Ketika Berusaha Bangun dari Lamunan (Pelajaran Selama Musim Revisi)

Ketika mengumpulkan tulisan untuk ikut workshop Room to Read-Provisi lewat pintu Litara, aku tidak berpikir jauh. Aku hanya berpikir aku perlu menjajal kemampuanku. Banyak orang ingin menulis, ingin bukunya terbit. Tapi apa yang dilakukan? Melamun. Iya, itu aku sih. Kadang yang kulakukan adalah ke toko buku, lihat-lihat buku yang terbit, dan dalam hati berkata, “Besok aku juga mau menerbitkan buku seperti ini.” Tapi besok itu kapan? Kapan-kapan. Huh, aku kesal sama diriku sendiri. Jadi, aku merasa perlu “menabok” diriku sendiri dan mulai membuat langkah kecil.

Langkah kecil yang kubuat adalah iseng mengirimkan tulisan untuk ikut workshop Room to Read yang lalu. Buntut keisengan itu adalah merevisi tulisan tiada akhir. Haha, lebay. 😀 Ya, begitulah. Pokoknya revisi, revisi, revisi… Di sinilah aku kadang merasa bingung dan beruntung. Dua hal bertolak belakang ya? Bingungnya adalah ketika perlu memeras otak saat memperbaiki tulisan untuk memenuhi tuntutan editor. Tulisan ini perlu diotak-atik sebelah mana lagi? Cunthel. Di sisi lain aku merasa beruntung. Pertama, karena aku mendapat editor yang detail banget menguliti naskahku yang secuil itu (iya, cuma 24 halaman, kok), masukannya kadang membuat mules, tapi memang kuakui bisa membuat tulisan jadi lebih bagus. Kedua, karena aku bertemu teman-teman yang membuat semangat. Walaupun ketemunya di dunia maya, tapi menyenangkan. 🙂

Long time ago in Bethlehem… someone encouraged me to write. Ada yang membuatku merasa yakin bahwa aku mampu menulis setelah surat-surat dan tulisanku yang lain dibacanya. Baiklah, aku akan menulis, begitu janjiku. Dan aku berkali-kali mengucapkan terima kasih kepada orang itu, yang membuatku yakin bisa menulis. 🙂 Apa jadinya diriku tanpa dirinya? Hahaha. Ini sih lebay banget.

Waktu berlalu dan ternyata aku hanya menulis di buku harian. Belakangan memang nulis di blog sih. Sempat juga menulis satu-dua buku. Dulu pernah aku menulis buku kumpulan refleksi iman. Tapi itu sudah cukup lama. Bisa dibilang aku belum terlalu menjajal kemampuanku menulis. Jago kandang doang. Ah, tidak lucu memang. Dan aku tidak suka bagian diriku yang ini–kelamaan berangan-angan, kurang aksi.

Aku pernah juga berpikir, tulisan seperti itu kok bisa masuk media sih? Kok bisa terbit sih? Sepertinya kurang nendang deh. Aku memang kebanyakan mengkritik, tapi aku sendiri tidak menunjukkan karya. Memang kadang ada ketakutan yang berdiri di antara keinginanku. Takut dikritik, takut kalau akhirnya aku hanya bisa membuat karya yang buruk, takut ideku lucu atau aneh. Cemen banget ya?

Setelah sekian lama memendam rasa, (halah, apaan sih ini?)… aku pikir aku perlu bertindak. Do something, begitu kata orang sekarang. Jangan cuma pengin, tapi mulai mewujudkan keinginan. Jangan cuma mengkritik, tapi tunjukkan karya juga. Mengubah lamunan dan dorongan untuk menjadi sesuatu yang nyata itu butuh menggerakkan tangan dan kaki. Mewujudkan impian itu mesti bangun dari mimpi lalu mulai turun dari ranjang, melangkah, mandi, jangan lupa makan, bekerja, riset, berdiskusi, mempersiapkan hati menerima masukan dari sana-sini, mulai bekerja lagi, … dan seterusnya.

Satu hal penting yang kupelajari dari proses “bangun dari mimpi” ini adalah mesti mau menyisihkan waktu, berani sakit, dan belajar rendah hati. Dulu aku merasa, tulisanku sudah bagus. Tapi ketika aku ketemu editor yang sungguhan editor (maksudnya, beneran mampu melihat kekurangan tulisanku dan memberikan masukan nendang), aku merasa bahwa perjalananku untuk menghasilkan tulisan yang bagus itu masih jauh. Banyak sisi yang perlu diasah. Banyak teman yang melesat lebih dulu dan kaya pengalaman. Jadi, aku pun perlu melatih “stamina” untuk tidak mudah loyo.

Hal lain yang perlu kuperhatikan adalah soal fokus. Apa sih yang mau aku lakukan? Apa yang mau aku tulis? Untuk bagian ini mengasahnya lewat banyak membaca, perbanyak referensi, dan terus berlatih mengerucutkan apa yang ada dalam kepala. Kadang memang rasanya kepalaku ini penuh. Kemruwek. Ruwet. Kalau sudah seperti ini, biasanya yang perlu kulakukan adalah menuliskan dalam catatan pribadiku hal-hal yang memenuhi kepala. Biasanya cukup menolong, walaupun tidak selamanya bisa menyelesaikan semuanya. Tapi paling tidak, cukup membantu.

Ada satu buku karya Kobi Yamada, judulnya What Do You Do with an Idea? yang membuatku merenungkan kembali keinginanku. Aku suka dengan buku ini. Buku ini cukup memotivasi diriku, mendorongku untuk lebih memberikan perhatian pada keinginan dan harapanku.

Yah, singkat kata, masih banyak hal yang perlu kuperbaiki di sana-sini. Dan semoga aku tidak loyo di tengah jalan, ya. Kalau semangatku mulai kendor, aku berharap yang kutulis ini bisa memompa semangatku lagi.

Advertisements

Apakah Kamu Menyadari Keinginanmu?

Tadi sore, aku membaca seorang teman memasang status di FB. Dia menulis pernah bertemu seorang sarjana Sastra Inggris dengan subjurusan penerjemahan yang mengatakan ingin menjadi penerjemah. Tapi waktu ditanya apakah dia suka membaca buku, si sarjana mengatakan tidak. Status itu menuai komentar yang pada intinya menertawakan si sarjana yang ingin jadi penerjemah. Lucu. Aneh. Kurang lebih begitu komentar kebanyakan orang.

Lucu? Aneh?

Apanya yang aneh?

Ya, kalau dipikir aneh sih. Itu kalau dipikir. Penerjemah memang dituntut untuk tahan membaca berhalaman-halaman. Kalau orang itu ingin jadi penerjemah tapi tidak suka membaca, apa nggak bunuh diri itu namanya? Begitu kan logikanya? Yak, betul.

Tapi menurutku, itu tidak aneh-aneh amat. Soalnya banyak orang tidak merenungkan atau memikirkan betul sesuatu yang dia inginkan. Hanya sekadar ingin, tapi tidak berpikir jauh ke depan.

Ini sebenarnya biasa saja. Tak perlu konyol dengan sok mau pingsan segala. Banyak orang ingin begini, begitu. Pengin bisa menjadi ini dan itu. Tapi apakah dia menyadari bahwa untuk bisa seperti yang dia inginkan, dia mesti melewati berbagai hal. Terutama jika cita-citanya sangat tinggi, perjalanan untuk mencapai itu semua pasti tidak mudah. Itu sudah pasti. Sayangnya, kita seringnya hanya melihat sisi enaknya. Soal perjuangan yang berdarah-darah biasanya sih baru terlihat “heroik” setelah orang itu benar-benar berhasil. Jadi, aku tidak heran kalau sarjana Sastra Inggris itu mengatakan ingin jadi penerjemah dan dia tidak suka membaca buku. Dia mungkin melihat jadi penerjemah itu gampang. Tinggal duduk depan komputer, buka-buka kamus sebentar, lalu menuliskan hasil terjemahannya. Selesai. Terima honor. Syukur-syukur honornya gede. Begitu kan barangkali bayangannya? Mungkin dia belum merasakan jadi penerjemah yang “dikerjai” temannya dan dapat honor rendah atau malah tidak dibayar.

Contoh lain yang gampang adalah soal menerbitkan buku. Misalnya, aku ingin sekali bisa menulis sebuah buku. Tapi apakah dengan menulis blog begini lantas bukuku bisa terbit dengan sendirinya? Jelas tidak dong. Sebuah buku bisa terbit tentunya ada proses di belakangnya. Temanku, seorang penulis buku cerita anak yang bukunya sudah banyak, mengatakan bahwa supaya lancar menulis, kita mesti menulis setiap hari. Dia sendiri menceritakan selalu berusaha menulis. “Tulis saja, apa pun. Kejadian yang kita alami setiap hari bisa kita tulis. Tidak usah terlalu berpikir dulu mau membuat buku, yang penting menulislah. Latihan menulis hal-hal yang sederhana itu termasuk menambah jam terbang.” Lalu kalau ada orang yang berkomentar (nyinyir, maksudnya), “Wah, enak ya… bukunya banyak, selalu terbit,” orang itu perlu ditanya, apakah dia juga sudah menambah jam terbangnya dengan terus menulis setiap hari? Apakah dia sudah mengisi kepalanya dengan rajin membaca? Apakah dia bersedia menyisihkan uang untuk membeli buku yang bisa jadi referensinya?

Menurutku, orang bisa dengan mudah ingin ini dan itu. Tapi, yang perlu ditanyakan, maukah dia bekerja keras untuk mencapai keinginannya? Kalau dia hanya ingin karena semata-mata melihat sisi enaknya saja, itu sih … akeh tunggale–kata orang Jawa. Banyak orang seperti itu. Tak perlu heran. Tak perlu pingsan. Jangan-jangan kita sendiri juga begitu. 😀 😀

Dan… satu lagi, kita sering berpikir, kalau keinginan kita tercapai, kita akan lebih bahagia. Padahal belum tentu. Siapa tahu yang kita inginkan itu sebenarnya membahayakan kita. Aku tidak tahu, apakah para artis papan atas itu bahagia dengan hidupnya saat ini? Jangan-jangan mereka lebih kesepian, kehilangan waktu bersama keluarga, tidak punya privasi, dan sebagainya. Kalau semua artis itu bahagia, tentu tidak ada ceritanya ada artis yang bunuh diri karena kesepian.

Coba tonton cerita di bawah ini. Mungkin ini bisa merefleksikan bahwa ketika keinginan kita tercapai, belum tentu kita lebih bahagia.