Seminggu Jadi “Pekerja Jakarta”

Bulan ini blogku ini “berulang tahun”. Mestinya aku justru lebih banyak nulis di blog ya. Tapi aku  malah jarang menampilkan tulisan baru. Sebenarnya ini bermula karena koneksi internetku sedang tidak bersahabat. Beberapa kali aku bahkan tidak bisa membuka blogku sendiri. Aku sempat terpikir untuk ganti provider. (Kasih info dong provider mana yang kenceng koneksinya dan tarifnya lumayan bersahabat. :)) Sebetulnya kalau niat, bisa saja aku ke kafe yang tidak terlalu jauh dari rumah dan numpang pakai wifi. Tapi aku sedang tidak niat dan tidak sempat. Uh, benar-benar pemalas ya! Tapi, tidak sempatku itu juga ada alasannya. Minggu lalu selama satu minggu (mulai tanggal 8-13 Oktober) aku icip-icip jadi “pekerja Jakarta”. Tidak, aku tidak jadi pekerja kantoran kok. Tepatnya aku ikut lokakarya penerjemahan sastra di Erasmus Huis, Kuningan, Jakarta.

Karena ikut lokakarya itu, aku jadi bisa merasakan seperti apa rasanya berangkat pagi dan sampai rumah ketika matahari sudah habis masa tayangnya. Ternyata lumayan capek, ya! Sebetulnya, jarak dari rumah ke tempat lokakarya itu tidak terlalu jauh. Itu untuk ukuran Jakarta. Tapi separuh perjalanan ke sana mesti melewati beberapa titik macet. Sebelumnya juga mesti ikut mengejar bus. Hari pertama aku tidak dapat tempat duduk. Dan rasanya berdiri di dalam bus yang jalannya merayap itu aduhai banget. Maka hari berikutnya aku mesti bangun lebih pagi jadi bisa bersiap-siap lebih awal. Di saat seperti itu aku bersyukur banget bisa bekerja dari rumah saja. 🙂

Pengalamanku berangkat pagi-pulang sore seminggu kemarin memelekkan mataku tentang cerita biadabnya lalu lintas Jakarta di pagi dan sore hari. Kemacetan itu memang rasanya tidak masuk akal. Kendaraan merayap, paling hanya jalan 10-20 km/jam. Kuamati kemacetan itu penyebabnya sepele: kendaraan yang parkir di bahu jalan, angkot ngetem, galian di jalan. Selain itu kendaraan pribadi begitu banyak sehingga rasanya tak tertampung di jalanan yang luas dan panjangnya segitu-gitu saja. Hal itu salah satunya disebabkan oleh kendaraan umum kondisinya memprihatinkan, plus jumlahnya yang tidak sebanding dengan penumpang yang membludak.

Yah, meskipun perjalanan pulang pergi ke tempat lokakarya membuatku cukup capek, aku senang bisa ikut kegiatan itu. Yang jelas, di situ selain menambah teman, aku bisa menambah ilmu dalam menerjemahkan. Di situ kami bersama-sama menerjemahkan teks nukilan novel Dover karya Gustaaf Peek. Aku masuk dalam kelas penerjemahan relay bahasa Belanda-Inggris-Indonesia. Maksudnya, teks aslinya adalah bahasa Belanda, selanjutnya diterjemahkan dalam bahasa Inggris, dan dari situ diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Kelasku berisi 11 orang dengan 1 orang mentor, Mas Anton Kurnia. Kami mendiskusikan makna kalimat dalam teks bahasa Inggrisnya dan tiap pilihan kata bahasa Indonesia yang hendak kami pakai dalam terjemahan. Yang “nikmat” adalah selama proses itu kami “dikurung” bersama Mas Gustaaf Peek yang ganteng dan penerjemah Belanda-Inggris, David Colmer. Kehadiran David dan Gustaaf membuat kami bisa bertanya apa saja tentang teks yang ada di hadapan kami. Kami bahkan membahas tanda baca dan pemakaian huruf kapital. Bagi orang yang tidak banyak berurusan dengan huruf dan kata, mungkin hal semacam itu tidak ada gunanya. Tapi menurutku, diskusinya seru banget. Pada hari terakhir lokakarya itu kami mementaskan sepenggal adegan novel yang telah kami terjemahkan.

sempet poto bareng mas ganteng di ujung acara. ini hasil jepretan suami loh 😀

Rasanya tidak rugi aku menyicipi pengalaman menjadi “pekerja Jakarta” yang harus melewati titik-titik kemacetan dan berdesak-desakan dalam kendaraan umum. Pengalaman itu justru membuatku mantap untuk bekerja di rumah. 😀 Sesekali aku memang harus keluar rumah untuk mencari teman dan pengalaman baru. Jadi, kuanggap saja lokakarya minggu lalu itu sebagai “liburan”. 😉

Ngomong-ngomong apa pengalaman barumu akhir-akhir ini?