Saatnya Penerbit Turun Gunung

Entah sudah berapa kali aku mendengar pembicaraan soal menurunnya penjualan buku dan majalah. Oplah menurun. Majalah banyak yang tutup. Ada yang bilang sekarang adalah zaman senjakala bagi penerbit. Kadang ikut deg-degan ketika mendengar kabar seperti itu.

Beberapa kali aku berpikir bahwa penerbit mungkin ada baiknya “turun gunung” menyapa langsung para pembacanya. Bukan sekadar lewat toko buku. Bukan hanya waktu ada acara peluncuran buku. Tapi benar-benar datang dan mengajak sebanyak mungkin orang untuk membaca.

Apa itu membaca? Menurutku membaca itu tidak hanya soal mengeja. Membaca itu menangkap makna. Jadi, kalau ada tulisan: Tini makan singkong, perlu juga dilihat konteksnya. Singkong dimakan Tini sebagai kudapan? Sebagai makanan sehari-hari? Sebagai ganjal perut setelah dua hari tidak makan?

Balik lagi ke soal penerbit yang mengajak orang untuk membaca. Kadang kupikir penjualan buku menurun, minimnya minat baca, itu juga karena penerbit kurang turun gunung. (Habis gini ditoyor editor.) Sebenarnya buku bagus itu banyak. Yang ingin membaca kurasa juga banyak. Tapi kenapa buku-buku itu seperti tidak sampai ke (calon) pembaca yang haus bacaan? Ini semacam cinta tak sampai. Ngenes kan? Bikin buku yang bagus itu tidak mudah, biayanya pun tidak sedikit. Tapi begitu terbit, penjualannya kadang (atau sering?) mak plekenyiiik… Puk puk editor. Apalagi katanya minat baca masyarakat rendah. Jadi, bisnis buku itu kesannya suram.

Namun, kalau kita peduli soal gizi untuk tubuh, mestinya kita peduli pula soal “gizi” untuk otak. Hei, kamu tahu nggak kalau otak itu organ terpenting di tubuh kita? Kalau otak kita hanya dijejali ide-ide sampah, hidupmu bakal suram. Makanan untuk otak salah satunya adalah buku yang bagus. Buku yang menginspirasi. Buku yang menambah wawasan. Lalu, kalau daya serap buku di masyarakat makin berkurang, bukan tidak mungkin ini tanda-tanda kemunduran peradaban. Jadi, balik lagi ke tadi… membaca buku itu penting.

Belakangan aku berpikir bahwa penerbit itu ada baiknya membuat semacam gerakan meningkatkan minat baca. Ternyata, apa yang selama ini kupikirkan, dilakukan oleh Penerbit Kanisius. Dalam rangka ulang tahunnya yang ke-95, Kanisius membuat gerakan untuk mengajak masyarakat membaca, yaitu dengan membentuk Sahabat Literasi. Salah satu kegiatannya adalah dengan turun ke Malioboro, lalu mengajak orang-orang yang saat itu ada sana untuk membaca. Selain di Malioboro, gerakan ini juga dilakukan di kereta Prameks Jogja-Solo, di bus TransJogja, di sekolah Mangunan. Menurutku ini suatu gerakan yang unik. Kuharap hal ini dilakukan secara berkesinambungan. Dan semoga diikuti oleh para penerbit lain.

Nderek mangayubagyo, Kanisius. Teruslah menerbitkan buku-buku bermutu.

Advertisements

Ke Mana Saja Kalau Ke Jogja?

Oke, aku mau melanjutkan ceritaku saat di Jogja akhir tahun kemarin. Terlambat nggak apa-apa, ya? 😀 Daripada tidak sama sekali …

Sebenarnya kalau aku ke Jogja, tempat yang kutuju ya itu-itu saja. Tidak banyak. Nah, jadi ke mana saja sih?

1. Mi Jawa
Rasanya ini kunjungan wajib deh. Biasanya hari pertama aku langsung cari mi jawa. Entah kenapa ya, kok rasanya mi ini ngangeni. Mungkin rasa gurihnya pas banget di lidahku. Dan mungkin juga karena selama di Jakarta, aku jarang sekali makan mi ini. Nah, jadi begitu sampai Jogja, aku biasanya malamnya berburu mi ini.

Mi jawa enak yang paling dekat dengan rumahku adalah yang terletak di Minomartani. Aku agak susah memberi ancer-ancernya. Tapi ada tempat lain yang menurutku juga enak, yaitu di sekitar Bintaran. Penjualnya adalah Pak Paino. Dia buka kedainya menempel di tembok Karta Pustaka sebelah timur. Kalau tidak salah, nama jalannya: Bintaran Timur. Pak Paino ini dulunya koki di Bakmi Kadin, tapi akhirnya dia buka warung sendiri. Selain itu ada juga di Terban. Kalau tidak salah (karena beberapa kali ada renovasi bangunan di sekitarnya), letaknya di dalam pom bensin Terban sekarang. Dulunya sih dalam terminal Terban. Aku lupa nama penjualnya. Pak siapa gitu ya? Tapi di sini rame banget. Antrinya banyaaak.

Saat pesan mi jawa, pesanku selalu sama: bakmi godog (bakmi rebus), pakai telur bebek (karena kadang ada yang pakai telur ayam), dan tidak pakai vetsin. Kalau sedang berduit, aku minta ditambah uritan (calon telur). Dan yang perlu diingat, kalau mau makan mi jawa, perginya jangan pas sedang lapar-laparnya. Kenapa? Karena masaknya lama, satu-satu; apalagi kalau antrinya banyak. Dulu aku pernah pesan waktu antrinya 9 orang. Nunggunya bisa hampir 1 jam lo! Kalau bisa dapat 15 menit atau 30 menit tersedia, itu rejeki. Hehe. Makanya kalau ke sana, kira-kira 1 jam sebelumnya.

Mi ini rasanya gurih, kaldunya mantep. Kuahnya putih agak kental, karena bercampur telur. Kalau suamiku biasanya makannya sambil ngletus cabe rawit. Berhubung aku kurang suka pedas, aku makan tanpa cabe. Kata dia sih enak pakai cabe. Kalau aku bilang, tanpa cabe tetap enak; apalagi kalau dibayari, lebih enak lagi. 😀

2. Gudeg
Sebenarnya kerinduanku terhadap gudeg itu tak sebesar kerinduanku pada mi jawa. Tapi, karena suamiku suka gudeg, jadi mau tak mau pasti ke penjual gudeg. (Jadi, bingung … sebenarnya yang orang Jawa itu siapa sih? Suamiku yang bukan orang Jawa kok malah suka menu masakan Jawa ya?) Gudeg yang biasa kubeli ada dua. Yang pertama Yu Djum dan satu lagi, gudeg di dekat stadion Maguwo. Sebenarnya banyak penjual gudeg kalau pagi. Ibaratnya kalau di Jakarta, gudeg itu nasi uduk. Biasa untuk sarapan. Aku kurang tahu gudeg mana lagi yang enak. Tapi kurasa banyak lagi gudeg yang enak, bukan cuma dua itu saja.

3. Mirota Batik
Mirota Batik ini terletak di ujung jalan Malioboro. Nah, padahal aku termasuk orang yang agak malas ke Malioboro. Mungkin karena terbayang macetnya ya? Apalagi kalau pas musim liburan. Aduh … mau masuk Malioboro itu bikin males, macetnya itu lo! Di Jakarta ketemu macet, masak niat banget cari kemacetan di Malioboro? Lagi pula, aku bukan orang yang suka belanja. Kalau buat wisatawan, Malioboro itu magnet, tapi aku sekarang menganggapnya biasa-biasa saja. Bukannya nggak suka, tapi males, dan bingung mau beli apa …. 😀 😀 Tapi biasanya aku ke Mirota Batik sih untuk beli sabun lerak untuk mencuci batik, dan kalau ada teman yang nitip sesuatu, aku biasanya cari di situ. Kalau bisa, perginya pagi-pagi supaya belum terlalu ramai. Jam 8 pagi, toko ini sudah buka. Nah, kalau musim libur, toko ini penuh banget!

4. Toko Merah
Ya, untuk beberapa hal aku masih beli di Jogja. Salah satunya di toko ini. Ini adalah toko alat tulis. Harganya menurutku cukup miring dan barangnya bervariasi. Toko ini punya beberapa cabang, salah satunya ada di Condong Catur. Jadi, aku tidak perlu sampai menyeberang ke Ring road. Barang yang terakhir aku beli di toko ini adalah tempat pensil. Hihi. Kayak di Jakarta nggak ada aja ya? Kalau di Toko Merah, tempat pensil harganya jauh lebih murah dibandingkan jika kita beli di Gunung Agung atau Gramedia. Lagi pula aku tidak cari yang bermerek. Buat persediaan saja, sih karena tempat pensil suamiku sudah hampir jebol. Kata temanku, di Jatinegara sebenarnya ada toko alat tulis yang cukup murah harganya. Tapiii, kok aku rasanya lebih suka ke Toko Merah ya? Males ke Jatinegara, kebayang pasarnya yang kemruyuk, padat, dan yaaa … gitu deh. Intinya: malas belanja di Jakarta. Hahaha. Jauh aja ya belanjanya? 😀

5. Toko Progo
Dulu semasa aku kuliah, toko ini sudah cukup ramai. Cukup besar, tapi sekarang, toko ini jauh lebih besar. Toko ini menjual berbagai keperluan rumah tangga. Di bagian dasar ada para penjual makanan. Di lantai 1 ada swalayan. Swalayan tahu kan? Ya, bahan-bahan keperluan rumah tangga gitu deh. Dulu bagian swalayan ini tidak sebesar sekarang. Nah, yang aku suka sebenarnya ke lantai atasnya lagi, yaitu di bagian alat rumah tangga. Di situ ada segala macam printilan dapur. Mulai dari barang-barang yang kecil misalnya sendok, alarm dapur, pisau, dan semacamnya, sampai barang-barang yang gede, misalnya panci bakso yang sebesar aku ada deh. Aku beli rantang makanan, pengasah pisau, teko kecil di situ. Lalu di bagian lain ada barang-barang dari plastik, mulai dari jemuran sampai wadah-wadah yang imut. Jadi, one stop shopping deh. Kalau pas belanja kelaparan, bisa turun dulu tuh. Makan mi ayam, batagor, siomay, es dawet … Harganya tidak terlalu mahal menurutku (barangkali aku sudah membandingkannya dengan harga makanan di Jakarta :D). Cuma memang ramai sih, jadi mesti cepat-cepat cari meja kalau mau makan di situ. Terakhir ke Progo, aku menemukan sabun hijau batangan yang populer di zaman dulu. 🙂

Sabun hijau batangan, ternyata masih ada 🙂

6. Toko buku Togamas
Aku termasuk jarang beli buku di Jakarta karena tidak dapat diskon. Jadi, kalau ke Jogja, mesti ke toko buku diskon dong. Di sini nih, aku biasanya foya-foya. Hehehe. Yang agak malas sebenarnya adalah waktu mencari buku. Di toko ini penyusunannya kebanyakan cuma kelihatan punggung buku. Kan capek tuh kalau mencarinya. Untung ada komputer pencari. Ya, lumayan lah. Tapi tetep saja aku bisa lama di situ. Yang aku suka juga adalah di situ, buku yang kita beli bisa disampul plastik gratis. Eh, aku lupa ada ketentuannya nggak ya? Lupa. Selama ini sini setiap beli buku, aku selalu minta bukuku disampuli. Tapi, aku kadang juga suka menahan diri untuk tidak ke toko ini … soalnya tetep saja bisa boros! Kan tidak mungkin aku cuma beli satu buku? Minimal dua atau tiga. Diskonnya sekitar 20% di sini, tapi rasanya diskonnya bervariasi deh. Pas akhir tahun lalu, toko ini memberikan diskon untuk semua buku sampai 30%. Lumayaaan ….

7. Showroom Kanisius
Di showroom ini menjual buku terbitan Kanisius. Terbitan mereka tidak hanya buku yang berkaitan dengan kekatolikan, tapi banyak pula buku tentang keterampilan, buku anak, buku filsafat, spiritualitas, keluarga, dll. Macam-macam juga yang buku umumnya. Entah ya, aku suka ke sini. Rasanya adem, karena banyak pohon di sekitarnya dan suasananya tenang. Kadang aku lihat-lihat saja, kadang beli juga. Kalau ada buku yang menarik, aku beli. Dulu aku punya kartu KRC (Kanisius Reading Community), yang bisa dapat diskon 20% untuk beli buku. Tapi ternyata, kalau aku pakai kartu alumni kampusku dulu, bisa dapat diskon juga. Asyik … asyik! Jadi, kan tidak perlu membayar perpanjangan kartu KRC hehehe. Pas akhir tahun lalu, aku masih kebagian diskon besar-besaran di sini, harganya mulai dari 5000 rupiah. Memang rata-rata buku jadul sih, tapi kadang yang jadul itu yang penting dan menarik.

Sudah, tujuh tempat itu yang biasa kudatangi saat aku pulang ke Jogja. Lainnya sih opsional, tergantung ke mana keberuntungan membawaku hehehe. Sisanya, bersantai di rumah: nonton tivi (kalau di rumah bisa nonton film-film detektif yang tayang lewat tivi kabel dan film-film dokumenter yang bagus), main-main dengan Kelik si kelinci cilik, masak, makan. Yaaa pokoknya santai-santai gitu deh. Eh, tapi kalau ada pekerjaan, tetap mantengin komputer pekerjaan sih.

Betewe, kalau di Jogja itu kenapa rasanya waktu berjalan lebih lambat ya daripada di Jakarta?

Nah, kalau kamu ke Jogja, ke mana saja?