Pengingat dalam Hidup

… kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap (Yak 14:4).

Bulan puasa. Sebentar lagi Lebaran. Meski Katolik, aku biasa ikut meramaikan hari raya Idul Firi. Di keluarga besarku ada yang muslim, jadi saat Lebaran aku dan suami pun ikut “ubyang-ubyung” alias ramai-ramai berkunjung ke rumah saudara yang merayakannya. Selama di Jakarta, dua lebaran yang lalu aku lewatkan di rumah om dan tanteku.

Ceritanya, lebaran tahun lalu aku ke Bekasi, berkunjung ke rumah salah satu omku, Om Agus. Rupanya yang ke sana bukan saudara dari jalur keluarga ibuku (omku adalah adik ibu), tetapi juga ada saudara dari tanteku (istri omku), Tante Rida. Aku jarang bertemu dengan saudara-saudara Tante Rida. Namun, karena lebaran itu, kami jadi bertemu, dan aku jadi tahu: “Oh, ini adiknya Tante Rida yang namanya Tante Sussy. Ini suaminya, namanya Om Eddy.” Tampak juga anak-anak Tante Sussy yang sudah akrab dengan sepupuku. Yah, maklum mereka sebaya dan sama-sama tinggal di Jakarta sejak kecil. Kabarnya Om Eddy ini seorang pilot.

                                                                             ***

Kemarin Om Agus pasang status di FB mengabarkan bahwa ada adiknya yang meninggal. Wah, yang mana ya? Dia menyebutkan nama Eddy Purnomo. Aku sejenak mengingat- ingat siapa ya di antara keluarga besarku yang namanya Eddy Purnomo. Lalu, aku tanya ke sepupuku yang kulihat sedang online di dunia maya.

“Siapa yang meninggal sebenarnya, Mbak?”
“Om Eddy, suaminya Tante Sussy yang pilot itu lo.”
“Oh, Tante Sussy yang adiknya Tante Rida? Sakit ya? Perasaan dulu segar bugar aja tuh.”
“Jadi korban kecelakaan helikopter yang jatuh.”
“Welah… ada heli jatuh to?”
“Ada, aku tadi lihat beritanya di situsnya Tempo.”

Memang belakangan ini aku agak jarang mengikuti berita. Rasa-rasanya berita yang beredar lebih sering membuat sakit kepala dan hati kisruh daripada membuatku bangga atas negara ini. Kebanyakan berita yang kurang menyenangkan. Memang di jurnalistik biasanya “bad news is good news.” Tapi, daripada ikut pusing mikirin negara, aku milih tidak terlalu mendengarkan berita. Kalau pun dengar berita, ya sambil lalu saja.

Aku tidak menyangka kalau ada berita yang ada kaitannya dengan keluargaku–tepatnya keluarga Tante. Dan tadi pagi aku menelepon Bapak. Kupikir Bapak di rumah, tetapi rupanya sedang dalam perjalanan bersama Ibu untuk melayat Om Eddy ke Pare.

Sampai saat ini aku masih tak percaya pada berita itu. Aku kemarin-kemarin masih berpikir Lebaran nanti mungkin akan berkunjung ke rumah Om, dan mungkin akan bertemu dengan Tante Sussy dan suaminya, Om Eddy. Tetapi ternyata aku tidak akan bertemu Om Eddy lagi. Aku yang baru bertemu–katakanlah–dua kali dengan beliau saja merasa terkejut dan ikut kehilangan.

Kepergian Om Eddy mengingatkan aku betapa kita sama sekali tidak tahu kapan hidup kita mencapai titik akhir di dunia ini. Jadi, jika hari ini kita masih diberi waktu, kita kiranya bisa memanfaatkannya dengan bijak. Dan selama masih di dunia, bagaimanapun kita mesti siap untuk kehilangan. Meski hal ini sulit, dan lebih mudah diucapkan daripada dipraktikkan. Akhirnya, semoga Om Eddy dilapangkan jalannya, diberi tempat yang layak oleh Tuhan, dan semoga keluarga yang ditinggalkan tabah serta mendapat penghiburan.

Sadarkanlah kami akan singkatnya hidup ini supaya kami menjadi orang yang berbudi (Mzm 90:12 BIS).

Sumber berita dari sini.

Advertisements