Solitaire dan Sendiri

Pernah bermain solitaire? Kurasa bagi kebanyakan orang yang biasa berhadapan dengan komputer, permainan solitaire adalah permainan yang sudah diakrabi. Itu lo, game di mana kita mesti mengurutkan kartu dari As sampai King. Tapi kalau bicara solitaire, entah kenapa aku jadi ingat ketika bermain solitaire memakai kartu remi biasa. Dulu, ini adalah permainan yang rasa-rasanya cukup sering aku mainkan waktu di asrama–zaman kuliah dulu.

Begini, waktu di asrama dulu, komputer masih dirasa sebagai barang mewah. Waktu aku kuliah, komputer yang umum waktu itu sebutannya masih begini nih: 386 atau 486. Bingung kan? Hehehe… Itu sebutan untuk prosesornya. Kalau sekarang sih komputer sudah jauh lebih maju. Nah, karena komputer masih dianggap barang mewah, di asrama komputer masih dibatasi. Memang sih, di asrama ada komputer. Tapi itu pun dipakai oleh anak yang sudah skripsi. Dan kalau pakai, kita pun mesti bayar. Sistemnya seperti rental komputer, tapi Suster memberi harga lebih murah untuk sewanya dibanding kalau kita rental komputer di luar. Jadi, tak ada ceritanya main game di komputer. Kita memakai komputer memang untuk tugas kuliah saja. Lalu? Ya, akhirnya kita tidak terbiasa main game di komputer dong. Dan kartu remi menjadi salah satu “pelarian” untuk bersenang-senang bersama.

Memang sih, yang namanya asrama, pasti banyak teman kan? Masak mau main sendiri? Satu unit rata-rata isinya 4-8 orang. Jadi, mestinya tak perlu khawatir kesepian dan bisa main kartu remi ramai-ramai. Eit, tapi, jangan salah. Di asrama pun kita bisa sendirian di unit. Kok bisa? Aku ingat, saat malam minggu kadang bisa jadi saat yang tidak menyenangkan. Apalagi kalau tidak punya pacar, tidak ikut komunitas apa-apa, tidak ada teman yang mengajak ikut suatu kegiatan, malas ikut nonton tivi di ruang tamu, teman-teman seunit pergi (diapeli, pulang kampung, atau ikut acara di kampus), naaah … bisa kesepian tuh. Hihihi, kasiaaaan deh! Jadi, kadang di saat seperti itulah aku kadang bermain solitaire dengan kartu remi.

Tapi ngomong-ngomong soal solitaire, aku jadi ingat ketika pertama aku bepergian ke luar kota sendiri. Kapan itu? Waktu SD seingatku. Waktu itu, Mbah dari ibuku masih hidup dan tinggal di Jogja. Jadi saat liburan tiba, aku biasa berlibur ke rumah Mbah. (Waktu itu aku masih di Madiun). Karena kedua orang tuaku bekerja dan tidak bisa meninggalkan pekerjaan, maka aku mesti pergi sendiri. Kadang sih ya aku pergi dengan kakakku, kadang ditemani pengasuhku, tapi ada kalanya aku pergi sendiri. Memang sih, waktu itu aku perginya naik travel. Jadi, tak perlu khawatir kesasar. Tapi ya, namanya pertama kali pergi ke luar kota sendiri, masih usia SD, rasanya deg-degan juga. Awalnya, Bapak yang menelepon travel, lalu menanyakan apakah masih ada jatah kursi untuk keberangkatan ke Jogja. Ternyata ada. Jadi, aku mulai mengepak baju-bajuku sendiri. Kupilih beberapa baju yang kusukai dan yang kubutuhkan, lalu kumasukkan ke dalam tas yang sudah disiapkan Ibu. Malamnya aku jadi susah tidur membayangkan perjalanan esok harinya. Aduh, jadi deg-degan betul! Aku membayangkan, besok sebelahku orangnya seperti apa ya? Bagaimana kalau travelnya ngebut? Bagaimana kalau sampai di rumah Mbah sudah malam (karena travel waktu itu mesti mengantar penumpangnya satu per satu, dan bisa jadi aku dapat jatah diantar paling terakhir)? Terus terang aku lupa bagaimana perjalanan pertamaku sendiri ke Jogja. Tapi rasanya aman-aman saja. Terbukti aku beberapa kali naik travel Madiun-Jogja pp. Kalau aku kapok atau mengalami kejadian tidak enak, pasti pengalaman itu tidak kuulangi kan? 🙂

Perjalanan sendiri ke Jogja dengan travel itu tidak menjadi perjalanan yang terakhir. Akhirnya aku jadi terbiasa pergi ke Jogja sendiri. Tapi kemudian, ketika aku sudah mulai kuliah, travel ke Jogja tidak menjadi pilihanku lagi, karena biayanya lebih mahal dibandingkan naik bus atau kereta api.

Jika perjalanan ke Jogja itu menjadi latihanku untuk mandiri, lalu hal apa yang tidak bisa kulakukan sendiri? Jawabannya adalah, pulang malam sendiri di Jakarta. Ketika awal aku akan pindah ke Jakarta, aku selalu berpikir bahwa aku bisa pergi sendiri, termasuk pulang malam sendiri. Yang kudengar waktu itu adalah, Jakarta kota yang selalu ramai, termasuk di malam hari. Dan saudaraku pernah mengatakan bahwa di malam hari pun selalu ada kendaraan umum. Jadi, tak perlu takut tak bisa pulang di malam hari. Tapi, waktu aku sudah di Jakarta, aku jadi berubah pikiran. Entah kenapa, aku merasa tidak nyaman jika pergi sendiri sampai malam. Padahal ya tidak sampai malam banget lo. Paling sampai pukul 8. Jika aku pergi sendiri, dan jam sudah menunjukkan pukul 8, aku jadi gelisah. Jadi, sebisa mungkin aku pergi siang hari. Dan kalaupun sampai malam, biasanya pulangnya aku janjian dengan suamiku atau minta dijemput. Itu pun sangat jarang, dan sebisa mungkin kuhindari.

Aku tak tahu kenapa kalau di Jakarta aku tidak bisa pulang malam sendiri. Padahal dulu, semasa di Jogja (dan sampai sekarang kalau aku di Madiun atau di Jogja), pulang malam bukan jadi hal besar bagiku. Di Jogja, rumahku ada di daerah utara dan kalau pulang aku mesti lewat daerah yang persawahan yang sepi. Tapi, kalau masih pukul 9 malam, aku bisa pulang sendiri tanpa minta dijemput kakakku. Bahkan, aku ingat, aku pernah pulang malam pukul 22.00 lewat, naik motor sendiri. Memang sih, aku tidak setiap hari pulang malam. Tapi setidaknya, aku merasa baik-baik saja jika memang harus pulang malam sendiri. Yah, ternyata sebuah kota membawa perubahan dalam diriku. Aku menyadarinya sekarang ….

Ngomong-ngomong, apa yang tidak bisa kamu lakukan sendiri? Dan apa pula yang bisa kamu lakukan sendiri? Yuk, berbagi cerita.

Tulisan ini diikutsertakan dalam perhelatan Giveaway: Pribadi Mandiri yang diadakan dua nyonya: Imelda Coutrier dan Nicamperenique. 😀