Sebuah Cerita (untuk Tommy dan Edna)

Ini cerita lama sebenarnya. Berawal kira-kira dua tahun yang lalu. Seorang teman, Mas Wiji, menawariku membuat cerita untuk komik.
“Komik?” tanyaku.
“Iya. Bisa kan? Tema besarnya tentang multikulturalisme,” katanya.
“Terus terang aku belum pernah membuatnya, Mas,” jawabku. “Tetapi aku akan mencobanya.”
“Baiklah,” jawabnya.
“Nanti siapa yang menggambar, Mas?” tanyaku.
“Teman kita sendiri. Tommy namanya. Nanti aku kenalkan. Dia di Jakarta.”
Aku tidak tanya lebih lanjut. Aku belum kenal siapa dia. Katanya, dia pernah menang lomba apa gitu. Aku sih iya iya saja. Yang penting, aku coba menulis ceritanya dulu.

Kami berkenalan lewat e-mail. Dan aku mengirimkan cerita ke Tommy. Aku paling tanya-tanya lewat YM apakah ceritanya sudah cukup panjangnya, atau perlu ditambah beberapa detail lagi. Maklum, aku masih awam banget untuk menulis cerita komik. Sampai cerita itu selesai, aku juga belum pernah ketemu Tommy.

“Contoh hasil gambarnya dia seperti apa, Mas?” tanyaku pada Mas Wiji suatu kali.
“Lihat di Kompas. Biasanya ada kok. Nanti cari saja yang ada namanya: Thomdean.”
Tak berapa lama Mas Wiji datang sambil membawa Kompas dan menunjukkan gambar Thomdean di harian Kompas. Rupanya namanya Tommy Thomdean. Dia dulu kuliah di UGM, Jogja dan sepertinya cukup aktif di PMK (Persekutuan Mahasiswa Kristen) sewaktu mahasiswa dulu.

Wah, aku jadi nggak PD. Lha wong aku baru belajar nulis cerita, sedangkan dia karyanya sudah skala nasional bahkan sudah mendunia–itu kalau kutilik dari biodatanya di web pribadinya. Tapi tak apalah. Yang penting mencoba.

Aku baru bertemu Tommy ketika ia sudah menyelesaikan gambar untuk komik itu. Anaknya menyenangkan. Kesanku sih, kartun banget. Halah, piye kuwi jal? Hehehe. Dan aku “pangling” dengan cerita yang kubuat. Cerita yang menurutku biasa-biasa saja, jadi tampak beda. Memang tidak sia-sia deh meminta Tommy menggambar komik itu. Aku puas sekali dengan hasil karyanya.

komik dengan tema multikulturalisme yg kubuat dengan TommySesuai “pesanan” Mas Wiji untuk membuat cerita multikultur, aku mengangkat cerita tentang perbedaan suku dan agama. Tentunya untuk anak-anak dong. Komik ini menjadi salah satu sarana pendidikan multikulturalisme yang digagas Mas Wiji dan teman-temannya yang tergabung di Persekutuan Sahabat Gloria. Kali ini mereka bekerja sama dengan Public Affair Section Kedutaan Besar Amerika Serikat. Mas Wiji dan teman-temannya memiliki sanggar yang memang menaruh perhatian pada pendidikan anak-anak. Mereka biasa melakukan pendampingan anak-anak di Gunung Kidul. Dan multikulturalisme ini menjadi salah satu bagian dari kurikulum mereka. Diharapkan setelah menerima pendidikan multikulturalisme, anak-anak nantinya (setelah mereka besar) bisa menerima perbedaan suku, agama, budaya dan berbagai perbedaan lainnya, dan bukannya menjadikan perbedaan itu sebagai pemisah, tetapi justru bisa bekerja sama dengan baik.

Komik itu selesai. Dan aku pindah ke Jakarta. Tetapi aku jarang ketemu Tommy. Seingatku aku baru tiga kali ketemu dia. Kalau ketemu obrolan kami tak jauh-jauh dari keinginan untuk membuat karya bersama lagi, entah itu komik, buku bergambar, atau apalah. Terakhir Tommy menawarkan komik multikultur itu ke sebuah penerbit, dan mendapatkan tanggapan yang bagus; tetapi harus ditambah beberapa detail lagi.

Ketika pertama kali bertemu Tommy–sebenarnya pertemuan itu tak sengaja–aku diperkenalkan juga pada Edna. Dia wartawan Kompas. Sepertinya mereka dekat. Tetapi laki-laki dan perempuan yang tampak dekat, belum tentu pacaran kan? Dan aku juga tidak tanya seperti apa relasi mereka.

Beberapa minggu lalu, ketika aku sedang online di siang hari, aku melihat Tommy juga sedang online. Tumben. Aku ber-“say Hi” padanya dan chatting sebentar. Kalau dengan dia obrolannya tak jauh-jauh dari gambar dan tulisan. Tapi tak lama kemudian dia tampak off, dan beberapa saat ada e-mail masuk darinya. Di situ ada attachment suatu gambar. Gambar apa ya?

Rupanya undangan. Undangan pernikahan Tommy dan Edna–Tommy Thomdean dan Edna Caroline Pattisina. Undangannya khas Tommy. Namanya juga tukang gambar, undangannya pun dihiasi hasil coretan Tommy. Gambar rel yang melambangkan mereka. Kalau boleh aku menginterpretasikan gambar itu, kira-kira artinya dua pribadi yang berbeda tetapi memiliki arah yang sama dan masing-masing tetap bisa mengembangkan diri. Aku senang mendapat kabar itu. Rasanya mereka memang pasangan yang cocok. Memang aku jarang bertemu mereka, tetapi menurutku sih, mereka dua orang yang menyenangkan dan tampak bersemangat. Jadi, cocok kalau mereka memutuskan untuk menikah.

Mereka menikah tanggal 1 Mei 2010 hari Sabtu kemarin. Kupikir aku tak bisa menghadiri pemberkatan mereka, karena aku ada rencana pulang ke Jogja. Tapi rencanaku kuundur. Dan Sabtu kemarin, pagi-pagi aku dan suamiku, Oni, berangkat ke Gereja Imanuel yang terletak di depan Stasiun Gambir. Gerejanya keren loh! Aku yang baru sekali itu masuk gereja selain gereja Katolik, terkagum-kagum melihat bangunannya. Tampak megah dan syahdu. Ketika kami memasuki gerbang, kulihat Tommy dan Edna sedang naik mobil pengantin dan mereka melambaikan tangan saat melihat kami.

Pemberkatan berlangsung lancar. Edna cantik dengan gaun pengantin putihnya, dan Tommy dengan yakin menggandeng Edna ke depan altar. Koornya bagus sekali. Aku terharu ketika mereka mengucapkan janji pernikahan. Aku jadi ingat waktu aku dan Oni menikah dulu. He he… Tidak kusangka, dua tahun kemudian, tepatnya dua tahun lewat enam hari kemudian, temanku Tommy dan Edna menikah.

Selamat ya Tommy dan Edna! Semoga menjadi keluarga yang bisa menjadi berkat buat orang-orang di sekeliling kalian dan karya-karya kalian terus berkualitas! 🙂