Setelah Tak Kerja Kantoran, Ngapain?

Beberapa minggu lalu, aku menemui seorang teman yang akan pensiun. Aku merasa cukup berutang budi padanya karena beberapa belas tahun lalu dia telah memberiku kesempatan untuk melakukan kerja sampingan menjadi penyunting lepas untuk majalah yang digawanginya. Aku kurang tahu apakah istilah menyunting sudah tepat. Yang kulakukan adalah memperbaiki kalimat dan mencari kalau-kalau ada salah ketik. Selain menyunting artikel yang akan terbit, aku juga sesekali menulis. Kadang ulasan buku, kadang artikel lepas biasa. Pernah juga dia memberiku pekerjaan berupa terjemahan. Hal itu kulakukan dulu semasa aku masih kerja kantoran.

Kupikir-pikir, dia adalah salah satu orang yang berjasa membuatku merasa lebih PD dalam melakukan pekerjaan yang bersangkutan dengan buku, teks, artikel, dan semacamnya. Dan berkat dia pula, aku punya sedikit uang tambahan selain gaji tetap yang kuterima di kantor.

Ketika aku bertemu dengannya–sebelum sempat aku bertanya–dia mengatakan dia belum tahu apa yang akan dilakukan setelah pensiun nanti. Kalau dilihat perawakannya, dia masih jauh dari definisi tua. Masih segar bugar. Aku jadi membayangkan, kalau aku jadi dia, apa ya yang akan kulakukan? Pengalaman banyak, waktu banyak, tetapi barangkali kurang terbiasa mencari pekerjaan sambilan.

Aku bisa paham jika orang setelah pensiun mengalami post power syndrom. Karyawan biasa saja bisa mengalami itu, apalagi orang yang terbiasa memegang jabatan. Pekerjaan kantoran itu sedikit banyak menempelkan identitas pada kita. Dulu aku pernah merasa useless setelah tak lagi ngantor. Padahal dulu aku sendiri yang memilih mengundurkan diri (resign). Kan ikut suami ke luar kota. Kalau nggak resign, masak kantornya aku bawa? 😀

Tadi pagi, kakakku cerita ia ketemu seseorang yang akan diakhiri kontraknya oleh sebuah NGO. Usianya masih sangat muda. Tapi dia terbiasa kerja ikut orang. Waktu ditanya, apa yang akan dilakukan setelah kontraknya habis? Dia menjawab tidak tahu.

Menurutku mahasiswa dan orang-orang sekolahan sekarang pada umumnya tidak disiapkan untuk mandiri. Setelah lulus, pertanyaan yang muncul adalah: Kerja di mana? Berapa gajinya? Kalau bekerja di perusahaan bonafid dan gaji tinggi, langsung derajatnya melejit. Keren deh. Selain itu, sekarang banyak orang setelah lulus S1 cenderung langsung melanjutkan S2. Mungkin harapannya setelah lulus S2, bisa bekerja di perusahaan yang jauh lebih bonafid dan bergaji jauh lebih tinggi. Semakin keren. Orang-orang seperti ini kurasa yang akhirnya gamang ketika mesti pensiun dini, ketika kontrak tidak diperpanjang. Mungkiiiin, lho ya. Aku bilang begitu karena melihat orang-orang di sekitarku begitu.

Mengalami gamang dan galau setelah tidak ngantor itu biasa. Namanya juga lepas dari sebuah kebiasaan. Tapi kurasa kalau kita masih sehat walafiat, tubuh masih lengkap, masih muda, banyak yang bisa dilakukan. Itu modal yang sangat besar. Kalau bisa sih sebetulnya sebelum hari H pensiun, mesti mulai melakukan sesuatu. Entah itu berkebun, nulis blog, memasak, bikin sabun (eh itu kan aku, ya?) … apa sajalah. Kalau hasilnya bisa dijual, ya dijual. Lumayan bisa untuk tambah-tambah beli garam–begitu kata Ibuk. Yang jadi tantangan adalah kalau uang pensiun tidak cukup untuk hidup dan bayar tagihan. Lalu bagaimana? Ng… aku belum pernah mengalaminya. Jadi tidak bisa memberi solusi.

Aku hanya berpegang pada motto orang Jawa: Ubet, ngliwet. Kalau kita berusaha, pasti hasilnya bisa untuk hidup. Jadi, begitulah.

Don’t worry be happy. Yuk ubet, ben iso ngliwet.

Advertisements

Sisi-sisi Jakarta Dahulu dan Kini dalam Benakku

Ketika aku masih SD, liburan yang paling kutunggu adalah pergi ke rumah Simbah di Jogja. Bagiku, rumah itu menyenangkan. Yang paling kuingat adalah banyaknya tanaman yang diatur rapi dan terawat dengan baik. Mbak Kakung maupun Mbah Putri memang suka dengan tanaman. Dan mereka betul-betul memelihara sendiri, mulai dari menyiangi tanaman, menyiram, dan memberi pupuk. Seingatku, Mbah Kakung selalu menyediakan lubang yang khusus untuk membuang dedaunan kering di halaman rumahnya. Jika sudah penuh, akan digali lubang lagi untuk keperluan yang sama.

Berlibur di rumah Simbah itu berarti menikmati sarapan roti tawar dengan susu kental manis, menyantap burjo menjelang tengah hari, makan bakso untuk makan siang, dan makan sate di malam hati. Selain itu juga berarti mendengarkan berbagai cerita Mbah Putri, salah satunya adalah cerita tentang beberapa anak yang dibanggakannya. Bukan, bukan ibuku yang dibanggakan, tetapi anaknya simbah yang tinggal di Jakarta. Kepada setiap orang yang datang–terlebih orang baru atau tamu–simbah akan bercerita bahwa salah satu anaknya bekerja di Astra. Terus terang, aku tidak tahu persis kenapa Astra dan Jakarta adalah hal yang perlu dibanggakan dan diulang-ulang. Namun, di pemikiranku yang masih belia itu, aku hanya menangkap Jakarta adalah sebuah kota nun jauh di sana yang punya tingkat kemakmuran melebihi kota-kota yang kukenal–Madiun dan Jogja.

Suatu ketika Ibu mengajakku ke Jakarta. Aku lupa, waktu itu aku kelas berapa. Tapi sudah cukup besar rasanya. Ibu mengajak aku, kakakku, dan beberapa kerabatku ke Jakarta. Saat itu, kami menginap di rumah adik ibuku. Karena adik ibuku ada tiga yang tinggal di seputaran Jakarta, maka kami berpindah-pindah menginapnya supaya semua kebagian. Ketika itu, yang kutangkap Jakarta adalah kota yang besar, dan rasanya saudara-saudara ibuku rasanya cukup berada. Salah satu kategori yang kupakai untuk menunjukkan seseorang cukup berada adalah punya mobil. (Namun, di kemudian hari, kategori itu kuanggap tidak terlalu benar, apalagi untuk orang Jakarta.) Ya, ketiga adik ibuku itu punya mobil semuanya. Dengan adanya mobil kami tidak perlu naik kendaraan umum untuk menikmati Jakarta.

Waktu berlalu. Ketika kakakku lulus kuliah, dia menyatakan mau bekerja di Jakarta. “Di sanalah kita bisa mengumpulkan uang karena 80% uang Indonesia berputar di sana.” Aku masih tidak mengerti apa maksud kata-katanya itu. Yang aku tahu, dia lalu menumpang di rumah tanteku dan mulai bekerja. Aku ingat pernah menjenguknya satu kali. Kali itu aku datang ke Jakarta bersama Ibu saja, lalu langsung menuju rumah Tante. Kami tiba menjelang sore. Aku berharap, tak lama lagi aku bisa bertemu dengan kakakku. Ketika kutanya Tante jam berapa kakakku biasanya tiba di rumah, dia menjawab kira-kira pukul 8 malam. Wah, malam sekali. Aku berpikir dalam hati, mampir ke mana saja dia? Dia kan tahu aku dan Ibu datang, sudah sepantasnya dia pulang lebih cepat, kan? Benar saja, kira-kira pukul 8 kakakku datang. Dia kelihatan lelah. Dia mengatakan tidak mampir ke mana-mana. Langsung pulang setelah jam kantornya usai. Kami kemudian mengobrol sebentar, lalu tidur. Dia mengatakan harus bangun pagi-pagi benar, karena pukul 05.30 harus sudah keluar rumah untuk berangkat ke tempat kerja.

Aku sama sekali tidak mengerti kenapa dia mesti berangkat pagi-pagi begitu. Dia hanya bilang, waktu tempuh ke kantornya cukup lama dari rumah tanteku itu. Ah, masak harus pergi sepagi itu sih? Aku masih tak mengerti.

Akhirnya kakakku tidak betah berlama-lama di Jakarta. Awalnya dia mengeluh atasannya tidak menyenangkan. Suka merokok di ruangannya yang ber-AC, gajinya kecil pula. Dia sudah berusaha mencari tempat kerja yang lain, tetapi belum dapat juga. Mungkin kurang mujur. Dan dia pun memutuskan pulang ke Jogja–kota yang sudah diakrabinya selama belasan tahun sejak dia SMA. Mau kerja apa di Jogja, belum tahu juga. Yang penting pulang dulu ke Jogja. Kulihat dia beberapa kali memasukkan lamaran dan mencari informasi. Akhirnya setelah beberapa bulan, dia pun mendapat pekerjaan sebagai tenaga pengajar di sebuah universitas swasta katolik. (Sekarang aku berpikir, itulah kemujuran kakakku: Bisa pulang ke Jogja dan mendapat pekerjaan yang layak di sana. Jika tidak, mungkin dia akan tetap berada di Jakarta dan untuk bekerja, ia harus tetap berangkat pagi pulang malam. Kurasa itu adalah salah satu hal yang paling disyukurinya.)

Pengalaman kakakku selalu terpatri di benakku. Aku ingat betul mengantarkannya berjalan keluar kompleks perumahan tante pagi-pagi benar. Setelah sebelumnya bangun di pagi buta, mandi, lalu makan. Tak terbayangkan bagiku seperti itulah arti bekerja di Jakarta. Selama ini, bekerja di kantor berarti berangkat pagi pukul 06.30 seperti Bapak atau pukul 07.00 seperti Ibu. Lalu siang hari, pukul 12.00 atau 13.00 Bapak akan pulang untuk makan siang dan tidur siang sejenak. Nanti pukul 14.00 akan berangkat lagi ke sekolah tempatnya mengajar. Pukul 17.00 atau 18.00 sudah di rumah lagi. Sedangkan ibuku biasanya pukul 14.00 sudah berada di rumah. Itu saja menurutku jam kerja mereka lama sekali. Tapi itu belum apa-apa jika dibandingkan dengan kakakku yang berangkat pukul 05.30 dan sampai rumah pukul 20.00. Sabtu dia pun masih masuk sampai pukul 13.00. Aku sama sekali tidak bercita-cita mengikuti pengalaman kakakku untuk menghabiskan waktu terlalu lama di jalan dan bekerja di perusahaan yang buruk.

Kini setelah aku tinggal di Jakarta selama kurang lebih 3 tahun, aku jadi berpikir lain tentang Jakarta. Dulu aku menganggap Jakarta adalah kota yang gemerlap dan makmur. Sekarang aku berpikir, gemerlapnya Jakarta adalah tanda tidak meratanya pembangunan. Jakarta bagaikan teplok yang memijarkan cahayanya, lalu laron-laron akan mengerubutinya. Jika dulu aku berpikir, alangkah kayanya orang yang punya mobil (di Jakarta), kini aku berpikir, memang begitulah “tuntutan” masyarakatnya. Kebanyakan orang punya rumah jauh di pinggiran sana (seperti adik-adik ibuku), sehingga punya mobil bagaikan suatu keharusan jika mau hidup lebih enak sedikit–apalagi jika sudah punya anak–karena kendaraan umum yang sama sekali tidak bisa diandalkan waktu dan kenyamanannya. Lagi pula, di sini kredit mobil sepertinya semakin dipermudah. Beberapa orang bahkan mendapat bonus mobil jika memberikan kontribusi sampai level tertentu pada perusahaannya. Selain itu mungkin jika dikalkulasi, pulang-pergi ke tempat kerja dengan naik kendaraan sendiri lebih murah dibanding jika naik kendaraan umum. Jika dulu aku selalu menganggap bekerja kantoran itu berarti berangkat pukul 07.00 dan akan tiba di kantor kira-kira 10 atau 15 menit kemudian, kini aku berpikir hal itu adalah kenikmatan di luar Jakarta. Kini aku mengerti kenapa kakakku dulu mesti berangkat pagi-pagi dan pulang menjelang jam tidur. Perjalanan di kota ini selalu memakan waktu–dan tenaga.

Rasanya kota ini selalu saja bisa memberikan penawaran yang membuat banyak orang rela mengorbankan apa pun–termasuk kualitas hidupnya–agar bisa bertahan hidup dan memiliki penghasilan yang lebih tinggi dibandingkan kota-kota di daerah lain. Setelah menjejakkan kaki di kota ini dan melihat sisi-sisinya yang jarang sekali ditampilkan oleh televisi, kini aku punya pandangan yang berbeda tentang Jakarta. Kota ini punya kekurangan dan kelebihannya: kemacetan dan banjir yang sudah dianggap wajar oleh warganya, banyaknya peluang kerja, berbagai fasilitas yang mungkin lebih mudah didapat dibandingkan dengan daerah lain, tuntutan hidup yang berat, dan masih banyak lagi jika kuperinci. Tetapi yang jelas, aku tak ingin masuk dalam pusarannya yang penuh tuntutan. Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri.

Nyontek? Itu Sih Biasa…

Hari Minggu kemarin, aku misa di kapel stasi Yoakhim dekat tempat tinggalku. Waktu berkhotbah, Rm Sudrijanta SJ yang memimpin misa, seperti biasa turun dari altar dan berinteraksi dengan umat dengan melontarkan beberapa pertanyaan. Salah satu pertanyaannya adalah: “Punya kebiasaan buruk apa?” Nah, waktu itu yang ketiban sampur mendapat pertanyaan itu adalah beberapa anak usia SD yang duduk di bangku depan. Mungkin karena melihat wajah mereka yang agak bingung mau menjawab apa, Romo lalu menambahkan pertanyaan lagi kepada mereka, “Suka menyontek?” Mereka hampir bersamaan menjawab, “Tidaaaak? sambil menggelengkan kepala. “Bagus, ini generasi yang lebih baik dibandingkan para profesor itu.” Beberapa umat pun tertawa kecil menanggapi pernyataan itu. Untung aku sempat “diup-date” berita oleh suamiku, jadi aku mudeng ucapan Romo itu. Maklum beberapa hari ini aku tidak bisa koneksi internet selancar dulu, jadi ketinggalan berita deh. Rupanya baru-baru ini ada kabar bahwa ada profesor yang melakukan plagiat ya?

Ngomong-ngomong soal plagiat (bahasa cemennya: nyontek atau ngepek), aku punya pengalaman yang tidak terlupakan soal contek-menyontek ini. Hmm, ya … aku pun pernah menyontek waktu sekolah dulu. Ngaku nih! 😀 Tapi yang lebih sering kulakukan adalah memberi contekan. Alasan konyolnya adalah: kasihan pada teman. Hal ini menyelamatkanku juga dari label: tidak setia kawan. Entah mengapa waktu itu, label itu kok rasanya tidak mengenakkan sekali ya. Dibilang, “Sombong, nggak mau ngasih tahu temen sendiri.” Yaaa … daripada dibilang seperti itu, mending kasih contekan deh. Dan mungkin dulu pengawasan guru kurang ketat (alesan :p), jadi kupikir tak ada salahnya memberi keuntungan sedikit kepada teman. Ini jelek banget sebenarnya. Jangan ditiru ya!

Kebiasaan semacam itu mulai terjadi ketika aku SMP, dan semakin menjadi ketika SMA. Waktu SMP sih, hanya di saat-saat yang mendesak saja kegiatan menyontek itu dilakukan. Nah, waktu SMA entah kenapa sepertinya hal itu jadi makin mudah. Uh, memalukan ya. Tapi menyontek itu benar-benar berakhir ketika aku kuliah. Setahuku, waktu kuliah tak ada temanku yang menyontek. Itu setahuku loh … 😀 Mungkin karena sudah sadar semua (soalnya kuliah di SADHAR juga sih hihihi), bahwa menyontek itu tidak baik. Dan mungkin juga karena semua teman tidak menyontek, jadi kalau mau menyontek kan malu sendiri. Sebenarnya ujian dengan tidak menyontek itu lebih melegakan sih. Tidak deg-degan dan lebih puas dengan hasil ujian.

Nah, selesai kuliah … aku pun mulai hunting kerjaan. Semua dicoba. Semua lowongan pekerjaan berusaha dimasuki. Yang ada di pikiranku saat itu adalah bagaimana caranya supaya mandiri, punya uang sendiri dan tidak lagi minta dari orang tua. Aku hampir setiap hari melihat korang lokal dan koran nasional, melihat apakah ada lowongan pekerjaan yang sekiranya bisa kumasuki. Waktu itu, usaha mencari pekerjaan itu kujalani dengan seorang teman kuliahku, Ike. (Hai, Ke! Kita lama nggak ketemu ya! :D) Kebetulan kami lulusnya hampir bersamaan dan ke mana-mana aku sering bareng dia. Jadi, kalau ada lowongan pekerjaan, kami melamarnya bersama-sama.

Saat sedang semangat-semangatnya mencari pekerjaan, aku dan Ike waktu itu melihat sebuah lowongan pekerjaan yang menarik: Dibutuhkan tenaga untuk bidang penelitian. Kira-kira begitu deh bunyi lowongannya. Wah, boleh dicoba nih, pikir kami. Kami pun melamar ke sana, dan tak lama kemudian kami mendapat panggilan untuk tes.

Sesampai di tempat tujuan, aku dan Ike sempat terbengong-bengong, karena kantor yang dimaksud hanya berupa rumah biasa di sebuah kompleks perumahan. Yah, waktu itu aku membayangkan yang namanya pekerjaan itu ya mesti di kantor (padahal sekarang aku kerja di rumah hihihi). Di tempat itu ada beberapa komputer dan pegawainya pun cuma satu atau dua orang saja. Kami sama sekali tidak bisa menebak, ini instansi di bidang apa? Apa yang mereka teliti? Tak lama kemudian, sang pemilik muncul dan melihat sekilas fotokopian IP dan ijazah kami (hmm, aku lupa waktu itu ijazah atau hanya surat tanda lulus saja ya?). Setelah omong-omong singkat, dia langsung menawarkan pekerjaan berupa … membuatkan skripsi orang! Kami ditawari bayaran berapa ya waktu itu? Kalau tidak salah sekitar 3 jutaan. Uang itu kami terima jika kami berhasil membuatkan satu buah skripsi pesanan orang, dan orang itu bisa lulus. Gubraaak! Yang terlintas di pikiran kami waktu itu adalah: Gileeee, baru aja kami capek-capek menyelesaikan skripsi, sekarang malah disuruh membuatkan skripsi orang lain? No way! Yang bener aje! Lagi pula, ini kan pekerjaan yang tidak benar. Jadi, lupakan bayaran yang sampai jutaan itu. Kami pun segera pergi dari tempat itu.

Sebenarnya usaha plagiat; usaha membuatkan paper, skripsi, thesis bukan barang baru lagi. Di Jogja, hal seperti itu buanyaaak! Dulu, waktu aku masih kuliah, di shopping banyak sekali paper atau skripsi yang dijual. Aku tidak tahu kalau sekarang bagaimana. Tapi sebenarnya mudah sekali mengenali usaha orang yang mau membuatkan kita paper atau semacamnya; biasanya mereka memasang iklan dengan penawaran semacam ini: Anda kesulitan dengan skripsi? Bimbingan skripsi dibantu sampai selesai. De el el. Aku kadang masih menjumpai iklan semacam itu di koran-koran atau plakat-plakat di pinggir jalan.

Jadi, kalau ada berita bahwa ada profesor yang melakukan plagiat, itu sebenarnya berita basi. Setidaknya itu tidak mengagetkan lagi bagiku. Ibaratnya ini adalah usaha yang mana orang sudah tahu sama tahu, dan mudah sekali mendapatkan orang yang punya usaha macam itu. Kurasa yang perlu dipertanyakan adalah mengapa hal itu bisa terjadi? Mungkin ini terkait nilai-nilai yang dijunjung oleh masyarakat. Masyarakat kita masih sangat menghargai dan mudah sekali membanggakan hasil. “Ini lo, anakku baru lulus, nilainya A semua.” Lagi pula, hampir semua orang sepertinya bangga jika bisa sekolah yang setinggi-tingginya. Padahal kupikir, tidak semua orang mampu sekolah sampai jenjang yang tinggi. Apalagi kalau itu cuma demi gengsi.

Enak di Kantor atau di Rumah?

Wuiiih… lama banget aku tidak mengunjungi blogku sendiri. Sepertinya blog ini sudah lumutan dan beberapa kali atapnya bocor kena hujan. (Halah! Mulai lebay deh… Hehe.) Beberapa hari kemarin memang banyak hal yang harus dikerjakan. (Mulai buat alasan …) Dan aku tak punya stok naskah yang bisa langsung dipublikasikan di blog. Ada sih tulisan pendek-pendek, tapi ibarat makanan, itu belum matang. Masih harus ditambahi, diedit… dan kalau perlu ditulis ulang. Hehehe.

Oke, sekarang mau cerita apa enaknya? Cerita yang ringan-ringan saja ya. Sesuatu yang menyerempet-nyerempet pekerjaanku.

Beberapa kali setiap ketemu orang baru, aku sering ditanyai: “Kerja di mana?” Nah, ini sebenarnya pertanyaan yang agak panjang penjelasannya. Kata “di mana” berarti menunjuk tempat, kan? Jadi, aku jawab, “Di rumah.” Dan tak jarang orang agak bingung waktu mendengar jawabanku. Kok kerja di rumah? Ibu rumah tangga? Ya. Sebagai istri, ya aku jadi ibu rumah tangga biasa. Eh, belum ibu ding. Istri rumah tangga aja kalau begitu. Hehehe. Tapi memang aku benar-benar bekerja di rumah. Alias, pekerjaanku kukerjakan di rumah. Bukan di kantor.

Selama ini aktivitasku tak jauh-jauh dari komputer dan internet. Ah, cuma ngetik-ngetik saja kok. Kalau ada yang perlu diketik, ya diketik. Kalau ada yang perlu diganti bahasanya, ya diganti. Kalau ada kalimat yang agak kurang enak, ya diubah dikit-dikit. Biasa saja. Bukan pekerjaan yang wah atau bagaimana gitu. Tapi ya begitulah, semuanya kukerjakan di rumah. Nah, tapi tidak semua orang mengerti soal ini.

Biasanya sih setelah aku menjelaskan soal pekerjaanku, orang akan bilang, “Wah enak ya?” Hmmm … Aku biasanya aku menjawab, “Sama saja. Ada enak, ada enggaknya.” Aku pernah mengalami menjadi karyawan biasa. Sebagai pegawai kantoran, kupikir ada enaknya juga. Tiap bulan, gaji dengan nominal yang relatif tetap (bahkan bisa naik kan tiap tahun), masuk ke rekening. Enggak enaknya kerja kantoran kalau bagiku tuh soal waktu yang kadang tidak bisa fleksibel. Kadang jatah cuti bukannya nambah, malah kepotong cuti bersama. (Itu kalau kantorku dulu sih.) Kadang pas ingin mencoba hal-hal baru, kita kepentok dengan aturan kantor. Kalau kita cukup bagus prestasinya, syukur-syukur bosnya baik, karier bisa naik. Kalau tidak ya apes saja, mentok di situ-situ saja. Tapi kalau bosnya bikin eneg, kerja kantoran ya ibarat neraka. Malessss…. Ke laut aja deh Pak, Bu Bos…! Itu kelebihan dan kekurangan bekerja kantoran–menurutku lo.

Nah, kalau kerja di rumah? Aku tak tahu apa yang ada di pikiran orang-orang setiap kali kita aku mengatakan aku bekerja di rumah. Soalnya tanggapannya hampir selalu sama: “Enak ya.” Mungkin bayangan orang-orang tuh, kalau bekerja di rumah, aku bisa tidur-tiduran. Hihihi. Tapi memang bisa begitu sih. Setidaknya kalau siang kita ngantuk, aku bisa tidur. Tapi ya tetep saja tidak bisa selalu begitu kan. Soalnya kalau tidur terus, kapan kerjanya? Bekerja di rumah tidak enaknya adalah, tidak setiap bulan ada gaji tetap yang masuk. Kadang dapat banyak, kadang sedikit. Kalau kerjaan belum selesai, ya jangan berharap bakal ada uang yang masuk rekening kita. Jadi, semuanya tergantung pada usaha kita. Yang enak lagi, jika bekerja di rumah, kalau kita ingin mengeksplorasi sesuatu hal yang sesuai minat kita, waktu bisa lebih longgar. Tidak perlu menunggu akhir pekan atau saat cuti. Rasanya lebih bebas sih. Satu lagi enaknya kerja di rumah jika di Jakarta ini: tidak perlu menghadapi macetnya jalanan di waktu jam berangkat dan pulang kantor! Macet itu sangat tidak nikmaaaat …. Selain itu, aku tidak perlu menghadapi gosip-gosip di kantor yang tidak perlu, politik kantor, dan teman-teman atau atasan yang kadang bikin eneg. *Eit, ini nggak menyindir siapa-siapa lo. Cuma kadang denger curhat dari temen-temen yang masih ngantor…. Hehehe. Tapi kalau merasa tersindir, ya tidak dilarang. Hahaha :p*

Setelah dipikir-pikir, enak mana sih sebenarnya: kerja di rumah atau kerja kantoran? Semua ada enak dan tidaknya. Yang jelas, kalau kita menyukai apa pun yang kita kerjakan, semuanya akan terasa menyenangkan. Iya kan?