak bisa ke mana-mana.
– Mengusahakan bonus tahunan sendiri hihihi. Bercanda ding. Maksudnya, gaji atau honor itu tergantung sepenuhnya pada usaha kita sendiri. Tapi sejak aku bekerja sendiri, aku betul-betul belajar tentang “misteri rejeki.” (Ini termasuk sisi tidak enak atau sisi enaknya ya? Bingung deh.)

Sudah ah, cukup dua saja sisi tidak enaknya … 😀 (Biar pada pengin bekerja sendiri di rumah. Hehehe.)

Aku kadang bertanya-tanya, seberapa banyak orang yang bekerja sendiri di rumah seperti aku? Apakah mereka senang? Menurutku, kalau kita menyukai apa yang kita kerjakan, itu menyenangkan kok, walaupun mesti bekerja sendiri. 🙂