Cuci-cuci

Beberapa waktu lalu, ketika aku sedang di Jogja dan berbelanja di sebuah supermarket kecil, seorang ibu yang hendak membayar belanjaannya ditawari oleh sang kasir, “Mau sekalian beli sabun detergen X, Bu? Ini sedang promo, harganya menjadi sekian.” Aku lupa berapa persisnya potongan harga tersebut, tapi yang jelas cukup murah.

Si ibu menjawab, “Enggak, Mbak. Saya tidak pernah mencuci sekarang. Saya selalu pakai jasa laundry kok.”

Di Jogja, tarif jasa laundry itu terbilang cukup murah. Terakhir seingatku, harganya berkisar Rp 3-4 ribu rupiah per kilo, sudah plus seterika. (Jika di Jakarta, kalau tidak salah kisarannya 7-10 ribu rupiah per kilo plus seterika. Malah bisa lebih deh sepertinya.) Aku kurang tahu berapa lama pengerjaannya, tapi perkiraanku paling 3-4 hari. Atau mungkin 1-2 hari? Aku kurang tahu.

Aku ingat, dulu waktu aku masih kuliah, jasa cuci baju ini masih belum sebanyak sekarang. Sebagian orang membuka jasa cuci baju itu dengan cara datang ke rumah-rumah (mungkin bisa dimasukkan dalam kategori asisten rumah tangga, ya?). Kurasa sampai sekarang jasa semacam ini masih ada. Ada juga yang buka jasa cuci baju di rumah, lalu para pelanggannya mengantarkan baju-baju kotor, setelah itu si penjual jasa mencucinya dengan cara mengucek. Kalau sekarang banyak sudah memakai mesin cuci.

Zaman aku kuliah, pertama kali aku kenal jasa laundry ini karena diajak teman seunitku. Dia anak Jakarta. Jasa laundry langganannya ada di perkampungan belakang asrama. Waktu itu aku diajak dia untuk mengambil pakaian yang ia cucikan. Kami berjalan beriringan menyusuri jalan Prof. Yohanes, lalu berbelok ke jalan yang mengarah ke Asrama Stece. Tak berapa lama kami masuk ke sebuah rumah kecil yang penuh dengan baju-baju yang dijemur. Aku takjub dengan begitu banyaknya baju yang sedang dijemur itu. Ibu yang mengerjakan jasa laundry itu belum terlalu tua, tapi aku rasa tenaganya luar biasa. Lha sanggup mencuci sebegitu banyak, tentu kuat sekali pikirku. Aku tidak ingat berapa tarifnya, tapi menurut ukuran kantong mahasiswaku waktu itu, aku merasa sayang mengeluarkan uang “hanya” untuk urusan cuci baju. Toh selama ini aku bisa mengerjakannya dengan baik. Jika aku rutin mencuci baju seminggu dua kali, baju kotorku tidak akan menggunung.

Beberapa waktu lalu, temanku bercerita bahwa dulu ia pertama kali belajar mencuci baju itu ketika ia kuliah di Jogja dan masuk asrama. Jujur saja, aku agak “mak plenggong” alias sedikit kaget mendengar ceritanya. Ucapannya itu seketika membuatku teringat masa kecilku ketika aku mulai iseng mengganggu orang-orang di rumah yang sedang mencuci baju. Biasa kan, anak kecil itu sepertinya rasa ingin tahunya besar serta selalu ingin membantu ini dan itu. Aku dulu begitu. Salah satu tugas rumah tangga yang menarik hatiku adalah mencuci baju. Ketika sudah SD kelas 5 barangkali, aku sudah mulai mencuci baju dalamku sendiri. Mestinya sudah bisa mencuci baju sendiri ya umur segitu? 😀 Jadi, ketika temanku cerita dia baru bisa mencuci baju ketika kuliah, aku kaget. Tapi rupanya dia memang tidak terbiasa mencuci baju dengan cara mengucek. Selama hidupnya, ia hanya kenal mesin cuci sebagai alat mencuci baju. Jadi, dia masih awam soal berapa banyak deterjen yang mesti dicampurkan ke dalam air untuk merendam baju, berapa lama sebaiknya merendam cucian, baju pada bagian mana saja yang perlu disikat?

Barangkali tidak hanya temanku itu yang terpaksa belajar mencuci baju ketika jauh dari rumah. Sekarang saat ini mungkin semakin banyak anak yang begitu mengingat jasa laundri yang semakin banyak dan mesin cuci semakin murah serta menjadi bagian dari rumah tangga. Tapi aku kok merasa masih perlu ya seorang anak itu belajar mencuci baju? Alasanku sederhana saja, kita tidak tahu sampai kapan kita bisa menikmati fasilitas mesin cuci atau mampu membayar jasa laundry. Iya kalau seumur hidup kita ini punya rejeki untuk membayar jasa laundry? Kalau tidak? Lagi pula, kupikir mencuci baju dengan mengucek itu suatu hiburan di hari yang panas seperti sekarang ini. 🙂 Selain itu, mencuci baju adalah bagian dari kemanusiaan kita. Kita memakai baju dan baju kita menjadi kotor. Sudah sewajarnya jika kita bertanggung jawab untuk membuatnya menjadi bersih kembali. Jika kita punya rejeki untuk memiliki dan menggunakan mesin cuci, ya puji Tuhan. Silakan digunakan. Namun, bukan berarti kita kemudian menjadi manusia yang sangat tergantung oleh alat atau teknologi atau melulu membayar orang lain untuk hal yang bisa kita lakukan sendiri. Selain itu, kalau kita sampai tidak tahu cara mencuci baju kita sendiri, kurasa kok agak kebangetan ya? Itu kalau pendapatku sih. Kalau kamu punya pabrik mesin cuci atau punya usaha jasa laundry barangkali beda pendapatnya ya? 😀 😀