Tumpul

Aku baru sekitar empat tahunan tinggal di Jakarta. Masih terbilang warga “baru” dan belum bisa jatuh cinta pada kota ini. Dan tidak pengin jatuh cinta pada Jakarta juga sih. Sampai sekarang masih belum bisa paham jika ada orang yang dengan senyum lebar mengatakan bahwa dirinya cinta Jakarta. Yang bagus sisi mananya sih? Embuhlah. Semoga kecintaan mereka itu akhirnya mewujud menjadi sesuatu yang positif.

Mulai dari awal tinggal di sini sampai sekarang, aku masih bergulat dalam proses adaptasi soal jalanan yang macet dan kacau balau. Tahun pertama dan kedua, rasanya tingkat stresku benar-benar memuncak. Setiap kali naik kendaraan umum dan terjebak macet, rasanya seperti terlempar ke neraka. Aku sama sekali tidak tahu mesti bersikap bagaimana menghadapi jalanan yang macet plus berada dalam kendaraan umum yang sepertinya terbuat dari seng rombeng. Kalau naik taksi, aku memilih tidak melihat argo yang terus berjalan daripada malah deg-degan. Aku jadi betul-betul kangen dengan jalanan di kota kelahiranku yang macetnya hanya saat menjelang detik-detik pergantian tahun, dan sepertinya itu hanya terjadi di dekat alun-alun saja. 😀

Gara-gara selalu stres menghadapi jalanan yang macet, aku sudah menetapkan tidak akan kerja kantoran selama di Jakarta. Kalau selama di jalan saja puyeng, bagaimana bisa bekerja maksimal. Iya kalau dapat teman kerja dan atasan yang menyenangkan, kalau orang-orang di kantor kaya drakula semua, kan susah. Malah makan hati. Wis, lah. Ngapain juga ngoyo? Sok sugih, haha.

Meskipun aku bekerja di rumah, mau tak mau aku tetap harus beradaptasi dengan jalanan Jakarta yang ruwet. Kan tidak mungkin aku di rumah terus tanpa pergi-pergi. Aku tetap butuh bertemu teman atau sekadar jalan-jalan. Dan saat seperti itu, aku harus merelakan waktu dan energiku termakan oleh keruwetan Jakarta. Amboooi …! Asal tidak setiap hari, rasanya masih oke.

Lalu, apa kabarnya proses adaptasiku? Kalau dulu aku suka stres saat jalanan macet, sekarang aku … cuek! Memang sih kadang masih sebel bin kesel. Tapi kalau aku marah-marah, itu tidak memberi dampak apa-apa. Malah aku sendiri tambah stres. Aku sering berkata begini, “Terima saja. Telan saja. Inilah Jakarta.” Bahkan ketika sopir kendaraan umum mulai memacu kendaraannya seperti kesetanan, aku mulai tidak peduli. Kupikir, aku mulai tumpul atau … menumpulkan diri? Jakarta masih macet dan sepertinya akan terus macet jika tidak dibuat kebijakan yang berpihak pada rakyat biasa. Para pengguna jalan akan terus saling serobot, tidak peduli pada pengguna jalan yang lain, dan Jakarta tidak akan nyaman selama-lamanya. Amin. End story. Rampung. Aku tidak berani bermimpi bahwa gubernur terpilih nantinya akan membuat kebijakan yang betul-betul bisa menjadikan Jakarta lebih baik. Bagiku, paling gampang adalah menunggu kehancuran Jakarta, dan lihat saja siapa nanti yang akan jadi superhero. Mungkin harus menyewa Spiderman. 😀 Maaf kalau terkesan sinis. Tapi jujur saja, aku tidak yakin Jakarta jadi lebih baik dalam waktu singkat. Butuh waktu yang cukup panjang untuk mengubahnya jadi lebih baik. Dan ini butuh pemimpin yang keras dan betul-betul pro rakyat.

Ya, hatiku tumpul. Aku tidak terlalu peduli Jakarta ini mau jadi apa. Yang kupikirkan adalah bagaimana caranya hengkang dari sini … hahahaha! *tertawa bengis!* 😀 Menyedihkan ya? Semoga tidak banyak orang yang tidak peduli pada Jakarta.

Itu tadi bukan contoh yang baik. Terserah deh, kalian mau menyumpahi aku juga boleh. Menganggapku bukan warga Jakarta yang baik. Memang bukan kok, wong nggak punya KTP Jakarta. 😀 Tapi sebetulnya apa sih yang mau aku katakan dengan mengingat judul di atas? Aku hanya mau mengatakan bahwa jika kita terpapar oleh hal yang sama berulang kali, kita bisa tumpul. Kita akan menganggap hal itu, ya memang begitu adanya. Take for granted. Ya, masih ada orang yang mengeluhkan kemacetan. Tapi keluhan itu akhirnya juga menjadi tumpul. Pihak yang berwenang pun akhirnya jadi terbiasa dikomplein. Mereka akan mengeluarkan jawaban-jawaban yang sama. Aku yang awalnya stres dengan kemacetan, pada akhirnya “menerima” saja … karena toh tidak bisa berbuat banyak, tidak bisa mengubah apa pun. Pada pihakku, yang kuubah hanyalah pikiranku. Atau paling pol, aku mencoba mengatur waktu saat hendak bepergian supaya tidak terlalu terjebak kemacetan. Apakah itu baik? Entahlah. Tapi hatiku tumpul. Wis lah, lagian aku juga tidak bercita-cita memperbaiki Jakarta kok. Biar Spiderman atau Batman saja yang melakukannya, itu kalau mereka mau.

 
Aku membuat tulisan dengan judul yang sama dengan tulisan ini, tapi dengan isi yang sama sekali berbeda. Silakan melongok ke sana, jika berminat.

Advertisements

Bukan Tradisi Lagi

“Sudah pasang pohon Natal?” tanya temanku lewat YM.

“Belum. Eh, enggak ding.”

“Kok enggak?”

“Iya, sudah lama nggak pasang pohon Natal.”

Sebenarnya memasang pohon Natal itu mengasyikkan. Pernik-perniknya yang mungil dan indah menimbulkan kegembiraan tersendiri saat memasangnya. Tapi aku dan keluargaku sudah lama menghilangkan tradisi memasang pohon Natal.

Aku tak ingat kapan mulanya tradisi itu hilang. Mungkin saat kakakku sudah bersekolah di luar kota. Dulunya sih, kami selalu memasangnya. Kebetulan di depan rumah ada pohon cemara. Jadi, kami memotong sebuah dahannya, dan memasangnya di sebuah pot besar di dalam rumah. Baunya khas sekali. Bau cemara. Wangi. Lalu, Bapak akan mengeluarkan kardus yang berisi hiasan Natal. Tak banyak yang kami miliki, hanya rumbai-rumbai dan lampu kelap-kelip. Kadang aku pengin juga punya pohon Natal plastik, seperti yang dimiliki oleh kebanyakan orang. Tetapi Ibu bilang, pohon Natal kami sudah cantik. Asli. Kalau yang lain kan buatan, begitu alasannya. Tapi memang pohon Natal dari plastik itu cukup mahal untuk ukuran kami waktu itu.

Dulu selain memasang pohon Natal, kami juga suka membuat gua Natal dari kertas sak semen. Kertas sak semen itu lalu dibentuk dan dicat cokelat serta kehijauan. Jadilah gua Natal. Sempat juga dulu Bapak membuat salju-saljuan dari sabun. Aku lupa campurannya. Yang kuingat hanyalah keasyikan dan kegembiraan saat membuatnya.

Sekarang, kami tidak membuat gua dan pohon Natal lagi. Entah ya, aku sendiri merasa hal semacam itu tidak perlu. Selain itu, beberapa tradisi lain seperti membeli baju baru pun sudah tak kami ikuti lagi. Aku merasa, Natal itu yang penting adalah bersama keluarga; bersama Bapak, Ibu, dan keluarga kakakku.

Namun, kurasa ada satu hal yang perlu aku lakukan menjelang Natal: membersihkan hati. Ini yang mungkin lebih sulit. Hidup di zaman yang serbacepat dan banyak tuntutan ini kerap kali membuat hatiku dipenuhi hal-hal yang tidak perlu.

Natal kurang dua minggu lagi. Semoga aku lebih bisa menyiapkan hati.