Hari Nano-nano

Kemarin itu hari gado-gado bin nano-nano buatku. Ceritanya kemarin ada teman dari Bandung, Pak James, datang ke Jakarta untuk hadir di Christian bookfair (pameran buku Kristen) di Citraland. Aku mangu-mangu mau datang ke sana. Utamanya sih karena jauhnya dan memakan waktu. Mesti menghitung waktu dan tenaga. Buatku, bepergian di Jakarta itu butuh tenaga ekstra dan mesti diniati. Kalau tidak, ujung-ujungnya aku pasti tidak berangkat. Sebenarnya tidak hanya ketemu teman dari Bandung itu saja, tetapi juga sekalian ketemu teman lain, Thomdean, si tukang gambar. Sudah lama tidak mengobrol dengannya. Dan kurasa kalau ketemu dengan Pak James dari Bandung dan Thomdean, pasti akan muncul ide-ide untuk berkarya. Oke deh, aku berangkat.

Tapi jujur saja, aku ragu-ragu waktu mau berangkat. Mendung dan angin yang berembus terasa dingin. Pasti akan hujan. Dan kehujanan di jalan itu biasanya sebisa mungkin aku hindari. Tapi kapan lagi bisa bertemu dengan sekaligus beberapa teman? Setelah tanya sana-sini kalau ke Citraland naik kendaraan apa, aku pun berangkat. Aku ke Kampung Melayu dulu untuk naik bus 213. Bus besar ini selalu penuh, jadi mesti berangkat dari Kampung Melayu supaya dapat tempat duduk. Sesampainya di Kampung Melayu, hujan langsung turun. Bres! Aku buru-buru membuka payung dan berlari-lari supaya bisa dapat 213 yang sudah akan berangkat. Dan untung aku dapat duduk yang cukup aman dari terpaan hujan. Maklum, kalau naik bus umum, hujan tetap bisa masuk dari sela-sela jendela dan pintu bus kan tidak pernah ditutup (kecuali bus patas, ya).

Selama ini aku kalau naik bus 213 seringnya cuma sampai jalan Sudirman saja atau pol sampai Slipi. Citraland adalah daerah yang hampir tak pernah aku sentuh sendirian. Aduh, kenapa ya aku ini masih suka deg-degan pergi sendiri di daerah yang jarang sekali aku kunjungi di Jakarta ini. Aku pernah ke Citraland, tapi rasanya cuma sekali. Itu pun sama suamiku. Ndeso sangat ya? Hehe. Aku memang kuper di Jakarta karena jarang keluar rumah (sendiri). Tahunya cuma daerah seputar tempat tinggalku. Kalau dilepas sendirian di Jakarta sepertinya bisa nyasar deh 🙂

Nah, akhirnya aku sampai Citraland dengan selamat. Ternyata bus 213 itu berhenti di samping mal tersebut. Sampai sana tidak hujan, hanya mendung, padahal tadi waktu lewat Sudirman hujan deras banget. Sesampainya di sana, aku ketemu teman-teman bekas kantorku dulu. Tapi aku segera bergabung dengan Thomdean dan Pak James untuk mengobrol soal buku. Memang kalau jadi pekerja lepas begini, mesti mencari teman sendiri, soalnya sehari-hari kan kerja sendirian. Kalau ada event dan bisa bertemu teman, kadang aku datang. Dengan bertemu teman-teman seperti itu, biasanya bisa memacu diri untuk berkarya.

Setelah mengobrol dengan mereka di foodcourt, aku lalu mampir ke stand penerbitan kantorku dulu. Aku cari-cari buku yang pernah kugarap. Banyak buku baru, dan hanya beberapa saja yang ikut kugarap. Buku-buku lama yang pernah kugarap itu ingin kujadikan kenang-kenangan, karena aku lupa, apakah masih menyimpan nomor buktinya. (Nomor bukti = setiap penerjemah atau penyunting akan mendapat buku yang dikerjakannya, buku itu disebut nomor bukti. Aku tidak tahu kalau di penerbit lain, hal itu disebutnya nomor bukti atau tidak.)

Nah, ini buku yang aku beli kemarin:


Buku ini berisi kumpulan kisah pergumulan orang-orang saat berdoa. Menarik sih menurutku. Jadi dikuatkan saat aku menerjemahkannya. Buku ini diterbitkan oleh Gloria Graffa, Oktober 2007 (224 halaman). Kemarin dapat diskon 40%, jadi harganya Rp 22.200.

Kalau yang ini berisi kumpulan kisah seputar Natal. Diterbitkan oleh Gloria Graffa, Oktober 2005 (112 halaman). Karena sudah lama banget, buku ini didiskon heboh, harganya Rp 6.000.

Pulangnya, aku bareng Thomdean. Agak lama juga menunggu 213. Ditambah lagi, aku pulangnya jam 4-an, jam pulang kantor. “Semestinya kita menghindari jam-jam seperti ini,” kata Thom. Ya, aku tahu sih. Begini deh, kalau lupa pakai jam tangan. Jadi nggak perhatian dengan waktu. Dan kami sukses naik bus 213. Bus sudah penuh, tidak dapat kursi. Tapi tempat untuk berdiri masih longgar banget. Sembari di jalan dilanjutkan lagi berbincang dengan Thom sebelum dia turun di Slipi. Ternyata dia suka main board game, sama seperti suamiku yang koleksi beberapa board game. Kayaknya mereka berdua harus bertemu dan main board game bareng deh. Soal board game rasanya perlu aku tulis kapan-kapan. 🙂

Bus 213 yang kutumpangi makin penuh. Rasanya berdiri masih cukup manusiawi dibandingkan naik kereta yang penuh saat jam orang berangkat dan pulang kantor, asal berdirinya jangan di depan pintu ya. Yang harus diwaspadai adalah jangan sampai kecopetan. Selepas dari Slipi bus seperti hampir tidak bergerak. Itu kira-kira sampai 30 menit deh. Atau lebih ya? It seemed forever. Capek berdiri, dan aku takjub dengan orang-orang yang harus berdesak-desakan di dalam bus setiap hari! Oh, no! Kalau penuh tapi jalanan lancar, rasanya masih mendingan deh. Tapi kalau tidak dapat tempat dalam kendaraan umum dan mesti terjebak dalam kemacetan, rasanya itu adalah latihan kesabaran yang baik hihi. Aku jadi bersyukur tidak harus mengalami hal seperti itu setiap hari. Bisa cepet kurus kayaknya ya? :p

Aku sudah putus asa; pasti tidak akan dapat tempat nih sampai Salemba. Aku cuma berkata dalam hati, “Tuhan, aku capek sekali. Aku pengin dapat tempat duduk.” Sebenarnya ada satu-dua penumpang yang turun, tetapi tempat duduknya sudah keburu dipakai orang karena tempatku berdiri agak jauh dari penumpang yang turun itu. Tapi waktu sampai Sudirman, mendadak bapak-bapak yang duduk di dekatku turun, dan aku dapat menggantikan tempat duduknya. Leganyaaaa … Sampai aku menulis ini, aku masih takjub kok bisa ya doaku terkabul? Memang doa itu sederhana sekali, cuma minta tempat duduk di dalam bus yang penuh. Tapi aku senang waktu dikabulkan. 🙂

Aku sampai rumah jam 19.30 malam. Wew! Perjalanan yang panjang dan melelahkan. Aku keluar rumah pukul 11.30 siang, dan sampai rumah lagi 19.30. Delapan jam (!) dan rasanya setengahnya aku habiskan di jalan. 😀 Kalau tiap hari seperti ini, memang bisa tua di jalan ya. Tapi aku senang bertemu teman-teman dan dapat buku-buku.

Advertisements

Karnaval Tujuhbelasan

Di bulan Agustus, frasa “tujuhbelasan” atau kalau bahasa Jawa “pitulasan” mulai sering kudengar. Dalam benakku, tiap kali mendengar frasa ini, yang terlintas adalah karnaval (pawai) yang meriah.

Ketika aku masih kecil, mendengar kata karnaval membuatku gembira. Rasanya tak sabar untuk menonton. Aku mulai bertanya-tanya, kapan karnaval diadakan? Aku pun menghitung hari tak sabar ingin ikut berdesak-desakan dengan warga kota lainnya, berusaha berdiri paling depan untuk menyaksikan pawai keliling kota. Meski matahari bersinar terik, kegembiraan itu tidak menguap. Yang kurasakan tetap kegembiraan yang membuncah; penasaran untuk menjadi saksi acara meriah yang diselenggarakan tiap tahun di kota kecilku.

Biasanya dari rumah kami akan berangkat beramai-ramai. Karena dulu rumahku dihuni oleh banyak kerabat, maka kami pun berangkat bersama–dan aku adalah yang termuda dari rombongan itu. Bekal yang kami bawa adalah air minum dalam botol dan payung. Waktu itu belum ada air mineral kemasan, yang sering dijajakan hanyalah semacam air minum kotakan seperti teh kotak, sari buah, dan es lilin. Jika tak bawa minum, mesti beli, dan itu berarti pengeluaran lebih. Payung juga penting untuk dibawa karena itu adalah peneduh otomatis yang bisa langsung dibuka ketika panas matahari membakar pucuk kepala. Tetapi aku biasanya tak pernah peduli dengan panas matahari yang menyengat. Yang kuinginkan adalah berdiri paling depan–walaupun sebenarnya itu sulit karena tubuhku yang kecil ini kerap tersikut dan terhimpit oleh orang yang badannya lebih besar.

Jalan terdekat dari rumah yang dilalui karnaval itu adalah Jalan Pahlawan. Waktu tempuhnya kira-kira 15 menit berjalan santai. Dulu aku sering berharap jalan depan rumahku juga dilewati karnaval, tetapi nyatanya harapan itu tak pernah terkabul. Di Jalan Pahlawan itu ada kantor Telkom, tempat budeku berkantor. Gedung Telkom itu rasa-rasanya gedung tertinggi di kotaku. Tingkat empat kalau tak salah waktu itu. Pernah suatu kali Bude menawarkan aku ikut masuk ke kantornya, dan mengajakku ke tingkat paling atas. Wah senangnya! Aku pikir aku bisa melihat karnaval tanpa susah payah. Namun karena aku masih sangat pendek, aku hanya bisa berjinjit dan melihat dari balik jendela. Itu pun masih kurang jelas karena yang tampak justru kepala orang-orang. Tidak seasyik yang kukira rupanya. Selanjutnya aku pun ikut berdesak-desakan lagi di antara para penonton.

Salah satu hal yang aku ingat adalah, biasanya karena kerumunan semakin lama semakin banyak, maka orang cenderung untuk maju. Akibatnya, jalanan jadi menyempit. Lalu tak lama kemudian ada sepeda motor besar dengan sirine nguiiing… nguiiiing lewat di dekat penonton agar mereka mundur ke belakang. Tetapi tentu saja itu tak terlalu ada gunanya, karena setelah sepeda motor itu lewat, para penonton mulai maju lagi agar bisa menyaksikan karnaval lebih jelas.

Ketika aku SD aku punya teman dekat yang berumah di Jalan Pahlawan. Ayahnya seorang dokter tentara, jadi mendapat rumah dinas di jalan protokol tersebut. Nah, rumah kawanku ini jadi markas teman-teman untuk menonton karnaval. Menyenangkan sekali, karena kami tak perlu kerepotan jika di tengah-tengah menonton karnaval kami kebelet pipis atau haus. Tinggal pakai kamar mandi rumah temanku saja kan, dan biasanya temanku akan mengeluarkan minuman dingin dari lemari es. Pokoknya serasa nonton dari depan rumah sendiri deh. Rumah temanku itu berpagar pendek dari beton (sebenarnya agak tinggi untuk ukuranku). Biasanya kami akan memanjat pagar tersebut, lalu berdiri di atasnya. Wah, benar-benar mengasyikkan karena kami bisa berdiri berderet. Kami berdiri bagaikan para jagoan yang berhak atas wilayah istimewa itu. 😉

Aku tak ingat, apa sebenarnya yang kala itu membuatku selalu tertarik menonton karnaval. Rasa-rasanya hanya kemeriahan dan asyiknya menonton beramai-ramai itulah yang membuat kangen. Oya, yang mengasyikan juga adalah kadang-kadang kita mengenali para peserta karnaval, misalnya tetangga, teman, atau bahkan kerabat sendiri. Ayahku kadang ikut karnaval tetapi karena beliau guru, dan mesti mendampingi para murid yang sedang ikut pawai.

Ketika aku SMP, sekolahku ikut karnaval. Dan kala itu pula aku ikut karnaval. Waktu itu yang aku ikuti adalah karnaval jalan, temanya kalau tak salah kerajaan Jawa. Yang melatih adalah guru kesenianku, yang bernama Pak Lambertus, yang memang jago melatih drama dan suka menciptakan lagu. Seingatku, kami dulu berpakaian ala Jawa lalu beramai-ramai menyanyikan lagu dan ada sedikit tariannya. Waktu di depan Bapak Walikota, kami unjuk kebolehan. Capek juga sih sebenarnya, karena mesti berjalan kaki keliling (jalan-jalan besar di) Madiun di bawah terik matahari, mesti pakai kostum pula. Tetapi karena ramai-ramai yaaaa, seneng-seneng aja. Dan akhirnya kelelahan itu dibayar oleh kemenangan kami sebagai juara I. (Aku waktu itu baru tahu kalau rombongan yang ikut pawai itu ternyata ada penilaiannya.)

Karnaval kedua yang aku ikuti adalah ketika SMA kelas 1. Waktu itu anak kelas 1 diwajibkan ikut karnaval jalan kaki. Ada juga yang dipilih untuk karnaval sepeda, tetapi hanya anak tertentu (karena memang pesertanya tidak sebanyak karnanal jalan kaki.) Entah kenapa, karnaval masa SMA ini kurang menarik bagiku. Yang aku ingat adalah capeknya hehehe.

Pernah pula, kaum Mudika (muda-mudi katolik) di gerejaku ikut karnaval. Seingatku aku ikut pula, tapi aku sudah tak terlalu ingat apakah yang aku ikuti karnaval sepeda atau karnaval jalan kaki. Yang aku ingat, aku masih menyimpan foto-foto sebelum dan sesudah karnaval. Sayang foto-foto itu tidak kubawa ke Jakarta, jadi aku tak bisa memasangnya di sini.

Satu hal yang menyenangkan dari menonton dan ikut karnaval adalah karena ada faktor kebersamaan. Semakin kompak rombongan kita, semakin asyik. Mungkin salah satu hal yang membuat rombongan karnavalku di zaman SMP itu menang adalah faktor kekompakan pula. Dan juga ketika aku menonton karnaval bersama teman-teman yang kompak dan seru, itu pula yang menyenangkan.

Selepas dari Madiun aku tidak pernah menyaksikan karnaval tujuhbelasan lagi. Rasanya kok tidak terlalu pengen ya? Hehe, mungkin malas membayangkan mesti berdesak-desakan. Tetapi kalau ada teman yang asyik, dapat lokasi nonton yang oke, dan bisa sekalian hunting foto, boleh juga sih. Jadi, kapan nonton karnaval lagi ya? 😉

Pingit dalam Kenangan

Apa uniknya tinggal di asrama?

Kalau kata kakakku, salah satunya adalah di sana aku bisa ikut kegiatan. Memang kakakku laki-laki dan dia tidak tinggal di Asrama Syantikara, tetapi dia punya teman yang dulu tinggal di asrama. Jadi, dia tahu sedikit-sedikit soal asrama.

Tapi terus terang, awalnya aku tidak tertarik dengan iming-iming adanya kegiatan di asrama. Apa bagusnya sih? Coba pikir, di kampus pasti ada kegiatan juga. Memangnya kurang ya kegiatan yang disediakan oleh kampus?

Ah, tapi sudahlah, akhirnya aku pun masuk asrama. Dan sebagai anak baru, aku harus memilih ikut kegiatan yang ada di sana. Ada tiga kegiatan utama di sana. Pertama adalah mengajar. Nah, untuk mengajar ini ada tiga tempat yang ditawarkan, yaitu mengajar di Sagan (daerah itu hanya berseberangan dengan asrama), mengajar di Code (ini di pinggiran Kali Code, agak jauh untuk ukuran anak asrama yang ke mana-mana hanya berjalan kaki atau paling pol naik sepeda), mengajar di Pingit (ini adalah daerah yang paling jauh, dan karena untuk ke sana kami naik bus kota. Kegiatan ini sebenarnya dimotori oleh Yayasan Sosial Soegijapranata atau YSS plus para frater Yesuit tentunya). Kegiatan yang kedua adalah koor. Kelompok koor ini biasanya menunjukkan aksinya saat misa di Kapel Bintang Samudera dan Kapel Panti Rapih. Sedangkan kegiatan yang ketiga adalah Pendalaman Iman (PI). Sebenarnya agak janggal juga bagiku ketika PI dijadikan kegiatan wajib. Pendalaman iman itu kan suka-suka orang. Imannya mau diperdalam kek, mau enggak kek, ya suka-suka dia kan? 😉 (Mulai ngeyel deh…) Tapi di awal-awal aku toh memilih PI sebagai kegiatan asrama. (Hahaha!)

PI sebagai kegiatan asrama memang kegiatan yang paling santai. Biasanya kegiatan ini dipilih oleh anak yang kuliahnya memang sibuk, seperti anak-anak kedokteran atau farmasi. Kegiatan ini berlangsung di hari Sabtu sore. Tapi jangan tanya kegiatan PI itu ngapain aja ya? Aku wis lali alias lupa :p

Akhirnya aku bosan juga dengan PI. Lagi pula, PI itu kan Sabtu sore. Nah, giliran anak-anak yang lain bersantai atau berencana jalan-jalan keluar asrama untuk refreshing, aku justru wajib ikut PI. Yah, akhirnya aku mundur deh. Godaan untuk ikut bersantai dengan teman-teman yang lain lebih menarik.

Lalu aku mau ikut kegiatan apa dong? Mau ikut koor, aku tahu diri dengan suaraku yang pas-pasan ini. Lagi pula, biasanya mereka tampil di hari Minggu. Dan aku yang masih suka mbok-mboken alias kangen ibu, biasanya pulang kampung di hari Sabtu-Minggu. Nah, kalau harus ikut koor, nggak jadi pulang dong? Ah, ogah. Maka tinggal satu pilihan, mengajar. Alamaaak! Mules-mules deh kalau aku harus mengajar. Tapi demi bisa pulang di akhir minggu, aku pun memilih mengajar. Dan karena di unitku dulu banyak yang mengajar di Pingit, aku pun ikut saja ke Pingit.

Aku awalnya menghibur diri bahwa dengan ke Pingit, aku bisa “refreshing” di tengah minggu karena untuk ke sana kan lumayan jauh tuh. Mesti berjalan kaki dari asrama ke pangkalan bus kota jalur 15 di dekat Sekip. Yah, kira-kira berjalan kaki 15 menit lah. Lalu naik bus selama kurang lebih 30 menit. Anggap saja butuh waktu 1 jam untuk sampai ke sana.

Harus kuakui, aku bukanlah volunteer yang bagus, yang punya komitmen kuat dan tahan banting. Ada banyak teman yang punya hati lebih untuk mereka seperti Mbak Pudji, Mbak Paulin, Mbak Susi, dll. Tapi toh aku merasa kegiatan di Pingit itu menorehkan jejak yang masih kuingat betul sampai sekarang. Lewat kegiatan itu, aku jadi tahu bahwa di balik gedung-gedung itu terdapat sebuah perkampungan padat, yang rumah-rumahnya mepet-mepet, dengan kondisi yang bisa dibilang kurang sehat. Di situ YSS mendirikan beberapa petak-petak yang bisa dihuni oleh tunawisma. Diharapkan dengan mendapatkan bantuan, mereka bisa hidup wajar dan mandiri. Artinya bisa memiliki surat pelengkap identitas diri, mendapatkan kesempatan kerja, bisa menyekolahkan anak-anaknya, dll. Yah, seperti wajarnya warga masyarakat pada umumnya. Hmmm… setahuku begitu. Tolong koreksi saya jika salah ya.

Melihat orang-orang di sana sebenarnya akan mudah menimbulkan rasa iba bagiku. Oke, bisa dikatakan aku lebih beruntung daripada mereka. Tetapi bukan berarti aku bisa menganggap rendah mereka. Bagaimanapun mereka tetap manusia yang punya harga diri. Iya kan? Jadi, sebenarnya tidak bijak jika kita berdiri di atas mereka lalu seolah-olah mengulurkan tangan ke bawah untuk menarik mereka ke posisi yang lebih baik. Tapi menurutku, berdirilah sejajar dengan mereka. Jadilah teman. Rasakan apa yang mereka rasakan. Dengan begitu, kita bisa ikut memberdayakan mereka. Bukan sekadar memberi ikan, tetapi ikut duduk di tepi sungai, mengobrol, dan menemani memancing. Jika cara memancingnya kurang tepat, kita bisa memberi masukan. Bukan sekadar menyuruh ini itu supaya mereka bisa maju.

Dari kegiatan itu, aku jadi tahu alangkah sulitnya mengubah cara pikir mereka. Misalnya, ada anak yang biasa minta-minta di perempatan jalan. Dia akan sulit sekali diajak duduk bersama dan mengerjakan PR sekolah. Mereka menganggap sekolah itu tidak penting. Karena toh, tanpa sekolah pun mereka sudah bisa dapat uang, kok. Biasanya anak-anak semacam itu tak jarang suka bikin ulah. Nakalnya bukan main. Bahkan sudah biasa jika di ruangan kelas tempat kami belajar bersama itu, mereka gaduh, melompat ke sana ke mari. Dimarahi tak ada gunanya. Apalagi untuk volunteer yang tidak mereka takuti seperti aku ini. Duuuh! Mau nangis rasanya.

Selain mengajar, kami biasanya berkunjung ke rumah-rumah warga yang memang mendapat bantuan dari YSS. Mengunjungi mereka itu berarti ikut mengobrol bersama mereka, menghabiskan waktu untuk mendengarkan keluh kesah mereka, tetapi juga tak jarang ikut merasakan kegembiraan yang mereka rasakan seperti bisa mendapatkan uang lebih saat mengamen. Kadang capek juga mendengarkan keluhan mereka yang itu-itu saja. Misalnya, ya nggak punya uang, pekerjaan yang semakin sulit. Rasanya pengen menjadi sinterklas dadakan, yang bisa memenuhi kebutuhan mereka. Tapi ya, mau bagaimana lagi? Wong aku (saat itu) cuma mahasiswa, uang juga masih minta orang tua.

Ya, kegiatan di Pingit itu memang sudah sepuluh tahun lebih kutinggalkan. Tetapi jejaknya masih ada sampai sekarang. Berkegiatan di sana membuatku memiliki pemikiran yang lain terhadap orang yang terpinggirkan. Mereka memang miskin dan kita akan dengan mudah merasa iba terhadap mereka. Tetapi itu tidak cukup. Jika kita memang betul-betul peduli, jadilah teman mereka. Itu berarti kita harus mau berdiri sejajar dengan mereka. Mungkin dengan sedikit merunduk; mungkin dengan melepaskan semua atribut yang menunjukkan bahwa kita lebih beruntung dari mereka. Jika kita sesekali hanya turun membantu dan menebar senyum kepada mereka, rasanya kok kurang pas ya? Itu menurutku loh. Soalnya itu ibarat memberi ikan kepada mereka, yang dalam sekejap akan habis. Itu hanya akan membuat mereka tidak mandiri. Butuh banyak tenaga dan hati yang cukup luas untuk itu. Karena untuk semua itu butuh waktu yang tidak singkat. Karena kupikir yang mesti diubah adalah cara berpikir mereka, cara mereka memosisikan diri. Tapi lagi-lagi itu sulit, karena pemerintah memang tidak memberi tempat bagi mereka. Jika sekarang ada banyak seminar yang membicarakan kemiskinan, rasanya tidak berlebihan jika kubilang itu tak ada gunanya. Lebih baik turunlah, dan jadilah teman mereka. Ikutlah merasakan dinamika hidup mereka. Siap?