Merawat Mimpi = Merawat Cinta?

Tadi aku ikut sebuah acara di LIP. Di situ salah seorang pembicara bercerita tentang keinginannya yang menggebu-gebu untuk sekolah ke luar negeri. Namun, ada beberapa hal yang menjadi kendala. Bukan soal kendala atau bagaimana cara dia menggapai impiannya yang ingin kutulis di sini. Yang menarik adalah bagaimana dia terus merawat impiannya itu.

Dalam perjalanan pulang, aku mengobrol dengan suamiku. Dia menceritakan bagaimana teman kuliahnya dulu merawat mimpinya sebagai film maker. “Walaupun mimpinya sebagai film maker ‘dibelokkan’ orang tuanya dengan menyuruhnya kuliah di jurusan teknik, dia tetap menjaga agar mimpinya terus menyala. Dia bergabung di komunitas-komunitas film. Dia terus menulis skrip film sampai akhirnya skripnya dilirik sutradara.”

Tak perlu lah kusebut siapa orang itu, yaaa, tapi cukup punya namalah orang itu. Dari cerita itu, aku menarik kesimpulan bahwa mimpi itu seperti cinta. Jika dia dirawat, dia akan menemukan jalannya sendiri sampai akhirnya terwujud. Kadang ada orang-orang terdekatmu yang berusaha membelokkan impianmu, tetapi yang menentukan apakah mimpi akan terwujud atau tidak adalah kekonsistenan kita dalam merawat impian itu. Salah satu bagian penting dalam merawat mimpi adalah langkah-langkah mewujudkannya. Seperti impian film maker tersebut, dia tetap berusaha berkenalan dengan komunitas film dan terus menulis skrip film.

Lalu, bagaimana aku sendiri merawat mimpiku? Harus kuakui, belakangan ini aku agak tak peduli dengan impianku. Aku merasa begini saja cukup. Selain itu, ada beberapa pekerjaan yang menuntutku. Kebanyakan alasan ya?

Mungkin aku kurang mencintai mimpiku, ya. Tapi obrolan tadi sore dengan seorang teman, mengusikku. Dua butiran Milo ini kalau bertemu ngobrolnya seputar naskah dan buku. Apa lagi? Jadi, kapan butiran Milo ini bakal mewujudkan mimpi?

Mimpi Jauh Sekali

Makan siang ini kantin tak seberapa penuh. Bulan puasa memang selalu begini. Hanya aku dan Tia duduk di tengah bangku-bangku kantin.

Entah bagaimana mulanya, Tia bertanya. “Apa mimpi terbesarmu, Ning?”

Aku tergagap. Aku sudah melupakan mimpi-mimpiku. Dan lama sekali tak ada yang menanyakan mimpiku. Tetapi seminggu ini aku terusik oleh sebuah mimpi. Mimpi Mas Tok dengan ibunya. Begitu pagi tiba, aku bangun dan merasakan kerinduan yang jauh terpendam. Ya, kupendam dan kubalut doa. Kami nyaris tak berkontak berbulan-bulan.

“Apa ya mimpi terbesarku?” aku balik bertanya pada diriku sendiri sambil menatap Tia. Lalu tatapanku beralih ke meja, pada serangkaian kunci bergantungan kunci bulat dengan pinggir keemasan, bertuliskan Lourdes-France. Bagian tengahnya terdapat gambar Maria yang menampakkan diri pada Bernadette.

“Ada kaitannya dengan Lourdes?” tanya Tia seolah membaca pikiranku.

“Aku lama sekali tak memikirkan apa mimpiku, Tia. Hanya saja seminggu ini aku memimpikan seseorang …”

“Pacarmu?” tebak perempuan di depanku ini.

Aku tertawa kecil. Pacar? Kutarik napas panjang. Mengingat namanya saja selalu menggetarkan hatiku. Ada perih bercampur bahagia, dan teraduk-aduklah isi dadaku. Kenangan bersamanya muncul berkelebat-kelebat. Hutan jati. Malam-malam yang syahdu. Perjalanan Sintang-Nanga Pinoh. Perjalanan di kereta. Sendangsono. Perjalanan saat bulan purnama. Pertengkaran-pertengkaran kecil. Ah!

“Teman lama, Tia. Lagi pula entah di mana dia sekarang. Kami jarang sekali berkontak.”

“Mungkin dia ingin menghubungimu lewat mimpi,” ujar Tia.

Kami terdiam cukup lama. Kubiarkan gejolak hatiku sedikit mereda.

“Dia mimpi terbesarmu?” tanya Tia hati-hati setelah beberapa menit berlalu.

Aku menunduk. Jangan sampai mataku menjelaskan semua ini pada Tia.

“Kami pernah punya mimpi bersama,” jawabku. “Entah dia ingat atau tidak.”

Sampai sore percakapan dengan Tia masih terngiang. Begitu pula ingatan pada mimpi-mimpiku belakangan ini, menghadirkan adukan emosi yang tak bisa kujelaskan.

Di kamar kos aku memain-mainkan gantungan kunci pemberian Mas Tok. Lourdes-France. Apakah dia ingat mimpi yang kami bangun bersama dulu? Dan kenapa dalam mimpiku ada ibu Mas Tok? Ah, Ibu yang lembut hati. Betapa aku tak sanggup mengoyakkan ketentramanmu demi kuraih mimpiku bersama Mas Tok.

Tanpa sadar kufoto gantungan kunci itu, lalu kukirim lewat WhatsApps kepada Mas Tok.

Aku tersadar ketika tengah malam kudengar suara “ting” pelan di telepon pintarku.

“Dik Ning, aku sedang di Lourdes bersama Ibu. Aku masih ingat mimpi kita berdua untuk ke sini.”

Bersama pesan itu terkirim foto dua sosok yang hadir dalam mimpiku beberapa malam belakangan ini. Dan aku menangis.