Cerita Sekantong Sayur, Terima Kasih, dan Selamat

Beberapa hari yang lalu temanku, Mbak Melani, mengabariku lewat FB bahwa dia akan diwawancarai Green Radio pukul 15.15 sore. Menjelang pukul 15.00 aku sudah mengganti saluran radioku ke saluran 89.2 FM. Ternyata dia diwawancarai seputar aktivitasnya: tentang sayuran organik.

Mbak Melani sudah kira-kira satu tahun berbinis sayur organik. Kebunnya ada di Purwakarta, seminggu bisa panen dua kali. Dia biasanya menjual langsung kepada konsumen dan kalau tidak salah ke kantor-kantor di sekitar Sudirman, Jakarta. Hasil panennya macam-macam, di antaranya bayam, selada, pok cay, sawi. Intinya yang dijual adalah sayuran yang bisa ditanam di dataran rendah. Selain dari hasil panen kebunnya, dia juga bekerja sama dengan kebun sayur organik di Sarongge. Jadi, untuk sayur dataran tinggi seperti wortel, Mbak Melani mengambil dari Sarongge.

Nah, setahuku kebun sayur Sarongge ini binaan dari Green Radio. Jelasnya bagaimana, aku masih kurang tahu. Mungkin kapan-kapan aku perlu menanyakannya lebih lanjut soal ini.

Dari wawancara itu aku tahu bahwa Green Radio juga menjual sayuran organik hasil panen dari Sarongge. Karena langsung dari petani, sayur organik yang dijual di Green Radio ini harganya bisa lebih terjangkau dibandingkan harga sayur di supermarket. Ini berita menyenangkan buatku. Kenapa? Karena jarak rumahku dengan Green Radio tidak terlalu jauh. Cukup naik metromini 46 satu kali, paling lama 30 menit sudah sampai (itu biasanya metromininya plus ngetem dan jalanan macet sedikit). Jadi, bisa dapat sayur organik yang cukup murah tanpa terlalu bercapek-capek mengarungi lalu lintas Jakarta.

Besoknya, aku mau jalan pagi supaya kena matahari pagi. Jakarta mulai dingin sekarang dan sering hujan. Jadi, saat kulihat matahari pagi lumayan hangat, aku memutuskan keluar rumah. Kebetulan saat itu aku bertemu tetangga depan rumahku, Mbak Hanny. Mbak Hanny ini suaminya bekerja di Kbr 68H (masih saudara dan satu kompleks dengan Green Radio). Sekalian kan aku tanya-tanya soal sayur organik. Ternyata pas betul, hari itu adalah jadwal pemesanan sayur organik (dari Sarongge) di kantor suaminya. Aku minta dikirimi email tentang daftar sayur yang akan panen lengkap dengan harganya. Siang itu juga aku pesan. Wah, benar-benar bisa memborong sayur organik. Yang kupesan: bit (1kg), jagung manis (2kg), buncis (1/2 kg), selada (1/2 kg), bayam (1/2 kg). Total harganya Rp 69.000. Dan semua itu bisa nitip ke tetangga. Jadi, aku tinggal ambil di depan rumah saja. Hehe. Asyik kan?

Sayur-sayur itu semuanya kuterima kemarin malam. Wah, ternyata banyak banget. Satu tas plastik besar. Semuanya sudah bersih. Bisa bikin salad tiap hari nih! Yang kelihatan banyak banget adalah selada dan bayam. Aku berani pesan bayam agak banyak karena beberapa waktu yang lalu aku dapat contekan dari Mbak Imelda cara menyimpan sayur supaya awet di sini. Untuk bayam, bisa ditaruh di freezer setelah dikukus sebentar dan dimasukkan ke dalam wadah tertutup atau plastik. Lalu, selada aku simpan di dalam kertas cokelat. Walaupun katanya sayur organik cenderung lebih awet disimpan, sepertinya selada ini mesti segera kami konsumsi, deh. Kebetulan aku senang makan salad. Jadi mungkin akan cepat habis juga hehe. Buncis sebelum masuk kulkas, kubungkus dengan kertas koran. Dulu waktu belum tahu cara menyimpan sayur supaya tidak mudah busuk, aku tidak berani beli banyak sayuran hijau. Kadang kalau sudah terlanjur beli, kusimpan masih dalam plastiknya. Tapi ternyata dengan dibungkus koran, sayuran jadi lebih awet.

Lewat tulisan ini aku mau berterima kasih, pertama pada Mbak Melani yang sudah memberi tahu aku bahwa dia akan diwawancara–dengan begitu aku bisa dapat sayur organik dengan harga terjangkau. Kedua pada tetanggaku, Mbak Hanny dan Mas Doddy, yang memberi info lebih lanjut soal sayur organik di Green Radio dan membawakannya untuk kami. Yang ketiga, terima kasih pada Mbak Imelda yang lewat blognya sudah berbagi cara menyimpan sayur. Dan hari ini Mbak Imelda ulang tahun. Jadi, terima kasih dan selamat ya, Mbak. Semoga Mbak Imelda sehat-sehat jadi bisa terus rajin nulis di Twilight Express. 🙂

Selamat ulang tahun, Mbak Imelda ...

Ngomong-ngomong pernahkah kamu mengonsumsi sayur organik?