Perjalanan Hati di Suatu Sabtu Pagi

Sampai hari terakhir bulan Mei, aku belum posting apa pun di sini? Ya ampun. Keterlaluan memang. Aku kadang tidak tahu apa yang terjadi dengan diriku kenapa bisa males banget begini. Memang sih tidak dosa kalau blog ini dibiarkan nganggur. Tapi kan gimana gitu, ya. Aku suka tidak enak sendiri.

Hari Sabtu yang lalu aku ditawari untuk ikut ke rumah susun Cipinang Besar Selatan. RPI (Resourceful Parenting Indonesia) punya kegiatan pendampingan untuk para orangtua di sana. Karena tidak tahu di mana persisnya rusun tersebut, aku janjian dengan Pak Hengky sekitar pukul 9 pagi dan dia bersedia menunggu di depan Hotel Nalendra. Aku naik bajaj ke sana. Kupikir supir bajaj tahu tempat itu, tapi dia sama tidak tahunya denganku. Untungnya tidak kesasar. Waktu sampai di depan Hotel Nalendra, Pak Hengky sudah menunggu. Duh, telat deh aku. Waktu akan berangkat aku pakai acara sakit perut. Dan aku ini kan bukan morning person. Jadi, aku selalu lambat kalau harus aktivitas pagi. Nyawanya susah ngumpul.

Ternyata rusun itu cukup luas. Ada tiga menara (tower). Walaupun tidak bisa dibilang bersih banget, tapi rusun itu sudah lumayanlah. Lebih rapi dibandingkan rumah-rumah yang ada di gang sempit yang ada di Jakarta.

Aku menunggu acara berlangsung di sebuah ruangan yang saat hari biasa dijadikan PAUD. Ruangan itu lega, pencahayaan bagus. Tanpa lampu, matahari bisa masuk. Nyaman untuk belajar anak-anak. Tak lama mataku tertuju pada sebuah rak yang berisi beberapa majalah dan buku. Sepertinya itu adalah rak buku untuk anak-anak yang belajar di PAUD itu. Penasaran, kudekati rak itu. Entah kenapa aku mendadak ingin menangis. Buku-buku anak yang ada di situ sedikit. Semuanya buku terjemahan. Bukannya aku bilang buku terjemahan itu buruk ya, tapi kurasa akan lebih bagus jika buku-bukunya memuat konteks lokal. Salah satu kelemahan buku terjemahan yang ada di situ adalah nama-nama tokoh di buku itu sulit dilafalkan oleh anak (aku tidak perlu menyebutkan judulnya). Dari workshop bersama Room to Read lalu, agar anak senang membaca, diperlukan buku yang sesuai. Kurasa kalau untuk anak usia PAUD, lebih baik buku yang disajikan adalah buku level 1 dan 2. Ciri buku level 1 dan 2 adalah kalimat-kalimatnya sangat sederhana. Rata-rata kalimat per halaman sekitar 0-2 kalimat untuk buku level 1 dan 1-3 kalimat untuk buku level 2. Temanya juga jangan yang rumit, sederhana, dengan situasi yang familiar untuk anak. Singkat kata, menurutku buku-buku di sana terlalu sulit.

Sekitar pukul 10.30 acara dimulai. Pak Hengky membagikan pentingnya pengasuhan anak yang benar pada anak usia dini, karena ibarat membangun rumah, pengasuhan anak usia dini bagaikan membangun fondasi. Namanya fondasi harus kokoh, kan? Setelah dijelaskan cukup panjang, ibu-ibu yang datang dibagi dalam dua kelompok. Mereka lalu diminta untuk membuat target: apa yang akan dilakukan bersama anak setiap hari selama 15 menit selama dua minggu ke depan. (Misalnya, membaca buku bersama anak, berolahraga, mendongeng, dll.) Selama diskusi itu ibu-ibu yang hadir diminta berbagi jika ada kendala. Rata-rata kendalanya bermuara pada komunikasi yang kurang baik dengan pasangan dan anak. Cukup panjang sebenarnya sharing mereka. Tapi aku merasa kurang enak jika dibeberkan di sini.

Yang membuatku senang dengan kegiatan ini adalah ibu-ibu itu cukup antusias. Itu bukti bahwa mereka mau maju.

Menurutku yah, sebetulnya banyak sekali pasangan yang tidak siap punya anak. Bukan, bukan berarti mereka menikah terpaksa dan akhirnya punya anak. Tapi banyak orangtua yang tidak tahu bagaimana mengasuh anak dengan baik. Tidak tahu bagaimana berkomunikasi secara efektif dengan anaknya. Tidak tahu bagaimana membangun komunikasi yang saling menguatkan dengan pasangan. Jadi, sebetulnya tidak terlalu mengherankan jika salah satu efek sampingnya terjadi kekerasan (baik suami kepada istri, atau ibu/ayah kepada anak). Ditambah lagi dengan beban ekonomi yang berat, membuat orang semakin stres. Keluarga bukan menjadi tempat untuk mendapatkan peneguhan, malah jadi sumber stres tersendiri.

Satu hal lagi yang mengusikku adalah: “Apa artinya kemiskinan?” Mungkin kemiskinan bukan semata-mata orang tidak punya uang untuk membeli makan atau memenuhi kebutuhan hidup. Kemiskinan yang kulihat salah satunya adalah kurangnya atau tidak adanya akses untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Salah satunya yang kudapati tadi adalah tidak adanya buku yang sesuai. Bagi sebagian kalangan, buku dianggap tidak penting. Tapi buku menurutku sumber untuk menambah wawasan. Kalau otak tidak diisi, menurutku nantinya akan berbahaya juga. Kurasa jika orang-orang seperti mereka lebih diberdayakan, diasah ketrampilannya, ditambah wawasannya, dunia ini akan berubah.

Advertisements

Obrolan Soal “Langit dan Bumi”

Apa yang pertama kali kamu bayangkan ketika mendengar kata Jakarta? Yang jelas, bayanganku sebelum dan sesudah tinggal di Jakarta berbeda sekali. Misalnya, dulu ketika kerabatku yang tinggal Jakarta datang untuk mengunjungi kami (waktu itu aku masih tinggal di Madiun), oleh-oleh yang dibawa adalah makanan yang kerap kulihat di televisi: Dunkin Donuts, Pizza Hut, dll. Waktu itu, makanan seperti itu termasuk makanan mahal dan langka. Jadi, kesanku Jakarta adalah kota yang gemerlap. Semua orang berduit tumplek blek di sana. Singkatnya: tak ada orang miskin di kota itu. Naif banget ya? Namanya juga masih bocah. Hehehe.

Kini setelah sekian tahun berlalu, aku tinggal di kota itu. Terus terang, memang Jakarta itu agak mengagetkan bagiku yang besar di kota kecil. Tak usah kuceritakan panjang lebar keterkejutanku itu. Yang jelas, di Jakarta masih tampak jelas kemiskinan di sana-sini. Membuat miris. Jauh sekali dari pandanganku ketika masih kecil.

Suatu kali aku dan suamiku berjalan-jalan tak jauh dari Mal Grand Indonesia. Dia bilang, “Daerah belakang sini masih banyak yang kumuh lo.” Aku tak percaya. “Masak sih?” Wong depannya magrong-magrong dan gemerlap begini lo, masak belakangnya kumuh? Dan waktu itu, kami kemudian berjalan ke daerah di belakang sekitar Grand Indonesia (dan Plaza Indonesia). Ternyata betul. Di sana rumahnya berdempet-dempet. Kalau dibilang kumuh banget, yaaa … nggak banget-banget sih. Tapi tetep saja sih, kontras dengan mal di depannya yang mewah. Bedanya seperti langit dan bumi.

Kini, aku tidak terlalu terkejut dengan berbagai kekumuhan yang dapat ditemukan dengan mudah di Jakarta. Biasanya tempat-tempat seperti itu berdekatan dengan daerah yang tampak mewah. Kalau kamu melihat kompleks rumah gedong, bisa dipastikan tak jauh dari situ ada sederetan rumah-rumah yang rapat, kecil, dan biasanya berventilasi buruk. Lengkap dengan gang cukup dilalui oleh satu sepeda motor. Tikus got yang hitam dan gemuk pun menjadi penghuni tetapnya.

Kadang aku berpikir, apakah rumah-rumah yang rapat dan terkesan kumuh itu menyangga kehidupan mewah di sebelahnya? Bukannya tidak mungkin jika para penghuni kompleks rumah mewah itu memakai jasa dari orang-orang yang tinggal di daerah yang kurang beruntung itu. Mungkin ada yang menjadi tukang cuci, satpam, tukang kebun, dan lain-lain.

Aku tak tahu ini jenis hubungan macam apa. Apakah ini bisa disebut simbiosis mutualisme? Apakah karena itulah kemiskinan langgeng senantiasa? Jika tidak ada orang miskin, barangkali tidak akan ada lagi pekerja kasar?

Kupikir-pikir, orang tetap miskin karena tidak mendapatkan akses. Akses untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik, akses informasi untuk mendapatkan pekerjaan yang layak, akses untuk mengembangkan diri.

Ah, embuh. Wis bengi. Ngantuk … Yang kaya gini memang cuma “nikmat” untuk diomongin eh … ditulis di blog, maksudku.