Dream for Kabul: Mimpi Perdamaian Haruhiro Shiratori

Kemarin sore, Senin (7/12/09) sekitar pukul 18.00 aku dan suami sudah sampai Grand Indonesia. Niatnya sih pengen ke Blitz untuk menonton film Jiffest. Tapi mampir dulu ke Gramedia untuk beli spidol. Sebenarnya kalau menuruti keinginan hati, aku pengen lebih lama melihat-lihat buku baru di situ. Tapi karena suami sudah mengingatkan, “Kita terlambat nih!” … ya, sudah. Nurut deh.

Sesampai di sana, baru sekitar empat atau lima orang yang mengantri di depan studio. Karena tiket sudah di tangan, jadi kami tinggal menunggu pintu di buka saja, dan kami masuk. Sebelum pintu dibuka, kulihat ada dua orang perempuan yang membawa sesuatu. Yang satu membawa setumpuk kertas, yang satu membawa satu kantong plastik berisi benda berwarna merah. “Ada suvenirnya,” bisik suamiku. Aku tak membayangkan suvenir apa yang akan kami terima. Tumben-tumbenan nonton film dikasih suvenir kan? Ternyata yang dibagikan adalah selembar kertas kuesioner, bolpen, dan sebuah tali yang dikalungkan untuk gantungan HP biasanya. (Maaf, aku tak tahu apa nama barang ini.) Di situ clue-nya hanya film ini disponsori oleh kedutaan Kanada.

Well, aku sendiri tidak terlalu ngeh film apa yang akan kutonton. Maklum, aku niatnya cuma mau menonton film yang lain dari yang lain. Yang aku tahu, film ini berjudul A Dream for Kabul. Aku hanya membayangkan film ini nanti berisi orang-orang korban perang di Kabul sana. Sebelum berangkat, aku juga tidak berusaha mencari tahu di Internet film macam apa ini. Aku hanya percaya suamiku bakal memilih film yang bagus. Aku percaya pada pilihannya.

Ternyata ini adalah film dokumenter. Tapi di awal pemutaran film itu, aku masih bertanya-tanya, mana sih Kabulnya? Yang digambarkan justru bapak-bapak Jepang, orang-orang Amerika. Nah, apa hubungan antara Jepang dan Kabul?

Jadi, ini cerita Haruhiro Shiratori yang anak lelaki tunggalnya, Atsushi, meninggal dalam serangan WTC 11 September beberapa tahun lalu. Awalnya dia tak percaya ketika anaknya meninggal. Tetapi akhirnya ia memang harus menerima kenyataan bahwa Atsushi tak akan pernah kembali ke Jepang. Serangan WTC itu sendiri mengingatkannya pada masa kecilnya saat Tokyo dibom. Saat itu ia masih 4 tahun. Ayahnya meninggal, dan disusul oleh ibunya beberapa waktu kemudian. Dia mengatakan, suasana dan aroma kehancuran WTC itu mengingatkannya ke masa Perang Dunia II, di mana ia menjadi saksi dan korban. Kini, anaknya menjadi korban serangan WTC pula. Menyedihkan.

Semasa hidup, Atsushi punya tiga keinginan: (1) sukses di Amerika; (2) bisa mengumpulkan uang sehingga bisa pensiun pada usia 35 tahun; (3) menjadi terkenal. Mengetahui hal itu Haruhiro Shiratori berpikir bahwa kini saatnya untuk meneruskan cita-cita anaknya, terutama cita-citanya yang ketiga. Selain itu Haruhiro Shiratori sendiri tak ingin berkubang dalam kesedihan. Ia kemudian pergi ke Afghanistan, menjumpai anak-anak di sana dan ingin membangun taman sebagai peringatan putranya itu. Taman itu akan terdiri dari sekolah, penampungan air, dan taman yang berisi 911 pohon cherry. Sinopsis yang lebih lengkap bisa dibaca di sini.

Film ini menarik bagiku. Aku kagum pada semangat Haruhiro Shiratori yang meskipun anaknya meninggal karena serangan teroris dan dia sendiri menjadi korban PD II, dia justru melakukan sesuatu yang positif bagi orang lain. Selain itu, untuk menjembatani kendala bahasa, dia belajar sulap. Dia mengatakan bahwa ia ingin menghibur orang lain. Di film itu diperlihatkan Haruhiro Shiratori selalu diterima dengan baik oleh orang-orang setempat. Mungkin karena dia niatnya mengemban misi perdamaian, jadi dia mudah diterima dan tak ada yang menolaknya.

Perang, bom, dan kekerasan sepertinya memang masih jauh dari kehidupanku sehari-hari. Tetapi di belahan dunia sana, kekerasan dan perang bagaikan makanan sehari-hari. Deraan penderitaan dan kekerasan itu bisa menimbulkan dendam yang bisa berkobar entah kapan. Sebenarnya korban yang paling memprihatinkan adalah anak-anak. Karena jika dendam dalam diri mereka terus melekat, mereka bisa melakukan hal-hal yang mengerikan di masa mendatang. Lalu, kapan dong damainya? Karena itu, bagiku Haruhiro Shiratori adalah orang yang hebat. Meskipun masa lalunya pahit, dia memiliki mimpi yang positif dan terus berusaha mewujudkan mimpinya itu.

Aku berharap semakin banyak orang yang menyaksikan film ini. Kalau bisa sih film ini diputar di sekolah-sekolah atau di komunitas anak-anak dan orang muda. Film ini cukup menyentuh dan bisa membangkitkan semangat.

Advertisements