Hari Nano-nano

Kemarin itu hari gado-gado bin nano-nano buatku. Ceritanya kemarin ada teman dari Bandung, Pak James, datang ke Jakarta untuk hadir di Christian bookfair (pameran buku Kristen) di Citraland. Aku mangu-mangu mau datang ke sana. Utamanya sih karena jauhnya dan memakan waktu. Mesti menghitung waktu dan tenaga. Buatku, bepergian di Jakarta itu butuh tenaga ekstra dan mesti diniati. Kalau tidak, ujung-ujungnya aku pasti tidak berangkat. Sebenarnya tidak hanya ketemu teman dari Bandung itu saja, tetapi juga sekalian ketemu teman lain, Thomdean, si tukang gambar. Sudah lama tidak mengobrol dengannya. Dan kurasa kalau ketemu dengan Pak James dari Bandung dan Thomdean, pasti akan muncul ide-ide untuk berkarya. Oke deh, aku berangkat.

Tapi jujur saja, aku ragu-ragu waktu mau berangkat. Mendung dan angin yang berembus terasa dingin. Pasti akan hujan. Dan kehujanan di jalan itu biasanya sebisa mungkin aku hindari. Tapi kapan lagi bisa bertemu dengan sekaligus beberapa teman? Setelah tanya sana-sini kalau ke Citraland naik kendaraan apa, aku pun berangkat. Aku ke Kampung Melayu dulu untuk naik bus 213. Bus besar ini selalu penuh, jadi mesti berangkat dari Kampung Melayu supaya dapat tempat duduk. Sesampainya di Kampung Melayu, hujan langsung turun. Bres! Aku buru-buru membuka payung dan berlari-lari supaya bisa dapat 213 yang sudah akan berangkat. Dan untung aku dapat duduk yang cukup aman dari terpaan hujan. Maklum, kalau naik bus umum, hujan tetap bisa masuk dari sela-sela jendela dan pintu bus kan tidak pernah ditutup (kecuali bus patas, ya).

Selama ini aku kalau naik bus 213 seringnya cuma sampai jalan Sudirman saja atau pol sampai Slipi. Citraland adalah daerah yang hampir tak pernah aku sentuh sendirian. Aduh, kenapa ya aku ini masih suka deg-degan pergi sendiri di daerah yang jarang sekali aku kunjungi di Jakarta ini. Aku pernah ke Citraland, tapi rasanya cuma sekali. Itu pun sama suamiku. Ndeso sangat ya? Hehe. Aku memang kuper di Jakarta karena jarang keluar rumah (sendiri). Tahunya cuma daerah seputar tempat tinggalku. Kalau dilepas sendirian di Jakarta sepertinya bisa nyasar deh πŸ™‚

Nah, akhirnya aku sampai Citraland dengan selamat. Ternyata bus 213 itu berhenti di samping mal tersebut. Sampai sana tidak hujan, hanya mendung, padahal tadi waktu lewat Sudirman hujan deras banget. Sesampainya di sana, aku ketemu teman-teman bekas kantorku dulu. Tapi aku segera bergabung dengan Thomdean dan Pak James untuk mengobrol soal buku. Memang kalau jadi pekerja lepas begini, mesti mencari teman sendiri, soalnya sehari-hari kan kerja sendirian. Kalau ada event dan bisa bertemu teman, kadang aku datang. Dengan bertemu teman-teman seperti itu, biasanya bisa memacu diri untuk berkarya.

Setelah mengobrol dengan mereka di foodcourt, aku lalu mampir ke stand penerbitan kantorku dulu. Aku cari-cari buku yang pernah kugarap. Banyak buku baru, dan hanya beberapa saja yang ikut kugarap. Buku-buku lama yang pernah kugarap itu ingin kujadikan kenang-kenangan, karena aku lupa, apakah masih menyimpan nomor buktinya. (Nomor bukti = setiap penerjemah atau penyunting akan mendapat buku yang dikerjakannya, buku itu disebut nomor bukti. Aku tidak tahu kalau di penerbit lain, hal itu disebutnya nomor bukti atau tidak.)

Nah, ini buku yang aku beli kemarin:


Buku ini berisi kumpulan kisah pergumulan orang-orang saat berdoa. Menarik sih menurutku. Jadi dikuatkan saat aku menerjemahkannya. Buku ini diterbitkan oleh Gloria Graffa, Oktober 2007 (224 halaman). Kemarin dapat diskon 40%, jadi harganya Rp 22.200.

Kalau yang ini berisi kumpulan kisah seputar Natal. Diterbitkan oleh Gloria Graffa, Oktober 2005 (112 halaman). Karena sudah lama banget, buku ini didiskon heboh, harganya Rp 6.000.

Pulangnya, aku bareng Thomdean. Agak lama juga menunggu 213. Ditambah lagi, aku pulangnya jam 4-an, jam pulang kantor. “Semestinya kita menghindari jam-jam seperti ini,” kata Thom. Ya, aku tahu sih. Begini deh, kalau lupa pakai jam tangan. Jadi nggak perhatian dengan waktu. Dan kami sukses naik bus 213. Bus sudah penuh, tidak dapat kursi. Tapi tempat untuk berdiri masih longgar banget. Sembari di jalan dilanjutkan lagi berbincang dengan Thom sebelum dia turun di Slipi. Ternyata dia suka main board game, sama seperti suamiku yang koleksi beberapa board game. Kayaknya mereka berdua harus bertemu dan main board game bareng deh. Soal board game rasanya perlu aku tulis kapan-kapan. πŸ™‚

Bus 213 yang kutumpangi makin penuh. Rasanya berdiri masih cukup manusiawi dibandingkan naik kereta yang penuh saat jam orang berangkat dan pulang kantor, asal berdirinya jangan di depan pintu ya. Yang harus diwaspadai adalah jangan sampai kecopetan. Selepas dari Slipi bus seperti hampir tidak bergerak. Itu kira-kira sampai 30 menit deh. Atau lebih ya? It seemed forever. Capek berdiri, dan aku takjub dengan orang-orang yang harus berdesak-desakan di dalam bus setiap hari! Oh, no! Kalau penuh tapi jalanan lancar, rasanya masih mendingan deh. Tapi kalau tidak dapat tempat dalam kendaraan umum dan mesti terjebak dalam kemacetan, rasanya itu adalah latihan kesabaran yang baik hihi. Aku jadi bersyukur tidak harus mengalami hal seperti itu setiap hari. Bisa cepet kurus kayaknya ya? :p

Aku sudah putus asa; pasti tidak akan dapat tempat nih sampai Salemba. Aku cuma berkata dalam hati, “Tuhan, aku capek sekali. Aku pengin dapat tempat duduk.” Sebenarnya ada satu-dua penumpang yang turun, tetapi tempat duduknya sudah keburu dipakai orang karena tempatku berdiri agak jauh dari penumpang yang turun itu. Tapi waktu sampai Sudirman, mendadak bapak-bapak yang duduk di dekatku turun, dan aku dapat menggantikan tempat duduknya. Leganyaaaa … Sampai aku menulis ini, aku masih takjub kok bisa ya doaku terkabul? Memang doa itu sederhana sekali, cuma minta tempat duduk di dalam bus yang penuh. Tapi aku senang waktu dikabulkan. πŸ™‚

Aku sampai rumah jam 19.30 malam. Wew! Perjalanan yang panjang dan melelahkan. Aku keluar rumah pukul 11.30 siang, dan sampai rumah lagi 19.30. Delapan jam (!) dan rasanya setengahnya aku habiskan di jalan. πŸ˜€ Kalau tiap hari seperti ini, memang bisa tua di jalan ya. Tapi aku senang bertemu teman-teman dan dapat buku-buku.

Advertisements

Sang Legenda

Sebelum mengunggah tulisan ini, aku melongok kamus sebentar. Karena tak punya KBBI (payah ya? kerjanya nguplek-uplek kalimat, malah tak punya KBBI :D), aku mengintip kamus Longman. Entah kenapa ya, aku malas beli KBBI. Agak panjang menjelaskannya, bisa jadi satu tulisan tersendiri deh.

Oke, jadi apa yang kutemukan dalam kamus Longman untuk kataΒ legend yang diterjemahkan legenda dalam bahasa Indonesia?

Legend punya empat arti:
1 [countable] an old, well-known story, often about brave people, adventures, or magical events: the legend of Rip Van Winkle who slept for 100 years (Kisah kuno, yang sudah terkenal, kerap kali tentang orang yang pemberani, petualangan, atau peristiwa-peristiwa yang ajaib. Kalau di Indonesia, contohnya legenda Malin Kundang kali ya?)

2 [uncountable] all stories of this kind: Celtic legend (Semua cerita yang berjenis legenda)

3 [countable] someone who is famous and admired for being extremely good at doing something: Pele, Maradona, and other footballing legends (Orang yang terkenal dan dikagumi karena melakukan suatu hal yang luar biasa bagus)

4 [countable usually singular]
Β Β  Β a) literary words that have been written somewhere, for example on a sign: A sign above the door bore the legend `patience is a virtue’. (Kata-kata yang tertulis di suatu tempat, misalnya untuk suatu tanda.)

b) old-fashioned the words that explain a picture, map etc (ini untuk pemakaian kuno; yaitu kata-kata yang menjelaskan suatu gambar, peta, dll).

Untuk arti yang keempat ini sepertinya jarang dikenal ya? Aku tidak tahu berapa arti kata legenda dalam KBBI.

Nah, ceritanya hari Minggu yang lalu aku datang ke reuni asramaku, Syantikara. Eh, sebenarnya untukku istilah reuni agak kurang tepat. Kenapa? Karena kalau reuni berarti kita akan bertemu teman-teman lama kan? Padahal untukku tidak begitu, karena di acara itu aku justru bertemu orang-orang baru. Bingung kan? πŸ˜€

Jadi, reuni kemarin itu dihadiri oleh kakak-kakak asramaku yang angkatannya jauh di atasku. Aku angkatan paling muda di acara itu, dan cuma aku satu-satunya angkatan ’96. Yang angkatannya di atasku adalah Mbak Nana Lystiani, angkatan ’90. Jelas, aku belum pernah bertemu dengan kakak-kakak asrama itu. Bagaimana mau ketemu? Kebanyakan dari mereka masuk asrama pada tahun 80-an, sedangkan aku, tahun 80-an masih balita hehe. Lumayan jauh kan selisih umurnya? πŸ™‚

Awalnya aku ragu, karena kok sepertinya teman-teman yang seangkatan denganku atau yang tak terlalu jauh selisih angkatannya tidak ada yang datang ya? Aku sebenarnya sudah sempat memberitahu temanku yang angkatan ’98 yang rumahnya tak jauh dari rumahku, tetapi dia tidak bisa datang. Jadi, yo uwis, aku datang sendiri sebagai wakil angkatan ’96. πŸ˜€ Tapi barangkali aku kurang gencar dalam memberi pengumuman ya? Maafkan aku ya teman-teman seangkatan ….

Sebenarnya yang mendorongku datang ke acara itu karena di acara reuni itu acara utamanya adalah memberikan dukungan kepada Kak Mimi yang akan dipindahtugaskan ke Sungailiat. Siapa Kak Mimi? Bagiku, Kak Mimi adalah seorang legenda di asrama kami. Sr. Ben, kepala asrama kami, beberapa kali menyebut namanya sebagai teladan anak asrama. Ya, Kak Mimi adalah hakim tipikor, yang di masyarakat biasa dikenal dengan nama Albertina Ho. Dia inilah yang menyidang Gayus, Cirus Sinaga, dan Anand Khrisna. Dari media massa yang kubaca, sepertinya Bu Allbertina Ho ini cukup disegani karena kelurusan dan ketegasannya. Dulu Sr. Ben pernah menceritakan bahwa ketika ia menjadi hakim, dia mendapat rumah dinas, dan rumah dinas itu masih belum ada perabotannya. Lalu ada pengusaha yang memberinya kursi tamu. Namun, pemberian itu ditolaknya. Kabarnya untuk kasus-kasus yang ditanganinya, Kak Mimi ini tidak pernah mau menerima sogokan. Di Indonesia, hal seperti ini agak aneh barangkali ya? Padahal, bukankah sudah semestinya demikian?

Aku datang ke acara reuni itu dengan nebeng Mbak Nana. Aku juga belum pernah bertemu dengan Mbak Nana sebelumnya. Iyalah, dia angkatan 90, aku 96. Anak asrama biasa tinggal di Syantikara 5 tahun, bahkan banyak yang belum genap 5 tahun sudah keluar dan kos di luar. Aku sengaja nebeng karena aku buta daerah yang akan dituju, BSD. Katrok ya? Tiga tahun di Jakarta, tapi belum pernah sampai BSD. Sebenarnya ada bus patas dari dekat tempat tinggalku yang sampai BSD, tapi daripada aku nyasar dan kebingungan di jalan, aku nebeng. Memang aku jarang pergi sendiri di Jakarta. Jadi, hanya sedikit tempat yang cukup akrab bagiku. Entah kenapa, ingatanku pernah nyasar di Jakarta masih membuatku takut. Hehe. Padahal kalau di kota lain, rasanya aku nggak setakut ini. Kayaknya sudah parno duluan bakal dijahati sama orang asing. Dan aku pun ke acara itu diantar suamiku. Hihihi. Soalnya, ya takut kalau nyasar. Jadi, aku datang ke rumah Mbak Nana di daerah Slipi dan bertemu dengan Rheiner, putranya yang berumur 2,5 tahun. Rheiner ini menggemaskan, suka main mobil-mobilan, dan cukup hapal beberapa macam mobil. πŸ™‚

Oke deh, sampai di sana aku bertemu dengan mbak-mbak yang belum pernah kutemui. Tapi mereka baik-baik dan ramah sih. Jadi, aku tak merasa asing banget. Memang jadinya aku sempat membayangkan, kalau ketemu teman-teman seangkatan, pasti lebih seru lagi. Hehe. Mbak Lilis yang punya rumah langsung menyuguhi tekwan yang yummy! Dan di situ tersedia banyak makanan enak yang membuatku kekenyangan dalam waktu singkat.

Suasananya saat itu benar-benar mengingatkan pada asrama. Semua tampaknya dalam mood yang riang. Semacam acara rekreasi zaman asrama dulu. (Rekreasi adalah acara sebulan sekali di asrama, di mana para warga diwajibkan hadir semua. Acaranya biasanya di ruang tamu, duduk di bawah, mengobrol, makan bersama, dan suster biasanya akan memberikan wejangan atau beberapa informasi.) Di sudut kulihat Kak Mimi sedang mengobrol. Aku sempat berkenalan sebentar. Dan rasanya geli waktu menyebut aku angkatan 96. Kak Mimi angkatan 79, itu berarti aku masih berusia setahun waktu dia masuk kuliah. πŸ˜€

Setelah semua makan, Mbak Emil meminta kami semua berkumpul. Kami pun duduk melingkar. Kak Mimi duduk di tengah-tengah, lalu dihadapkan dengan Mbak Anas (Anastasia Mustika Widjaja) dan Mbak Lilis (Maria Noerlistijaningsih) Ceritanya kaya di ruang sidang. Setelah haha-hihi sebentar, Kak Mimi pun bercerita pengalamannya saat menyidang Gayus. Seru deh. Begitu pun dia juga bercerita tentang alasan dia menetapkan hukuman 7 tahun bagi Gayus juga bagaimana ia diputuskan untuk dipindah ke Sungailiat. Kami menyimak cerita Kak Mimi dengan serius. Dari ceritanya, kutangkap Kak Mimi orang yang memegang prinsip, tegas, dan berani. (Khas Syantikara kah? :D)

Acara ini ditutup dengan berfoto di tangga rumah Mbak Lilis. Kalau dulu di asrama kami suka berfoto di tangga belakang unit UGAL, sekarang tangga di depan rumah Mbak Lilis, dijadikan tempat berfoto juga. πŸ™‚

Aku senang bisa datang ke acara reuni itu. Aku merasa, Syantikara ini seperti keluarga besar yang kompak sampai sekarang. Dan jika melihat cukup banyak eks Syantikara yang datang di acara itu, aku merasa betapa kedekatan yang timbul saat tinggal di Syantikara masih terasa sampai sekarang. Menurutku, Syantikara bagaikan rumah kedua tempat kami semua bisa belajar tentang pentingnya kebersamaan dan menjadi satu keluarga. Dan aku senang bisa bertemu serta berkenalan dengan sang legenda, Kak Mimi. πŸ™‚

Semoga sukses di tempat tugas yang baru, Kak Mimi. Kami semua mendoakanmu.

Berikut ini tautan tentang “sang legenda”:
http://metrotvnews.com/read/newsvideo/2011/09/21/136336/Albertina-Ho-Srikandi-Pengadil-yang-Tegas

http://www.detiknews.com/read/2011/09/21/153324/1727448/608/hakim-albertina-ho-tak-tergiur-mercedes-benz

Nostalgia Belanja

Aku tak terlalu ingat, sejak kapan aku mulai benar-benar ke pasar. Maksudku, benar-benar belanja sendiri, memilih dan menawar sayur, bahan untuk lauk, bumbu dan semacamnya.

Ketika aku masih kecil, ibuku rasanya ke pasar hanya pada saat akan masak besar atau mau mencoba menerapkan resep baru. Kadang-kadang saja aku ikut Ibu ke pasar. Yang paling kuingat, aku senang jika Ibu belanja di Pasar Kawak (kawak = lama, bahasa Jawa). Pasar itu tidak terlalu besar dan sebenarnya agak jauh dari rumah. Aku tak terlalu ingat mengapa aku suka ke sana. Mungkin jika ke sana, di benakku berdering makna itu berarti ibuku akan mencoba resep baru atau hendak memasak makanan favorit.

Untuk makanan sehari-hari, ada tukang sayur yang sejak pagi pasti sudah meletakkan bakulnya yang penuh dengan berbagai sayur, bumbu, daging, jajanan pasar, dan semacamnya di teras depan. Yu Nem demikian keluarga kami memanggilnya. Aku pun ikut-ikut memanggilnya demikian. Kini kupikir-pikir aku tak seharusnya memanggilnya begitu karena “Yu” itu kependekan dari “Mbakyu” (kakak perempuan), padahal dia ibu-ibu setengah baya. Mungkin sebaiknya aku memanggilnya Mbok atau Bu Nem. Tapi sudahlah, namanya juga anak kecil, bisanya cuma ikut-ikutan. Dia juga tidak protes aku ikut memanggilnya demikian. πŸ˜€

Untuk makanan sehari-hari, kami berbelanja pada Yu Nem itu. Nyaris tak pernah ganti tukang sayur, kecuali jika Yu Nem tak datang karena sakit atau ada keperluan tertentu. Yang berbelanja pada Yu Nem seringnya bukan ibuku, tetapi Mak’e–pengasuhku sekaligus pengurus dapur keluarga kami.

Acara belanja itu biasanya mulai sekitar pukul 06.30. Yu Nem biasanya sih datang pukul 06.00. Dia akan meletakkan bakulnya yang besar dan penuh sayuran, yang terdiri dari dua lapis. Lapis pertama adalah bakul lebar dan tak terlalu dalam, biasanya berisi bumbu-bumbu dapur dan jajan pasar. Lalu yang kedua adalah bakul besar, yang menopang bakul pertama tadi. Nah, di situlah tersimpan segala macam sayur: kangkung, bayam, gori (nangka muda), keluwih, kelapa, beberapa potong daging yang dibungkus daun jati, daging ayam, setumpuk daun jati untuk membungkus, dan entah apa lagi aku lupa. Selain itu dia masih menenteng beberapa keranjang ikan pindang. Meriah, deh. Dan aku senang sekali memerhatikannya mengeluarkan berbagai dagangannya. Mak’e biasanya membawa baskom untuk tempat belanja. Zaman itu tas kresek masih sangat jarang dipakai. Pun penjual tak pernah memberikannya kepada pembeli sebagai tempat belanja. Jadi orang yang belanja mesti membawa baskom atau keranjang belanja sendiri.

Aku paling suka jika libur sekolah karena aku bisa ikut nimbrung berbelanja di teras rumah. Kadang-kadang, kalau aku sedang tidak enak badan sehingga tak masuk sekolah, aku ikut nimbrung belanja pula. Hehehe. Nakal ya, harusnya istirahat di dalam rumah malah ikutan ngobrol di depan rumah. Padahal, aku takut juga kalau-kalau ada teman sekolahku yang lewat di depan rumah lalu nanti melaporkan bahwa aku malah duduk-duduk di depan rumah. Aku mendengarkan obrolan mereka sembari duduk di balik badan Mak’e yang gendut. Obrolan mereka selalu hangat walaupun seringnya mempercakapkan hal-hal remeh–soal harga beberapa bahan kebutuhan yang naik, wayang yang mereka dengarkan, dan yang lebih seru lagi adalah soal nomor buntut! πŸ˜€ Itu lo, waktu masih ada SDSB, Porkas, dll.

Enaknya ikut nimbrung saat Mak’e berbelanja adalah aku bisa memilih jajan yang akan dibeli. Yu Nem memang selalu membawa jajan. Yang ia bawa bervariasi: getuk, tiwul, gatot, bolang-baling, kue moho (aku tidak tahu apa bahasa Indonesianya), grontol (pipilan jagung rebus yang diberi parutan kelapa), bakpau, kue jongkong (lagi-lagi aku tidak tahu apa sebutan bahasa Indonesianya), kue lapis, bolu kukus. Beberapa jajanan itu dibungkus daun jati, jati saat hendak dimakan, tercium aroma khas daun jati. Sayang sekali saat ini daun jati jarang dipakai untuk membungkus. Padahal ini termasuk pembungkus yang ramah lingkungan dan memiliki bau yang khas.

Selain Mak’e kadang ada juga tetangga yang ikut berbelanja di tempat kami. Jadi, halaman rumahku jadi “jujugan” atau salah satu tempat tujuan berbelanja. Ditambah lagi di depan rumahku ada dokter anak yang praktek pagi dan sore. Ia punya pembantu namanya Pak No. Yang aku ingat, Pak No bertugas membersihkan bagian depan tempat praktik merangkap tukang parkir dan jualan balon untuk anak-anak. Pak No ini juga kerap ikut nimbrung di halaman depan untuk mengobrol ala kadarnya. Walaupun tak ramai-ramai amat yang berbelanja, tetapi yang menyenangkan adalah rasa gayeng yang muncul saat orang-orang ini datang.

Sekarang jika kurenungkan, Yu Nem ini besar sekali jasanya bagi keluargaku. Kami tak perlu keluar ongkos ke pasar dan kami bisa mendapatkan bahan makanan segar setiap hari. Maklum, saat itu kami tidak punya lemari es. Jadi, bahan makanan yang dibeli hari itu, habis pada hari itu pula. Memang ada kalanya Yu Nem tidak berjualan karena sakit atau ada keperluan keluarga. Biasanya kalau hendak libur, ia memberitahukan beberapa hari sebelumnya. Jadi kami pun bersiap belanja di tukang sayur lainnya.

Yu Nem sendiri merupakan gambaran perempuan yang kuat. Ia bekerja untuk membantu perekonomian keluarga. Jarang kudengar ia mengeluh. Setiap hari ia bangun dini hari lalu ke pasar, selanjutnya ia belanja untuk dijual lagi. Bakul (bahasa Jawa: tenggok) yang ia gendong tidak ringan. Pekerjaan itu ia lakoni dengan berjalan kaki. “Seragam” yang kenakan juga khas: kebaya sederhana, jarik, dan sandal jepit. Rumahnya cukup jauh dari pasar besar dan dari rumahku, yaitu di daerah Winongo. Mungkin kalau naik sepeda dengan santai memakan waktu 15-20 menit. Entah sepanjang hari itu ia berjalan berapa lama dan berapa jauh. Aku tak pernah menanyakannya.

Kini, aku tak tahu Yu Nem ada di mana. Semenjak Mak’e meninggal, dia mulai jarang ke rumahku. Jika sekarang masih hidup, barangkali ia sudah tua sekali. Aku berharap, di masa tuanya ia bahagia dan tidak sakit.

Si Jo

Aku biasa memanggilnya Jo. Dengan huruf O seperti jika kita melafalkan kata “orang” atau “ongkos”. Suka-suka aku, enak mana. Karena dia pun–dalam pandanganku–juga anak yang suka-suka gue. Ceria. Begitulah jika aku diminta menggambarkan dia dalam satu kata. Tapi yah, itu lagi-lagi pandanganku secara subjektif. Aku tak tahu bagaimana dia memandang dirinya sendiri.

Ketika kami masih berseragam putih biru, kami sekelas waktu kelas 2. Menurutku, itu kelas paling wuenak. Kami kompak dan selalu gembira. Dan aku ingat betul dulu aku dan si Jo itu merasakan hal yang sama. Nah, karena kelas 3 kami akan dikembalikan seperti kelas 1 dulu, aku dan Jo pagi-pagi menghadap Pak Dawud selaku kepala sekolah SMP dulu. “Pak, bagaimana kalau nanti naik kelas 3, kami kelasnya tetep seperti kelas 2 ini? Nggak usah dikembalikan seperti kelas 1 dulu. Ya, Pak? Ya?” begitu pinta kami. Eh lebih tepatnya Jo yang bilang begitu kepada Kepala Sekolah. Bukan aku. Wong aku pemalu begini. Jadi ya cuma mengompori Jo supaya dia tidak gentar mengajukan permintaan itu. Dan kupikir itu adalah permintaan konyol yang cuma dibalas dengan senyuman plus ucapan, “Ya, nggak bisa begitu.” Dan kami mendadak merasa putus asa. Lha wong sudah menghadap Kepala Sekolah lo, kok ya nggak ada hasil.

Tapi sungguh, mengingat keberanian kami itu, aku suka geli sendiri. Wong untuk urusan komposisi kelas saja kami berani menghadap beliau. Memang, di masa SMP antara guru dan murid rasanya hampir tiada jarak. Murid sering bercanda dengan guru, dan guru pun tak canggung ikut mengobrol dengan murid-murid. Jadi, kalau sekadar menghadap Kepala Sekolah, itu bukan hal besar. Yaaa … kalau aku sih pakai acara deg-degan sih. Tapi Kepala Sekolah kami dulu bukan orang yang “sangar” atau sangat ditakuti. Biasa saja. Segan sih. Tapi tidak sampai pada tataran takut.

Si Jo Beruang dan pisang-pisangnya.
Si Jo Beruang dan pisang-pisangnya. Katanya sih itu pisang utk bikin kue. Nggak tahu kalau dimakan sendiri... hihihi

Oiya, kembali ke Jo. Sebenarnya siapa sih nama aslinya? Nama aslinya ya memang ada unsur Jo. Joice tepatnya. Meviana Joice R. R-nya siapa aku lupa. Hehe. (Sorry ya Jo…) Panggilannya bukan cuma Jo, tapi ada pula yang memanggilnya Jus, Is, dan dia sendiri di FB melabeli dirinya sendiri Jo Beruang. Hahaha. Anaknya memang tergolong lebih lebar dibandingkan teman-teman yang lain. Jadi, ya maklum kalau dia menyebut dirinya Beruang. Atau jangan-jangan “beruang” itu artinya memiliki (banyak) uang? Amiiin. Moga-moga aku dapat jatah traktirannya. :p

Ngomong-ngomong kenapa sih aku khusus menulis buat Jo? Ulang tahunnya toh masih nanti bulan Agustus. Bukan karena ulang tahunnya, bukan pula karena ingat dulu suatu sore yang mendung dia mengantarkan ke rumahku serantang menu ala imlek berupa rebung campur daging B2 dan daging B2 masak kecap. (Mendadak lapar deh!) Tapi semata-mata karena aku terinspirasi padanya.

Well, bagaimana ceritanya?

Ceritanya suatu siang aku mendapat kabar dari ayahku jika mamanya Joice meninggal. He? Meninggal? Ingatanku melayang pada sosok perempuan yang ramah, yang selalu mengingat nama kecilku. Dan yang membuatku lebih shock lagi adalah perempuan setengah baya itu meninggal karena ditabrak kereta. Duh! Bagiku tabrakan kereta adalah peristiwa yang tak mungkin menimpa orang yang kukenal. Tapi ternyata tidak. Mamanya Jo adalah salah satu korbannya 😦

Aku tak tahu bagaimana kabar Joice selepas Mamanya tiada. Kabar tentang dirinya hanya kudengar sepotong-sepotong. Sempat bertemu saat kami akan membeli tiket kereta api di Stasiun Madiun, aku hanya bertukar kabar singkat. Dia tinggal di Semarang. Katanya sih dia membuat roti di sana. Dan kemudian dari salah seorang kawan, katanya dia bekerja di perusahaan pembuat celana dalam. Biyuh, jauh banget hubungannya ya? Dari roti sampai ke celana dalam. πŸ˜€

Aku, Joice, Pauline and Joanna, setelah kenyang nasi jotos

Nah, saat pulang ke Madiun kemarin aku bertemu dengannya lagi. Apalagi kemarin beberapa teman juga pulang. Malam itu beberapa teman menyempatkan ke rumahku karena kebetulan rumahku letaknya bisa dikatakan di tengah-tengah. Setelah ngobrol di rumahku, kami–aku, Joanna, Pauline, dan Joice akhirnya makan malam di sebuah warung nasi jotos. Kalau kubilang sih benernya mirip angkringan di Jogja dengan menu nasi kucing, sih.

Salah satu bahan obrolan kami di warung nasi jotos itu adalah aktivitas Joice yang kini menjadi pembuat roti.

“Siapa yang membantumu Jo?” tanya kami.
“Pegawaiku ada delapan,” jawabnya.
Wah! Aku sendiri tak punya bayangan memiliki usaha sendiri apalagi sampai punya pegawai 8 orang.
“Kakakmu ada membantumu?”
“Nggak. Ya, cuma aku sendiri.”
“Roti apa saja sih yang kamu buat?”
“Ah, cuma roti biasa sih. Donat dan kue-kue seribuan yang dititipkan di toko atau warung. Dan kue-kue sesuai pesanan orang saja, sih.”

Ternyata sejak masih remaja, Jo memang sering diminta membantu membuat kue orang orang tuanya. “Lha karena badanku yang besar ini, maka akulah yang diminta membanting-banting adonan donat.” Hihihi. Aku cuma terkekeh membayangkan Jo yang gempal itu membanting-banting adonan donat.

kue tar buatan joice
kue tar buatan Joice. dia terima pesanan kue apa pun. jadi termasuk kue tar (foto dipinjam dari FB-nya si Jo)

Malam itu kami mendengarkan cerita Joice bagaimana ia memulai usahanya itu. “Awalnya aku bikin kue dari tepung sekilo. Besoknya karena ada permintaan, jadi nambah tepung dua kilo. Begitu seterusnya. Sekarang aku menghabiskan tepung 1 sak untuk bikin kue.” Katanya, pelanggannya datang begitu saja. Kepergian mamanya, ayahnya yang sakit, dan kakak-kakaknya yang sudah memiliki kehidupan sendiri membuat Jo mau tak mau harus melanjutkan hidup dengan kemampuan yang ia miliki–membuat kue.

Perjumpaanku dengan Jo waktu pulang kemarin membuatku perlu menambahkan label padanya: kemandirian dan tidak putus asa. Dan satu lagi, dia jago dalam mengoordinir reuni ;). Jadi, di saat aku kepengin malas-malasan di hari yang mendung ini, aku jadi teringat padanya. Siang ini kurasa dia sedang bekerja keras membuat kue-kue. Jadi, ayo kerja, Kris! Jangan malas!

Menulis Juga Butuh Keberanian

Sebenarnya ada berapa banyak tulisan yang sudah kubuat? Aku tak menghitungnya. Ada yang sudah jadi. Ada pula yang kubiarkan saja mereka tidur-tiduran dalam komputer alias ngendon di dalam sini… ya di dalam komputer sini. Ada yang isinya curcol, ada yang bentuknya opini, ada yang fiksi, ada yang baru kumpulan ide, dan ada yang yah … tidak jelas apa bentuknya. Tetapi aku betul-betul tidak menghitungnya.

Saat aku membongkar onggokan file di komputer, aku sering terkaget-kaget melihat aneka ragamnya tulisanku. Kadang aku heran, kok bisa sih aku menulis seperti itu? Ada yang kelihatannya sok bijak (padahal, aduuuuh … siapa sih aku ini? Ngomong eh, nulis aja bisanya. Kalau suruh menjalaninya, belum tentu bisa); ada yang sok puitis (yaelah … serasa bukan aku deh yang nulis); ada yang mencoba melucu tapi sama sekali nggak lucu; ada yang lebay selebay-lebaynya!

Beberapa file tulisanku menunjukkan tulisan yang belum jadi. Ibarat lukisan, aku baru membubuhkan warna dasar dan sket tipis. Niatnya sih pengen menulis yang bisa membuat hati orang tersentuh. (Duh … duh …) Yang bisa mengalirkan kata-kata dengan begitu ajeg dan tidak membosankan. Pengen rasanya bisa memasang kata-kata yang indah tetapi tetapi tidak berlebihan, yang begitu dijejerkan akan membuat hati adem, lalu terkiwir-kiwir mengikuti aliran ceritanya. Sayangnya kok belum mampu ya? Awalnya sih bisa, tapi begitu sampai di tengah, mendadak macet. Ibarat sepeda motor butut yang businya terkena cipratan air hujan. Det…det…det … Haiyah kono ora iso mlaku! (Nah lo, nggak bisa jalan!)

Dari deretan tulisan yang tidak jelas itu sebenarnya ada beberapa tulisan yang sudah jadi. Sayangnya, entah bagaimana aku tidak punya cukup keberanian untuk memasangnya di tempat umum–walaupun hanya di blog atau kutempelkan di notes di FB. Keberanianku untuk memajangnya sama sekali tidak ada. Tak ada bara keberanian sedikit pun! Jenis tulisan yang tidak berani kupasang salah satunya adalah tulisan berisi uneg-uneg. Selain itu juga tulisan fiksi. Untuk yang fiksi, aku masih khawatir kalau tulisanku itu nanti dijiplak orang. Weleh, siapa juga yang mau menjiplak ya? Kualitas belum pasti bagus aja sudah gaya amat! Hihihi. Lalu ada juga tulisan-tulisan yang isinya sok bijak. Halaaah … malu aku kalau membacanya. Aku takut nanti ada orang yang mencibir, “Ah elu, bisanya nulis doang, nggak bisa menjalaninya.” (Hhh … ya, memang kadang aku bisanya menulis doang, menjalaninya ya belum tentu bisa.)

Kemarin, aku iseng-iseng memasang status di FB begini: Writing needs a lot of practices. Ya, untuk menulis memang dibutuhkan latihan. Jadi, anggap saja onggokan file berisi tulisan tak berguna itu sebagai ajang latihan. Nah, ada salah satu temanku, Meira, memberi komentar bahwa untuk menulis juga dibutuhkan kepercayaan diri, berani malu. Wah, benar juga ya! Kesannya menulis itu hanya aktivitas biasa di belakang layar. Tapi untuk menampilkan karya kita, memang dibutuhkan suatu kepercayaan diri dan keberanian. Kalau tidak berani, ya akhirnya tulisan-tulisan kita akan ngendon di dalam komputer saja. Menaruh tulisan di blog atau di media umum lainnya itu berisiko loh–bisa dikritik orang, bisa dibilang jelek, tetapi bisa juga disanjung, dipuji ke sana-kemari. Rata-rata orang akan senang jika tulisannya disukai. Tetapi berani nggak sih, demi bisa menghasilkan tulisan yang bagus dan bermutu, kita berani memasang tulisan untuk dinilai, dikritik orang? Beranikah kita memajang tulisan yang berisi opini kita yang “tidak umum” alias bisa menuai kritik karena pendapat kita tidak sama dengan pendapat kebanyakan orang? Beranikah kita memajang tulisan kita yang memang masih berupa hasil latihan, dan tidak bagus-bagus amat jika dibandingkan tulisan orang-orang yang memang sudah mahir dalam menulis, yang jika menulis pasti mendapat pujian? Memang tidak enak sih dikritik. Memang tidak enak jika harus menerima masukan yang mengatakan bahwa tulisan kita tidak menarik. Memang tidak enak mendapati kenyataan bahwa tulisan kita tidak laku.Β  Tetapi untuk bisa menulis dengan bagus kupikir butuh latihan dan keberanian. Dan ini merupakan tantangan juga buatku πŸ˜‰

Ngomong-ngomong, butuh apa lagi ya supaya bisa menulis dengan baik?

*Terima kasih buat Meira untuk komentarnya kemarin πŸ™‚