Tantangan Menanam Padi Organik di Negara Agraris

Samar-samar masih kuingat percakapanku dengan ibuku lewat telepon beberapa bulan yang lalu. Waktu itu Ibu bertanya kepadaku apakah aku punya kenalan petani padi organik. Seingatku, jika yang dimaksud adalah kenalan langsung, aku tidak punya. Yang mungkin bisa kucari adalah temanku yang punya akses langsung kepada petani padi organik.

Jadi, begini ceritanya. Kakek dan nenekku punya sawah di Dungus (kira-kira 12 km dari Madiun). Sawah itu dulunya tidak digarap sendiri oleh keluargaku. Dan seingatku, soal sawah itu baru kuketahui setelah aku SMA (atau SMP?). Soal penggarapnya dulu aku juga kurang jelas. Tapi akhirnya setelah Mbah Kakung dan Mbah Putri meninggal, sawah itu jadi tanggung jawab keluarga besar dari pihak ibuku. Dan karena anak dari simbah yang tinggal di Madiun saat ini adalah ibuku, maka akhirnya sawah itu dikelola oleh ibuku.

Pada awalnya, sawah itu ditanami padi biasa (bukan padi organik). Tapi belakangan ini ibuku tertarik menanaminya dengan padi organik. Dan karena tidak punya pengalaman langsung menanam padi organik, maka masih perlu belajar banyak. Sayangnya, para petani di sekitar sana masih belum ada yang menanam padi organik. Jadi, bisa dikatakan ibuku (dan bapakku) single fighter. Bisa kubayangkan betapa sulitnya menjadi “berbeda”.

Sebetulnya, saat pertemuan dengan keluarga besar, ibuku sudah mengutarakan maksudnya untuk menanami sawah itu dengan padi organik. Semua pada dasarnya setuju. Tapi kan yang benar-benar terjun ke sawah cuma orang tuaku. Dan rata-rata keluarga ibuku “orang kota” semua. Tidak ada yang punya pengalaman menggarap sawah. Bahkan aku juga kurang yakin apakah di antara para om, tante, pakde, budeku ada yang punya kenalan petani organik. Akhirnya terjadilah percakapan dengan ibuku soal petani padi organik. Waktu itu di sawah memang ada masalah, yaitu banyak sekali tumbuh gulma. Gulma itu bentuknya seperti kubis kecil (aku lupa namanya). Sepertinya kalau di kolam air tawar suka ada deh. Nah, saking banyaknya orang tuaku bingung bagaimana mengatasinya.

Waduh, mesti tanya siapa nih, pikirku. Salah satu cara paling gampang adakah mencoba melihat daftar teman-teman berikut nomor teleponnya di telepon genggamku. Iseng-iseng kutanya temanku, seorang wartawan di sebuah radio berita. “Mbak, punya kenalan petani organik?” tanyaku padanya. Dan temanku ini cepat sekali memberi jawaban. Dia kemudian memberikan nama seorang petani organik berikut nomor telepon petani tersebut. Dan seperti gayung bersambut, orang tuaku jadi bisa berguru langsung pada bapak tersebut sampai akhirnya datang berkunjung ke rumah beliau plus melihat sawahnya. Ibu mengatakan dia puas bisa datang ke sana. Kata petani itu, padi organik miliknya jika sudah dewasa, tingginya bisa setinggi orang. Wah!

“Guru” petani organik yang didatangi orang tuaku ini tinggalnya di Jawa Barat. Lumayan jauh dari Madiun. Kemudian aku baru sadar jika teman-teman dari Yayasan Sahabat Gloria di Jogja juga melakukan pendampingan pada para petani organik. Nah, ini kan cukup terjangkau dari Madiun. Lagi pula, mereka kan teman sendiri. 😀 😀 Jadi, sekarang orang tuaku juga suka tanya-tanya ke mereka.

Dari pengalaman orang tuaku, aku jadi sadar bahwa menanam padi organik tidak mudah. Banyak tantangannya. Yang paling dirasakan adalah saat memulainya, karena seolah-olah harus berjuang sendiri. Masih banyak petani sekitar yang lebih suka menanam padi biasa. Jadi, akan sangat terbantu jika petani padi organik itu ada komunitasnya.

Entah bagaimana pengalaman orang tuaku menanam padi organik ini membuatku teringat pada beberapa petak sawah yang biasa kulewati saat menuju rumahku di Jogja. Dulu, untuk menuju rumah, aku mesti melewati persawahan yang cukup luas. Tapi sekarang, sawah-sawah itu sebagian sudah menjadi bangunan. Entah rumah, entah ruko. Tak jarang kulihat pula sawah yang diapit rumah-rumah besar dan bagus. Kurasa sebentar lagi sawah itu akan berubah menjadi rumah pula. Aku selalu sedih melihat hal itu. Sedih karena menurutku semestinya sawah itu tidak hilang begitu saja. Dan memang nasib petani di negara (yang katanya) agraris bernama Indonesia ini tidak menyenangkan. Hasil sawah tidak selalu menguntungkan dan mendatangkan banyak uang. Sementara itu petani tetap harus mengeluarkan uang untuk menyekolahkan anak, membangun/memperbaiki rumah, membeli susu untuk anaknya, dan lain-lain, yang mana semua itu tidak cukup dibayar dengan beberapa lembar uang seribuan.

Selain itu, siapa sih yang ingin jadi petani? Coba kita tanya kepada anak-anak sekolah sekarang. Berapa banyak yang ingin bekerja di sawah? Bahkan dari para mahasiswa yang mengenyam pendidikan di bidang pertanian, berapa banyak yang betul-betul ingin membaktikan hidupnya untuk mengembangkan pertanian Indonesia? Kurasa masih banyak yang ingin bekerja kantoran atau pegawai swasta ketimbang harus bergelut dengan lumpur di sawah.

Padahal, semua orang masih butuh makan. Sebagian besar penduduk Indonesia masih makan nasi. Jika sawah-sawah itu akhirnya menjadi ruko atau rumah, dan para petani tidak semakin baik nasibnya, bagaimana dong? Kurasa jika pertanian di Indonesia diperbaiki dan ditingkatkan, kita–masyarakat pada umumnya–juga akan merasakan manfaatnya. Coba kalau semua petani menanam padi organik, kita tiap hari bisa makan nasi enak bukan? Lebih sehat pula. Jadi, kita pun bisa ekspor hasil tanaman pangan ke negara lain, bukannya malah bangga kalau bisa membawa makanan hasil pertanian/perkebunan dari negara lain. Rakyat juga kan yang untung? 🙂

Advertisements