Lelang … Lelang (Sebuah catatan iseng)

Kemarin sore, suamiku membawa Koran Tempo (terbitan 12 Agustus 2010). Setelah membaca beberapa beritanya, sampailah aku pada bagian yang memuat daftar lelang (halaman D, berita lelang). Di situ dimuat daftar tender apa saja yang dilelangkan. Biasanya aku tak terlalu memperhatikan daftar semacam itu. Tapi kemarin aku iseng-iseng membacanya, dan ada beberapa hal yang membuatku bertanya-tanya sekaligus geli. Empat kutipan di bawah ini kukutip dari lelang suku dinas pendidikan untuk wilayah Jakarta Barat .

1. Pengadaan alat pemeriksa Lembar Kerja Siswa SD/SMPN: Rp 983.999.500 (hampir 1 milyar)
Di bagian klasifikasinya tertulis:alat/peralatan/suku cadang: komputer. Kalau kupikir-pikir pemeriksa LKS itu cukup nggak sih kalau berupa bolpen, pensil, tip-ex, penghapus “saja”? Kalau alat-alatnya seperti itu, uang 1 milyar rasanya bisa untuk beli alat tulis berkarung-karung. Apalagi kalau beli banyak kan mestinya bisa dapat diskon besar.

2. Pengadaan bio camera multimedia microscope system: Rp 3.154.228.000 (3 milyar sekian…)
Ini barangnya kayak apa ya? Mahal juga.

3. Pengadaan kit matematika SD: Rp 2.351.250.000 (2 milyar sekian…)
Kit Matematika 2 milyar. Itu berupa apa saja? Kalau pakai kertas untuk oret-oretan, bolpen, pensil, penghapus, plus berbatang-batang lidi untuk hitung-hitungan, bagaimana ya?

4. Pengadaan peralatan multimedia interaktif mengenal budaya nusantara untuk SD, standar depdiknas, nasional dan internasional.: Rp. 3.448.664.230 (hampir 3,5 milyar)
Bayanganku nih, peralatan multimedia interaktif itu yaaa … komputer, software. Hmm… apa lagi ya?

Nah, sekarang coba bandingkan dengan daftar lelang berikut ini.
1. Pengembangan sarana PAM di desa rawan air. Lokasi Nagari Silago, kabupaten Damasraya, Sumatera Barat: Rp. 249.591.000
Pengembangan sarana PAM “hanya” dua ratus jutaan? Yang benar saja. Masak lebih murah dibandingkan dengan pengadaan kit matematika SD, sih?

2. Pembangunan Jembatan Sawangan, Sulawesi Utara: Rp. 1.400.000.000
Kok rasanya tidak beda jauh dengan pengadaan alat pemeriksa LKS ya?

3. Pengadaan naskah kuno dan transliterasi naskah kuno: Rp. 1.072.540.000 (1 milyar lebih sedikit)
Lah kok sedikit banget ya kalau dibandingkan dengan pengadaan peralatan multimedia? Pantesan saja kalau naskah-naskah kuno kita diambil oleh negara asing.

Rasa-rasanya aku mau usul, bagaimana kalau ditambah pengadaan kantong ajaib Doraemon? Mungkin jatuhnya akan lebih murah. 😀

Mungkin aku ini memang kurang kerjaan. Wong daftar lelang saja kok ya diurusi. Lagi pula, aku juga tidak mungkin ikut lelang. Duit dari mana? Dari Hongkong? Atau, barangkali aku yang benar-benar tidak tahu hitung-hitungan lelang semacam itu? Ah, sebodo deh! Namanya juga lagi iseng.

Advertisements