Tabula Rasa: Merayakan Kebhinekaan Indonesia

Aku mau membuat pengakuan… bahwa sesungguhnya aku terlambat mengenal masakan Padang. Seingatku aku mengenal masakan Padang pertama kali waktu SMP atau SMA. Waktu itu, lidahku masih dibawah pengaruh otakku yang “picky eater”–suka pilih-pilih makanan. Jadi, aku kurang menikmatinya. Tapi waktu aku kerja di Jogja, tak jauh dari kantorku ada kedai Padang. Salah seorang teman bilang bahwa nasi Padang di situ enak banget. Ternyata memang enak. Waktu itu aku sudah tidak terlalu picky eater. Sejak tinggal di asrama dan mesti menyantap menu apa saja yang terhidang pada hari itu, kebiasaanku untuk pilih-pilih makanan sudah lumayan jauh berkurang. Oya, sayangnya sekarang tempat itu sudah tidak ada.

Tak jauh dari tempat tinggalku, ada sebuah rumah makan Padang yang sepertinya cukup terkenal di Jakarta, yaitu restoran Sederhana di seberang Pasar Sunan Giri, Jakarta Timur. Seorang temanku merekomendasikan restoran itu. “Rendangnya enak banget,” kata dia. Penjaga kontrakanku, yang orang Padang, juga bilang di restoran itu masakannya enak. “Cocok dengan lidah saya,” katanya. Tapi ketika mencoba makan di situ, aku jatuh cinta pada ayam pop.

Menu masakan Padang beberapa kali menjadi penghibur hati ketika aku sedang bete. Sepertinya untuk melupakan pahitnya dunia, makan enak memang bisa jadi salah satu pelarian.

Beberapa waktu lalu, ketika sedang menonton film Negeri Tanpa Telinga di bioskop, muncul tayangan trailer film Tabula Rasa. Film apa nih? Kok menampilkan masakan Padang? Seingatku, aku belum pernah menyaksikan film yang benar-benar mengangkat kuliner Indonesia. Jadi, sukseslah aku menunggu-nunggu penayangan film Tabula Rasa tersebut.

Tabula Rasa mulai tayang kemarin, tanggal 25 September. Astaga, kayaknya ini kali pertama aku benar-benar mengingat tanggal penayangan perdana sebuah film Indonesia. Aku sudah tak sabar menonton.

Ini trailer film Tabula Rasa itu:

Oke, singkat cerita, aku dan suamiku nonton film itu kemarin di bioskop Arion. Film itu mengisahkan seorang pemuda asal Serui, Papua, bernama Hans yang pergi meninggalkan kampung halamannya ke Jakarta. Hans (Jimmy Kobogau) seorang pemain sepak bola di daerahnya. Cita-citanya adalah menjadi pemain sepak bola profesional. Maka ketika ada seorang yang mengajaknya ke Jakarta untuk dijadikan pemain sepak bola, ia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.

Namun, jalan hidup Hans berbelok. Pergi dari Serui bukannya jadi pemain sepak bola profesional, dia malah jadi pemuda gelandangan. Duh, adegan dia menyambung hidup di Jakarta rasanya miris sekali. Jakarta yang keras sempat membuat Hans ingin bunuh diri. Tapi kemudian dia bertemu Mak (Dewi Irawan), seorang pemilik warung makan Padang. Bagiku, adegan pertemuannya dengan Mak ini menyisakan perenungan yang panjang. Mak menemukan Hans yang tengah tergeletak dengan luka di kepala. Waktu itu pagi hari, Mak tengah pulang dari pasar. Mak berusaha membangunkan Hans. Memeriksa apakah pemuda bertampang khas orang Papua itu masih hidup, Mak meletakkan jarinya di bawah hidung Hans. Hans pun bangun karena terkejut. Mak lalu mengajak pulang Hans dengan dibantu Natsir (Ozzol Ramdan), pekerja yang bekerja di warung nasi Padang Mak.

Sebagai orang baru, apalagi dengan penampilannya yang lusuh, Hans tidak serta merta diterima di rumah (sekaligus warung makan) Mak. Kalau aku jadi penghuni rumah Mak, mungkin aku juga mempertanyakan Hans. Siapa dia? Kalau dia orang jahat bagaimana? Bukannya malah merepotkan? Padahal saat itu warung Mak sedang sepi. Alias kondisi keuangan Mak sedang susah juga. Tapi apa komentar Mak? (Aku tulis berdasarkan ingatanku saja. Aku tidak ingat persisnya percakapan antara Mak, Natsir, dan Uda Parmanto, juru masak warung Mak (diperankan Yayu Unru).

Natsir: Berbuat baik itu ada batasnya.
Mak: Apa batasnya?
Natsir dan Uda Parmanto pun diam.

Ya, ya… berbuat baik idealnya tidak ada batasnya. Tapi kita sekarang memang biasa menghitung-hitung perbuatan baik. Adegan Mak menolong Hans itu membuatku teringat kisah orang Samaria yang baik hati. Aku tidak tahu apakah penulis skenarionya membayangkan kisah itu waktu menulisnya atau tidak. Tapi kebaikan Mak yang memberi tumpangan kepada Hans itu menggedor nurani. Zaman sekarang gitu lo, siapa sih yang mau menolong orang yang keleleran di jalanan? Yang menolong begitu saja karena tergerak hatinya? Ah, ya… semoga masih ada.

Film ini dari awal sampai akhir cukup memikatku. Plot dan ceritanya tidak kedodoran. Musiknya oke banget, gabungan antara musik tradisional Papua dan Sumatera. Rasanya seperti mengecap rasa Indonesia yang asli: pasar tradisional, keindahan Papua, potret kemiskinan kota, dan yang pasti… masakan Padang! Dijamin penonton ngeces waktu menyaksikan adegan memasak di dapur Mak. Itu gulai kepala ikan bikinan Mak terbayang-bayang sampai sekarang! Hih, mesti segera mencari hari kapan bisa mencicipi gulai kepala ikan yang uenak!

Film ini menggambarkan kekayaan Indonesia. Mulai dari makanan sampai bahasa. Oya, satu hal yang kusukai dari film ini adalah dialognya memakai bahasa daerah. Tapi tenang… ada terjemahannya kok. Jangan khawatir tidak bisa mengikuti percakapan mereka. Film ini juga mengangkat kebhinekaan Indonesia. Perbedaan suku dan agama di antara para lakon tampil alami, wajar. Terselip pula kelakar serta peribahasa dalam percakapan mereka.

Menonton ini semakin membuatku bangga pada Indonesia… negeri yang cantik dan kaya ini. Plus membuatku lapar! Haha.

Selamat menonton. Selamat merayakan Indonesia.

Untuk mengetahui lebih lengkap tentang film ini, silakan berkunjung ke sini.

Advertisements

Sebuah Keputusan

Beberapa hari lalu (atau beberapa minggu lalu ya?), ada seorang teman di FB yang mengeluhkan asap di kotanya. Aku lupa dia tinggal di mana. Seingatku dia di Kalimantan. (Lagi-lagi aku lupa…). Dia mengeluh bahwa asap itu akibat pembakaran hutan yang akan dijadikan lahan perkebunan sawit. Aku yang tinggal di Jawa, tentu tidak pernah merasakan seperti apa sesaknya asap pembakaran tersebut. Tapi yang jelas itu pasti tidak enak ya? Lagi pula cerita soal tragedi asap semacam itu sudah sering kita dengar. Sampai-sampai negara kita dikenal sebagai pengekspor asap kan? Diiih… ekspor kok asap sih?

Omong-omong soal asap dan perkebunan kelapa sawit, aku jadi teringat akan keputusanku untuk tidak lagi memakai minyak goreng dari kelapa sawit. Keputusan ini setidaknya sudah kubuat setahun lalu. Ada cerita di balik keputusan itu. Jadi, ceritanya persis setahun lalu aku menginjakkan kakiku pertama kali di bumi Borneo, tepatnya di Pontianak, lalu aku melanjutkan perjalanan ke Nanga Pinoh. Sesampainya di sana, aku berkata kepada sang penjemputku, “Aku pengin lihat hutan dengan pohon yang besar-besar.” Jawabannya cukup mengejutkanku, “Di Kalimantan sudah habis hutan yang seperti itu, Dik.” Waaah… aku kecewa berat. Jawaban yang serupa aku terima dari beberapa orang yang kujumpai. Bahkan orang asli Kalimantan pun mengatakan hal yang sama. “Masih ada hutan (dengan pohon besar-besar), tapi jauh sekali. Jauh di pelosok dan memakan waktu seharian untuk sampai ke sana.” Selanjutnya aku mendapat cerita bahwa hutan-hutan itu habis digantikan kebun kelapa sawit. Banyak orang tergiur mengubah lahannya (bahkan kabarnya tanah adat) menjadi kebun kelapa sawit karena iming-iming uang. Sayang sekali ya.

Mendengar cerita semacam itu aku merasa perlu berbuat sesuatu. Tapi apa? Memang, aku sangat jarang menggoreng lauk atau kue. Aku lebih suka mengukus atau merebus. Minyak goreng kupakai untuk menumis saja. Karena pemakaian minyak gorengku sangat sedikit, aku memilih memakai minyak goreng yang asalnya dari kulit ari beras, jagung, kedelai, atau canola. Tapi memang kadang-kadang aku butuh minyak goreng agak banyak menggoreng sih. Menggoreng lele, misalnya. Nah, saat perlu minyak goreng yang cukup banyak, dulu seringnya aku membeli minyak goreng yang lebih bersahabat di kantong. Minyak goreng yang lebih murah kebanyakan dari kelapa sawit kan? Nah, tapi sejak aku melihat sendiri bahwa hutan-hutan di Kalimatan itu makin lama makin habis, aku beralih memakai minyak goreng dari kelapa. Dari segi harga, minyak goreng dari kelapa tidak semahal minyak jagung atau canola. Awalnya saat berbelanja aku mesti mencermati satu per satu tulisan di kemasan minyak goreng sehingga tahu bahan bakunya. Sebagian besar minyak goreng yang ada di pasaran berbahan baku minyak sawit. Tapi karena sudah memutuskan tidak akan memakai minyak sawit, aku tidak beli dong. Perlu niat memang dan kadang perlu pindah-pindah toko untuk mencari minyak goreng yang berbahan baku kelapa.

Ah, ya… tak terasa sudah setahun berlalu aku membuat keputusan itu. Dan aku masih ingin kapan-kapan bisa berkunjung ke Kalimantan lagi (kalau ada waktu, kalau ada sangu, kalau….). Mari mereka-reka rencana jika ada kesempatan…. 😉

Apa Artinya Menjadi (Bagian dari) Indonesia?

Itu adalah pertanyaan yang beberapa hari belakangan ini muncul di kepalaku. Pertanyaan sepele, tapi terus mengganggu. Rasanya tidak ada jawaban yang betul-betul pas. Atau aku saja yang kurang cerdas merangkai jawaban? Lalu, apakah pertanyaan ini perlu dijawab? Kalau ini dianggap sebagai ujian kewiraan atau PMP, mesti dijawab dong. (Eh iya, zaman aku sekolah nama mata pelajarannya PMP, bukan PPKn. Haha… ketahuan jadulnya.) Selintas aku teringat salah seorang guruku. Konon kabarnya si bapak guru itu akan memberi nilai bagus jika kita memberi jawaban yang panjang. Atau mungkin kalau sekarang, maksudnya bertele-tele ya?

Oke, balik ke pertanyaan tadi. Apa artinya menjadi Indonesia? Huh, sulit sekali jawabannya.

Pertanyaan ini membuatku teringat akan beberapa hal, salah satunya adalah ketika aku sempat pergi ke luar Jawa. Tidak, aku bukan orang yang sering bepergian. Hanya saja kebetulan suamiku orang luar Jawa, jadi wajar kan kalau aku setidaknya setahun sekali aku pergi ke luar Jawa? Baru tiga pulau yang pernah kukunjungi: Bali, Belitung, dan Kalimantan. Aku tidak perlu membahas secara detail perjalananku ke pulau-pulau tersebut. Tapi yang jelas, saat aku keluar Jawa, aku betul-betul tersadar bahwa Indonesia itu luas sekali. Ini tidak seperti membuka peta saat pelajaran Geografi lalu menunjuk kota-kota tertentu. Rasanya lain. Seperti terbangun dari mimpi. Ya, inilah Indonesia. Indonesia yang begitu aneka ragam. Indonesia yang kaya.

Pertanyaan tadi juga mengingatkanku akan asrama Syantikara karena di sana aku bertemu langsung dengan teman-teman yang berasal dari berbagai daerah. Kulit mereka mungkin berbeda denganku. Garis wajah mereka pun khas, tidak seperti aku yang orang Jawa. Dan itulah kekayaan kita–kekayaan Indonesia.

Ah, ya Indonesia memang kaya. Tapi aku merasa, sepertinya tidak semua orang benar-benar menyadari kekayaan ini. Memang, mereka tahu bahwa Indonesia ini terdiri dari berbagai suku. Budayanya juga macam-macam. Tapi itu seperti hanya hapalan ketika akan menghadapi ujian PMP atau PSPB atau Sejarah. Betulkah mereka menyadari keragaman itu dan mensyukurinya? Sepertinya ada beberapa golongan yang merasa perlu menyeragamkan Indonesia. Trus, apa bagusnya kalau sudah seragam? Ah, mungkin mereka memang kurang piknik. Huh!

Sebetulnya aku ingin menulis lebih panjang lagi. Tapi sumpah, aku ngantuk sekali. Daripada tulisan ini malah ngalor ngidul tidak jelas, lebih baik kuakhiri saja. Dan maaf kalau aku belum bisa merangkai jawaban atas pertanyaan di atas. Ini bukan soal ujian PMP yang harus dijawab dalam 90 menit. Ini pertanyaan sepanjang hidupku–selama masih menjadi WNI.

Satu hal yang pasti, aku bersyukur hari ini kita sebagai bangsa Indonesia bisa merayakan ulang tahun kemerdekaan yang ke-69 dengan aman. Semoga Indonesia tetap aman dan semakin baik ke depannya.

 

Kebodohan Hari Kartini

Ketika masih kecil dulu, ibuku pernah memberiku kebaya warna merah muda. Jika dilihat-lihat, kebaya itu cantik. Apalagi ada sulaman bunga-bunga dengan benang perak, membuat kebaya itu kelap-kelip. Tapi aku paling tidak suka jika diminta memakai kebaya itu. Gatal! Kebaya itu tidak diberi furing untuk lapisan dalamnya, jadi sulaman benang-benang perak itu menggesek kulit. Aku tidak suka.

Kebaya merah muda itu sebetulnya rencananya mau kupakai saat hari Kartini. Tapi seingatku kebaya itu hanya kupakai sekali, dan aku kapok. Yang membuatku “kapok” juga adalah karena saat memakai kebaya itu aku harus bangun pagi-pagi sekali, pergi ke salon dekat rumah, dan membiarkan rambutku disasak, disemprot dengan hair-spray supaya kaku. Selanjutnya, aku harus menutup hidung rapat-rapat supaya semprotan untuk rambut itu tidak banyak yang kuhirup. Setelah itu, aku juga harus merelakan wajahku dipoles, bibirku dicat merah, mataku diberi celak, dan yang terakhir … aku mesti memakai jarik. Duh, itu siksaan. Aku tidak bisa jalan cepat apalagi berlari. Yang paling repot, aku jadi sulit untuk pipis. Benar-benar merepotkan.

Sesampainya di sekolah, kulihat semua temanku juga didandani. Tapi ternyata ada temanku yang memakai baju bodo dan tidak memakai jarik yang ketat. Baju bodo itu bawahannya semacam sarung lebar. Jadi, si pemakai tidak kesulitan untuk berjalan. Dalam hati aku bertanya-tanya, kok aku baru tahu ada baju daerah semacam ini? Kenapa ibuku tidak memesan si pemilik salon supaya aku memakai baju bodo saja? Entahlah. Yang jelas, hari itu aku sepanjang hari memakai kebaya plus jarik yang rapat. Bukan pengalaman yang menyenangkan untukku.

Aku tidak tahu apakah ada dari teman-temanku yang menikmati atau katakanlah senang didandani saat Hari Kartini. Mungkin ada ya? Mungkin memang ada yang senang dirias dan tampil cantik. Tapi aku tidak termasuk di antara mereka.

Kini, sekian belas tahun berlalu dan acara hari Kartini masih identik dengan memakai baju daerah. Jujur saja, aku tidak paham apa hubungannya. Kalau membaca tulisan-tulisan Kartini, dia lebih banyak membahas semangat anti feodalisme. Dia mempertanyakan mengapa perempuan Jawa banyak dibatasi oleh sekat adat istiadat sehingga tidak bisa bebas seperti perempuan Belanda. Dan dia melihat cara membebaskan diri dari sekat-sekat itu adalah lewat pendidikan. Coba deh baca bukunya Habis Gelap Terbitlah Terang. Aku sendiri bacanya loncat-loncat; belum tuntas. Hehe. Bukan contoh pembaca yang baik ya. Tapi dari membaca yang loncat-loncat itu, aku jadi menyadari kebodohanku saat diwajibkan memakai kebaya ketika peringatan hari Kartini di sekolah dulu.

Kadang kupikir-pikir pihak sekolah memang malas untuk membuat para muridnya lebih memahami apa yang mereka peringati. Padahal sekolah itu adalah tempat pendidikan. Tempat kita lebih sadar dan maju. Nah, kalau untuk masalah perayaan Kartini saja kita dari dulu hanya begitu-begitu saja, kebayang kan untuk urusan yang lebih serius lagi?

Kisah Warna-Warni

Alkisah, ada satu perusahaan. Sebut saja perusahaan itu namanya Warna-Warni Asri. Disebut begitu karena yang bekerja di perusahaan itu terdiri dari dari beberapa kelompok orang yang kulit tubuhnya warna-warni. Ada tujuh kelompok warna. Karena ini dongeng, kelompok orang-orang ini kulitnya sungguh unik, yaitu berwarna hijau, kuning, merah, biru, ungu, cokelat, dan putih.

Hubungan antar kelompok yang berwarna-warni di dalam perusahan itu baik-baik saja. Dari dulu mereka suka saling berkunjung kalau ada rekan yang sakit, apa pun warna kulitnya. Kalau ada yang gembira, mereka juga saling berbagi kebahagiaan. Saling bantu, saling dukung, itu biasa bagi mereka. Selain itu, mereka punya semboyan, “Majukan Warna-Warni Asri!” Mereka sudah bekerja lama sekali di perusahaan itu. Banyak dari mereka yang bekerja secara turun-temurun. Tapi itu tidak masalah. Bahkan perusahaan itu semakin mendunia.

Perusahaan itu didominasi kelompok orang yang berwarna merah. Nah, orang-orang merah ini karena bawaan orok, suka sekali apa saja yang berwarna merah. “Semua harus merah!” Jadi mereka takut-takut berbaur dengan warna yang lain karena khawatir warna mereka bisa pudar. Mereka takut jadi berkulit merah muda jika dekat-dekat dengan orang dari golongan kulit putih. Takut jadi biru, kalau dekat-dekat dengan orang golongan kulit hijau. Ya, begitulah. Entah mengapa mereka bisa seperti itu. Mungkin karena gen bawaan membuat mereka takut.

Suatu kali tiba saatnya pemilihan direktur yang baru. Direktur lama sudah sakit-sakitan. Sudah pikun dan sering membuat keputusan yang ngawur. Nah, karena kelompok orang-orang berkulit merah ini mendominasi, mereka ingin sang direktur terpilih nanti berkulit merah. Memang sih selama ini direktur Warna-Warni Asri ini selalu dari kelompok orang kulit mereka. Tapi sebetulnya orang dari kelompok lain, banyak yang baik dan mampu menjadi pemimpin.

Suatu hari Pak Pendek dari kelompok merah berkata berkata kepada orang-orang kelompok enam warna lainnya, “Teman-teman, kalian ingin perusahaan ini semakin maju bukan? Bagaimana kalau direktur yang kita pilih nanti dari kelompok kami saja? Kami pasti melindungi dan menjaga kelompok kalian. Kami sayang pada kalian. Tapi, kami cuma mau direktur perusahaan ini berasal dari kelompok merah. Lihat, ini Pak Jambul, dia sudah pengalaman dalam menjalankan berbagai mesin. Dia pasti bisa menjadikan perusahaan ini semakin maju.”

Pak Nggambleh dari kelompok ungu menjawab, “Pak Pendek, kami punya jagoan yang sama pandainya dengan Pak Jambul. Lihat ini Pak Jangkung, dia pandai mengatur keuangan perusahaan. Kalau Pak Jangkung tidak hemat dan cermat dalam mengatur uang, perusahaan ini sudah hancur dari dulu. Lagi pula, apa salahnya jika Pak Jangkung dari kelompok ungu yang menjadi direktur?”

Bu Mlenuk dari kelompok merah langsung menjawab, “Pak Nggambleh, kami ini sayang dengan kalian semua. Kami tidak punya maksud buruk. Tapi dalam kelompok kami ada tertulis peraturan bahwa pemimpin terbaik adalah dari kelompok merah. Tidak bisa tidak.”

Sontak orang-orang dari kelompok lain berbisik-bisik dan tampak bingung. Bagaimana bisa kelompok merah itu mengatakan sayang kepada kelompok lain, tapi mereka tidak mau menerima jika perusahaan itu dipimpin oleh orang yang juga cerdas dan dapat mengayomi dari kelompok lain? Kali ini memang Pak Jangkung yang ditolak. Tapi kelompok hijau punya Bu Sumeh yang dapat mendengarkan keluhan para karyawan lain dengan dengan baik plus bisa memberi solusi yang baik. Dari kelompok putih, ada Pak Botak yang pengetahuannya dalam bidang manajemen sudah diakui dunia. Dari kelompok biru ada Bu Rambut Bob yang mumpuni dalam bidang pemasaran produk. Dari kelompok kuning ada Pak Sentir (karena ke mana-mana bawa sentir) yang sangat cerdik dalam membuat strategi. Dari kelompok cokelat ada Bu Poni yang sangat kreatif dalam membuat produk-produk baru yang sangat laris.

Mendengar cerita ini aku pun jadi gerah. Kenapa sih kelompok merah ini tidak mau dipimpin orang dari kelompok lain? Padahal toh dari kelompok lain juga sama-sama baik dan pasti bisa memajukan perusahaan Warna-Warni Asri. Kalau mereka benar-benar sayang dengan kelompok lain dan mau memajukan perusahaan, mengapa mesti curiga kepada yang lain? Ah, entahlah. Aku juga tidak mengerti. Semoga perusahaan Warna-Warni Asri itu tetap maju. Sayang kalau bubar … Apalagi jika bubar hanya karena kebencian dan prasangka yang tidak perlu.

biar beda-beda, kalau rukun kan cakep. walaupun sederhana, tetap menarik. iya nggak sih?

 

Foto: koleksi pribadi; lokasi Pantai Depok, Yogyakarta.

Kenangan Upacara dan Doa untuk Indonesia

Ketika zaman sekolah dulu, tanggal merah pada angka 17 di bulan Agustus tidak kusambut dengan gegap gempita layaknya tanggal-tanggal merah lainnya. Eit, jangan salah paham dengan maksudku ya. Maksudku, meskipun tanggal 17 itu merah, tapi aku tidak bisa bangun siang dan santai-santai di rumah. Pada tanggal itu aku mesti tetap berangkat pagi dengan seragam lengkap untuk … upacara!

Senangkah? Ya, namanya anak-anak. Senang dan nggak senang sih. Mungkin banyak malasnya juga.

Dulu, tanggal 17 Agustus itu bisa berarti upacara di sekolah atau jadi utusan sekolah untuk upacara di alun-alun. Sebetulnya terselip rasa bangga juga jika aku bisa terpilih untuk upacara di alun-alun. Memang lebih capek sih ya. Karena biasanya upacaranya lebih lama. Jadi, stamina harus fit. Aku ingat betul untuk urusan stamina itu. Waktu itu, ada temanku yang jatuh pingsan karena tidak sarapan sebelum berangkat upacara. Dan dia itu berdirinya tidak jauh dariku. Wuah … kaget aku ketika aku tiba-tiba mendengar bunyi “bruk!” Peristiwa itu benar-benar menyadarkan aku soal pentingnya sarapan. Yang jelas, jika kita jatuh pingsan, hal itu akan merepotkan teman-teman yang lain, bukan?

Zaman aku sekolah, dari SD sampai SMP, yang namanya upacara itu adalah suatu hal yang harus kulalui setiap hari Senin, setiap tanggal 17, dan pada hari-hari peringatan yang penting. Jujur saja, ada keengganan waktu itu. Apalagi waktu SD aku ini langganan jadi petugas pembawa teks Pancasila. Jadi, aku tidak bisa berdiri bareng teman-temanku yang lain. Kurang enak rasanya. Lebih enak jika aku bisa bersama mereka. Waktu SMA kelas 1, aku masuk siang. Jadi, kami tidak harus ikut upacara pada pagi hari. Waktu kelas 2 dan 3 SMA seingatku aku upacara juga pada hari Senin. Tapi kok rasanya waktu itu upacaranya kurang khidmat ya? Apa karena halaman sekolahku tidak cukup luas sehingga kami mesti berdiri berdempet-dempet? Entahlah. Aku lupa. Yang jelas, aku suka iri dengan cerita kakakku soal upacara semasa dia SMA. Sepertinya DV bisa cerita lebih banyak soal upacara tersebut karena kakakku dan DV satu alumni (tapi beda angkatan sih …).

Kalau kupikir-pikir, zaman aku sekolah dulu upacara, apalagi saat tanggal 17 Agustus, kesanku kok cukup meriah ya? Meriah itu dalam artian upacaranya beda. Ya, barangkali aku saat itu lebih merasakan gregetnya ulang tahun Indonesia. Selain itu, di gereja biasanya biasanya ada misa khusus 17-an. Di gereja kami juga semacam ada “upacara” dan kalau tidak salah ada sesi penghormatan terhadap bendera merah putih. (Lagi-lagi ingatanku juga sudah samar-samar. Dasar pelupa!) Lagu Indonesia Raya juga sempat dinyanyikan.

Lalu bagaimana dengan peringatan kemerdekaan saat ini? Tadi pagi ceritanya aku ingin bangun pagi agar bisa ikut misa 17-an. Tapi, rupanya kebiasaan bangun siangku sulit dihilangkan. Aku tersadar ketika sudah hampir pukul 06.00 pagi. Lah, sudah sangat terlambat kalau mau misa. 😦 Oke, meskipun aku tidak sempat ikut misa 17-an, aku ingin berdoa secara khusus untuk Indonesia pada hari ini. Semoga masih banyak dan selalu saja ada warga Indonesia yang mencintai negara ini dengan sepenuh hati. Kiranya korupsi dan keserakahan perlahan-lahan mulai berkurang. Semoga keragaman dan kerukunan bangsa Indonesia tetap terjaga. Amin!

Tentang Sebuah Keluarga

Rumah. Keluarga. Dua kata itu erat kaitannya. Rumah adalah tempat satu keluarga berkumpul. Keluarga membutuhkan rumah. Di rumah itu para anggota keluarga berinteraksi satu sama lain, ada emosi yang muncul, ada kebersamaan. Di dalamnya pasti pernah timbul rasa sebal, senang, kangen, marah, sedih, saling mendukung, saling melindungi, saling mengkritik. Campur-campur.

Ya, aku mau bercerita tentang sebuah rumah yang pernah kutinggali, yang sekarang–sayangnya–jarang aku kunjungi. Tapi biar begitu, aku masih merasakan suatu ikatan keluarga yang pernah terjalin selama aku tinggal di situ.

Rumah itu besar. Besar sekali. Dan berhalaman luas. Ada halaman di sisi luar, ada pula sepetak halaman di dalamnya. Ada sebuah sungai yang membelah halaman rumah itu. Jadi kamu bisa mendengar gemericik air setiap hari. Kedengarannya menyenangkan ya? Rumah ini terletak di pinggir jalan besar, tetapi halaman yang luas itu cukup bisa meredam riuhnya lalu lintas di depan. Oya, tidak seperti rumah-rumah pada umumnya, halaman depan rumah itu diaspal! Khas sekali. Ini bukan jalan raya lo. Tapi memang benar-benar halamannya.

Foto: Sungai Babilon. Begitulah kami menyebut sungai ini. Kira-kira tiga tahun kamarku terletak di samping sungai ini.

Dulu, aku sempat takut waktu hendak tinggal di sana. Rumah ini besar sekali. Ada ratusan ruang di dalamnya. Bagaimana kalau aku salah masuk? Lagi pula ruangan-ruangan itu mirip. Dan ada pula lorong-lorong yang panjang. Kalau malam, bisakah kamu membayangkannya? Saat semua penghuninya tidur, lorong itu begitu sepi. Memang cahaya lampu neon tetap bersinar terang sampai pagi, tetapi sepi itu kadang terasa menggigit.

Hmm, bisa menebak rumah apa yang sedang kubicarakan ini? Ini adalah asrama yang kutinggali sejak awal kuliah (bahkan beberapa bulan sebelumnya aku sudah tinggal di situ) sampai aku lulus. Lima tahun. Itulah Asrama Syantikara, Jogjakarta.

Sampai sekarang aku masih merasa Syantikara adalah salah satu bagian penting dalam hidupku. Tinggal dan berinteraksi dengan teman-teman di sana merupakan suatu tonggak penting dalam hidupku. Di sana aku belajar banyak hal. Tak hanya soal kemandirian, tetapi juga soal bagaimana hidup bersama teman-teman yang sangat berbeda latar belakang sukunya. Aku masih ingat ketika aku penasaran dengan rambut keriting temanku dari Irian, lalu dia mengizinkan aku memegang rambutnya. Bagiku rambut temanku itu unik. Ternyata rambutnya tidak sependek yang kusangka. Jika ditarik, rambut keritingnya itu molor dan kesanku waktu itu cukup panjang.

Beberapa minggu yang lalu aku pergi ke Tanjung Pandan, Belitung. (Suamiku aslinya dari sana, jadi aku ke sana dalam rangka “pulang” juga.) Di sana aku bisa dibilang tidak kenal siapa-siapa, kecuali kerabat suamiku. Tapi yang membuatku agak “tenang” adalah di sana tinggal seorang kakak asramaku. Dia memang bukan asli Tanjung Pandan, tapi kehidupan membawanya sampai ke sana. Aku memanggilnya Kak Mika. Aku senang bertemu dengannya. Meskipun waktu di asrama aku tidak dekat dengannya, toh waktu berjumpa lagi dengannya, aku merasa seperti bertemu teman lama. Ada cerita lama yang bisa kami urai bersama–soal asrama, soal Sr. Ben, soal teman-teman kami dahulu. Meskipun beda angkatan, tetap saja ada cerita kebersamaan yang bisa kami bagikan.

Bersama Kak Mika (kiri) di depan Gereja St. Regina Pacis, Tanjung Pandan.Foto: Bersama Kak Mika (kiri) di depan Gereja St. Regina Pacis, Tanjung Pandan.

Menurutku, itu adalah salah satu keunikan tinggal di asrama Syantikara. Di Syantikara aku seperti mengintip Indonesia versi kecil. Berbeda-beda, tetapi kami satu keluarga. Indonesia sekali kan?