Tempat Ngopi Paling Enak?

Belum lama ini aku ditanya oleh seorang teman, “Di mana tempat ngopi paling enak?”

Aku menggeleng. Terus terang aku sudah lama tidak ngopi di luar.

Dulu, aku bisa dengan cepat menjawab bahwa Klinik Kopi adalah tempat ngopi yang asyik. Tapi itu dulu. Dulu, ketika Klinik Kopi menempati PSL Sanata Dharma di belakang Toga Mas. Tempatnya asyik, lapang, di antara pohon-pohon jati. Menurutku ini semacam oase di tengah Jogja yang semakin sumpek oleh hotel-hotel dan macet. Sekarang setelah Klinik Kopi menempati tempat yang baru, aku malah jarang ke sana. Padahal lebih dekat rumah.

Akhir bulan lalu, ada teman yang mengajakku ke Klinik Kopi. Jika tidak mengingat teman-teman ini tinggal di luar Jogja, aku rasa aku akan menolak ajakan mereka. Setelah AADC memang Klinik Kopi makin banyak dikenal. Banyak orang ingin mencoba mencicipi kopi di sana. Namun, aku teringat kunjungan terakhirku ke sana. Waktu itu aku merasa Klinik Kopi tidak seperti dulu. Terlalu ramai. Sentuhan personalnya semakin jauh berkurang.

Tapi baiklah… aku coba ke sana lagi. Aku tiba di Klinik Kopi pukul 15.30, setengah jam lebih awal dari jam bukanya. Kupikir aku akan dapat urutan pertama. Ternyata sudah ada orang yang datang lebih dulu. Beberapa waktu kemudian, orang-orang mulai berdatangan–sementara Klinik Kopi belum buka. Klinik baru buka pukul 16.00. Dari pengalamanku, sebaiknya datang awal ke Klinik Kopi. Soalnya antrinya banyaaaak. Malesin dah.

Menjelang pukul 16.00, gembok pagar Klinik Kopi mulai dibuka. Sesuai urutan, aku dapat antrian nomor 2. Waktu kami dilayani, kami masuk berempat termasuk satu anak temanku. Orang-orang makin banyak yang datang. Mas Pepeng masih mengenaliku. Tapi dari caranya melayani kami, aku merasa seolah tergesa-gesa. Iya, iya yang datang sudah banyak. Yang butuh diladeni banyak. Wajar kalau cepat. Tapi dulu Klinik Kopi tidak seperti itu.

Dulu di Klinik Kopi orang bisa saling mengenal. Dari yang semula tidak kenal sama sekali, karena kopi kami jadi bisa saling berbincang. Tapi sekarang suasana itu tak kurasakan lagi.

Klinik Kopi makin berkembang, makin dikenal. Aku ikut senang menyaksikannya. Tetapi secara pribadi aku berkata pada diriku sendiri, aku tidak akan ke sana lagi. Mungkin kalau ada teman yang minta diantar, aku masih mau mengantar. Tapi hanya sebatas mengantar. Tidak ngopi di sana lagi.

Belajar Ngopi di Klinik Kopi

Selama ini aku selalu mengatakan bahwa aku bukan peminum kopi. Sebetulnya dulu aku suka kopi. Tapi itu dulu sekali. Tapi kemudian ada suatu pengalaman yang membuatku tidak suka minum kopi, yaitu ketika aku jadi deg-degan dan sakit perut hebat setelah minum kopi Nesc*f*. Sejak itu, aku hampir tidak menyentuh kopi. Paling minum sedikit kadang-kadang kalau suamiku membuat kopi. Tapi peristiwa beberapa minggu lalu barangkali akan mengubah persepsiku tentang kopi.

Ceritanya begini… Waktu itu aku sedang di Jogja, dan tiba-tiba seorang teman lama mengontakku. Aku juga tidak mengira dia mengontakku setelah sekian belasan tahun (kata dia sih sudah 20 tahunan tidak bertemu). Dia adalah Bhuri, teman yang kukenal ketika dulu aku ikut pelatihan jurnalistik di Surabaya zaman SMA. Dia salah seorang peserta dari Malang, dan aku dari Madiun. Setelah pelatihan kami memang sempat surat-suratan, tapi setelah itu surat-surat itu berhenti–entah kenapa. Jangan tanya kenapa, karena rupanya ingatanku tidak seperti gajah. (Sayangnya kami tidak berfoto bersama waktu bertemu kemarin karena Bhuri sepertinya alergi dengan kamera :p.) Ternyata sudah dua tahun ini dia kuliah S2 di UGM–selama ini dia bekerja di Banjarbaru, Kalimantan. (Ealaaaah… kenapa nggak dari kemarin-kemarin bilang kalau kuliah di Jogja?) Lalu bertemulah kami suatu sore di kafe Djendelo, toko buku Toga Mas, Gejayan. Selama ngobrol ngalor-ngidul, aku jadi tahu kalau dia suka ngopi. Waktu itu dia pesan kopi pahit. Dia bilang, kopinya kurang enak. Aku sendiri pesan teh–yang rasanya biasa-biasa saja.

Beberapa hari kemudian, kami ketemuan lagi. Waktu itu aku hendak memberikan bukuku kepadanya. Awalnya bingung juga sih mau ketemu di mana. Karena paling gampang di Toga Mas, ya sudah, ketemulah kami di sana. Tapi setelah itu ke mana? Aku ingat, beberapa hari sebelumnya, aku mendapat informasi tentang Klinik Kopi yang terletak di belakang Toga Mas. Kami pun memutuskan ke sana.

Aku sendiri masih belum tahu persis seperti apa dan bagaimana Klinik Kopi itu. Aku memilih tempat itu semata-mata karena aku tahu Bhuri suka ngopi. Itu saja sih. Siapa tahu tempatnya enak buat ngobrol, itu bisa jadi bonus. Niatnya dari awal cuma mau memberikan buku kok. Ternyata Klinik Kopi memang tidak jauh dari Toga Mas. Ancer-ancernya: Gang pertama sebelah selatan Toga Mas masuk beberapa meter. Di sebelah kiri ada Lembaga Studi Lingkungan Sanata Dharma. Cirinya banyak pohon jatinya, masuk deh ke situ.

Di sinilah Klinik Kopi berada. Di antara pepohonan jati.
Di sinilah Klinik Kopi berada. Di antara pepohonan jati.

Foto hasil minjem dari sini (nggak sempat bawa kamera pas ke sana).

Ketika memasuki pelataran bangunan itu, aku agak ragu. Benar nggak sih tempatnya di sini? Beberapa motor kulihat terpakir di sana. Sudahlah, masuk saja. Klinik Kopi terletak di lantai dua bangunan tersebut. Hari itu masih sore, sekitar pukul 18.30. Kami langsung dapat giliran dilayani. Pertama, kami kenalan dulu sama Mas Pepeng, si pemilik Klinik Kopi ini. Kemudian duduklah kami di hadapan deretan beberapa toples kopi dari beberapa daerah di Indonesia. Seingatku, selain aku dan Bhuri, ada dua (atau tiga orang?) yang duduk bersama kami.

Awalnya aku ditanya Mas Pepeng, mau minum kopi apa. Lhadalah… Apa ya? Bukan peminum kopi kok ditanya mau kopi apa. Aku pun mengatakan bahwa aku bukan peminum kopi. Belakangan minum kopi nunut, maksudnya, kalau suamiku buat kopi, ya aku icip-icip. Kopi yang kuminum terakhir adalah kopi Aroma dari Bandung dan kadang-kadang kopi susu ABC sachet. Kuceritakan juga kalau aku agak bermasalah dengan lambung. Sudah, setelah itu aku manut mau dibuatkan kopi apa. Mas Pepeng sempat menjelaskan beberapa hal tentang kopi. Dan di sinilah keunikan Klinik Kopi itu. Klinik Kopi bukan kafe, tapi di sini semacam tempat belajar tentang kopi. Aku jadi sedikit tahu tentang kopi deh. Yang membuatku sakit perut setelah minum kopi adalah campuran dalam bubuk kopi (jagung, misalnya) dan juga flavour atau perisa (biasanya dipakai dalam kopi sachetan). Selain itu, kopi yang diseduh dengan air dispenser juga kurang bagus untuk lambung. Penawar sakit perut untuk kopi adalah pisang. Dan disarankan minum air putih yang banyak setelah minum kopi karena kopi memberatkan kerja ginjal (apalagi kalau sudah dicampur gula, ginjal akan lebih berat lagi kerjanya). Menurut Mas Pepeng, kopi itu ibarat agama. Tiap orang punya agama masing-masing. Misalnya, orang yang agamanya Bajawa, menganggap kopi tersebut yang paling enak. Tapi orang lain berhak punya “agama” yang lain, misalnya kopi Kalosi.

Indonesia sebetulnya punya jenis kopi yang banyak. Tapi sayangnya, orang Indonesia paling banyak mengonsumsi kopi sachetan. Kopi asli Indonesia kebanyakan diekspor dan kurang dikenal di kalangan masyarakat biasa. Sayang banget ya? Mas Pepeng mendapatkan biji kopi dengan fair trade, langsung dari petani. Semua kopi yang ada di Klinik Kopi adalah kopi asli dari beberapa wilayah Indonesia.

Oke, deh… akhirnya sore itu aku dibuatkan kopi Wamena medium (bukan yang pekat banget). Dan itulah pertama kalinya aku mencoba menikmati kopi tanpa gula. 😀 😀 Rasanya? Awalnya agak aneh karena aku tidak terbiasa minum kopi pahit. Tapi, setelah itu aku malah jadi penasaran dengan kopi yang lain. 😀 😀 Sejauh ini aku sudah mencoba kopi Mandailing, Takengon, dan Bajawa.

Aksi Mas Pepeng waktu membuat kopi.
Aksi Mas Pepeng waktu membuat kopi.

Foto hasil minjam dari BB Mbak Nova.

Sejak itu aku beberapa kali ke Klinik Kopi. Tidak hanya dengan Bhuri, tapi aku juga sempat mengajak my partner in crime, sepupuku, Mbak Nova, yang kebetulan sedang pulang ke Indonesia. Dia pecinta kopi dan lidahnya lebih canggih untuk mencicip kopi. Dua orang ini juga yang sepertinya mempengaruhi lidahku untuk masalah kopi. Keduanya pecinta Bajawa yang wangi sekali aromanya. Akhirnya aku pun jatuh cinta pada Bajawa. (Jadi, agama kami bertiga adalah Bajawa hihihi.)

Akhirnya benar-benar jatuh cinta pada Bajawa yang harum dan pahit. :)
Akhirnya benar-benar jatuh cinta pada Bajawa yang harum dan pahit. 🙂
Ki-Ka: Oni, aku, Mas Pepeng, Mbak Nova, Mas Yitno. (Empat saudara yang sempat mampir ngopi ke Klinik Kopi.)
Ki-Ka: Oni, aku, Mas Pepeng, Mbak Nova, Mas Yitno. (Empat saudara yang sempat mampir ngopi ke Klinik Kopi.)

Foto: hasil minjem dari BB Mbak Nova.
Menurutku, kalau kalian ingin belajar tentang kopi dan menikmatinya, sesekali sempatkan ke Klinik Kopi. 🙂 Layak dicoba. Klinik Kopi buka dari pukul 16.00 dan order terakhir pukul 22. Atau, ikuti @klinikkopi untuk update terbaru. Terakhir-terakhir aku ke sana, antrian di agak panjang, jadi mesti sabar menunggu giliran. Klinik Kopi juga tempat yang asyik untuk bertemu teman-teman baru, sesama pecinta kopi. Jadi, kapan ke Klinik Kopi lagi? (Ah, jadi kangen deh…)