(Tak Lagi Terjangkiti) Post Employment Syndrom

Post Employment Syndrom. Kata-kata itu muncul beberapa waktu yang lalu di dinding FB Om NH. Karena sempat membaca postingan Bro Neo, aku jadi paham maksud kata-kata itu. Ceritanya Om NH ini kan mengundurkan diri dari perusahaan tempatnya bekerja. Entah kenapa ya kok aku jadi ikut “mak deg” … “Loh, Om NH resign?” begitu batinku ketika membaca postingan Bro.

Tak urung aku jadi teringat masa-masa sekitar lima tahun yang lalu. Menjelang tanggal seperti sekarang ini nih aku mulai serius memikirkan niatku untuk mengundurkan diri. Sebetulnya ada beberapa alasan pengunduran diriku. Tapi alasan terbesar adalah menikah. Rencananya, setelah menikah aku ikut suami dan pindah dari Jogja ke Jakarta. Selain itu, beberapa waktu sebelumnya aku ingin menjadi penerjemah lepas saja. Membayangkan punya waktu bebas, kok kayaknya enak juga, begitu pikirku. Lagi pula, aku sudah pernah menjadi penerjemah lepas di satu-dua penerbit. Lumayan lah hasilnya. Yang jelas tidak akan jadi jatuh miskin mendadak he he. (Ssst … bahkan penerjemah yang sukses hasilnya bisa lebih banyak daripada karyawan biasa lo. Katanya sih. :D) Bagaimanapun, sebagai pekerja kantoran kan ada enaknya juga. Tiap bulan terima gaji. Tidak terlalu mikir bagaimana mencari proyek. Bisa menikmati beberapa fasilitas, misalnya asuransi kesehatan. Dan yang jelas, kalau ditanya: “Kerja di mana?” bisa menjawab dengan mudah. Bagaimanapun ini menyangkut status, harga diri, gengsi lo. Harus diakui hal-hal itu dianggap penting oleh sebagian kalangan. Iya kan? Ngaku deh!

Dulu kupikir, keluar dari tempat kerja itu adalah hal yang mudah. Semudah membalikkan telapak tangan. Tapi, ternyata dugaanku salah. Rasa “semedhot” atau rasa kehilangan itu ternyata cukup kuat kurasakan. Pertamanya terasa waktu mengosongkan meja. Meskipun mejaku kecil (hanya dilengkapi satu laci dan lemari kecil), ternyata “penghuninya” banyak! Aku seperti membaca jejak-jejak perjalanan karierku. Dan oh, ternyata aku harus meninggalkan semua itu. Rasanya gimanaaa gitu. Tapi ini wajar kupikir. Kalau kita tidak merasa “semedhot“, malah aneh ya? Berarti perjalanan karier sebelumnya tidak membekas di hati dong? Waktu itu aku sudah bekerja enam tahun–dan sudah mulai menginjak tahun ketujuh–di kantorku tersebut. (Kalau aku yang cuma enam tahun bekerja saja merasa ada yang hilang, bagaimana dengan Om NH yang sudah bekerja selama 22 tahun ya?)

Awal-awal keluar dari kantor dan waktu itu aku harus pindah ke Jakarta, rasa “semedhot” ini semakin terasa. Mungkin karena aku harus adaptasi dengan tempat/suasana baru ya. Dulu biasanya setiap hari bertemu teman-teman kantor, sekarang sendiri. Walaupun ada suami sih. 🙂 Tapi kalau suami kerja, di rumah sendirian dan berada di tempat asing itu rasanya sedep-sedep aneh. 😀 Di saat seperti itu, aku jadi bisa paham seperti apa sih rasanya “post employment syndrom“. Bagiku rasanya agak-agak getir gimana gitu hi hi hi. Tapi hal seperti itu bisa diatasi kok. Caranya adalah dengan tetap beraktivitas. Kurasa lebih baik kalau aktivitas itu sudah dimulai sebelum kita mengundurkan diri/pensiun. Dengan beraktivitas, logikanya kita masih dikelilingi teman-teman dong. Bisa teman baru, bisa juga teman lama.

Tahun 2013 ini adalah tahun kelima aku benar-benar menjadi pekerja lepas (sebagai penerjemah). Apakah aku menyesali keputusanku? Jelas tidak dong. Bahkan aku merasa mendapat pengalaman yang berwarna. Pekerjaan yang pernah kutekuni dulu (sebagai editor di sebuah penerbitan) membantuku menekuni pekerjaanku sekarang. Memang harus diakui, masih banyak yang harus kulakukan untuk meningkatkan kemampuanku. Kalau dulu sebagai pekerja kantoran, urusan mengasah kemampuan itu bisa “kupasrahkan” pada kantor tempat aku bernaung, sekarang mau tidak mau harus kulakukan sendiri. Dan ini menantang! 🙂 Lagi pula, dengan adanya internet dan situs jejaring sosial, aku sangat terbantu dalam masalah pengembangan diri ini. Misalnya dengan bergabung dalam milis atau grup dan ikut dalam organisasi profesional. Intinya sih, banyak bergaul supaya wawasan terus bertambah. Dan sebagai penerjemah, aku merasa tidak sendiri. Banyak penerjemah yang merupakan pekerja lepas seperti aku. Jadi, aku suka berpikir, ini ibarat punya teman di meja lain yang tidak kulihat. Berkat internet, komunikasi tetap berjalan. Asyik kan?

Oiya, untuk Om NH, semoga sukses dalam karya yang baru. Begitu pula kalau ada teman-teman yang baru saja mengundurkan diri dari tempat kerja lama, tetap semangat, ya! 🙂

Advertisements