Soal Niat

Aku termasuk makhluk yang suka menunda. Termasuk menunda mengisi blog. Beberapa waktu lalu, setelah misa malam Paskah, aku sempat berpikir, aku harus menulis kesan-kesanku soal Paskah tahun ini.

Bagiku, Paskah kemarin istimewa. Istimewa karena aku bisa mendapatkan kesan yang sampai sekarang masih kusimpan. Hari Sabtu menjelang misa malam Paskah, hujan seperti ditumpahkan dari langit. Ditampah kilat dan guntur, rasanya hari itu bukan hari yang menyenangkan bagiku. Aku berpikir, jika hujan terus begini, apakah aku misa jam 20.30 saja? Sebenarnya aku sebisa mungkin menghindari misa malam karena aku kurang suka pulang malam di Jakarta. Sekalipun jarak gereja dan rumah cukup dekat, tapi tetap saja aku menghindari pulang lebih dari jam 9 malam. Huh, di kota metropolitan ini aku malah jarang keluyuran sampai malam. Cemen memang aku ini.

Saat aku berpikir akan menunda misa atau bahkan membatalkannya karena hujan begitu deras, entah kenapa aku merasakan hatiku berkata, “Jangan punya iman seperti kerupuk, yang melempem hanya karena hujan.” Memang ke gereja di saat hari hujan bukanlah saat yang menyenangkan. Aku tak suka berbasah-basah menembus hujan. Pasti risi deh pas di gereja. Tapi kok rasanya hatiku ini “ngeyel” minta ke gereja. “Cuma hujan, masak membuatmu jadi batal misa?” begitu hatiku mengusikku. Iya, benar juga. Aku toh punya uang untuk naik bajaj. Badanku cukup sehat. Kenapa aku tidak mau ke gereja? Alasan selalu ada untuk membatalkan niat.

Menjelang jam 4 sore (misa mulai jam 5), hujan perlahan mereda. Dan dengan niat bulat, aku pun berangkat misa. Begitu keluar gang, kulihat ada angkot. Puji Tuhan banget deh. Sepertinya kalau niat sudah bulat, alam semesta pun ikut mendukung ya.

Terus terang pelajaran soal kebulatan niat ini masih menempel di benakku. Aku ini peragu. Mau melangkah atau membuat keputusan sepele pun aku sudah menyediakan berbagai alasan. Kadang ujung-ujungnya batal. Aku kurang suka dengan sisi diriku yang ini. Tapi sebetulnya, kalau kita punya niat, kalau kita persistent, gigih, sulit ada yang bisa menghentikan kita.

Aku teringat seorang temanku, seorang penulis. Dia mengatakan, “Kalau naskahmu ditolak, ya tulis lagi, kirim lagi ke media lain. Jangan berhenti karena penolakan.” Bagiku kata-katanya itu menohok deh. Kalau sudah niat jadi penulis, ya mestinya jangan setengah-tengah. Kalau sekali nulis lalu ditolak, trus kapan majunya?

Benar juga. Niat itu perlu. Miliki niat yang kuat dan bulat. Jangan berhenti…

Advertisements

Ketika Berusaha Bangun dari Lamunan (Pelajaran Selama Musim Revisi)

Ketika mengumpulkan tulisan untuk ikut workshop Room to Read-Provisi lewat pintu Litara, aku tidak berpikir jauh. Aku hanya berpikir aku perlu menjajal kemampuanku. Banyak orang ingin menulis, ingin bukunya terbit. Tapi apa yang dilakukan? Melamun. Iya, itu aku sih. Kadang yang kulakukan adalah ke toko buku, lihat-lihat buku yang terbit, dan dalam hati berkata, “Besok aku juga mau menerbitkan buku seperti ini.” Tapi besok itu kapan? Kapan-kapan. Huh, aku kesal sama diriku sendiri. Jadi, aku merasa perlu “menabok” diriku sendiri dan mulai membuat langkah kecil.

Langkah kecil yang kubuat adalah iseng mengirimkan tulisan untuk ikut workshop Room to Read yang lalu. Buntut keisengan itu adalah merevisi tulisan tiada akhir. Haha, lebay. 😀 Ya, begitulah. Pokoknya revisi, revisi, revisi… Di sinilah aku kadang merasa bingung dan beruntung. Dua hal bertolak belakang ya? Bingungnya adalah ketika perlu memeras otak saat memperbaiki tulisan untuk memenuhi tuntutan editor. Tulisan ini perlu diotak-atik sebelah mana lagi? Cunthel. Di sisi lain aku merasa beruntung. Pertama, karena aku mendapat editor yang detail banget menguliti naskahku yang secuil itu (iya, cuma 24 halaman, kok), masukannya kadang membuat mules, tapi memang kuakui bisa membuat tulisan jadi lebih bagus. Kedua, karena aku bertemu teman-teman yang membuat semangat. Walaupun ketemunya di dunia maya, tapi menyenangkan. 🙂

Long time ago in Bethlehem… someone encouraged me to write. Ada yang membuatku merasa yakin bahwa aku mampu menulis setelah surat-surat dan tulisanku yang lain dibacanya. Baiklah, aku akan menulis, begitu janjiku. Dan aku berkali-kali mengucapkan terima kasih kepada orang itu, yang membuatku yakin bisa menulis. 🙂 Apa jadinya diriku tanpa dirinya? Hahaha. Ini sih lebay banget.

Waktu berlalu dan ternyata aku hanya menulis di buku harian. Belakangan memang nulis di blog sih. Sempat juga menulis satu-dua buku. Dulu pernah aku menulis buku kumpulan refleksi iman. Tapi itu sudah cukup lama. Bisa dibilang aku belum terlalu menjajal kemampuanku menulis. Jago kandang doang. Ah, tidak lucu memang. Dan aku tidak suka bagian diriku yang ini–kelamaan berangan-angan, kurang aksi.

Aku pernah juga berpikir, tulisan seperti itu kok bisa masuk media sih? Kok bisa terbit sih? Sepertinya kurang nendang deh. Aku memang kebanyakan mengkritik, tapi aku sendiri tidak menunjukkan karya. Memang kadang ada ketakutan yang berdiri di antara keinginanku. Takut dikritik, takut kalau akhirnya aku hanya bisa membuat karya yang buruk, takut ideku lucu atau aneh. Cemen banget ya?

Setelah sekian lama memendam rasa, (halah, apaan sih ini?)… aku pikir aku perlu bertindak. Do something, begitu kata orang sekarang. Jangan cuma pengin, tapi mulai mewujudkan keinginan. Jangan cuma mengkritik, tapi tunjukkan karya juga. Mengubah lamunan dan dorongan untuk menjadi sesuatu yang nyata itu butuh menggerakkan tangan dan kaki. Mewujudkan impian itu mesti bangun dari mimpi lalu mulai turun dari ranjang, melangkah, mandi, jangan lupa makan, bekerja, riset, berdiskusi, mempersiapkan hati menerima masukan dari sana-sini, mulai bekerja lagi, … dan seterusnya.

Satu hal penting yang kupelajari dari proses “bangun dari mimpi” ini adalah mesti mau menyisihkan waktu, berani sakit, dan belajar rendah hati. Dulu aku merasa, tulisanku sudah bagus. Tapi ketika aku ketemu editor yang sungguhan editor (maksudnya, beneran mampu melihat kekurangan tulisanku dan memberikan masukan nendang), aku merasa bahwa perjalananku untuk menghasilkan tulisan yang bagus itu masih jauh. Banyak sisi yang perlu diasah. Banyak teman yang melesat lebih dulu dan kaya pengalaman. Jadi, aku pun perlu melatih “stamina” untuk tidak mudah loyo.

Hal lain yang perlu kuperhatikan adalah soal fokus. Apa sih yang mau aku lakukan? Apa yang mau aku tulis? Untuk bagian ini mengasahnya lewat banyak membaca, perbanyak referensi, dan terus berlatih mengerucutkan apa yang ada dalam kepala. Kadang memang rasanya kepalaku ini penuh. Kemruwek. Ruwet. Kalau sudah seperti ini, biasanya yang perlu kulakukan adalah menuliskan dalam catatan pribadiku hal-hal yang memenuhi kepala. Biasanya cukup menolong, walaupun tidak selamanya bisa menyelesaikan semuanya. Tapi paling tidak, cukup membantu.

Ada satu buku karya Kobi Yamada, judulnya What Do You Do with an Idea? yang membuatku merenungkan kembali keinginanku. Aku suka dengan buku ini. Buku ini cukup memotivasi diriku, mendorongku untuk lebih memberikan perhatian pada keinginan dan harapanku.

Yah, singkat kata, masih banyak hal yang perlu kuperbaiki di sana-sini. Dan semoga aku tidak loyo di tengah jalan, ya. Kalau semangatku mulai kendor, aku berharap yang kutulis ini bisa memompa semangatku lagi.