Pentingnya Kesadaran Dalam Perubahan

IMG_2883
kesadaran menolong kita tetap teguh di dalam suasana yang mengombang-ambingkan diri

Setujukah kamu bahwa membuang sampah sembarangan itu adalah tindakan yang buruk dan merugikan diri sendiri serta orang lain? Aku percaya banyak orang setuju. Tapi aku yakin masih banyak yang masih saja seenaknya membuang sampah sembarangan–termasuk anak sekolah, guru, orang tua, dan orang-orang yang pernah mengenyam pendidikan lainnya. Jangankan memilah sampah, masih banyak orang yang membuang sampah tidak sesuai tempatnya.

Belakangan ini di Indonesia ada kecenderungan banyak orang mengatakan bahwa kondisi masyarakat kita akan membaik jika pendidikan agama di sekolah ditingkatkan. (Mungkin dengan penambahan jam belajar agama? Entahlah.) Belum lagi mulai bermunculan peraturan-peraturan yang berlatar belakang agama tertentu. harapannya tentu saja supaya kondisi masyarakat menjadi lebih baik. Pengetahuan agama diharapkan bisa menimbulkan perubahan positif.

Menurutku, tidak cukup jika kita hanya mengetahui ini buruk dan itu baik. Di sinilah peran penting adalah kesadaran. Jarang ada yang menyadari bahwa ada jeda yang sangat besar antara mengetahui, memahami, menghayati, sampai melaksanakan suatu hal. Untuk menjembatani “mengetahui” sampai “melaksanakan” dibutuhkan kesadaran. Mengajarkan pengetahuan agama itu lebih mudah daripada mengajarkan kesadaran. Kesadaran berarti kita bangun dan bergerak, bukan sekadar menggenggam suatu pengetahuan (agama, ideologi, prinsip, dll).

Kesadaran adalah menggerakan seluruh tubuh, jiwa, dan pikiranmu untuk menghindari hal yang buruk dan berusaha sekuat tenaga melakukan hal yang baik. Kesadaran ini bisa dimulai dengan hal-hal kecil, seperti tidak membuang sampah sembarangan, makan makanan bergizi yang lebih menyehatkan badan, dll. Awalnya adalah mengubah diri menjadi lebih baik, barulah setelah itu kita bisa mengubah hal-hal di sekitar kita–mengubah masyarakat, mengubah dunia. Untuk bisa mengubah diri berarti kita perlu mengenal betul gerak batin dan isi pikiran kita dari saat ke saat. Tanpa kesadaran, sulit terjadi perubahan positif yang sifatnya permanen.

Advertisements

Kisah Warna-Warni

Alkisah, ada satu perusahaan. Sebut saja perusahaan itu namanya Warna-Warni Asri. Disebut begitu karena yang bekerja di perusahaan itu terdiri dari dari beberapa kelompok orang yang kulit tubuhnya warna-warni. Ada tujuh kelompok warna. Karena ini dongeng, kelompok orang-orang ini kulitnya sungguh unik, yaitu berwarna hijau, kuning, merah, biru, ungu, cokelat, dan putih.

Hubungan antar kelompok yang berwarna-warni di dalam perusahan itu baik-baik saja. Dari dulu mereka suka saling berkunjung kalau ada rekan yang sakit, apa pun warna kulitnya. Kalau ada yang gembira, mereka juga saling berbagi kebahagiaan. Saling bantu, saling dukung, itu biasa bagi mereka. Selain itu, mereka punya semboyan, “Majukan Warna-Warni Asri!” Mereka sudah bekerja lama sekali di perusahaan itu. Banyak dari mereka yang bekerja secara turun-temurun. Tapi itu tidak masalah. Bahkan perusahaan itu semakin mendunia.

Perusahaan itu didominasi kelompok orang yang berwarna merah. Nah, orang-orang merah ini karena bawaan orok, suka sekali apa saja yang berwarna merah. “Semua harus merah!” Jadi mereka takut-takut berbaur dengan warna yang lain karena khawatir warna mereka bisa pudar. Mereka takut jadi berkulit merah muda jika dekat-dekat dengan orang dari golongan kulit putih. Takut jadi biru, kalau dekat-dekat dengan orang golongan kulit hijau. Ya, begitulah. Entah mengapa mereka bisa seperti itu. Mungkin karena gen bawaan membuat mereka takut.

Suatu kali tiba saatnya pemilihan direktur yang baru. Direktur lama sudah sakit-sakitan. Sudah pikun dan sering membuat keputusan yang ngawur. Nah, karena kelompok orang-orang berkulit merah ini mendominasi, mereka ingin sang direktur terpilih nanti berkulit merah. Memang sih selama ini direktur Warna-Warni Asri ini selalu dari kelompok orang kulit mereka. Tapi sebetulnya orang dari kelompok lain, banyak yang baik dan mampu menjadi pemimpin.

Suatu hari Pak Pendek dari kelompok merah berkata berkata kepada orang-orang kelompok enam warna lainnya, “Teman-teman, kalian ingin perusahaan ini semakin maju bukan? Bagaimana kalau direktur yang kita pilih nanti dari kelompok kami saja? Kami pasti melindungi dan menjaga kelompok kalian. Kami sayang pada kalian. Tapi, kami cuma mau direktur perusahaan ini berasal dari kelompok merah. Lihat, ini Pak Jambul, dia sudah pengalaman dalam menjalankan berbagai mesin. Dia pasti bisa menjadikan perusahaan ini semakin maju.”

Pak Nggambleh dari kelompok ungu menjawab, “Pak Pendek, kami punya jagoan yang sama pandainya dengan Pak Jambul. Lihat ini Pak Jangkung, dia pandai mengatur keuangan perusahaan. Kalau Pak Jangkung tidak hemat dan cermat dalam mengatur uang, perusahaan ini sudah hancur dari dulu. Lagi pula, apa salahnya jika Pak Jangkung dari kelompok ungu yang menjadi direktur?”

Bu Mlenuk dari kelompok merah langsung menjawab, “Pak Nggambleh, kami ini sayang dengan kalian semua. Kami tidak punya maksud buruk. Tapi dalam kelompok kami ada tertulis peraturan bahwa pemimpin terbaik adalah dari kelompok merah. Tidak bisa tidak.”

Sontak orang-orang dari kelompok lain berbisik-bisik dan tampak bingung. Bagaimana bisa kelompok merah itu mengatakan sayang kepada kelompok lain, tapi mereka tidak mau menerima jika perusahaan itu dipimpin oleh orang yang juga cerdas dan dapat mengayomi dari kelompok lain? Kali ini memang Pak Jangkung yang ditolak. Tapi kelompok hijau punya Bu Sumeh yang dapat mendengarkan keluhan para karyawan lain dengan dengan baik plus bisa memberi solusi yang baik. Dari kelompok putih, ada Pak Botak yang pengetahuannya dalam bidang manajemen sudah diakui dunia. Dari kelompok biru ada Bu Rambut Bob yang mumpuni dalam bidang pemasaran produk. Dari kelompok kuning ada Pak Sentir (karena ke mana-mana bawa sentir) yang sangat cerdik dalam membuat strategi. Dari kelompok cokelat ada Bu Poni yang sangat kreatif dalam membuat produk-produk baru yang sangat laris.

Mendengar cerita ini aku pun jadi gerah. Kenapa sih kelompok merah ini tidak mau dipimpin orang dari kelompok lain? Padahal toh dari kelompok lain juga sama-sama baik dan pasti bisa memajukan perusahaan Warna-Warni Asri. Kalau mereka benar-benar sayang dengan kelompok lain dan mau memajukan perusahaan, mengapa mesti curiga kepada yang lain? Ah, entahlah. Aku juga tidak mengerti. Semoga perusahaan Warna-Warni Asri itu tetap maju. Sayang kalau bubar … Apalagi jika bubar hanya karena kebencian dan prasangka yang tidak perlu.

biar beda-beda, kalau rukun kan cakep. walaupun sederhana, tetap menarik. iya nggak sih?

 

Foto: koleksi pribadi; lokasi Pantai Depok, Yogyakarta.