Madiun – Jogja

Madiun dan Jogja adalah dua kota penting bagiku. Di kedua kota itulah aku pernah tinggal cukup lama. Madiun tempatku lahir dan menghabiskan masa kecil serta masa remajaku; Jogja adalah kota tempatku kuliah, mulai belajar mandiri, dan masa ketika aku mulai mengenal dunia kerja.

Dua kota itu sebenarnya tak terlalu jauh. Anggapan “tidak terlalu jauh” itu muncul setelah sekarang aku tinggal di Jakarta, sih. Soalnya, kalau dari Jakarta ke Jogja naik kereta api, lama perjalanan yang diperlukan sampai 8 jam, bahkan lebih. Tahu sendiri kan, kereta api itu suka molor. Kalau mau cepat, ya naik pesawat. Waktu tempuhnya kurang lebih 1 jam. Karena itu, dibandingkan dengan perjalanan Jakarta-Jogja, maka Jogja-Madiun waktu tempuhnya jauh lebih singkat. Bisa 2,5 jam kalau naik kereta dan keretanya tidak pakai acara molor. Kalau molor, bisa 3 jam, hampir 4 jam.

Dulu nenek dan kakekku dari pihak Ibu, tinggal di Jogja. Maka, sejak kecil aku sudah sering melakukan perjalanan Madiun-Jogja. Kalau musim liburan, aku biasa main ke Jogja. Dulu sih aku tidak naik kereta kalau ke Jogja, tetapi lebih memilih naik travel. Aku ingat, keluarga kami dulu berlangganan travel, karena akan dijemput dan diantar sampai di tempat tujuan. Praktis, dan ongkosnya pun tidak terlalu mahal jika dibandingkan bus. Tetapi naik travel itu memakan waktu cukup lama. Pertama, itu karena kita mesti siap satu jam sebelumnya dan kita akan diajak putar-putar kota dulu menjemput penumpang lainnya. Kedua, jika sudah sampai di tempat tujuan, bisa jadi kita ikut putar-putar kota untuk mengantar penumpang lain. Paling enak kalau dijemput belakangan dan diantar duluan. Karena mesti ikut acara putar-putar kota itulah, naik travel cenderung lebih lama jika dibandingkan dengan naik kereta atau bus antar kota.

Seingatku, kala masih kecil aku pernah naik travel sendiri dari Madiun ke Jogja. Yah, itung-itung latihan mandiri. 😀 Dulu travel langganan kami ada hadiahnya. Kalau sudah langganan, simpan tiketnya, dan jika sudah terkumpul sampai jumlah tertentu (biasanya 10 lembar) bisa ditukar dengan gelas. Saking seringnya naik travel itu, keluargaku punya sejumlah gelas. Mungkin 1 lusin jumlahnya atau bahkan lebih. Kukira hadiah itu untuk menarik pelanggan, karena saat itu ada beberapa travel Madiun-Jogja.

Setelah agak besar, aku mulai agak jarang naik travel kalau ke Jogja. Aku memilih naik bus, karena ongkosnya bisa jauh lebih murah daripada travel. Kalau tidak keliru, travel jurusan Madiun-Jogja pun sudah mulai berkurang. Dibandingkan dengan travel, naik bus lebih luwes untuk soal waktu. Mau berangkat jam berapa saja bisa. Mau tengah malam atau dini hari, juga bisa. Lagipula, bus dari Madiun ke Jogja banyak sekali (biasanya jurusan Surabaya-Jogja yang lewat Madiun). Bus-bus yang ke Jogja ini biasanya pemberangkatannya dari Surabaya, jadi kadang waktu di Madiun, tempat duduknya sudah terisi setengah penuh. Bus-bus itu sebagian ada yang dikenal sering ngebut. Salah satu yang terkenal suka kebut-kebutan adalah bus Sumber Kencono. Terakhir aku naik bus ini, ngebutnya parah betul, sampai-sampai aku mengirim SMS ke pihak pengelola bus tersebut untuk melaporkan bahwa sang supir nyetirnya ngawur. Jika ditempuh dengan bus, Madiun-Jogja, bisa memakan waktu 4 jam.

Aku masih sering naik bus jurusan Madiun-Jogja (atau sebaliknya) sampai saat aku kuliah di Jogja. Walaupun sebenarnya aku kurang suka naik bus, tetapi untuk keluwesan waktu dan tarif yang bersaing, bus merupakan pilihan. Aku pernah punya kartu langganan untuk bus tertentu. Aku lupa apakah untuk bus Sumber Kencono atau Mira, ya? Dengan kartu itu kita bisa mendapat potongan harga jika bepergian bukan pada akhir pekan. Satu hal yang menarik, untuk bus jurusan Jogja-Surabaya, sang kondektur sangat teliti untuk urusan karcis. Kadang kala di tengah perjalanan, kulihat dia menghitung jumlah penumpang dan mencocokkan dengan jumlah karcis. Tak jarang, dia meminta kita menunjukkan karcis yang kita pegang. Jadi, akan ketahuan kalau ada yang tidak membayar. Kalau di awal kita belum mendapat kembalian, dia akan mencatat berapa kembalian kita di karcis kita, dan kalau sudah ada uangnya, dia akan mondar-mandir sambil menanyakan kepada para penumpang apakah ada yang belum dapat kembalian.

Selama kuliah aku sering naik bus jika akan pulang dari Jogja ke Madiun. Sampai suatu saat ada temanku yang berkata, “Ih,serem deh kalau naik bus. Banyak yang ngebut. Aku lebih suka naik kereta kalau ke Jogja.” Waktu itu, aku tak pernah membayangkan naik kereta ke Jogja. Lagi pula waktu itu, tak ada kebiasaan di keluargaku yang naik kereta untuk ke Jogja. Selama ini, naik kereta adalah untuk ke Jakarta atau ke Bandung. Sama sekali tak terbayangkan naik kereta ke Jogja. Akhirnya, aku pun mencoba naik kereta. Kereta yang pertama kali kunaiki saat ke Jogja adalah kereta ekonomi. Selama ini aku membayangkan kereta ekonomi itu selalu berjubel dan saat kita naik, tidak akan dapat tempat duduk. Tetapi ternyata tidak. Kereta waktu itu memang agak penuh, tetapi aku masih dapat tempat duduk. Sejak itu, aku mulai sesekali naik kereta.

Naik kereta menjadi kebiasaan baru. Ketika masih kuliah, aku lebih sering naik kereta ekonomi. Kalau dari Jogja, sebenarnya cukup mudah karena ada kereta Sritanjung jurusan Jogja-Banyuwangi, yang lewat Madiun. Itu adalah kereta ekonomi. Nah, karena pemberangkatannya dari Jogja (St. Lempuyangan), aku pasti dapat tempat duduk. Lagi pula, kereta itu gerbongnya cukup banyak. Jadi, tempat duduk selalu dengan mudah didapat.

Sekarang, aku tak pernah lagi naik bus untuk ke Madiun. Aku lebih memilih naik kereta karena rasanya lebih nyaman. Apalagi sekarang ada kereta Sancaka (Jogja-Surabaya yang lewat Madiun). Itu adalah kereta bisnis-eksekutif, jadi lumayan cepat jika dibandingkan kereta ekonomi–karena biasanya didahulukan.

Beberapa bulan belakangan ini, ada juga kereta baru yang ke Jogja, dengan pemberangkatan dari Madiun. Namanya, Maja, kependekan dari Madiun-Jaya.

Maja, hasil jepretan suami 🙂

Kereta ini menjadi alternatif baru. Karena kelas ekonomi, harga tiketnya lebih murah daripada Sancaka. Kalau tak salah, Sancaka sekarang tiketnya sampai 50 ribu lebih, sedangkan Maja–terakhir aku naik–tiketnya masih sekitar 20-25 ribu. Selisihnya lumayan kan? Kelebihannya Maja adalah, walaupun kereta ekonomi, kereta ini masih bagus dan bersih. Interiornya pun agak berbeda dengan kereta-kereta lainnya. (Sumber foto dari sini.)

interior Maja

Kereta ini berangkat dua kali dari Jogja, pagi dan sore (kalau dari Madiun, pagi dan siang). Aku baru dua kali naik Maja. Yang pertama sore hari, dan itu lumayan penuh sampai banyak yang berdiri. Tetapi aku pernah juga naik yang pagi hari, dan dapat tempat dengan mudah. Kabarnya, kalau pemberangkatan sore hari dari Jogja, kereta itu sering penuh. Mungkin karena mendapat limpahan penumpang dari Prameks (jurusan Jogja-Solo).

Nah, sekarang sih rasanya aku akan selalu memilih naik kereta dibandingkan bus atau travel. Rasanya lebih nyaman saja sih.

Ngomong-ngomong, kalau kamu, lebih suka bepergian naik apa?

 

Advertisements