Keinginan yang Sempat Terlupakan

Aku kurang bisa menyanyi. Bisa-bisaan saja. Dulu pernah ikut kor, sempat terpaksa jadi solis di gereja. Tapi rasanya suaraku pas-pasan. Selepas SMA, aku tidak bersinggungan lagi dengan urusan nyanyian di gereja. Maksudnya, tidak ikut kor dan semacamnya lo, bukan jadi males ke gereja ding. Malesnya cuma kadang-kadang. 😀

Meski begitu, ada beberapa lagu gereja yang kusukai. Bisa dibilang lagu favorit. Salah satunya berjudul Aku Abdi Tuhan. Ini syairnya:

Ke depan altar aku melangkah
Seraya bermadah gembira ria
Saat bahagia hari yang mulia
Hari yang penuh kenangan

Reff.
Tuhan berkenan pada yang hina
Seumur hidup aku abdi-Nya
Tuhan berkenan pada yang hina
Seumur hidup aku tetap jadi abdi-Nya

Aku terkenang masa yang lalu
Tuhan berbisik merdu dalam kalbu
Kuingat sabda lembut dan merayu
Marilah ikuti Aku

Katanya lagu ini biasa dipakai saat ada tahbisan pastor. Aku bilang “katanya” karena aku baru sekali ikut misa tahbisan, dan aku lupa apakah lagu ini dinyanyikan atau tidak. 😀 Tapi beberapa teman memakai lagu ini untuk misa pernikahan. Biasanya dinyanyikan waktu kedua mempelai masuk, menyusuri lorong gereja. Dulu aku juga memakai lagu ini untuk misa pernikahan.

Hari Minggu kemarin (27/1) aku misa pagi dan kebetulan ada pelantikan misdinar baru. (Misdinar = pemuda atau pemudi yang melayani pastor di upacara gereja Katolik; pelayan misa–KBBI.) Lagu yang dipilih untuk mengiringi adalah lagu “Aku Abdi Tuhan” tersebut. Seketika ingatanku melayang pada keinginanku di masa kecil. Dulu, aku ingin sekali menjadi misdinar. Sayangnya, di paroki tempat aku dibesarkan (di Madiun), tidak ada misdinar perempuan (putri altar). Mungkin kebijakan keuskupan ya. (Aku kurang tahu persis sih soal ini.) Yang ada adalah misdinar laki-laki. Dulu kakakku sempat aktif sebagai misdinar. Kalau mendengar cerita-ceritanya, jadi pengin deh. Dia cerita, jadi misdinar itu enak, kadang kalau pastor dapat hantaran kue, mereka suka dapat bagian. Trus, kalau anggur untuk misa berlebih, bisa ikut nyicip. Hahaha. Lha kok yang dipengini kaya begitu ya? (Nggak bener ini namanya… hehehe.) Ya, namanya juga anak-anak. Payah deh. Tapi selain itu, aku memang pengin deh bisa jadi misdinar. Kesannya gimanaaaa gitu. Tapi apa boleh buat, aturan di parokiku tidak bisa. Ya sudah. Aku mengubur keinginan menjadi misdinar.

Sekian belas tahun berlalu, rasanya aku sudah hampir lupa pada keinginanku itu. Aku masuk Asrama Syantikara. Setiap tahun, asrama selalu punya hajatan besar, yaitu dies natalis. Nah, tiba saatnya untuk misa dies. Tanpa kusangka-sangka, aku didatangi seorang teman dan … diminta untuk ikut menjadi misdinar! Astaga … Bagiku, pengalaman itu tidak terlupakan. Barangkali hanya sekali seumur hidup aku menjadi misdinar.

Pelantikan misdinar pada hari Minggu kemarin seketika mengingatkan aku bahwa sesuatu yang sudah lama kuinginkan (bahkan terlupakan) masih bisa terwujud. Padahal aku berpikir … keinginanku itu mustahil untuk terwujud. Namun, saat lagu “Aku Abdi Tuhan” dinyanyikan, seolah ada yang berbisik di dalam hatiku: Tuhan selalu mendengar doa kita.

Dari yang pernah kubaca, jawaban doa ada tiga macam: Tidak, Tunggu, atau Iya. Dari pengalamanku tersebut, jawaban doaku adalah “Tunggu”, dan Tuhan memberikannya pada waktu yang tepat. Dan pengalaman itu justru memperkuat imanku. Lagi pula, alangkah mengerikan hidup kita jika semua doa kita dijawab “Iya” dan langsung dikabulkan. Iya, kan? Mungkin aku perlu senantiasa ingat bahwa “seumur hidup aku abdi-Nya…” entah keinginanku terkabul atau tidak.

Advertisements