Di Balik Pasar Pagi

Ini sebenarnya kejadian biasa. Hal rutin. Aku ke pasar, lalu menuju ke beberapa penjual yang sudah menjadi langgananku: bapak penjual tahu di dekat penjual ikan, bapak penjual tempe, mbak penjual kentang, bumbu dapur, buncis, tomat, dan jeruk nipis, mbak penjual sayur yang dengan lincahnya meladeni pembeli, dan ibu setengah baya yang kadang menjual daun ubi. Hanya itu-itu saja yang biasanya aku datangi. Lainnya jarang. Hampir tak pernah malahan.

Entah kenapa aku belakangan ini teringat pada orang-orang ini. Aku bertanya-tanya, apa ya sebenarnya impian dalam hidup mereka? Apakah pekerjaan yang selama ini mereka jalani ini adalah pekerjaan yang mereka rindukan, mereka impikan? Jika tidak, betapa kuat semangat yang mereka pompakan dalam diri mereka sendiri sehingga mampu melayani orang-orang di sekitar kompleks tempat tinggalku ini. Mereka pasti sudah bangun ketika kebanyakan orang masih menikmati tidur, lalu bersiap-siap untuk berjualan di pasar. Bukan hal yang mudah kurasa, dan entah apakah pekerjaan semacam ini diinginkan oleh banyak orang.

Aku baru kira-kira setahun menjadi pengunjung tetap pasar pagi tersebut. Itu pun tidak setiap hari aku ke sana. Mungkin seminggu dua kali, kadang tiga kali. Aku merasa terbantu dengan kehadiran mereka karena mereka selalu menyajikan sayuran segar dan bahan makanan dengan harga yang relatif lebih murah dibandingkan toko swalayan. Walaupun tidak betul-betul kenal, aku merasa mereka bukan lagi orang yang asing. Mereka memang bukan seperti teman kantor yang duduk di bangku sebelahmu, bukan pula teman diskusi, bukan teman yang kauajak janjian di mal untuk belanja. Komunikasiku dengan mereka hanya singkat. Biasanya hanya seputar pertanyaan sayur ini berapa seikat, permintaan untuk dibungkuskan beberapa macam bumbu, dan semacam itu saja. Namun, pernah pula tiba-tiba pundakku dicolek dari belakang. Rupanya mbak penjual kentang. Ah, tadinya aku memang ingin mampir ke lapaknya, tetapi dia tak ada. Maka aku pindah ke penjual lain. Usai bertransaksi dengan penjual lain itu, aku lalu mampir ke lapaknya. Sebenarnya aku tak ingin membeli apa-apa, tetapi karena dia menyapaku, ya kupikir tak apa jika aku sekadar membeli daun bawang dan seledri darinya. Buat persediaan saja. Waktu kami bertransaksi, dia berkata, “Tadi ke sini ya?”

“Iya, tapi Mbak nggak ada,” jawabku.

“Tadi saya pulang sebentar.”

“Oh, begitu. ”

Rasanya itu adalah percakapan terpanjang yang pernah aku lakukan dengan si mbak. Jujur saja, aku terkejut waktu dia menyapaku. Aku bukan pembeli borongan, paling-paling yang banyak kubeli darinya adalah kentang. Sudah. Itu saja. Itu pun jarang-jarang.

Kembali aku malam ini bertanya-tanya, sebenarnya apa ya mimpi terdalam para penjual di pasar pagi itu? Setiap kali ke pasar, aku selalu melihat semangat yang mereka pancarkan. Aku yakin, mereka pasti lelah bekerja seperti itu. Mungkin mereka pun harus memutar otak untuk mengimbangi naik turunnya harga-harga sayuran dan bahan makanan lainnya. Tapi toh aku belum pernah dilayani dengan lesu oleh mereka. Semangat mereka itu sedikit banyak tertular kepadaku. Kehadiran mereka mungkin seperti mur atau baut kecil dalam kendaraan bernama kehidupan ini. Jika mereka tak ada, sudah ada ratusan toko swalayan yang menjual sayuran segar dan bumbu dapur. Mereka tampil dengan sederhana, menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan keluarga-keluarga di sini. Bagiku mereka itu istimewa.